Binar harus menikah dengan Gian, anak dari sahabat almarhum Ayahnya. Setengah tahun dari pernikahan Binar dan Gian, Ayah Gian meninggal.
Saat menjelang empat puluh hari kematian Ayahnya, Gian menikah secara sirih dengan Sarah, pacarnya semasa kuliah tanpa sepengetahuan Binar.
Binar yang mengetahui itu sangat terpukul, pasalnya dia sangat menghormati Gian sebagai suaminya, namun kali ini Gian menghianatinya.
Akankah Binar mempertahankan rumah tangga wasiat dari Ayahnya atau menyerah atas rasa sakit yang di berikan oleh Gian yang ternyata tidak pernah mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hujan Reda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Terik mentari memaksa masuk ke dalam penglihatan ku. Ku buka perlahan kedua mataku. Mengerjapkan nya beberapa kali agar mendapat kesadaran penuh.
"Udah bangun?"
Aku menoleh ke arah suara itu. Kak Fatur dengan satu gelas teh di tangan kanannya berjalan ke arahku. Sepertinya dia baru saja membeli teh itu dari luar.
"Udah kak."
"Gimana badannya? Udah segeran?" tanyanya lagi.
"Udah juga."
"Nanti aku ada rapat sekitar jam sepuluh. Kamu sendiri dulu ya sampe Vio dateng. Dia katanya mau kesini siangan. Gak papa?"
Aku mengangguk. "Gak papa. Ya udah kakak sekarang aja pulangnya. Harus nyiapin berkas sama mandi terus ganti baju kan?"
Dia tertawa. "Kamu tu ya, liat aku pake baju apa," ucapnya sambil memperlihatkan pakaian yang dia kenakan.
Aku terdiam cukup lama. Memangnya apa yang aneh? Dia memakai jas hitam dengan kemeja biru kotak-kotak. Itu bagus. Sudah rapih.
"Ih kamu tu ya Binar. Masa gak ngeh?"
Aku menggeleng. Tidak tahu sama sekali apa yang sedang dia pikirkan.
"Aku udah ganti baju loh ini. Udah mandi juga."
"Hah?"
Aku baru ingat. Kemarin dia cuma pake kaos dan celana Levi's pendek selutut. "Aih ... iya juga ya," seruku terkekeh pelan.
Kak Fatur duduk di kursi sebelah kasurku. Dia menyodorkan satu gelas teh hangat padaku. "Nih, minum dulu."
Aku menerimanya. Meminumnya hingga tersisa setengah. Rasanya hangat sekali di tenggorokan ku. "Makasih kak."
Ia mengangguk. "Tadi aku nyuruh Vio buat kirim baju sama keperluanku yang lainnya pake ojek."
"Terus mandinya dimana?"
"Ya di sini."
"Hah? Di kamar mandi ruang ini?"
Kak Fatur mengangguk. Dia sampai rela mandi di sini cuma buat nungguin aku? Ya ampun.
"Maaf ya gara-gara aku kakak jadi mandi di kamar mandi sini. Harusnya kakak pulang aja. Lagian gak papa aku sendiri dulu kak."
"Enggak lah Binar. Gak papa, sesekali mandi di kamar mandi yang di pake orang juga," ucapnya terkekeh.
"Kamu tu ya, aku gak enak jadinya."
"Gak papa Binar ku."
Binar ku?
"Permisi, selamat pagi Ibu Binar," seru dokter dari arah pintu.
Kak Fatur berdiri menghampiri dokter yang di temani satu perawat itu. "Pagi dok."
"Wah kelihatannya sudah segar ya Bu?" tanyanya.
Aku mengangguk. Tidak seperti saat pertama datang kesini yang hanya diam saja. Aku terlihat lebih ceria. "Iya dok. Alhamdulilah."
"Saya periksa dulu ya Bu?"
Aku mengangguk. Dokter mulai memeriksa tubuhku. Kak Fatur memperhatikan dokter dengan serius.
Stetoskop yang dokter gunakan untuk memeriksakan suara di dalam tubuhku, ia lepas. Melirik ke arah meja. Aku mengikuti arah pandangnya.
"Loh belum di makan sarapannya?"
"Memangnya sejak kapan ada makanan di sana?" batinku.
Aku menggeleng.
"Binar baru bangun dok, jadi belum sempat makan," jelas kak Fatur menjawab pertanyaan dokter yang di tujukan padaku.
Aku terdiam. Melirik jam dinding yang berada di atas pintu masuk. "Hah? Jam sembilan?"
"Oh gitu ... nyenyak ya Bu?"
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Bisa-bisanya jam segini aku baru bangun.
"Baik, kondisi Ibu sudah membaik. Sangat baik bahkan. Kalau pemeriksaan nanti siang ternyata memang tidak ada yang berubah. Ibu boleh pulang sore nanti. Besok juga boleh," jelasnya.
Dokter itu menoleh ke arah kak Fatur. "Nanti obatnya bisa di ambil di apotek ya Pak," lanjutnya.
"Baik dok, terimakasih banyak."
"Nah, makan dulu yu?" ajak kak Fatur setelah dokter keluar dari ruangan ku.
Aku mengangguk. Mengambil kotak makanku yang sudah di berikan oleh rumah sakit. "Kakak udah makan belum?"
"Udah Bin. Mau aku suapin atau makan sendiri?"
"Makan sendiri aja ah."
"Ya udah, aku ambil obat dulu ya. Kamu makannya yang bener, kalo aku balik lagi ke sini tapi kamu belum makan. Aku suapin loh."
Aku mengerutkan dahiku. Menggeleng, tidak setuju dengan ucapannya. "Enggak. Kakak ke kantor aja. Ini udah jam berapa? Katanya kan jam sepuluh kakak harus ke kantor apalagi ada meeting."
Kak Fatur tersenyum. Senyum yang membuat tubuhku hangat rasanya. "Tenang aja ya, abis makan kan kamu perlu minum obat. Tunggu sebentar ya?"
Seakan terhipnotis oleh ucapan lembutnya. Aku mengangguk. Menyuapkan satu sendok makanan itu pada mulutku. Kak Fatur sangat lembut memperlakukanku.
Memangnya bisa jatuh cinta secepat perasaan kak Fatur padaku? Memangnya bisa? Tapi, perasaanku untuk Mas Gian dulu juga muncul saat hari pernikahan. Mungkin yang di rasa kak Fatur sama dengan perasaanku kepada Mas Gian dulu ya?
Kenapa aku masih menyamakan, membandingkan dan terus teringat Mas Gian?
Begitu kak Fatur keluar dari ruangan ini. Ponselku berbunyi.
"Kakak gua masih di sana gak Bin? Keadaan lo gimana? Udah baikan belum? Gua kesana siangan kayanya. Masih ada urusan di kampus."
Ternyata Vio, ya? Ah apa yang baru saja aku pikirkan? Kenapa aku berharap Mas Gian yang mengirim pesan padaku?
"Masih Vi. Lagi ngambil obat. Lo selesain dulu aja urusannya. Gua pulang kayanya hari ini. Kata dokter si gitu," balasku.
"Bagus kalo gitu. Lo sama dia dulu ya? Ya udah. Gua lanjut lagi nih ngejar dosen yang hobinya ghosting gua. Sialan!"
Aku tertawa mendapati pesan kedua dari Vio. Aku hafal sekali nada bicaranya. "Iya ... selamat main kejar-kejaran sahabatku."
"Kenapa ketawa-ketawa gitu?"
Aku segera menutup ponselku. "K-kamu? Ngapain?"
"Kenapa? Aku cuma mau jenguk aja kok."
Dia mengambil kotak makanku. Menyuapiku.
Aku masih diam mematung sambil mengunyah makanan dalam mulutku. "Kak Fatur dimana si?"
"Gimana keadaannya?"
Aku berdehem. Mengambil teh yang di berikan oleh kak Fatur tadi. Rasanya tenggorokanku seperti tersumbat sesuatu.
"Baik," jawabku. Singkat. Padat.
Dia kembali menyuapiku. Kenapa juga aku mau di siapin olehnya? Kenapa aku masih mau melakukan hal-hal seperti ini dengannya?
Untuk apa?
"Sidang kita kapan?" tanyaku kena pada intinya.
Dia terdiam. Menyimpan kotak makanku di meja. "Aku gak bakal ngajuin sidang perceraian."
Aku mengangkat satu alisku. "Kenapa?"
"Aku masih mau lanjut sama kamu."
"Gak bisa."
"Kenapa?"
"Jangan gila jadi orang," ketus ku.
Ini semua sebabnya. Dia yang menginginkan berpisah denganku, lalu kenapa sekarang dia dengan seenaknya berbicara seperti ini?
"Kita masih bisa Binar. Kamu cukup menikah dengan orang itu. Setelah itu kita balik lagi."
"Enggak Mas!"
"Ayolah Binar. Jangan egois."
Aku membuka mulutku lebar-lebar membentuk huruf O. Dia gila?
"Kamu gila ya Mas. Egois apa? Yang egois itu kamu!"
"Binar. Aku gak bisa kalo harus pisah sama kamu."
"Kamu emang udah gila Mas Gian. Kamu yang buat hubungan kita sampe sejauh ini loh."
"DIA BUKAN BARANG MAS!" teriak kak Fatur dari arah pintu masuk.
dn mudh lengket..mestinya Binar inijaga jarak dari mna2 lelaki kok mudh ya dpegang tangn nya Adeeeh...terlalu senang dhmpiri
💪💪💪💪💪💪💪
lanjut kak semangat terus up nya... penasaran Banget😁