Sepakat untuk menikah dan sepakat akan bercerai setelah 2 tahun menikah, itulah perjanjian antara Rani dan Temy sebelum menerima perjodohan mereka. Namun, saat tiba waktunya mereka akan berpisah, keduanya baru menyadari jika keadaan sudah membuat mereka jadi terbiasa dan telah hadirnya benih cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Kini, kedua pasangan itu terbaring lemas di atas sebuah ranjang. Temy menoleh ke arah Rani, menatap matanya dari jarak yang lumayan dekat. Di jarak yang sedekat itu, Rani bisa mengendus aroma napas Temy yang diembuskan dari hidungnya. “Sudah lama sekali kita tak merasakan sensasi ini,” celetuk Temy.
Ranjang tempat mereka berada sudah dipenuhi dengan keringat-keringat yang bercucuran melalui pori-pori. Setelah sekian lama, akhirnya mereka berdua kembali melakukan hubungan wajar ini dengan penuh kasih sayang. Semua itu pertanda bahwa rumah tangga mereka akan segera pulih. Ya, ini semua berkat usaha dan rencana yang dilakukan oleh Ira, mertua dari Rani.
Rani mengangguk perlahan. “Ya, sangat lama sekali setelah kita melakukannya untuk yang terakhir kali.” Temy bangkit dari posisi semulanya, memilih untuk duduk di tepi ranjang.
“Kau tahu, selama berjaga jarak denganmu, aku sangat tersiksa. Dalam sekejap, aku menyadari bahwa aku tak bisa hidup jauh darimu. Aku selalu ingin kamu berada di sisiku.” Rani tersenyum. Kemudian, wanita itu duduk di samping Temy.
“Ya, terkadang kamu membuatku kesal.” Temy mengernyitkan dahi, menatap Rani yang kini tersenyum penuh arti kepadanya. “Bukankah kamu sendiri yang ingin mengajukan perceraian ini? Sekarang, kamu malah bersikap seolah-olah kamu adalah korban dari semua ini. Sungguh, kamu membuatku sangat ingin mendaratkan telapak tanganku ini di pipiku.”
Mendengar hal itu, Temy terkekeh, begitu juga dengan Rani yang sama sepertinya. “Memang keanehan selalu ada di dalam sifatku.” Temy kembali menatap Rani dengan penuh kasih sayang. “Aku ... aku minta maaf karena sudah membuatku sakit hati dalam waktu yang lama. Aku ... aku juga akan berjanji akan membangun rumah tangga ini menjadi lebih baik lagi. Apakah kamu mau menerima permintaan maafku sekaligus janjiku?”
Diam sejenak, akhirnya Rani mengangguk pelan. Temy kembali menyunggingkan senyum manisnya. Kemudian, matanya menatap ke arah Rani dengan cara yang berbeda, seolah memberi kode kepada wanita itu. Dengan cepat, Rani segera memahami kode yang suaminya berikan. Malam ini, kedua pasangan itu kembali melakukan hal yang sama untuk yang kedua kalinya.
***
Pandangan seluruh pria yang ada di bar tertuju ke arah pintu. Seorang wanita dengan postur tubuh yang indah, mirip seperti gitar Spanyol baru saja memasuki tempat itu. Tak dihiraukannya orang-orang yang ada di sekelilingnya yang tak luput memandangi cara wanita itu berjalan.
Cassandra, hanya fokus kepada salah seorang pria yang ada di depan sana. “Apakah aku telat hari ini?” tanya Cassandra kepada pria itu. Sebelum menjawab, pria itu terkekeh, tak pernah berhenti merasa terhibur dengan tingkah Cassandra.
“Ya, kau terlambat lima menit. Sebagai hukumannya, kau akan mentraktirku malam ini. Bagaimana, Nyonya?” Cassandra duduk di sebelah pria itu, memberi kode kepada pelayan bar untuk menyuguhkannya sebuah minuman yang terbaik di bar ini. Dalam sekejap, sebuah gelas berisi minuman keras sudah tersaji di hadapannya.
“Jadi, bagaimana dengan penawaran yang pernah aku katakan kepadamu?” Cassandra sama sekali tak mengindahkan kalimat dari pria itu sebelumnya.
Pria itu mengembuskan napas dengan halus. “Ya, aku setuju dengan tugasku yang sedikit sulit, tapi ... bisakah kau melipatgandakan imbalannya? Tentu saja, yang kau tawarkan kemarin bahkan tak memenuhi standar seleraku.”
Cassandra menatap pria itu dengan tatapan misterius, lalu mengangguk. “Baiklah, aku sama sekali tak keberatan dengan hal itu. Asal kau dapat melakukan tugasmu sampai tuntas, aku akan memberikan imbalan itu, aku janji.” Pria yang ada di samping Cassandra menyeringai.
“Aku tak akan mengecewakanmu, tenang saja.” Cassandra mengangguk untuk ke sekian kalinya. Kini, wanita itu benar-benar percaya kepada pria yang akan menjadi suruhannya dalam melaksanakan sebuah rencana.
Mendadak suasana menjadi hening, hanya ada suara pembicaraan pengunjung lain yang ada di bar. Tak mau lama-lama larut dalam suasana ini, pria itu memutuskan untuk menumpahkan sebuah pertanyaan yang sedari tadi menghantui pikirannya. “San.” Cassandra langsung menoleh kepalanya ke arah pria itu.
“Dari mana kau tahu bahwa aku kenal wanita itu?” Cassandra menyunggingkan senyum sinisnya, merasa berbangga diri.
“Ada banyak koneksi yang bisa kubayar untuk mendapatkan semua informasi itu, Han. Ingat, dengan uang, semuanya bisa aku dapatkan.” Pria itu mangut-mangut, percaya dengan apa yang Cassandra katakan.
Tentu saja, ketika pertama kali melihat penampilan wanita itu, satu pikiran yang muncul di otak adalah Cassandra bukanlah wanita sembarangan. Dengan seluruh kain yang membalut tubuhnya serta aksesoris yang menghiasi, semua itu tak jauh dari kata mahal. Tak hanya itu, cara wanita itu berjalan juga sangat berwibawa, membuatnya seperti wanita dengan pendidikan yang sangat tinggi.
“Kau wanita terhebat yang pernah aku lihat, San. Kau mampu melakukan semuanya.” Mendapatkan pujian seperti itu tak membuat Cassandra salah tingkah. Wajahnya masih sama seperti semula.
“Iyakah? Asal kau tahu, aku bukanlah orang yang suka membagi-bagikan imbalan tambahan untuk orang lain yang memujiku.” Sindiran itu langsung melesat jauh di dalam hati, membuat pria itu meringis, tak menyangka perkataan wanita ini begitu pedas.
“Whatever, aku sama sekali tak mengharapkan itu, San. Aku benar-benar murni memuji dirimu,” jelas pria itu. Cassandra sama sekali tak memberikan respons apa pun. Wanita itu mengambil gelas kecil yang ada di hadapannya, lantas meminum isinya dengan sekali tegukan saja.
“Aku harap, wanita itu benar-benar hancur dengan rencana yang sudah aku buat ini.” Cassandra menoleh. “Han, apa kau benar-benar yakin akan melakukan ini semua tanpa penyamaran sedikit pun? Bagaimana jika wanita itu tahu akan identitasmu?”
Handison, pria yang akan disewa oleh Cassandra pun terkekeh geli. “Bukankah aku sudah bilang, aku akan menerjang apa pun demi uang, termasuk menghancurkan reputasiku sendiri di depan wanita itu.” Pria itu menjawab dengan nada riang, sama sekali tak ditemukan raut keberatan di wajahnya.
Benar-benar gila, batin Cassandra. “Baiklah, dari raut wajahmu yang menjanjikan, aku harap tugas ini memang cocok denganmu.”
Handison mengangguk paham. “Ya, tentu saja, aku akan membuat semuanya meriah, dengan dibumbui dramatisasi yang berlebihan. Kali ini pasti akan pecah!!!” Handison tertawa terbahak-bahak, lalu meminum cairan yang sama. Namun, bedanya adalah pria itu meminum dari botolnya langsung, tanpa takaran.
Melihat pemandangan itu, Cassandra semakin yakin bahwa pria ini benar-benar gila. “Ya, aku harap semua ini berjalan dengan lancar. Aku sama sekali tak terima sudah dikhianati dengan cara yang tidak hormat. Aku pastikan, jika aku pun tak mendapatkan kebahagiaan bersama dengan Temy, wanita itu juga harus merasakan hal yang sama!” Cassandra menepuk pundak pria itu dengan mantap, menatap pria itu dengan penuh harap. “Sebentar lagi, semuanya akan berakhir.”
“Good luck, Jodhi Handison.”