Aku masih perawan, itu yang di katakan Maudy ketika akhirnya Ia tau kalau suaminya selama ini mencoba menghindarinya karena kepercayaan turun temurun dari keluarga suaminya itu.
Pada saat resepsi pernikahan mereka entah karena apa, ada beberapa kembang mayang yang tiba-tiba mengering, dan itu membuatnya mendapat hinaan karena di percaya sudah tidak segel lagi.
Maudy yang mengira kalau suaminya menghindarinya karena memang tidak ada cinta, karena memang pernikahan mereka terjadi karena perjodohan.
Hingga akhirnya Ia tau alasan suaminya itu diam padanya selama berbulan-bulan. Yuk mampir di karya author remangan, jangan lupa bagi like komennya ya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Gibran Emosional
...****************...
Susan merasa kepalanya terasa berat masih dengan mata terpejam Ia menghirup aroma yang begitu Ia sukai selama ini, perlahan Ia membuka mata dan tersenyum melihat pemandangan indah di depan matanya.
Gibran tengah mengenakan kemejanya, nampak tubuh kekarnya yang begitu menggoda. Susan kembali teringat kejadian semalam di saat Gibran membelai wajahnya dengan tatapan mendamba sampai akhirnya Susan tidak mengingat apapun setelahnya.
" Kenapa, bangunlah. "
Gibran tersenyum pada Susan, Susan yang mendapat tatapan seperti saat ini perlahan bangun. Ia mendapati dirinya yang tidak menggunakan penutup apapun, Ia ingat bahwa malam tadi Ia sendiri yang melepaskan nya.
Susan berusaha mengingat apa yang terjadi namun tidak berhasil, Ia sama sekali tidak mengingat apapun. Dengan malu dan ragu Ia bertanya pada Gibran apa yang terjadi pada mereka semalam.
" S-sayang, apa yang terjadi pada kita semalam, kenapa kita sampai ada disini. " Tanya Susan.
" Menurut mu apa yang akan terjadi ketika dua insan berada di dalam kamar hotel dalam keadaan tidak sadar, kamu juga sudah melihat kondisi dirimu bagaimana. "
Susan kembali memeriksa tubuhnya di bawah selimut, kembali mengingatnya namun sama sekali tidak bisa.
" I-iya sih sayang, tapi a-aku sama sekali tidak mengingat apapun. " Ucap Susan lagi.
" Sudahlah, lebih baik sekarang kamu bangun karena kita harus secepatnya pergi dari sini. Apa kamu mau mandi dulu atau.....
" Nggak sayang, aku mandi di rumah saja. Bisa tolong antarin aku pulang. "
Gibran mengangguk dan beranjak ke luar dari kamar hotel.
" Baiklah, aku tunggu di luar. "
Susan menatap kepergian Gibran dan masih bingung dengan apa yang terjadi. Ia turun dan memunguti pakaiannya satu persatu yang berserakan di lantai, namun sebelum itu Ia mempunyai ide. Di ambilnya ponselnya dan langsung memotret pakaiannya yang berserakan itu.
" Ah sudahlah, bodoh amat. Yang penting aku sudah tidur bersama Mas Gibran, setelah ini tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi. " Gumam Susan.
Ia keluar menemui Gibran setelah mengenakkan semua pakaiannya, mereka melangkah ke arah parkiran disana mobil mereka terparkir.
" Ah, nggak apa apa sayang. Aku bisa pulang sendiri, kamu berangkatlah ke kantor lebih dulu, nanti kamu telat. "
Gibran pun mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya, sebelum berangkat Ia masih memandang mobil Susan yang akhirnya pergi menjauh. Ia menggeleng pelan dengan helaan nafas panjang.
" Arga. "
Arga yang tadi bersembunyi di bangku belakang bergegas turun dan mengambil alih kemudi.
" Kita kemana Bos. " Tanya Arga.
" Ke kantor saja, aku ingin istrahat disana saja. "
Arga mengangguk mendengar jawaban Gibran dan itu adalah perintah untuk nya, Ia pun mulai melajukan roda empat milik sang Bos itu.
Sepanjang jalan Susan tak henti-hentinya bersenandung, Ia begitu bahagia mengingat bagaimana Gibran menatapnya semalam. Meskipun tak mengingat apapun setelah nya tapi Ia yakin kalau mereka sudah melakukan hubungan intim.
Sesampai di rumahnya Ia mulai menghubungi salah seorang temannya dan memintanya ke rumahnya namun Sahabatnya itu menolak karena sedang ada pekerjaan.
" Ah bagaimana kalau kita bertemu di luar saja saat jam makan siang, maaf San tapi aku benar-benar tidak bisa ke rumah mu sekarang, nggak apa-apa kan. "
" Ya sudah, nggak apa-apa Va. Baiklah, kita ketemu di tempat biasa saja ya. "
Setelah menutup panggilan, Susan kembali tersenyum. Ia memeluk tubuhnya sendiri membayangkan kalau itu adalah Gibran yang tengah memeluknya.
Ia berputar-putar dengan senyum menghiasi bibirnya. Banyak rencana yang sudah bermunculan di benaknya.
Di tempatnya Gibran menatap dirinya di depan pantulan cermin, berulang kali Ia menghela nafas panjang. Di liriknya ponselnya, entah untuk yang kesekian kali Ia mengecek ponselnya itu namun tidak ada pesan apapun dari Maudy.
...----------------...
Sehari, dua hari Gibran menunggu kabar dari Maudy namun tidak ada. Wanita itu seolah menghilang dan tidak peduli dengan kontrak yang sudah mereka tanda tangani.
Karena hatinya yang tidak tenang akhirnya Ia memberanikan diri menghubungi nomor Istrinya. Sekali berdering dan Gibran langsung mengakhiri panggilannya karena malu bercampur gengsi.
Gibran jadi uring-uringan dan menjadi emosional, bahkan Arga sampai di buat kelimpungan karena mendapat perintah yang aneh-aneh dari Bosnya. Ia bahkan tidak bisa bertanya karena kalau Ia melakukan itu maka dirinya akan kena amarah bahkan ancaman pemotongan gajih.
Bukan hanya Arga saja bahkan Hana sang sekertaris juga di buat pusing atas permintaan Gibran yang tiba-tiba.
" Hana, kenapa dokumen hasil meeting kemarin belum sampai ke meja ku. "
" Ah A- anu Pak, semuanya belum fix. InsyaAllah besok, saya akan langsung menyerahkan nya kepada Bapak. "
" Besok katamu, kamu ini gimana sih !! "
Gibran melengos kesal
" Maaf Pak, tapi ada beberapa karyawan kita yang cuti. " Jawab Hana
" Cuti mulu, cuti mulu bisanya !! aku saja bahkan belum mengambil cuti apapun. Besok katakan pada HRD, aku mau evaluasi track record semua karyawan-karyawan disini. "
" Siap Pak. "
Hana pamit keluar setelah Gibran memintanya pergi, wanita cantik itu menggeleng kepala berulang-ulang.
" Arga, apa yang terjadi pada Bos, kenapa sikapnya berubah drastis. Jadi seperti wanita yang lagi PMS. Dikit-dikit marah, salah sedikit marah. "
" Hustt, lebih baik diam dan lanjutkan saja pekerjaan mu. Jangan sampai apa yang di katakan Bos benar-benar terjadi. "
Hana mendengus kesal karena kedua Pria itu sama saja, sama-sama menyebalkan menurutnya. Meskipun begitu Ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebelum Ia kehilangan pekerjaan nya dan menjadi pengangguran karena di jaman sekarang sangat susah untuk mencari pekerjaan dengan gajih yang memadai.
Hana menghempaskan bokongnya di kursi, Ia masih tidak habis pikir. Untuk apa Bos besarnya itu membuang waktunya dengan mengurusi masalah karyawan, bukannya ini adalah tanggung jawab HRD, tapi tidak ada yang bisa Hana lakukan selain mengiyakan saja.
Sudah kebiasaan Bos mereka berkelakuan seperti itu di saat kesal pada sesuatu hal dan dia akan merepotkan hampir semua orang-orang di kantornya untuk melampiaskan kekesalannya itu.
Baru setelah sore hari Maudy memeriksa ponselnya dan terkejut melihat ada panggilan dari suaminya.
" Mas Gibran, ada apa ya, tumben nelpon. "
Maudy memainkan ponsel di tangannya, ingin menelpon tapi ragu namun pada akhirnya Ia pun menelpon balik. Gibran hampir saja melompat dari tempat duduknya ketika melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya.
Ia berdehem beberapa kali mengurangi kegugupan nya.
" Hallo Mas, apa Mas disana. Ada apa. " Tanya Maudy.
" Hm~~. "
" Oh, ada apa Mas. Jangan bilang kalau Mas sekarang merindukan ku. "
Maudy tersenyum di tempatnya, Ia memberanikan diri menggoda suaminya itu. Toh mereka berjauhan jadi apapun yang Ia lakukan tidak kelihatan, paling juga nanti mereka lupa.
" Apa !! aku merindukan mu ! Jangan ngarang ya, aku nggak mungkin merindukan mu. Lagipula apa kamu lupa pada kontrak kita. "
Gibran merasakan perasaan yang aneh setelah mengatakan itu pada Maudy.
" Iya-iya, aku tahu kok Mas. Terus ada apa Mas menghubungi ku tadi, kalau tidak ada yang penting aku tutup dulu karena ada tamu di rumah. "
Gibran mendadak bingung, Ia tidak tahu harus menjawab apa.
" Eh T-tunggu dulu, kamu- kamu kapan pulangnya. Jangan ge-er ya, itu bukan pertanyaan dari aku tapi dari Bunda. Bunda meminta ku menanyakan kapan kamu kembali. "
Lagi-lagi di tempatnya Maudy hanya tersenyum, Ia tahu kalau itu bukan dari Bunda Ayu karena mereka baru saja berbagi kabar. Bukan hanya itu saja, Maudy selalu memberi kabar pada Ibu mertuanya itu bahkan untuk kapan Ia kembali pun Ibu mertuanya itu sudah mengetahuinya.
" Ah mungkin dua atau tiga hari lagi Mas, karena urusan ku disini belum selesai. "
Gibran terkejut mendengar jawaban Maudy, dua atau tiga hari itu bukan jawaban yang dia inginkan.
" Lama amat disana. "
" Lama ? ya lama lah Mas, aku bertemu dengan beberapa teman- teman ku. Mas juga kan tau bagaimana rasanya kalau kita berpisah dengan teman lama dan baru bertemu, tentu tidak akan cukup satu hari untuk mendengarkan kisah mereka. "
Gibran semakin kesal karena Maudy ternyata lebih mementingkan teman-teman nya di banding dirinya.
" Nggak sekalian setahun saja ? atau sekalian nggak usah pulang. Lupakan saja kalau kamu itu punya suami yang harus di perhatikan. " Ucap Gibran kesal.
Di balik telpon Maudy nampak kebingungan dengan ucapan Gibran namun akhirnya Ia kepayahan menahan tawa. Ia merasa suaminya kali ini sangatlah lucu.
...****************...