Dalam catatan kuno, Energi Elemental adalah Energi (Internal) yang tersimpan dalam jiwa seseorang ketika menyatu dengan partikel-partikel Elemen (Eksternal) yang tersebar di muka bumi, sehingga menciptakan Energi Elemental. Energi Elemental bersifat aditif, sehingga setiap penggunaannya harus melalui persyaratan. Semakin sulit persyaratan yang dinyatakan, semakin kuat Energi Elemental yang didapat. Orang yang dapat menggunakan Energi Elemental disebut sebagai Elementalist, orang-orang yang memiliki impian dan tujuannya masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Magbhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Saling Berpasangan
Berada terlalu lama di Ruang Monitor membuat Rudger membuka mulutnya lebar-lebar karena tidak tahan menahan rasa kantuknya yang secara tiba-tiba melanda otaknya.
"Kalau menguap, bisa minta tolong untuk ditutup? Rasa kantuknya menular ke orang lain lho." Komentar Ellen dengan nada jengkel karena merasa terganggu dengan tingkah laku Rudger.
"Hei, Ellen. Sudah berapa menit sejak terakhir kali kau memindahkan mereka semua ke sana?" Tanya Rudger dengan santai, tidak memperdulikan kalimat protes yang Ellen lontarkan padanya.
Ellen memandang Rudger dengan wajah yang kesal. Ia pun membuka mulutnya sambil menutup kedua matanya untuk mengubur amarahnya dalam-dalam.
"Kurang lebih empat puluh menit." Jawab Ellen dengan singkat.
"Empat puluh menit, ya..." Gumam Rudger sambil memegangi dagunya dan memandang keramik putih di bawah kakinya yang tersinari pantulan cahaya dari monitor.
"Ada sesuatu yang menggangu mu dengan itu?"
"Tidak, hanya saja selama ini tidak ada pertarungan menarik yang bisa mereka perlihatkan pada kita." Ucap Rudger dengan jujur. Ia pun terbangun dari sofa yang ia duduki kemudian meregangkan badannya karena merasa terlalu lama terduduk di sana.
Kano hanya menyimak obrolan mereka berdua dengan tenang sedangkan Petra membuka mulutnya untuk merespon komentar yang Rudger lontarkan tadi.
"Memang membosankan untuk melihat pertarungan tanpa adanya Skill dan Ultimate. Kau pasti mengharapkan pertarungan ideal seperti gadis berambut panjang berwarna kecokelatan di sana itu melawan adiknya Melissa, kan?" Ucap Petra dengan frontal, mencoba menebak harapan Rudger sambil melirik Rudger yang berdiri di belakangnya.
"Nah! Itu dia yang ku maksud!" Seru Rudger dengan wajah yang gembira seperti anak kecil yang senang karena ada yang menebak dengan benar teka-teki yang telah ia buat.
Kano pun tersenyum tipis kemudian membuka mulutnya untuk ikut ke dalam obrolan.
"Kurasa itu akan segera terwujud. Ya, kan? Ellen." Komentar Kano, melirik Ellen dari pantulan layar monitor yang mati. Layar monitor itu seharusnya berasal pandangan Lalat Kuda yang mengikuti salah satu di antara Bent, Wangshi dan Nona karena Lalat Kuda miliknya berbagi visi yang sama dengan layar monitor yang ia kendalikan.
"Iya, setidaknya begitulah yang kurasakan dari Energi Elemental milikku yang menyelimuti koin-koin yang mereka bawa." Ucap Ellen dengan santai dan jujur, namun sedikit terlihat keraguan yang menggangu pikirannya meski ia tidak tahu apa itu.
"Benarkah!? Hahaha! Ini sangat menarik!" Seru Rudger dengan lantang dengan wajah yang senang.
"Tetapi, sebelum itu sepertinya mereka berenam akan bertemu dalam waktu yang dekat ini." Lanjut Ellen, menatap layar monitor di mana Notoma dan Uvelia sedang berjalan perlahan melewati pepohonan sebelum mendekati area bibir sungai.
"Mereka berenam? Maksudmu..." Petra bergeming mendengar kalimat pernyataan yang Ellen ucapkan.
"Benar." Jawab Ellen dengan singkat.
...****************...
Tiba-tiba, Notoma bergeming hingga membuat Uvelia terheran-heran.
"Hm? Ada apa?" Tanya Uvelia dengan kedua alis matanya yang terangkat karena bingung melihat raut wajah Notoma yang berubah secara tiba-tiba.
Tidak mengindahkan pertanyaan yang Uvelia lontarkan padanya, Notoma melepas pergelangan tangan Uvelia hingga membuat keseimbangan gadis yang berada di belakangnya itu hilang. Tentunya, Uvelia mengubah raut wajahnya menjadi panik dan kesal yang bercampur aduk karena keseimbangannya runtuh.
Tetapi, di tengah yang sempit seperti itu, Notoma meraih punggung dan bagian belakang kedua lutut Uvelia dan menggendongnya sebelum pada akhirnya melompat ke kanan mereka untuk segera bersembunyi di balik semak-semak. Pada saat itu juga, wajah Uvelia memerah karena tindakan yang Notoma lakukan padanya, seperti sosok pangeran tampan yang menggendong dirinya bak tuan putri jelita.
Setelah kedua kakinya menyentuh tanah, Notoma pun merendahkan tubuhnya hingga di titik di mana kedua lututnya juga menyentuh tanah. Ia pun melepaskan kedua tangannya dari tubuh Uvelia yang membelakangi jalan setapak yang sebelumnya telah mereka lewati. Sambil memantau orang yang akan datang dari arah depan, Notoma melirikkan pandangannya ke samping.
"A-apa yang kau lakukan dasar—"
Dengan cekatan, Notoma menutup mulut Uvelia yang sangat menggangu hingga membuat Uvelia hanya terdiam meski raut wajahnya memerah karena malu dan marah di saat yang bersamaan.
Seperti yang Notoma duga, dua orang melintasi mereka berdua. Kedua orang itu adalah Troy yang sedang menarik baju Long hingga pada akhirnya membuat Long menghentakkan tangannya ke tanah sehingga seketika membuat Troy terkejut sambil memandangi wajah Long yang marah.
"Apa yang kau lakukan, dasar bodoh!" Umpat Troy dengan gamblang. Sorot matanya yang kesal menghujani wajah Long hingga mereka bertukar pandang, menatap mata masing-masing.
Long hanya bisa terdiam mendengar umpatan lawannya tersebut. Ia menarik napasnya pelan-pelan sebelum pada akhirnya membuka mulutnya lebar-lebar.
"KAU YANG BODOH! KENAPA KAU MENARIK TUBUHKU DENGAN TIBA-TIBA!?" Teriak Long Wei dengan keras hingga membuat Troy benar-benar terkejut karena tidak menyangka bahwa lawannya yang sedang berdiri di hadapannya itu bisa mengeluarkan suara yang keras.
"Mereka bertengkar? Apa mereka berdua satu tim?" Tanya Notoma dalam hati, mengintip dengan memperhatikan Troy dan Long dari balik-balik semak.
Troy memasang wajah yang kesal dan kemudian membuka mulutnya untuk merespon balik amarah yang Long lontarkan padanya.
"MEREKA BERDUA ITU BERADA DALAM TIM YANG SAMA, IDIOT! AKAN JAUH LEBIH MERUGIKAN UNTUK KITA JIKA MELAWAN MEREKA BERDUA SEKALIGUS!" Balas Troy dengan gamblang. Kedua telapak tangannya mengindikasikan keputusasaan yang mendalam ketika mengucapkan perkataannya.
Memperhatikan reaksi yang Troy perlihatkan padanya, Long hanya bisa menggeretakkan giginya kuat-kuat karena tak bisa membantah pernyataan yang Troy teriakkan barusan.
Long menghempaskan napasnya dengan pelan. Menundukkan kepalanya sambil memandangi tanah yang berada tepat di depan kakinya. "J-jadi, apa yang kau rencanakan?" Tanyanya, menatap wajah Troy karena sedang berusaha untuk mencairkan suasana di antara mereka berdua.
Troy memutar badannya hingga membelakangi lawan bicaranya itu. Kemudian, dengan sorot mata yang membara, ia membuka mulutnya.
"Aku punya penawaran untukmu." Kata Troy dengan nada yang serius.
Long bergeming sesaat. "Penawaran?" Tanyanya.
"Benar. Kita akan bekerjasama untuk melawan mereka berdua. Dengan kata lain, gencatan senjata di antara kita mulai dari sekarang hingga kita berdua berhasil merebut koin yang mereka berdua punya." Saran Troy dengan nada yang membara, sambil memutar kepalanya dengan senyum tipis yang ia lontarkan pada Long.
Long terperanjat kaget mendengar penawaran yang Troy ajukan untuknya. Tetapi, ia menelan ludahnya sambil mengelap keringat yang menetes di pipinya. Kemudian, Long membuka mulutnya.
"J-jika kita berhasil mengalahkan mereka berdua, m-maka kita akan mengamankan posisi kita masing-masing, ya?" Tanya Long dengan senyum yang tipis di bibirnya.
Troy membalas senyuman tipis yang Long arahkan padanya. "Kau menerima tawaranku atau tidak?" Tanya Troy dengan sedikit keraguan di hatinya.
Dengan wajah yang ragu, Long membuka mulutnya.
"A-akan ku terima kalau kau menyetujui untuk tidak ada pertarungan di antara kita begitu kita berdua berhasil mengalahkan mereka berdua." Jawab Long dengan nada yang penuh dengan keraguan.
Mendengar persyaratan yang Long ajukan padanya, Troy pun memutar tubuhnya menghadap kepada Long. Kemudian, ia menghela napasnya yang panjang sambil mendongakkan wajahnya ke langit. Long masih menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut lawannya itu. Troy pun menurunkan wajahnya dan membuka mulutnya.
"Dasar bodoh. Pemburu tidak akan pernah mengkhianati rekannya sendiri untuk berbagi hasil buruan. Sehebat itulah kehidupan seorang pemburu!" Seru Troy dengan lantang, memasang senyum yang lebar hingga gigi-giginya terlihat dengan jelas.