Pengkhianatan oleh adik sepupunya membuat dia, Gavin Agha Wiguna menjadi manusia kulkas berjalan. Hatinya sudah membeku dan sangat sulit untuk mencair.
Hingga pada sebuah kesempatan yang tak direncanakan, dia bertemu dengan perempuan yang pernah dia isengi sewaktu dia masih remaja. Perempuan itu semakin cantik dan manis. Sayangnya, perempuan itu dikabarkan sudah menjadi pacar dari adik sepupunya.
Akankah kejadian tujuh tahun lalu akan terulang lagi? Dengan cerita yang berbeda, di mana Gavin Agha Wiguna yang menjadi pengkhianatnya? Ataukah dia yang terus mengalah dan menjadi semakin dingin seperti kulkas empat pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Basket
"Mana Salju?" tanya Reksa ketika Agha malah masuk ke dalam mobil seorang diri.
"Dia pulang ikut rombongan."
"Lu ijinin?"
"Kan ada Leo."
Reksa menggelengkan kepalanya. Sungguh sahabatnya ini menjadi lelaki yang amat bucin terhadap Salju. Rela tidak tidur untuk menyelesaikan pekerjaannya agar hari ini bisa menyusul Salju ke Borobudur.
"Lu belum makan," ujar Reksa setelah menghidupkan mesin mobil.
"Udah kenyang."
"Kenyang ci po kan maksud lu?"
Plak!
Kepala Reksa dipukul oleh Agha hingga dia mengaduh. Agha menatap Reksa dengan sangat tajam.
"Ini tempat umum be go!"
"Siapa tahu setan lagi merasuki tubuh lu!"
Untuk kedua kalinya Agha memukul kepala Reksa.
"Amnesia entar gua, Nying!" umpat Reksa.
Reksa dan Agha adalah dua lelaki yang sering beradu mulut, jarang akur, tapi mereka selalu ada satu sama lain di saat saling membutuhkan. Banyak bertengkar, tapi membuat hubungan mereka semakin dekat. Definisi sahabat sungguhan.
.
Tibanya di rumah, Agha merasakan perutnya yang sedikit sakit. Dia memilih untuk masuk ke kamar dan beristirahat. Sebelum memejamkan mata, dia mengecek ponsel. Salju mengabarkan jika dia baru sampai rumah sakit. Agha pun masih mengabaikan pesan dari Salju. Memilih untuk memejamkan mata.
Jam delapan malam, Salju baru tiba di kediaman Agha. Sebenarnya dia sudah pulang ke kosan, tapi hatinya mendadak teringat Agha. Dia pun memutuskan untuk ke kediaman Agha. Reksa terlihat baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan dan hanya menggunakan celana pendek.
"Kak Agha ada?" tanya Salju masih canggung.
"Ke kamarnya aja."
Reksa memilih untuk ke dapur. Mengambil air minum. Salju mulai melangkahkan kaki menuju lantai atas. Di mana kamar Agha berada. Dia mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban dari dalam. Salju mencoba menekan gagang pintu. Lampu kamar menyala. Dia pun mendekat ke arah tempat tidur di mana Agha terbaring di sana.
"Mommy," ucapnya dengan begitu pelan.
Langkah Salju terhenti ketika mendengar igauan Agha. Namun, dia segera melanjutkan langkahnya. Wajah Agha sudah pucat. Salju segera meletakkan punggung tangannya di atas dahi Agha.
"Mamas," panggil Salju.
Perlahan mata Agha terbuka. Dia terlihat begitu lemah. Agha juga melihat jelas wajah Salju yang nampak khawatir.
"Telat makan lagi, ya." Agha hanya tersenyum.
"Jangan buat aku cemas, Mas."
"Maaf." Agha pun mengusap lembut ujung kepala Salju.
Salju membuatkan Agha makanan yang sangat sederhana. Sebenarnya Salju menolak, takut keasinan seperti yang pertama. Namun, Agha tetap memaksa. Permintaan Agha pun tak susah, dia hanya meminta telur mata sapi.
"Makan, ya."
Salju menyuapi Agha dengan begitu telaten. Dia juga memberikan obat yang bagus untuk Agha.
"Di sini aja," pinta Agha.
"Iya."
Reksa yang melihat Agha dan Salju hanya dapat menghela napas. Setelahnya senyumnya pun melengkung indah. Dia dapat melihat jikalau Salju sangat tulus kepada Agha.
.
Perjanjian Salju dan Agha kini sudah berubah. Di mana Salju diijinkan untuk bertugas kembali di rumah sakit, tapi dengan syarat dia akan diantar jemput oleh Agha. Dia juga diperbolehkan untuk tinggal di kosan.
Salju pun tersenyum ketika Agha menghubunginya ketika jam kerjanya selesai
"Iya, Mas."
"Udah di parkiran."
Salju bergegas keluar dari rumah sakit. Sudah dua Minggu ini wajah Salju selalu nampak bahagia karena perlakuan Agha yang sangat luar biasa kepadanya.
Salju membuka pintu mobil Agha dan tersenyum manis ke arah Agha. Tak lupa dia juga membubuhkan kecupan di pipi Agha yang wajib dilakukan ketika Salju berangkat kerja dan pulang kerja.
"Mas mau main basket," ujar Agha yang fokus pada jalanan.
Salju menoleh ke arah Agha. Kalau Agha sudah berkata seperti itu sudah dipastikan dia harus ikut. Agha bukan tipe orang yang akan mengajak. Tapi, dia tipe yang memberikan pemberitahuan di mana orang yang diberi pemberitahuan itu harus ikut dengannya dan tidak boleh menolak.
"Jam berapa?"
"Delapan."
Salju sudah terbiasa sekarang dengan kalimat singkat yang keluar dari mulut Agha.
"Ganti bajunya di rumah aja. Tempatnya gak jauh dari rumah." Salju pun hanya bisa mengangguk.
Rumah yang Agha maksud adalah rumah yang dihuni oleh dirinya dan Reksa. Salju beristirahat sebentar. Kemudian, dia menuju ruang makan di mana Agha dan Reksa sudah berada di sana. Selesai makan, mereka menuju lapangan basket. Salju meyakini jikalau rekan tanding Agha adalah para pengusaha muda.
Tibanya di sana, Agha langsung menggenggam tangan Salju menuju lapangan. Agha memang kembali dingin, tapi perhatiannya dan posesifnya masih tetap sama.
"Mas," panggil Salju ketika dia dibawa ke ruang ganti.
"Ini dikhususkan hanya untuk Mas."
Salju tak berkedip ketika melihat Agha berganti pakaian. Badannya yang putih dan kekar membuatnya menelan ludah. Agha pun tersenyum tipis.
"Kamu boleh pegang kok."
Salju pun terkejut mendengar ucapan Agha tiba-tiba. Apalagi Agha sudah menarik tangan Salju. Salju pun menggeleng. Agha tertawa. Dia menarik tangan Salju masuk ke dalam dekapannya.
"Bercanda, My snow."
Salju pun tersenyum. Tangannya kini melingkar di punggung Agha.
"Jangan kecapean."
Agha mengendurkan pelukannya dan menatap Salju dengan penuh cinta.
"Jangan sampai cedera."
Tak ada jawaban dari Agha. Namun, sebuah kecupan di kening menjawab semua kekhawatiran Salju.
"Asal ada kamu di samping Mas, Mas gak akan kenapa-kenapa."
.
Agha sudah menyiapkan tempat duduk khusus untuk Salju. Dia tidak mengijinkan lelaki lain duduk dekat Salju, kecuali Leo. Leo ditugaskan untuk menjaga Salju selama Agha dan Reksa bermain basket.
Benar dugaan Salju, yang bermain basket malam ini adalah orang-orang kalangan atas semua. Terlihat dari wajah dan kulit mereka. Dia terpesona kepada Agha yang terlihat sangat keren ketika bermain basket.
Tak henti Salju melengkungkan senyum melihat Agha bermain. Leo pun ikut terpukau melihat Agha bermain.
Setiap kali Agha bisa memasukkan bola ke dalam ring, dia akan melihat ke arah Salju dengan senyum yang begitu lepas.
Bagaimana Salju tak semakin jatuh cinta pada makhluk ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Dia merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Agha dan sekarang bisa menjalin hubungan dengan lelaki itu.
Permainan pun berakhir dan tim Agha lah yang menang. Dia terlihat sangat bahagia dan bertos ria dengan rekan satu timnya. Salju yang menontonnya ikut bahagia melihat sang kekasih yang teramat ceria.
Agha membalikkan tubuhnya dari rekan-rekannya. Sedikit menjauh dari mereka. Dia Menatap ke arah Salju yang ada di kursi penonton yang sepi. Baru saja hendak tersenyum ke arah Salju, tiba-tiba sepasang tangan melingkar erat di pinggangnya. Tubuh Agha pun mendadak menegang. Begitu juga dengan Salju yang membeku melihat kekasihnya dipeluk oleh wanita cantik.
"Agha--"
...***To Be Continue***...
Komen yang banyak dong ...