Ardan, seorang dosen tampan yang menjadi penerus keluarga Adinata sedang menatap pada seorang gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya.
Gaun yang dikenakan olehnya menunjukkan bahu dan leher jenjang milik Sasha, membuat jiwa lelaki Ardan meronta. Namun ia harus menahan segala hasrat yang sedang mencapai puncaknya, karena mengingat akan kontrak pernikahan yang membatasi sentuhan fisik diantara mereka.
Pernikahan mereka yang akan berlangsung dalam beberapa hari tersebut diakibatkan kebohongan yang dilakukan Ardan dan membuat seluruh keluarganya percaya bahwa Sasha adalah kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka dimulai?
Happy reading guys
follow ig author
@kak.ofa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdua Saja Aku Berdebar
"Siapa yang pelakor," tanya Sasha pada para pegawai yang berkerumun.
"Maaf, Non! Kita tidak membicarakan Non, tapi ... video ini ...." wanita berseragam putih itu menggantungkan perkataannya.
"Kenapa videonya?" tanya Sasha menjadi semakin penasaran.
"Nona baca saja komentarnya, banyak yang membicarakan Nona," jelas wanita itu sambil menyodorkan smartphone miliknya.
Sasha akhirnya menerima ponsel itu dan melihat isi video yang ramai menjadi bahan pembicaraan. Dia menutup mulutnya, lalu alisnya pun berkerut. Sesekali dia mencibir sebagai reaksi dari sesuatu yang ia lihat.
"Nona baik-baik saja." Pelayan itu merasa khawatir.
"Santai saja, itu bukan kejadian yang sebenarnya, kok!" ujar Sasha.
"Non, tapi Nona pura-pura tidak tau saja ya."
"Iya, nanti kami bisa dimarahi."
"Kami diminta untuk menutup mulut tentang video ini dari Nona."
Para chef dan pelayan semuanya khawatir, jika Sasha sampai mengetahui hal ini. Pasalnya, nyonya Nasyila meminta semua pegawai dapur mengalihkan perhatian Sasha agar tidak tau dengan masalah itu.
***
"Itu tidak penting," ujar Sasha yang menatap ke arah Ardan.
"Maaf!" Ardan tiba-tiba menjadi terdiam.
"Untuk apa?" tanya Sasha sambil menoleh pada Ardan.
"Atas kejadian yang terjadi di rumah nenek, aku minta maaf." Ardan akhirnya memalingkan mukanya juga dari Sasha.
Selama sisa perjalanan hingga ke hotel, mereka berdua saling terdiam.
"Aku harus lebih mempersiapkan hati, jika sesuatu terjadi pada pernikahan ini," gumam Sasha dalam hatinya.
"Apa dia benar-benar tau tentang video itu meski aku sudah meminta Sania menghapusnya?" gumam Ardan kali ini.
"Tuan, Nyonya, kita sudah sampai di hotelnya." Sang supir membuyarkan lamunan mereka berdua.
Mereka berdua pun turun dan masuk ke hotel tersebut. Pohon kamboja berbunga putih yang tumbuh tinggi di kedua sisi gerbang hotel seakan mengucapkan selamat datang pada mereka.
"Tuan dan Nyonya Ardan, silakan ikuti saya." Seorang pemuda dengan seragam pegawai hotel berwarna biru tua membimbing mereka untuk menuju ke kamar mereka.
"Kalian, tolong bawa barang milik Tuan dan Nyonya!" Pria tersebut memberikan arahan pada dua orang yang sepertinya berpangkat di bawahnya untuk membantunya mengangkat barang Ardan dan Sasha.
Sementara barang-barang Ardan dan Sasha diangkut dalam troli oleh kedua orang itu, mereka berdua mengikuti punggung pria berbalut kemeja biru tua tersebut.
"Ini kamar anda, Tuan, Nyonya." Pria tersebut memberikan kuncinya dan bersamaan dengan itu, suara troli mendekat ke arah mereka.
"Apa tas nya, perlu kami taruh di dalam juga, Tuan?" Pegawai yang mendorong troli itu bertanya dengan sopan.
"Iya, tolong." Ardan pun masuk dalam kamarnya diikuti Sasha dan laki-laki yang bertugas membawa koper tersebut, sementara sang pria berkemeja biru tua itu telah meninggalkan mereka sejak tadi.
"Terima kasih sudah membantu kami," ucap Sasha saat petugas yang membawakan kopernya tadi mulai undur diri. Dia pun menutup pintunya dan menghembuskan napasnya dari pipinya yang menggembung.
"Kenapa aku berdebar?" gumam Sasha dalam hatinya. Sementara Sasha masih kikuk dengan perasaannya sendiri saat ia berdua dengan Ardan. Sang laki-laki malah sedang berbaring santai sambil tumpang kaki.
"Mas, tidak ganti baju dulu? Atau mandi dulu gitu?" tanya Sasha tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kamu aja duluan, aku capek." Ardan meletakkan sebelah tangannya pada dahi, dia memejamkan matanya sejenak sambil menunggu gilirannya untuk ke kamar mandi.
"Udah sering sekamar berdua dengan mas Ardan, tapi kok aku masih deg-degan ya?" Sasha bertanya pada dirinya sendiri saat ia berada dalam kamar mandi. Dia merasakan suasana honeymoon ini memang berbeda. Pantas saja banyak pasangan yang selalu ingin melewati malam pertama saat masa honeymoon saja.
Antara berdebar dan gelisah, Sasha akhirnya melanjutkan aktivitasnya. Gadis itu berendam pada bathtube yang telah diisi oleh essential oil sebelumnya. Aroma terapi membuat dirinya nyaman setelah melakukan perjalanan panjang.
Tok tok tok
"Sha, udah belum? Cepetan!" Tanpa Sasha sadari ternyata Ardan telah menunggunya.
"Ah, iy. Sebentar" jawab gadis itu
Sasha pun keluar dari bathtube dengan tubuh yang dipenuhi busa, dia pun membilas dirinya di bawah guyuran shower.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Sasha keluar dengan mengenakan bathrobe putih. Rambutnya basah dan masih meneteskan titik-titik air di wajahnya.
"Ah, maaf." Sasha tersipu dan langsung menunduk saat melihat Ardan yang shirtless karena hanya mengenakan handuk, kepalanya hampir saja menabrak dada bidang itu.
Ardan tak berkata apa-apa saat Sasha menabraknya, dirinya langsung masuk ke kamar mandi dan langsung membersihkan dan merilekskan diri setelah lelahnya perjalanan.
***
Bersambung ...
Beri jempol untuk karyaku ya teman-teman...
penokohannya jg pas.
walaupun ini karya perdana sang author,tp novel ini bgs menurut sy.
semoga utk ke depannya KK author lebih sukses lg dgn menghasilkan karya2 trbaiknya.
𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂..