NovelToon NovelToon
Belenggu Nafsu Kakak Ipar

Belenggu Nafsu Kakak Ipar

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikahmuda / CEO / Duda / Tamat
Popularitas:64.4k
Nilai: 5
Nama Author: Banana Mango

" Kamu darimana saja Alena, jam pulang kamu sudah lewat 10 menit?"

"Kakak dengar kamu gak masuk kerja hari ini, pergi kemana tadi?"

"Kenapa lama banget di kamarnya? kamu sakit?"

" Pacar kamu gak jelas Alena, putusin aja ya?"

Sean Luther, Dia kakak iparku sejak 2 tahun yang lalu. Perhatiannya kepadaku terlampau berlebihan, awalnya kukira itu memang caranya mengungkapkan perhatian pada adik iparnya.

Sampai puncaknya, aku mengerti segala maksud tersembunyi dibalik perhatiannya.

"Nikah sama saya Alena atau kamu saya buat hamil sekarang juga."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banana Mango, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kasmaran

Pukul 11:00 siang terlihat kamar yang ditempati oleh sepasang suami istri masih diliputi keheningan. Baik Sean dan Alena masih terjatuh dalam bunga tidurnya, menebus tidur mereka yang berkurang akibat harus bangun pagi-pagi sekali demi melihat lumba-lumba.

krringgg

Bunyi alarm menyala tak sampai 5 detik sebab manusia yang menyetel alarm itu sudah terbangun.

Alena dengan pelan bergerak keluar dari pelukan Sean yang masih tertidur lelap. Ia pergi menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya, bersiap-siap lebih dulu untuk makan siang.

Laki-laki itu perlu waktu tidur lebih sebab Sean hari ini bangun jauh lebih pagi, memastikan bahwa lumba-lumba benar bisa dilihat. Untuk memastikan hal tersebut, Sean bahkan rela keluar kamar tidur mereka dan bertanya langsung dengan bawahan Cpatein Zyein, agar informasinya lebih akurat.

*Hari ini, Alena memilih untuk mengenakan turtleneck* berwarna merah muda yang ia padukan dengan long jeans berwarna putih juga cardigan berwarna putih susu. Cuaca di Rotterdam saat ini berada di angka 14 derajat celcius.

Telalu fokus merapihkan tatanan rambutnya, Alena hingga tak menyadari bahwa pria yang berada di atas kasur sudah terbangun. Sean diam-diam memperhatikan semua hal yang Alena lakukan.

Ia menikmatinya dengan amat. Bangun tidur di sambut dengan pemandangan indah juga istrinya yang sedang bersiap, membuatnya lupa berkedip, tak sadar akan lengkungan bibirnya yang sudah mencapai batas maksimalnya.

Melihat Alena yang tak kunjung sadar akan dirinya, Sean melangkah, berjalan menuju tempat Alena sedang berdiri.

" Aa!” teriak Alena yang terkejut akibat ulah Sean yang memeluknya dari belakang.

Sean terkikik, suara khas bangun tidurnya masih mendominasi, walaupun sudah ada sekitar 10 menit sejak ia bangun, namun Sean tidak mengeluarkan suara apa pun yang menyebabkan suara nya masih di dominasi dengan nada yang berat.

Dan kikikkannya tadi, mampu membuat Alena terlena.

Gadis itu diam, melamun menatap netra Sean. Arah pandangnya yang sempat tertoleh akibat ulah iseng Sean kembali pada tujuan awalnya ketika Sean berdeham.

" Tau, aku emang se-ganteng itu.” ucap Sean dengan segala tingkat kepercayaan diri yang ia miliki.

Usai mengucapkan itu, Sean kembali memejamkan matanya, bersandar di bahu Alena.

" Mana ada orang ganteng jam segini belum mandi.” Balas Alena. Bahunya yang menjadi sandaran membuatnya tak berani bergerak, takut laki-laki di belakangnya jatuh akibat kembali terlelap.

Sean tersenyum menanggapi ucapan Alena

" Bangun Sean, kamu harus mandi, bentar lagi waktunya makan siang.” Alena memberanikan diri berbalik badan, sebelumnya ia sudah memegang tangan Sean yang melingkar di pinggangnya, emcegah Sean oleng.

Tangannya menyisir rambut milik Sean, helai-helai rambut yang lembut untuk ukuran pria.

Tangan Alena berhenti bergerak, ditahan oleh empunya rambut. Matanya akhirnya terbuka.

" Kalau di usap terus yang ada aku lanjut tidur sayang.” Ujar Sean, laki-laki itu dengan cepat mencuri satu ciuman dari Alena, setelahnya beranjak mandi.

" Dasar buaya.” ujar Alena ketika Sean sudah masuk ke dalam kamar mandi.

...\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~...

*" Ada teater, kasino, spa, under sea *dan warm pool.” Ucap Sean

" Hari ini teater aja.”

" Yakin gak mau under sea?” tanya Sean

" Ehmm….. under sea nya besok aja deh, biar ada kegiatan lain kita.” jawab Alena

" okey, good.” Sean melayangkan tangannya, mendarat pada kepala Alena yang ia usap pelan. Kebiasaan barunya, yang tentunya akan bersifat permanen.

Saat ini meja kecil dekat pintu masuk kamar mereka penuh dengan lipatan-lipatan kertas yang menunjukkan berbagai hiburan yang ada di dalam kapal pesiar yang mereka naiki. Sean memulai diskusi, ia memimpin dengan menjelaskan tempat, apa yang akan mereka lakukan jika ke sana, dan wahana apa yang paling seru dan favorit.

Alena sudah mengatakan jika ia akan mengikuti apa pun pilihan Sean, tipikal perempuan. Namun, Sean kekeh memaksa Alena memilih. Alhasil gadis itu memilih menonton teater untuk malam ini dan kegiatan under sea untuk besok siang.

Alena tidak memilih sembarangan, ia berpikir Sean dan dirinya menikah karena sebuah kejadian yang sedikit mengejutkan, bukan karena keinginan kedua pihak layaknya sepasang kekasih. Sehingga sudah pasti Alena dan Sean tidak pernah berpacaran.

Jadi Alena mengide untuk menonton teater, karena pada umumnya sepasang kekasih yang sedang berpacaran pasti tidak jauh-jauh dari menonton film.

Teater musikal hari ini kebetulan menayangkan kisah cinta legendaris kesayangan semua orang.

.

.

.

.

" Where is Romeo? Did you see him today?” Suara lantang terdengar dari atas panggung teater, seorang wanita paruh baya yang memerankan ibu Romeo memulai adegan.

(Dimana Romeo? Apa kau melihatnya hari ini?)

" Someone said that he was in the middle of the forest.” (Seseorang mengatakan bahwa ia berada di di tengah hutan.)

" He was there every morning, crying like the morning dew.” balas pria yang baru mengeluarkan suaranya, ayah Romeo.

( dia ada di sana setiap pagi, menangis layaknya embun pagi.)

Alena duduk di samping kiri Sean, Jemari mereka saling bertaut, begitu jatuh dan masuk ke dalam cerita yang diperankan oleh para aktor dan aktris musikal.

Cara para pemeran menggambarkan suasana, berbicara, bergerak membuat cerita terasa lebih hidup.

Di dalam ruangan yang temaram dan kedap suara, juga lampu yang benar-benar hanya menyorot pada satu titik saja, semua pengunjung dibuat terpaku dengan hiburan yang ditampilkan

Hingga sampailah pada adegan tragis yang tidak pernah diharapakan oleh mereka pecinta akhir yang bahagia.

Romeo menenggak habis racun di tangannya, tidak menyadari bahwa Juliet telah terbangun dari efek ramuan yang membantunya pura-pura meninggal dalam beberapa jam.

" Romeo? What is this?” Juliet terbangun dari tidurnya, menyadari akan kehadiran Romeo yang tergeletak tak berdaya dengan botol kecil di dekat tubuhnya.

" Poison? You drank it all until it was finished, leaving nothing for me? I just drank a potion and pretended to be dead. Didn't the priest deliver a letter to you?"

( racun? kau teguk habis semuanya tanpa menyisakannya untukku? aku hanya meminum sebuah ramuan dan berpura-pura meninggal. Tidakkan pendeta memberikan sebilah surat untukmu?)

" it shouldn't be like this. no romeo, not like this. You can't die Romeo, you can't leave me.” Juliet terisak, dalam tangisnya ia berlutut memeluk tubuh sekarat Romeo.

(seharusnya tidak seperti ini. tidak romeo, tidak begini. Kau tidak boleh meninggal romeo, kau tidak boleh meninggalkanku. )

"By seeing your face my beloved, I leave.” ucapan terakhir Romeo sebelum ia menghembuskan nafasnya.

(Dengan melihat wajahmu, kekasihku. Aku pergi.)

Tangisan wanita pemeran Juliet pecah di iringi dengan isakkan kecil tangis dari beberapa pengunjung. Termasuk Alena.

Sean mengusap punggung tangan Alena yang masih ia genggam, ia sengaja tak menoleh. Sean paham Alena akan semakin memangis jika ditanyai, malu katanya.

Sehingga Sean hanya diam, kepalanya masih menghadap arah panggung, namun telinga dan pikirannya ada pada Alena. Tangan kanan Sean yang bebas ia gunakan untuk menggapai sapu tangan yang ia bawa, mengulurkannya pada Alena.

Gadis itu menerima dengan baik sapu tangan Sean. Seketika tangisannya mereda, melihat semua pemain musikal keluar dari belakang panggung dengan kostumnya, saling bergandengan tangan, memberikan penghormatan, menandakan ceritanya sudah selesai.

Sorak sorai dan tepuk tangan memenuhi ruangan teater musikal itu, semuanya teramat memuji senang akan keberhasilan acara ini.

Sean tersenyum, mengapit sedikit kencang hidung Alena. " Cengeng.”

Alena mendengus menanggapinya.

Dalam perjalanan kembali ke kamar, tiba-tiba Alena memikirkan sesuatu. bagaimana jika kapal pesiar tadi tidak menampilkan cerita romeo dan juliet melainkan Titanic ?

1
Prima Tania
menghidangkan
Eva Nietha✌🏻
Semangat thor
Straw Berry: makasih banyak yaa/Kiss/
total 1 replies
Eva Nietha✌🏻
Seru
Eva Nietha✌🏻
Merapat
Rhina Abdulhakim
suka bangettt sama cerita nya...nyambung dn bikin traveling Mulu 🙈🙈
Elminar Varida
hi, thor. aku nyimak novelmu ya.
Greenenly
lumayan
Greenenly
dasar ngk peka/Chuckle/
Vitamincyu
..
Rosdiana Diana
ok ka aku baru mampir ni kaya y cerita y bgus
Ci Thin
Luar biasa
Ci Thin
Bucin abis
Ci Thin
bener, licik
Ci Thin
hahaha langsung banting pintu gak tuh/Chuckle/
Ci Thin
Sabar ya Alena
Ci Thin
Tekadnya Sean patut di kasih jempol /Good/ cuman caranya salah
Andalia Yuswar
Bagus sampai tahap ini,semangat...
Arissa Aliya
Terima kasih ya Author udah update cerita nya..terus semangat untuk berkarya ya Author..semangattt.../Smile/
Aulia Nova
Luar biasa
Arissa Aliya
Terus semangat untuk berkarya ya author..semangat.../Smile//Smile/
Straw Berry: makasih banyak dukungannya ya, aku beneran terharu, ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!