Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana yang di Perkuat
Beberapa hari setelah insiden di pesta malam itu, suasana di vila kembali teratur, namun tidak berarti menjadi lebih santai. Justru, ketegangan berubah menjadi kewaspadaan yang lebih terstruktur. Penangkapan Carter Vance telah memotong satu cabang ancaman, namun Alex tahu betul musuh yang memiliki akar begitu dalam jarang berdiri sendirian.
Di ruang kerja yang sama, meja panjang itu kini tidak lagi hanya dipenuhi data tentang Carter, melainkan juga informasi yang mulai terkuak dari penyelidikan lebih lanjut. Javier dan Rio bekerja siang malam, menyusun potongan-potongan teka-teki yang tertinggal.
“Bos, hasil pemeriksaan awal terhadap dokumen yang disita dari kantor dan rumah Carter sudah keluar,” lapor Javier sambil meletakkan map tebal di atas meja. “Memang benar, dia memiliki hubungan dengan beberapa kelompok tersebar di benua lain. Tidak hanya soal dendam pribadi terhadap ayah Anda, tapi dia juga menjadi perantara aliran dana gelap yang menyamar sebagai investasi properti dan hiburan.”
Alex menyandarkan punggungnya di kursi, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja. “Apakah ada nama lain yang terlibat secara langsung dalam rencana menjatuhkan kita?”
“Ada satu nama yang sering muncul dalam catatan transaksi dan komunikasi tersandi,” jawab Rio sambil menunjuk sebuah halaman. “Sebuah nama samaran: ‘El Halcón’. Identitas aslinya belum terungkap, tapi bukti menunjukkan dia adalah orang yang memasok senjata dan dana tambahan untuk operasi Carter. Sepertinya dia adalah kekuatan di balik layar yang lebih besar.”
Aulia yang duduk di samping Alex, membaca catatan itu dengan saksama. “Jadi kita baru saja menyingkirkan orang yang terlihat, tapi masih ada pemimpin yang tidak terlihat yang mungkin akan berusaha melanjutkan apa yang dimulai Carter?”
“Tepat sekali,” sahut Alex. “Dunia ini tidak pernah berhenti berputar hanya karena satu orang jatuh. Tapi setidaknya, sekarang kita tahu ada bahaya yang lebih besar yang harus diwaspadai.”
Di sela-sela diskusi mereka, telepon kantor berdering. Panggilan itu berasal dari kantor pusat Surya Corp di Jakarta. Alex mengangkatnya, dan seiring percakapan berlangsung, raut wajahnya menjadi semakin serius.
“Baik, saya mengerti. Terima kasih atas informasinya,” ucapnya sebelum menutup telepon. Ia menoleh ke arah Aulia dan anak buahnya. “Berita dari tim hukum di Indonesia. Ada upaya penyelidikan tiba-tiba terhadap beberapa transaksi lama perusahaan, yang sepertinya diinisiasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Ini jelas merupakan reaksi dari pihak yang merasa terancam oleh penangkapan Carter.”
“Mereka mencoba menyerang dari dua arah sekaligus di sini dan di tanah asal kita,” gumam Aulia. “Mereka ingin memecah fokus kita.”
“Maka kita harus memperkuat pertahanan di kedua sisi,” tegas Alex. “Javier, kau akan kembali ke Jakarta untuk memimpin tim hukum dan keamanan di sana. Pastikan semua dokumen rapi dan tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan. Rio, kau tetap di sini, perketat pengawalan dan terus lacak jejak ‘El Halcón’.”
Kedua pria itu mengangguk mantap dan segera pergi melaksanakan perintah.
Setelah ruangan menjadi lebih sunyi, Alex berdiri dan berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke arah taman luas. Aulia ikut berdiri dan berdiri di sampingnya.
“Kau tidak perlu ikut campur terlalu dalam dalam hal ini,” ucap Alex tiba-tiba, suaranya lebih lembut. “Tugasmu tetap pada proyek film itu,itu adalah wajah sah kita. Jangan biarkan dunia gelap ini menelan seluruh waktumu.”
Aulia menoleh menatapnya, lalu meletakkan tangan di lengan Alex. “Kau lupa, kan? Kita sudah sepakat tidak ada batasan antara tugas dan tanggung jawab. Aku tidak hanya menjadi kepala desainer, Alex. Aku juga mitramu. Kalau ada orang yang berusaha menyerang kita, itu juga menyangkutku. Lagipula…” ia tersenyum tipis, “…aku sudah mulai terbiasa dengan ritme hidup yang tidak pernah tenang ini.”
Alex menatapnya dalam-dalam, lalu tersenyum tipis senyum yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. Ia meremas lembut tangan Aulia yang berada di lengannya. “Kadang aku merasa aku telah menyeretmu ke dalam pusaran yang tidak seharusnya kau hadapi. Tapi di sisi lain, aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa melewati ini sendirian.”
“Karena kita adalah tim,” jawab Aulia tegas. “Dan tim bekerja sama, saling melengkapi.”
Seminggu kemudian, persiapan produksi film mulai memasuki tahap krusial. Terlepas dari gejolak di balik layar, citra publik harus tetap terjaga. Victor Hale, meski sempat terlibat dalam tipuan Carter, kini benar-benar berusaha menunjukkan kesetiaannya. Ia sadar bahwa ia hampir menjadi korban manipulasi, dan keberadaan Alex justru menjadi perlindungan terbaik baginya.
Pagi itu, di ruang rapat studio yang luas, semua tim produksi berkumpul. Aulia memaparkan desain akhir kostum dan set lokasi dengan percaya diri, menjelaskan konsep yang memadukan budaya Timur dan Barat sesuatu yang menjadi ciri khas visi kerjasama mereka. Alex hadir sebagai pengamat, namun perhatiannya tidak hanya tertuju pada presentasi, tapi juga pada setiap orang yang hadir, memastikan tidak ada mata-mata yang menyusup.
“Konsep ini luar biasa, Nona Aulia,” puji salah satu sutradara yang hadir. “Ini akan memberikan warna yang berbeda dari film-film lain yang ada di pasaran.”
“Terima kasih,” jawab Aulia sopan. “Kami ingin menunjukkan bahwa keindahan tidak mengenal batas, sama seperti cerita yang ingin kami angkat.”
Setelah rapat selesai, Victor menghampiri mereka dengan wajah yang tampak lebih tenang. “Saya ingin sekali lagi meminta maaf atas kejadian malam itu. Saya benar-benar tidak tahu bahwa undangan itu akan digunakan sebagai jebakan. Carter telah memeras saya dengan mengancam reputasi keluarga saya.”
“Aku mengerti,” ucap Alex singkat. “Yang terpenting sekarang adalah kau tetap setia pada kesepakatan. Jika ada hal mencurigakan yang kau ketahui, katakan padaku segera.”
“Tentu saja,” jawab Victor dengan sungguh-sungguh. “Ngomong-ngomong, ada satu hal lagi. Sebelum ditangkap, Carter sempat menyebutkan sebuah nama lain saat kami berbincang secara pribadi. Dia menyebutkan bahwa ada ‘sahabat lama’ yang beroperasi di wilayah selatan, yang mungkin akan melanjutkan usahanya.”
Mata Alex menyipit tajam. “Nama apa yang disebutkannya?”
“Tuan Ramon Salazar. Dia memiliki bisnis perhotelan dan kasino, namun kabarnya terlibat dalam hal-hal yang tidak sah. Saya tidak punya bukti pasti, tapi saya rasa informasi ini penting untuk Anda ketahui.”
“Terima kasih, Victor. Informasi ini akan kami selidiki,” ucap Alex.
Setelah Victor pergi, Alex segera menyampaikan hal itu kepada Rio. “Selidiki latar belakang Ramon Salazar. Lihat apakah ada kaitannya dengan ‘El Halcón’ atau jaringan Carter. Jangan bertindak tergesa-gesa, kumpulkan dulu bukti yang kuat.”
“Siap, Bos,” jawab Rio dan segera pergi.
Sore harinya, suasana di vila terasa lebih damai. Aulia memilih beristirahat sejenak di taman belakang, duduk di bawah pohon rindang sambil membaca catatan desainnya. Tidak lama kemudian, Alex datang membawa dua cangkir teh hangat dan duduk di sampingnya.
“Kau bekerja terlalu keras,” katanya sambil menyerahkan satu cangkir. “Bahkan saat beristirahat, matamu tetap menatap kertas itu.”
Aulia tertawa pelan, meletakkan catatannya. “Ini bagian dari proses. Lagipula, memikirkan hal-hal yang indah kadang membuat lupa bahwa ada hal-hal gelap yang sedang terjadi di luar sana.”
Alex menatapnya, lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Aulia dengan lembut. “Dunia ini memang memiliki dua sisi, terang dan gelap. Tapi aku berjanji, selama aku masih bisa berdiri, aku akan memastikan sisi terang itu selalu ada untukmu.”
“Dan aku akan selalu ada untuk mengingatkanmu bahwa sisi terang itu layak diperjuangkan,” balas Aulia, memegang tangan Alex di pipinya.
Di tengah keheningan yang nyaman itu, ponsel Alex bergetar. Ia melihat layarnya, lalu raut wajahnya sedikit berubah. Pesan itu datang dari Javier di Jakarta.
“Ada kabar baik dan kabar kurang baik,” ucap Alex setelah membacanya. “Tim hukum kita berhasil menggagalkan upaya pemeriksaan yang tidak adil semua dokumen kita bersih dan sah. Namun, mereka menemukan bahwa ada upaya penyadapan pada saluran komunikasi internal perusahaan. Seseorang mencoba mendengarkan setiap percakapan penting kita.”
“Jadi mereka tidak berhenti hanya dengan menyerang dari luar,” komentar Aulia. “Mereka mencoba masuk dari dalam juga.”
“Memang begitu,” jawab Alex dingin. “Tapi ini juga memberi kita kesempatan. Kita bisa memasang jebakan balasan. Biarkan mereka mendengarkan informasi yang kita atur sedemikian rupa, sehingga mereka terjebak dalam rencana mereka sendiri.”
Aulia mengangguk, matanya berbinar melihat cara berpikir Alex yang strategis. “Jadi kita akan bermain permainan yang sama, tapi dengan aturan kita sendiri?”
“Tepatnya,” Alex tersenyum tipis. “Mereka pikir mereka bisa mengelabui kita, tapi mereka lupa mereka bukan satu-satunya yang pandai menyusun rencana.”
Malam itu, mereka duduk bersama menyusun strategi. Aulia memberikan masukan yang cerdas dari sudut pandang bisnis dan komunikasi publik, sementara Alex mengatur langkah-langkah keamanan dan pergerakan timnya. Kerja sama mereka semakin erat, saling melengkapi kelebihan satu sama lain.
Di akhir malam, saat bintang-bintang mulai terlihat jelas di langit Los Angeles, Alex berdiri dan memandang ke arah cakrawala. Aulia berdiri di sampingnya, merasakan ketegangan yang ada di tubuh pria itu.
“Kau tidak sendirian dalam hal ini, Alex,” ucapnya pelan namun tegas.
Alex menoleh, lalu menariknya masuk ke dalam pelukan yang hangat namun penuh kekuatan. “Aku tahu. Dan itu adalah hal terkuat yang kita miliki. Selama kita bersama, tidak ada kekuatan yang bisa memecah belah kita.”