"Kamu tahu, terkadang waktu yang singkat memiliki kenangan yang hebat."
Gadis cantik dengan bulu mata lentik itu tersenyum kecut tanpa menatap lawan bicaranya. Ia sudah lelah menggantungkan harapan pada pria yang selalu mengumbar kata sayang, namun sikap dan usahanya tak menunjukkan hal demikian.
"Maafkan aku, kutahu ini sakit bagimu. Tapi ini juga sulit untukku," lirih Joe sungguh-sungguh.
Bagaimana bisa pria itu menahan seseorang, ketika ia masih mengharapkan cinta dari yang lainnya. Dia tak ingin melepas salah satunya. Dan Shena tau itu. Tapi bodohnya, Shena tak kuasa untuk mundur sebab rasa cintanya sudah terlanjur dalam.
"Bersamamu aku sakit, tapi jika tidak denganmu aku hancur."
Ini kisah Shena Morghia yang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, Joe Mafarulls. Seorang pria dewasa dengan kisah hidupnya yang rumit. Trauma akibat ditinggalkan kekasihnya di masa lalu, membuat Joe kesusahan membuka diri pada orang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Berhenti Berharap
Percaya atau tidak, Tuhan akan selalu punya rencana paling indah yang tak mampu manusia bayangkan. Keinginan dan harapan semua orang hanya sebatas bahagia dan damai. Namun, Tuhan mampu memberikan lebih dari itu.
Barangkali ... putus asa yang kamu rasakan saat ini, hanya sebagai penegur kasih yang harus direnungkan. Bagaiamana hal memilukan ini bisa terjadi, untuk apa kepahitan ini datang, atau mengapa kamu bisa diberikan kekecewaan sedalam ini.
Semua itu tak lain karena Tuhan tahu kamu sanggup, sanggup menerima dan menjalaninya. Maka dari itu jangan khawatirkan apa pun, sebab ketika segalanya berlalu kamu akan menyadari bahwa semua tidaklah semengerikan itu. Kamu akan menertawakannya di kemudian hari, dan melupakan rasa sakit yang pernah dirasakan dulu.
...*...
...*...
Malam itu, angin bertiup cukup kencang. Shena bahkan harus berkali-kali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga agar tidak mengganggu bagian wajahnya. Arah pandangnya beralih pada buket bunga mawar putih yang ada di atas meja.
"Dingin?" tanya Zoe pada Shena.
Laki-laki itu segera melepas jasnya dan menyampirkan ke bahu Shena. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa, atau mungkin memang belum mengatakan apa-apa. Pertemuannya dengan Zoe, jelas merupakan sebuah kejutan yang tak pernah diduganya.
"Pasti Tante 'kan yang bilang keberadaan aku sama kamu," ucap Shena setelah pelayan membawakan pesanan keduanya.
Saat ini, Zoe dan juga Shena sedang makan malam di sebuah restoran tak jauh dari kampus swasta tempat Shena mengajar. Seperti biasa, mereka berdua selalu memilih makan di luar ruangan.
"Kenapa? Kamu kayaknya gak seneng ya bisa ketemu sama aku lagi," kata Zoe pelan.
Ia menyadari kalau ada jarak cukup besar yang dibuat oleh Shena untuknya.
Haruskah Shena katakan dengan jujur? Bahwa sebenarnya ia teramat senang bisa bertemu kembali dengan Zoe. Karena bagaimanapun juga, ia tidak bisa terus-menerus membohongi dirinya sendiri kalau bisa melihat Zoe secara langsung merupakan impiannya setiap bangun di pagi hari.
Zoe mendesaah pelan, saat ia menyadari tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Jujur sama aku! Sebenarnya apa yang buat kamu sampai semarah ini sama aku, salahku apa? Kalau ada apa-apa tuh ngomong langsung sama aku, tanyakan ke aku. Bukannya pergi gitu aja dan malah menimbulkan banyak kesalahpahaman. Sifat kamu yang begini nih yang paling aku gak suka," kata Zoe coba melakukan negosiasi bersama Shena.
"Kamu pikir aku mau kayak gini, Zoe? Aku tahu ini bukan hal yang benar, tapi aku butuh waktu untuk tenang. Siapa tahu ... dengan begini aku bisa lupain perasaan aku ke kamu dalam waktu singkat."
Bagi Shena, terus bertemu dengan Zoe sama saja dengan membunuhnya secara perlahan.
Zoe menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi yang didudukinya.
"Terus ... kamu maunya aku kayak gimana? Aku gak bisa terus memfokuskan diri cuma ke persoalan kamu aja, apa kamu bahkan gak pernah mikirin perasaan aku? Coba hitung, udah berapa kali kamu kayak gini, Na. Tiba-tiba marah, tiba-tiba pergi. Sampai pesanku aja gak kamu balas."
Zoe meluapkan segala perasaan yang seakan menghimpit dadanya akhir-akhir ini.
"Kalau itu kamu ... kalau seandainya kamu jadi aku, apa kamu bakal terima diperlakukan kayak gini sama aku?" kata Zoe lagi dengan rahang mengeras, ia sudah sangat lelah meghadapi Shena yang seperti ini.
Shena tertegun, mulutnya sedikit terbuka dengan air mata terjatuh begitu saja tanpa bisa ia cegah.
Apa pria itu marah karena dirinya berusaha pergi? bukankah ini adalah hak Shena untuk menenangkan diri dari segala hal yang menyakitkan untuknya. Lalu untuk apa Zoe ke tempat ini menemui Shena? pria itu tidak menginginkannya bukan?
"Kita cuma berada di posisi yang gak diinginkan banyak orang. Dan kamu gak bisa menganggap aku jahat cuma karena ... aku gak bisa balas perasaan kamu. Seandainya itu kamu, apa kamu bisa paksain hati kamu buat nerima orang yang gak kamu cintai?" tanya Zoe pelan, namun penuh penekanan di setiap tutur katanya.
"Aku gak cinta sama kamu, Shena. Aku yakin kamu pun tahu itu. Walau aku lihat kamu nangis pun, hati aku gak ngerasain sakit, Na. Gak ada alasan kenapa aku kayak gitu, ya emang ini yang aku rasain sama kamu."
Zoe kembali menegakkan tubuhnya, dan membuang napas pelan.
"Apa kamu sanggup berada di dalam hubungan semacam itu? Apa itu bakal buat kamu bahagia? ... Oke!" seru Zoe. "Oke kita pacaran sekarang. Meskipun aku tahu semua itu akan berakhir, mari kita coba!" kata Zoe langsung tanpa ragu.
Shena mengusap air matanya yang malah semakin berjatuhan, membiarkannya tersapu hingga kering oleh angin. Semudah itu? semudah itu Zoe menganggap perasaan dan harapannya sebagai permainan belaka.
"Ak-aku ... mau pulang," lirih Shena tercekat.
Gadis itu memperbaiki letak tasnya, kemudian bediri. Membuat jas yang disampirkan oleh Zoe di bahunya terjatuh begitu saja ke lantai.
Kamu tidak mencintaiku bukan? kalau begitu biarkan aku pergi, ke mana pun tempat yang kuinginkan, jangan lagi mencariku.
Zoe memejamkan matanya kuat-kuat, sebelah tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh! ini keadaan yang sangat menyebalkan.
Tidak ada satu orang pun yang menerima penolakan, begitu pun dengan Shena.
Tidak! Shena tidak pernah memaksakan kehendaknya, ia ingin pergi ... berulang kali ia mencoba pergi, namun alam semesta seolah tidak mendukungnya untuk menjauh dari si badjingan itu. Lagi dan lagi, pria itu selalu behasil menemukannya.
Pergi, melarikan diri sejauh mungkin. Selalu itu yang ada di dalam pikiran Shena. Menghindari kenyataan dan penolakan berulang kali yang menyayat ulu hatinya kian dalam.
Ketika ia sadar tak lagi memiliki tenaga untuk berlari, ia terjatuh tertunduk pilu menangisi nasib.
Apa yang harus kulakukan? apa yang harus kulakukan?
Kalimat itu terus berputar mengitari kepalanya tanpa henti. Tidak memberi jawaban pasti, dan tidak memberikannya sebuah hal yang dapat membuat perasaannya jauh lebih baik.
Shena menghembuskan napasnya yang terasa berat. Kedua tangannya menangkup wajah, menangis tersedu-sedu.
Gadis itu mendengar suara derap langkah kaki mendekat. Zoe berjongkok di hadapannya dengan membawa buket bunga yang tadi pria itu beli untuk Shena.
"Ini ... ini yang selalu aku takutkan kalau kita berdua bersama-sama. Aku cuma bakal nyakitin kamu aja, Na," bisik Zoe. Tangan kanannya terangkat menyentuh tangan Shena yang basah karena air mata.
Diusapnya air mata gadis itu dengan penuh kelembutan, meski hal itu percuma karena entah kenapa air bening itu terus saja semakin deras berjatuhan.
Bibir Shena bergetar, dan tatapan penuh luka itu terarah sepenuhnya pada Zoe.
"Kamu segalanya, Na. Aku selalu berharap kamu bisa bertemu dengan pria yang jauh lebih baik. Jangan jatuh cinta sama aku! Kamu harus bahagia bersama seseorang yang bersedia ngasih segalanya buat kamu. Karena aku gak bisa lakuin itu ke kamu," Zoe mengecuup kening Shena.
"Kecuali ...," kata Zoe pelan. " kalau kamu mau terus-terusan sakit hati sama aku. Ayok! kita coba jalanin. Tapi kamu tahu sendiri aku gak bisa cukup sama satu perempuan, apa kamu mau bersabar, kamu bisa terima?"
Dengan kata lain ... kamu ingin jadikan aku mainanmu? begitukah maksudmu? lalu bagaimana dengan aku yang sungguh-sungguh mencintaimu? ah, kebrengshekan Zoe memang selalu totalitas.
Bagaimana Zoe bisa mengatakan sesuatu yang jelas-jelas menyakiti Shena?
Tidak! Shena tidak sanggup, ia tidak ingin terus merasakan tarik-ulur yang bisa membuatnya hampir gila.
Semuanya berakhir. Tak ada lagi kesempatan ....
Hari ini ... di malam yang dingin ini ... Shena berhenti mengharapkan Zoe untuk dirinya sendiri.
saking dalamnya dia menoreh kan luka di hatimu /Grievance/
makanya jangan nyepelein wanita klo lagi cemburu 🤣🤣🤣🤣
keren nih cowok kere 🤣🤣🤣
weh orang mah bawa ke hotel ini di mobil 🤣🤣🤣🤣
kamu lupa klo shena yg skrg bukan Shena yg dlu lagi yg bisa kamu permainkan, ya wlopun perasaan kamu ke Shena skrg emg sungguhan.tapi buat Shena susah buat percaya lagi sama kamu zoe.dan kita liat sejauh mana perjuangan kamu buat dapetin lagi hati Shena.
hadeuh ko tamat sih teh 🙄
lanjut ke part 2 ya🙄🤔
kuy lah mrapat ke part 2 nya 🤣🏃🏃🏃
it's too late Zoe!!
eh bner teu sih bhsa inggris na🙄 sieun salahan ke gagal keren atuh 🤭🤣🤣🤣🤣
maklum sarapan na sampeu teh Anna lain roti lapis kotak"..🤣🤣🤣
Harry klo Shena ga maw sama kamu ,yuk maen sini yuk ke krawang aku ikhlas ry jadi tempat mu bersandar apalagi jdi tmen bobo kamu ry,ikhlas bgt aku 😳😳😳🤭🤭🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃
paksu ga baca novel ini kan 👀👀
🤣🤣🤣🏃🏃🏃