Orion terperanjat, Putri (8 tahun), anak semata wayangnya tiba-tiba saja membawa seorang wanita yang akan menjadi ibu sambungnya sendiri. Sudah lebih dari 7 tahun Orion penyandang status sebagai duda pasca di tinggalkan untuk selamanya oleh istrinya tercinta.
Apakah Orion akan menikahi wanita yang di bawakan oleh putrinya setelah anak itu terus saja merengek-rengek ingin memiliki seorang ibu sama seperti anak lain seusianya? Atau, dia telah memiliki calon ibu sambung lain untuk sang putri?
Di baca perbab jangan lupa like ya, Reader.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISUP bab 26
Orion menatap punggung Tania yang mulai memasuki ruangan untuk melakukan prosedur pendonoran darah. Tatapan matanya nampak sayu, rasa cintanya kepada wanita itu pun terasa semakin menggebu. Orion merasa bersyukur karena memiliki istri seperti Tania. Istri yang semula dia sia-siakan, kehadirannya bahkan di anggap pembawa sial, kini menjadi istri yang sangat di cintai, kepergiannya adalah hal yang paling dia takuti.
Orion berjalan ke arah kursi lalu duduk seraya mengusap wajahnya kasar, "Ya Tuhan, apa yang akan terjadi jika istri saya sampai tahu tentang kenyataan yang sebenarnya? Apa dia akan meninggalkan saya? Tidak! Saya tidak sanggup hidup tanpa dia, Tuhan," gumam Orion dengan nada suara pelan, "Jagalah dia di sisi hamba, Ya Tuhan. Saya bersedia berlutut di depan Tania sebagai permohonan maaf atas kesalahan yang telah dilakukan oleh Ibu, saya tidak ingin kehilangan dia, Tuhan."
Perasaan Orion berkecamuk, antara rasa cinta yang teramat besar dan rasa takut yang menghantui akibat menyimpan rahasia besar, membuat hidup seorang orang benar-benar merasa tidak tenang.
Setelah menunggu selama 30 menit, pintu ruang pemeriksaan pun kembali di buka. Perawat memapah Tania keluar dari dalam ruangan. Orion segera berdiri lalu berjalan menghampiri.
"Sayang," sapa Orion segera memeluk tubuh istrinya, "Terima kasih, sayang. Saya benar-benar berterima kasih," lirih Orion memejamkan ke dua matanya sejenak.
"Engap, Mas," rengek Tania, dadanya terasa sesak karena Orion kian erat memeluk tubuhnya.
"Maaf, sayang. Mas khawatir sekali sama kamu," jawab Orion kembali mengurai pelukan.
"Sebaiknya, Mbak Tania segera beristirahat, karena darah yang di ambil lumayan banyak, tubuh Mbak-nya pasti akan terasa lemas," ucap Perawat seraya tersenyum ramah, "Jika ada keluhan seperti pusing dan mual, segera hubungi saya."
"Baik, Sus. Terima kasih banyak," jawab Orion.
Perawat tersebut kembali masuk ke dalam ruangan, sementara Orion segera memapah tubuh istrinya untuk duduk di kursi. Namun, karena tubuh Tania benar-benar terasa lemas, wanita itu hampir saja tumbang.
"Astaga, sayang! Kamu baik-baik saja?" tanya Orion segera menahan tubuh Tania agar dia tidak terjatuh.
"Aku baik-baik saja, Mas. Tubuh aku hanya lemas," jawab Tania seketika memejamkan ke dua matanya.
Bukan hanya tubuhnya saja yang terasa lemas, tapi kepalanya pun benar-benar terasa pusing. Dia kembali membuka ke dua matanya lalu menoleh dan menatap wajah Orion suaminya.
"Mas," lirih Tania.
"Iya, sayang. Kita duduk ya," jawab Orion balas menatap wajah istrinya.
"Eu ... Mas, kenapa kepala kamu bergoyang," sahut Tania, wajah Orion tiba-tiba saja terlihat buram dan samar-samar sebelum akhirnya menghitam, beberapa detik kemudian ....
Bruk!
Tania seketika ambruk dan tidak sadarkan diri.
"Tania, sayang! Astaga! Suster, tolong istri saya, Sus!" teriak Orion seraya menopang tubuh Tania sebelum akhirnya menggendongnya kemudian.
Perawat segera keluar dari dalam ruang pemeriksaan, "Silahkan ikut saya, Pak," pinta sang Perawat berjalan ke ruangan lain di mana Tania akan mendapatkan perawatan.
Orion mengikuti Perawat tersebut dengan setengah berlari bersama Tania di dalam gendongannya. Perasaan laki-laki itu semakin dilanda rasa khawatir. Pikiran-pikiran buruk pun seketika memenuhi otak kecilnya. Tania dan ibunya adalah wanita yang paling berharga dan berjasa di dalam hidupnya, bagaimana kalau dirinya sampai kehilangan ke dua wanita ini?
"Silahkan baringkan Mbak-nya, Pak. Saya akan memberikan infus kepada beliau," pinta sang Perawat sesaat setelah mereka tiba di ruang pemeriksaan.
"Baik, Sus," jawab Orion membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan sangat hati-hati, "Istri saya baik-baik saja, Sus? Dia gak kenapa-kenapa, kan? Dia gak akan meninggal, kan?"
Perawat tersebut tersenyum kecil, "Istri Anda akan baik-baik saja, Pak. Silahkan Anda menunggu di luar,"pinta sang Perawat.
"Tidak, Sus. Izinkan saya menunggu di sini, saya khawatir istri saya kenapa-napa. Saya berjanji tidak akan menganggu," jawab Orion seraya menggenggam erat telapak tangan istrinya.
'Saya mohon bangun, sayangku, cintaku. Saya tidak bisa hidup tanpa kamu,' batin Orion mengecup punggung tangan istrinya secara berkali-kali.
* * *
2 Jam Kemudian
Tania mengedipkan kelopak matanya pelan. Jemarinya pun mulai digerakkan lemah. Meskipun terasa berat, Tania mencoba untuk menarik pelupuk matanya meskipun rasa kantuk itu masih terasa begitu menyiksa.
Orang pertama yang dia lihat adalah Orion Dirgantara. Wajahnya terlihat samar-samar, Tania mengedipkan kelopak matanya secara berkali-kali sampai wajah suaminya itu benar-benar jelas terlihat oleh ke dua matanya.
"Sayang! Syukurlah, Akhirnya kamu bangun juga, saya benar-benar merasa khawatir, sayang," lirih Orion mengusap kepala istrinya lembut, ke dua mata laki-laki itu pun nampak memerah juga berair.
"Mas, Ibu bagaimana? Apa beliau baik-baik saja? Apa Ibu sudah bangun?" tanya Tania dengan nada suara lemah juga menatap wajah suaminya dengan tatapan mata sayu.
Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, yang dilakukan oleh Orion adalah mengecup wajah Tania secara berkali-kali. Kening, ke dua matanya, ke dua sisi pipinya, terkahir dia mengecup singkat bibir tipis Tania seraya tersenyum kecil.
"Cukup, Mas. Astaga! Kamu apa-apaan sih? Kenapa pertanyaan aku gak di jawab, Ibu mana? Apa beliau sudah bangun? Ibu baik-baik saja, kan?" Tania mengulangi pertanyaannya.
"Ibu baik-baik saja, Tania. Ibu ada di sini." Terdengar suara Diana dari arah samping.
Tania sontak menoleh ke arah samping. Ibu mertuanya nampak sedang berbaring di atas ranjang. Bagian kepalanya di balut menggunakan perban berwarna putih. Tania memaksakan diri untuk bangkit dan duduk tegak.
"Kamu mau apa, sayang? Kamu baru saja siuman, jangan banyak bergerak dulu, sayang," pinta Orion seraya membantu tubuh istrinya agar dia dapat duduk tegak.
"Aku udah baik-baik aja, Mas. Bantu aku turun, aku ingin melihat keadaan Ibu," rengek Tania, bola matanya dipenuhi dengan buliran bening yang siap berjatuhan.
Diana sudah Tania anggap seperti Ibunya sendiri. Dia menyayangi wanita paruh baya itu tulus. Terlepas dari apa yang dia dengar di dalam sambungan telpon, Tania ingin memastikan bahwa ibu mertuanya ini baik-baik saja.
"Jangan banyak bergerak dulu, Tania. Ibu sudah tidak apa-apa, Ibu baik-baik saja," lirih Diana, buliran air mata seketika membawahi wajahnya.
"Bantu aku turun, Mas. Sekarang," pinta Tania mulai menurunkan satu kakinya dari atas ranjang.
Orion seketika menggelengkan kepalanya merasa tidak habis pikir. Ternyata, Tania lebih keras kepala dari apa yang dia kira selama ini.
"Astaga, Tania. Kamu benar-benar keras kepala, apa kamu tahu betapa khawatirnya saya, hah?" decak Orion seraya menggegam erat telapak tangan istrinya.
"Udah jangan banyak bicara, Mas. Ngedumelnya nanti aja," pinta Tania ke dua kakinya mulai turun dari atas ranjang.
Orion memapah tubuh Tania berjalan menghampiri ranjang di mana sang ibu sedang berbaring yang sebenarnya hanya berjarak 1,5 meter. Keduanya berdiri tepat di samping ranjang, Tania meraih telapak tangan Diana dan menggegam erat jemarinya.
"Syukurlah Ibu baik-baik saja, aku benar-benar takut Ibu akan--" Tania menahan ucapannya, seketika menggigit bibir bawahnya keras.
"Apa kamu berfikir Ibu akan meninggal?" tanya Diana balas menggegam telapak tangan menantu kesayangannya juga menatap wajahnya dengan tatapan mata sayu.
"Maaf, aku benar-benar mengkhawatirkan Ibu," lirih Tania menunduk sedih.
"Tania sayang. Ibu tak akan meninggal dengan tenang, ada banyak yang ingin Ibu sampaikan sama kamu. Ibu juga ingin mengakui dosa-dosa Ibu kamu, Nak," lembut Diana, air matanya mulai deras membanjiri wajahnya.
"A-apa, maksud Ibu? Dosa apa yang ingin Ibu akui kepadaku?"
"Sebelumnya, Ibu mengucapakan terima kasih karena kamu telah menyelamatkan Ibu. Ibu berhutang nyawa sama kamu, Tania sayang," lirih Diana, nada suaranya terdengar lemah, wajahnya pun kian pucat dan memelas, "Ibu sadar, tidak selayaknya Ibu menyembunyikan hal ini selamanya. Ibu akan menerima konsekuensi apapun yang akan Ibu terima, tapi Orion dan Putri sama sekali tidak bersalah di sini. Jangan hukum mereka juga, cukup ... cukup Ibu saja yang kamu hukum."
Tania seketika melepaskan tautan tangan sang ibu mertuanya. Ke dua matanya nampak sayu menatap wajah wanita paruh baya itu. Dadanya terlihat naik turun menahan rasa sesak dan berbagai rasa lainnya yang membuat hatinya berkecamuk.
"Apakah itu benar? Apakah Ibu yang menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa ke dua orang tuaku?" tanya Tania, dengan nada suara gemetar, buliran bening pun kian deras membanjir, dia pun memundurkan langkah kakinya tatkala melihat kepala Diana mengangguk pelan.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu benar-benar minta maaf, Tania."
BERSAMBUNG