Kisah cinta Reynaldo Kehliano dengan gadis misterius bernama Jessica Anora, adik dari sahabatnya yang bermarga Kelvin.
Kisah cinta yang unik dan tidak pernah mereka duga sebelumnya. Kisah cinta yang di imbangi dengan hal-hal yang tidak pernah relevan jika orang pikir.
--------------------
"Tidak, cinta itu lucu." Jeje menaikkan alisnya.
"Kita memiliki banyak anak dan dua cucu, apa itu tidak lucu?" Jeje ikut terkekeh.
"Ya, aku kadang merasa sudah menjadi nenek-nenek tua jika bersama Liana juga Marc.".
"Meski kau akan menjadi tua, aku tetap mencintaimu." Jeje mengangguk.
"Jika kau tua, aku akan cari suami baru."
Lalu bagaimanakah perjuangan cinta ke duanya.. ..??
-------------------
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hevitriAe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Helena James
Voment please
****
Happy reading
Jeje menyusuri jalan setapak di mana letak tempat yang akan Ia tuju berada, di samping kanan kirinya ada Rom juga Will yang senantiasa membantunya melewati jalan yang susah. Meski Ia tidak memakai hells tapi tetap saja, daerah di pinggiran kota Petersburg itu terlihat sangat mengenaskan.
Rumah kumuh juga reot menambah daftar tidak layaknya untuk seseorang tinggal di sana. Namun ternyata lebih dari 500 orang malah bertahan dengan ke adaan yang seperti ini.
"Will, apa ini rumahnya?" Jeje menatap bangunan seperti rumah rusun hanya tiga lantai itu dengan pandangan menilai.
Orang-orang juga menatap ke tiganya penuh curiga membuat Jeje berdecak.
"Urus mereka Will, dan Kau Rom tolong bawa alat medisku." Rom mengetuk pintu di hadapannya yang sudah usang.
'Tok Tok Tok'
Ketukan demi ketukan yang Rom lakukan tidak membuahkan hasil membuat Jeje semakin naik pitam, Ia tahu dan Ia bisa melihat ada orang di dalam sana namun mereka seolah sengaja tidak membuka pintu untuknya.
"Jika kalian tidak membuka pintu ini, jangan salahkan Aku jika Aku akan menghanguskannya sekarang juga Doma James." Jeje menekan tiap katanya, dan Rom serta Will hanya mampu bergidik saat Ibunya itu sudah di luar kendali.
"1!".
"2!".
"Ti-!".
"Kalian siapa?" Jeje berdecih, tanpa merespon ucapan wanita baya yang menghalangi jalannya Jeje menerobos masuk. Lengannya di tarik oleh wanita itu namun gerakan Will jauh lebih cepat menahan tangan wanita itu.
"Bawa Heln ke mari." pinta Jeje, wanita itu menggeleng.
"Tidak, ada urusan apa Kau ke mari? Sebenarnya siapa kalian?" Jeje duduk di sofa menatap seluruh ruangan dengan kesal.
"Kau menjualnya lalu apa yang Kau berikan padanya?" bukan jawaban yang Jeje bagi melainkan sebuah pertanyaan.
"Kau Ibunya tapi lihat apa yang Kau lakukan padanya?" Jeje merasa marah sekarang.
Wanita itu berdecih menatap tajam Jeje.
"Kau tahu apa soal kami, Kau sebenarnya siapa? Ke luar dari rumahku!" usirnya, Rom meletakkan sebuah map pada telapak tangan Doma.
Doma melebarkan matanya dengan apa yang ada di dalam map.
"Ba-bagaimana kalian tahu soal ini?" Jeje tertawa mengejek, Ia beranjak dari duduknya lalu mendekat ke arah Doma dengan tangan bersidekap dada.
"Aku tahu semua tentangmu, Aku membeli anakmu dari Santos dan Aku bisa memilikinya sekarang! Maka beritahu Aku di mana Heln berada." Doma menggeleng.
"Tidak, Kau pasti bercanda! Aku tidak akan melepaskan anakku begitu saja." Jeje menyeringai membuat Doma mundur karena takut.
"Bullshit jika Kau tidak akan melepaskannya, apa harga anakmu kurang mahal? Aku akan menambahkannya." Doma melebarkan matanya, nominal dalam map itu untuk menebus Heln sudah sangat di luar data otaknya bagaimana wanita muda seperti di hadapannya akan menambah harga untuk anaknya yang sekarang sedang sekarat.
Jeje menggeram, Ia menekan dagu Doma.
"Kau apakan Heln?" Jeje tidak dapat mengendalikan amarahnya, Ia tahu apa yang ada dalam pikiran Doma. Ia juga seorang Ibu meski Ia tidak melahirkan dan apa-apaan wanita baya ini?.
"Will cari Heln!" Will mengangguk lalu beranjak hiraukan Doma yang berteriak memakinya.
Jeje menatap sarkas Doma.
"Aku membawa Heln jauh dari Ibu licik sepertimu, dan jangan cari Dia lagi!".
William turun dari lantai atas dengan menggendong seorang wanita cantik dengan tubuh lemah, hati Jeje tersayat saat mendapati luka lebam yang cukup banyak pada area wajah dan tangan Heln. Jeje menatap tajam Doma penuh permusuhan.
"Kita bawa Dia." Doma menghalangi jalan mereka membuat Rom mengambil tindakan dengan mengarahkan pistol pada kepala Doma, tubuh Doma bergetar lalu dengan pelan Ia beringsut mundur. Memberi jalan pada Jeje Will dengan Rom yang terus menodongkan senjata.
Rom membuka pintu mobilnya dengan cepat saat dua mobil hitam mendekat ke arah mereka.
"Mom.".
"Kalian pergilah!".
"Mom." Jeje menatap tajam Will juga Rom agar tidak membantahnya dan benar, ke duanya langsung mengangguk menuruti ucapan Jeje.
"Hati-hati Mom." Jeje tersenyum pada ke duanya lalu mobil Will dan Rom melesat meninggalkan Jeje dengan pria berjas hitam yang ke luar dari mobil mewah mereka.
Jeje memakai topi sejak tadi untuk menutupi wajahnya serta kacamata hitam.
"Wah-wah kita ke datangan tamu." ucap seorang pria dengan bertepuk tangan.
"Tu-tuan Santos." ucap Doma ke takutan yang membuat Santos menatap Doma.
"Di mana Heln?" tanyanya, Doma menatap Santos dengan mata melebar.
"Tuan, bukannya Anda menjual Heln pada wanita ini?" tanya Doma membuat alis Santos bertaut.
"Menjual?" kini pandangan Santos beralih pada Jeje yang menatapnya datar di balik kacamatanya.
"Apa bukti kalau Aku menjualnya?" dengan cepat Doma berlari ke dalam rumah lalu mengambil sebuah map, Ia memberikannya pada Santos.
Santos menggeram.
"Apa Kau mempermainkan Aku Doma?" Doma melebarkan matanya.
"Ap-apa maksud Tuan?".
"Ke napa Kau memberiku kertas kosong?" Doma merebut kembali kertas itu dan saat Ia menatap ke arah Jeje, mata Doma semakin melebar karena Jeje sudah tidak ada di tempatnya.
"Apa yang Kau cari? Sial jangan bilang Kau menjualnya! ******!" Santos mencekik leher Doma karena amarah.
"Tuan, wa-wanita ta-tadi yang menculik Heln." Santos menajamkan matanya.
"Siapa nama wanita itu?" Doma gelagapan karena Ia sama sekali tidak tahu siapa wanita itu dan saat Ia membaca berkas tadi Ia sama sekali tidak memperhatikan nama yang membeli anaknya. Doma merasa ke habisan nafas, Ia memukul-mukul lengan Santos.
"Dasar ******, kalian cari wanita itu!" Santos melihat wanita itu tadi, tapi ke napa hanya dengan kedipan mata wanita itu seolah hilang tertelan bumi. Semua bodyguard Santos berpencar.
"Brengsek!" umpat Santos, pria berusia 30 tahun itu.
pasti seru jeje sama aldo bertengkarnya😀😀😀