NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.

Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.

Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.

Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?

Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mendatangi Roni

Tangisan Linda kembali pecah. "Ini semua salah saya. Seandainya dulu saya menyerahkan tanah itu... Sasa tidak akan dibawa."

Kinan berlutut di hadapannya. "Tatap saya, Bu Linda." Linda perlahan mengangkat wajahnya. Matanya merah dan bengkak. "Dengarkan saya."

Suara Kinan lembut, tetapi tegas. "Yang bersalah bukan Ibu. Tapi... Orang yang menggunakan anaknya sendiri untuk mengancam istrinya tidak sedang mencari jalan keluar. Dia sedang melakukan kejahatan."

Linda terdiam. Kinan meyakinkan lagi. "Ibu menangis tidak apa-apa. Tapi jangan sampai rasa takut membuat Ibu kehilangan harapan."

"Kalau... kalau terjadi sesuatu pada Sasa..."

"Tidak akan." Jawaban Kinan begitu cepat hingga Linda menatapnya.

"Saya akan membantu Ibu membawa Sasa pulang."

"Tapi Roni bukan orang yang bisa diajak bicara."

"Kalau begitu..." Kinan berdiri perlahan. "Kita tidak akan membuang waktu untuk berdebat dengannya."

Linda menatap Kinan penuh harap. "Yang terpenting sekarang, kita pikirkan bagaimana membawa Sasa pulang dengan selamat."

Linda mengusap air matanya, lalu mengangguk pelan. "Terima kasih, Bu Kinan."

Kinan membalas dengan senyum tipis. "Ibu pulang dulu. siapkan berkas yang diminta Roni. Saya akan ke sekolah dulu."

...****************...

Kinan berhenti di depan gerbang sekolah. Anak-anak mulai berdatangan. Tawa mereka memenuhi halaman. Beberapa langsung berlari menghampirinya. "Bu Kinan!"

Kinan tersenyum tipis. "Pagi." Ia mengusap kepala salah satu murid, lalu melangkah menuju ruang kepala sekolah.

Pintu diketuk dua kali.

"Silakan masuk." Kepala sekolah mengangkat wajah dari berkas yang sedang dibacanya.

"Bu Kinan?"

"Saya ingin meminta izin tidak mengajar hari ini."

Beliau tampak heran. "Ada sesuatu?"

Kinan mengangguk. "Masalah keluarga salah satu murid."

Kepala sekolah langsung teringat pada Sasa. "Apa ini terkait dengan keluarga Sasa?"

"Iya."

Beliau menghela napas. "Sasa kenapa lagi?"

Kinan menjawab pelan. "Semalam dia dibawa ayahnya."

Kepala sekolah spontan berdiri. "Dibawa?"

"Bu Linda datang ke rumah saya pagi ini. Roni meminta tanah sebagai syarat agar Sasa dikembalikan."

Ruangan mendadak sunyi.

"Kalau begitu laporkan ke polisi."

"Bu Linda sudah terlalu takut."

Kepala sekolah memandang Kinan beberapa saat. "Kamu mau ke sana?"

"Saya tidak bisa membiarkannya sendiri."

Beliau mengangguk pelan. "Hati-hati."

"Saya akan kembali secepat mungkin." Kinan membungkukkan badan singkat, lalu keluar dari ruangan.

Kinan keluar dari gerbang sekolah.

Linda masih menunggu di bawah pohon ketapang di seberang jalan. Map cokelat berisi sertifikat tanah dipeluk erat di dadanya. Sejak tadi ia terus menunduk, seolah tak sanggup menatap siapa pun.

Melihat Kinan mendekat, Linda segera berdiri.

"Bagaimana, Bu?"

"Saya sudah izin."

Linda mengangguk pelan, tetapi wajahnya tetap dipenuhi kecemasan. "Bu Kinan..." suaranya lirih. "Kalau nanti saya menandatangani surat itu... apakah Sasa benar-benar akan dilepaskan?"

Kinan tidak langsung menjawab. "Menurut Ibu?"

Linda terdiam. Air matanya kembali menggenang. "Saya tidak tahu. Saya sudah tidak tahu harus percaya kepada siapa lagi."

Kinan memandang map yang dipeluk Linda. "Roni pernah menepati janjinya?"

Pertanyaan itu membuat Linda terpaku. Perlahan, ia menggeleng. "Tidak pernah."

"Lalu kenapa sekarang Ibu yakin dia akan menepatinya?"

Linda menggigit bibirnya. Tangannya mencengkeram map semakin kuat. "Saya hanya tidak ingin kehilangan Sasa."

Kinan mengangguk pelan. "Saya mengerti."

Sesaat mereka sama-sama terdiam.

Angin pagi berembus pelan, menggoyangkan daun-daun di atas kepala mereka.

"Bu Linda."

"Iya?"

"Apa pun yang terjadi nanti, jangan bertindak di luar yang sudah kita sepakati."

Linda menatap Kinan. "Maksudnya?"

"Kalau Roni memancing emosi Ibu, tetap tenang. Jangan melawan. Jangan membuatnya curiga."

"Kalau dia memaksa saya menandatangani surat itu?"

Tatapan Kinan berubah lebih dalam. "Jangan terburu-buru." Linda mengernyit.

"Saya akan mencari kesempatan."

"Kesempatan apa?"

Kinan hanya tersenyum tipis. "Percayalah pada saya."

Entah mengapa, hanya dengan kalimat itu, dada Linda yang sejak semalam sesak terasa sedikit lebih lega. Ia mengangguk. "Baik, Bu."

Kinan melangkah lebih dulu. "Mari kita jemput Sasa."

Linda mengekor di belakangnya, sementara map cokelat itu masih berada dalam pelukannya. Di dalam hatinya, ia terus berdoa semoga pagi itu menjadi akhir dari mimpi buruk yang menimpa keluarganya.

...****************...

Rumah tua itu dipenuhi bau kayu lapuk.

Sasa duduk di atas tikar lusuh di sudut ruangan. Kedua lututnya dipeluk erat. Sejak semalam ia hampir tidak tidur.

Perutnya berbunyi pelan. Ia mengangkat wajah menatap Roni yang sedang mondar-mandir sambil sesekali melihat jam tangan.

"Ayah..." Roni tidak menjawab.

"Ayah..."

Kali ini Roni menoleh. "Ada apa?"

Sasa menundukkan kepala. "Aku lapar."

Roni mengembuskan napas panjang. Ia merogoh saku celananya. Uang yang tersisa hanya beberapa lembar.

Tatapannya jatuh pada wajah putrinya yang pucat.

"Aku tidak bisa tidur semalam. " Suara polos itu membuat dada Roni terasa sesak.

Ia mengusap wajah kasar. "Tunggu di sini." Sasa buru-buru mengangguk.

Roni membuka pintu rumah tua itu. Di luar, salah seorang anak buah Tuan Sanjaya yang berjaga menoleh. "Mau ke mana?"

"Beli makanan."

"Bos bilang jangan tinggalkan anak itu."

Roni menatap pria tersebut. "Dia lapar."

Anak buah itu mendengus. "Cepatlah."

Roni berjalan menuju warung kecil di pinggir jalan. Beberapa menit kemudian ia kembali membawa sebungkus nasi dan sebotol air mineral.

Sasa langsung menyambutnya. "Ayah..."

"Nih." Roni menyerahkan bungkusan itu.

Sasa menerimanya dengan mata berbinar. "Terima kasih, Ayah."

Anak itu membuka bungkus nasi dengan lahap. Roni hanya berdiri memperhatikan. Sesaat, wajahnya melunak. Namun bayangan ucapan Tuan Sanjaya kembali terngiang di kepalanya.

"Kalau kali ini gagal, jangan pernah datang lagi meminta uang kepadaku."

Roni mengepalkan tangan. Tatapannya kembali mengeras.

...****************...

Gudang tua itu berdiri di ujung kebun tebu. Dindingnya kusam. Atap seng yang berkarat sesekali berderit tertiup angin.

Linda berhenti beberapa meter dari pintu. Tangannya menggenggam map cokelat begitu erat.

Di belakang semak belukar, Kinan mengawasi tanpa mengeluarkan suara. Tatapannya menyapu sekeliling. Satu mobil bak terbuka terparkir di samping gudang.

Tidak lama kemudian, pintu gudang terbuka.

Roni melangkah keluar. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Wajahnya tampak santai, seolah tidak pernah menculik anaknya sendiri. "Kau datang juga."

Linda berusaha menahan gemetar. "Mana Sasa?"

Roni terkekeh pelan. "Aku yang bertanya lebih dulu." Tatapannya jatuh pada map di tangan Linda. "Mana suratnya ?"

Linda tidak bergerak. "Aku ingin melihat Sasa dulu."

Roni menggeleng. "Kamu mau mencoba menipuku?"

"Roni..."

"Suratnya dulu."

Linda menarik napas panjang. "Aku tidak akan menyerahkannya sebelum melihat anakku."

Sorot mata Roni berubah dingin. Ia mengangkat tangan memberi isyarat.

Seorang pria keluar dari dalam gudang. Lelaki itu membawa Sasa. Mulut anak itu tidak disumpal, tetapi kedua tangannya diikat ke depan.

"Ibu!"

Linda spontan melangkah maju. "Sasa!"

Sasa berusaha berlari, tetapi pria itu kembali menarik bahunya. "Ibu..." Tangis anak itu membuat dada Linda terasa diremas.

"Dia baik-baik saja." Roni berkata datar. "Sekarang giliranmu memenuhi janji."

Di balik semak, mata Kinan mengikuti setiap gerakan. Tatapannya kemudian berhenti pada pintu samping bangunan tua itu.

Pintu itu sedikit terbuka. Cukup bagi seseorang untuk masuk tanpa terlihat.

Bibir Kinan nyaris tak bergerak. "Sasa... tunggu sebentar lagi."

1
Kayla Rane
tambah seruuu lihat aksi Kinan. kak indah mau masuk grup author gak. kalau mau chat japri yuk. tukeran no wa
Kayla Rane
lanjutt Thor tmbah seru
Kayla Rane
tuh kan bener. keukehh waeee... 🤨
Kayla Rane
huuuh dsr Roni rese. mau nyulik Sasa, ntar jd jaminan lagi nyuruh Linda kudu nandatangani surat lahan 😤
Kam1la: terimakasih kak...sudah berkomentar 👍👍
total 1 replies
Kayla Rane
Yee Kinan pahlawan wanita. gak nyangka ih Thor Kinan trnyata ahli bela diri /Joyful//Bye-Bye/
Kam1la: kan bos dia...😄
total 1 replies
Kayla Rane
Kinan ayo bantu Sasa! kasian ibunya
Kayla Rane
kesel si Roni, maksa pisan heuuh
Kayla Rane
bagus Linda lawan aja suamimu yg TDK tanggungjawab tapi sok tanggung jawab 😤
Kayla Rane
kasar ih s Roni, GK tau diri ga tau malu🤨
Kayla Rane
🥺 ya kasian linda
Kayla Rane
Andika siapa tiba2 Dateng, jahat apa baik ga ya orangnya /Scream/
Kayla Rane
yee keren banget kinan🤭💪
Kayla Rane
lanjut seru 🤭
Kayla Rane
haha lucuu/Joyful/ darwin
Kayla Rane
keren lanjutkan k😇
Kam1la: siap..
total 1 replies
SANG
Lanjut ya dek💪👍
Kayla Rane
lanjutkan k😍
Kayla Rane
😍🤭 Darwin kapan jatuh cinta sama Kinan nya?
Kayla Rane
yeey udah nikah juga 😍
SANG
Keren 💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!