Halo readers semuanya..!
Othor kembali dengan kisah rumah tangga yang penuh liku-liku. Perjodohan, penghianatan, dan banyak lagi kisah di dalamnya.
Kisah seorang gadis yang menikah karena perjodohan yang membawa pada kekecewaan. Harapan terakhir sang kakek cucu satu-satunya akan hidup bahagia bersama pria pilihan, putra dari asisten pribadinya.
Namun takdir kehidupan tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.
Bram tak mencintai Habibah!
"Aku meminta hak ku sebagai seorang istri!" Begitu Habibah sudah tidak tahan ketika mendapati suaminya sedang bersama wanita lain.
Walaupun terus saja terjadi.
"Ternyata..." ucap Habibah di tengah guyuran air, dia tersenyum getir, menangis bersamaan membayangkan betapa hangatnya ciuman mereka. Dadanya bergemuruh seolah sedang terisi penuh dengan bara api.
"Ku rasa neraka tak hanya ada di perut bumi, tapi di dadaku." ucapnya pelan, mengadukan kekecewaan yang sudah sangat keterlaluan.
Bagaimana kisah Habibah selanjutnya?
Yuk baca>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak asisten.
Sarapan pagi yang nikmat, rasanya masih membayang hingga ia sudah ada di kantor Media Utama, ia kembali masuk ke ruangan sekretaris miliknya dengan senyum mengembang, bangga sekali rasanya sudah berhasil menjadi istri seutuhnya, setelah beberapa waktu berlalu dengan air mata.
"Habibah, kau di panggil Pak Rudy Utama." Kiki baru saja keluar dari ruangan Bos besarnya tersebut.
Habibah tersenyum, berjalan menuju ruangan Direktur. Entah apa yang akan di bahas di dalam ruangan itu, yang pasti tidak akan jauh dari dari kisah cinta segitiga yang selalu membuat heboh, Larisa, Bram dan dirinya.
Dengan sekali menarik nafas ia membuka pintu ruangan tersebut.
"Assalamualaikum, selamat pagi Pak." Habibah berdiri dengan senyuman sederhana penuh hormat.
"Duduklah." ucap Rudy Utama tidak terlihat ramah.
Habibah menurutinya, ia yakin sekali perdebatan akan terjadi. Haruskah ia melawan atau membiarkan? Sikapnya sering refleks berubah dengan kondisi juga yang tidak pernah stabil mempermainkan perasaannya. Sebentar air mata, lalu setelahnya penuh tekanan dan air mata lagi. Sungguh itu sudah biasa.
"Apa hubunganmu dengan Ayahku sehingga beliau memintamu bekerja di sini hampir bertepatan dengan kedatanganku? Apakah ada yang tidak aku ketahui, tentang kau juga ayah mertuamu?" tanya Rudy enggan berbasa-basi.
"Tidak ada Pak, hanya sebuah ikatan perasaan yang sulit di jelaskan, dan kurasa semua orang bisa memilikinya." jawab Habibah.
"Benarkah? tapi rasanya sulit di percaya?" Rudy menatap lurus Habibah.
"Jujur saja aku tidak pernah membayangkan akan bekerja di sini, tapi sungguh, kakek hanya ingin aku bekerja dan hidup layak." ucapnya tetap terlihat tenang.
"Tidak sesederhana itu Habibah, aku sangat mengenal ayahku."
"Tapi memang begitu kenyataannya, aku hanya seorang gadis yang tidak punya siapa-siapa selain Kakek Raharja yang baik. Sedangkan ayahku Anda sudah tahu." jawab Habibah tidak berbohong.
"Aku melihat CV mu. Di sini tanggal lahir mu tertera dengan jelas. Jadi kau tidak bisa berbohong lagi."
Habibah sedikit terkejut dengan data dirinya yang mendadak ada ditangan Rudy, apakah rahasianya akan segera terbongkar? Ia menjadi gugup. Walaupun itu akan lebih baik
"Dimana Ayahmu?" tanya Rudy menatap lurus Habibah.
"A...a_aku."
"Dimana ayahmu Habibah?" suara Rudy semakin meninggi.
"Kau." jawab Habibah tak sengaja antara gugup dan takut, karena dari cara Rudy berbicara sungguh terlihat dia sedang marah, itu semakin membuat Habibah bertanya-tanya.
Rudy tertawa, sekaligus melemparkan tatapan mengejek. Ia menyandar di kursi kebesarannya, memandangi Habibah dengan tatapan sulit diartikan.
"Kalian memang serakah." ucap Rudy lagi.
Dan kalimat itu membuatnya terbelalak, bagaimana mungkin seorang ayah mengatakan putrinya serakah, sementara selama ini ia hidup dalam kesederhanaan dan tanpa kasih sayang.
"Katakan pada ayahmu untuk mengembalikan aset ayahku. Juga pada mertuamu untuk berhenti mengeruk uang dari perusahaan ayahku. Sudah cukup selama berpuluh-puluh tahun kalian ada di sini dan menikmati semuanya, bersenang-senang sementara aku pergi. Tapi kini aku sudah kembali, aku harap kalian tahu diri dan pergi dengan hormat dari kantor ini."
Habibah semakin bingung dengan ungkapan Rudy padanya, dia tidak tahu harus berbuat apa dan mengatakan apa. Jika itu masalah uang, sungguh Habibah tidak tahu segalanya, tapi jika menyangkut ayah mertuanya, tentu dia harus bertanya. Tapi apa maksud dari mengeruk harta? Apakah ayah mertuanya sejahat itu?
"Silahkan kau pikirkan apa yang baru saja aku bicarakan, tidak perlu berlagak bingung karena aku sudah tahu semuanya." Rudy mengarahkan tangannya pada pintu keluar, sungguh Habibah tahu jika dia sedang di usir.
Dengan perasaan bingung ia keluar setelah membungkukkan kepalanya. Ingin bertanya tapi malah bingung apa yang harus ia tanyakan.
"Ayahku? Mengeruk harta?" ucapnya semakin linglung.
Selain pekerjaan yang menumpuk, pikirannya juga tak kalah banyak. Sungguh lelah hari ini, yang akhirnya usai menjelang pukul 16:00 Habibah keluar dari kantor Media Utama.
Kebetulan sekali Direktur utama itu sedang berdiri menunggu sopirnya. Habibah yang masih penasaran juga bingung itu menghampiri Rudy Utama.
"Pak, aku masih tidak mengerti tentang Ayahku yang kau sebutkan?" tanya Habibah tanpa basa-basi, ketegangan dan perasaan yang kacau membuatnya berani.
"Aku mengenalnya. Kau tidak bisa menipuku hanya dengan menjadi orang lain. Tanggal lahirmu mengatakan dengan jelas, juga posisimu di kantor ini, memegang kuasa seperti Frans itu sudah sangat jelas. Tidak perlu kau tutupi bahwa kau adalah putri dari asisten penghianat, Hi ko." ucapnya tersenyum sinis.
"Tapi aku bukan anak Asisten kakek, aku bahkan tidak mengenalnya." jawab Habibah lagi menyusul langkah Rudy yang meninggalkannya masuk ke dalam mobil.
Rudy tidak peduli, dia juga enggan berbicara dengan Habibah.
"Pak, tolong berhenti. Aku masih butuh penjelasan." Habibah menepuk-nepuk kaca mobil yang mulai melaju, hingga kemudian ia tertinggal karena mobil tersebut semakin menambahkan kecepatannya.
Habibah memandangi mobil itu dengan sendu, bagaimana mungkin Rudy Utama mengatakan dia anak orang lain, sedangkan kakeknya mengatakan dia adalah cucunya, anak dari Rudy Utama. Dia yakin itu.
Habibah menangisi mobil yang sudah menghilang tersebut, hatinya merasa terluka dengan ucapan Rudy yang sama sekali tidak mengetahui kehadirannya, padahal sudah jelas jika Bibi Rumini adalah saudara jauh ibunya. Apakah Rudy sebodoh itu sehingga tidak tahu kebenaran? Bahkan saat ibunya hamil dan melahirkan.
"Baru saja, Bahagia itu mendekat dan kemudian datang kesedihan yang lain lagi." Habibah duduk dekat gerbang kantor tersebut.
Memandangi tas branded hadiah dari Rudy Utama, dia semakin bersedih mengingat saat itu menangis di hadapannya.
"Apakah aku sudah ditakdirkan untuk tidak punya ayah selamanya." ucap Habibah meratapi dirinya, berbicara pada atas yang bisu.
Dari kejauhan, sebuah mobil melambat melihat Habibah yang menunduk memandangi tasnya. Dia semakin melaju mendekati Habibah hingga berhenti di depan kantor tersebut.
Lee turun dari mobilnya untuk menghampiri Habibah, namun langkah itu urung ketika melihat sebuah mobil pula berhenti di depan kantor tersebut.
Tampak Bram turun dengan menatap tajam Hiko yang hanya diam dengan pintu mobil belum ditutup. Ia menghampiri Habibah yang sepertinya tidak sadar jika ada dua orang yang sedang menjemputnya.
"Ayo pulang."
Sebuah ajakan yang membuat Habibah mendongak, melepaskan tasnya hingga kembali menggantung di lengannya.
Bram melihat sekeliling kantor tersebut, sengaja tidak menatap wajah yang masih bersedih.
Habibah beranjak dari duduknya, meraih tangan yang di simpan dalam saku dan menciumnya.
"Ayo pulang, aku belum sholat." ucapnya mendahului Bram menuju mobil.
Sekali lagi Bram melirik pria yang berdiri menyandar di mobil itu, terlihat tak peduli tapi setiap hari selalu bersedia menjemput istri orang. Bram menatap tak suka padanya. 'Sepertinya aku harus bicara kepada pria itu.' batin Bram melajukan mobilnya.