Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Periksa kehamilan
Hari ini pertama kalinya Arin memeriksakan kehamilan keduanya. "Kita timbang dulu ya," perintah salah seorang asisten bidan yang bertugas.
Usai mengukur berat badannya, Arin diminta untuk duduk. "Ukur tekanan darahnya dulu ya, Bu." Arin mengangguk.
"Tekanannya agak rendah ya," kata asisten bidan itu. "Silakan menunggu nanti dipanggil jika sudah gilirannya.
Arin harus menunggu lima nomor antrian malam itu. "Bu Arinda Rahma?" panggil asisten bidan yang bertugas.
Arin berdiri kemudian Ikbal bersama Flora juga ikut masuk. "Wah keluarga kecil yang lengkap. Jadi ini kehamilan yang kedua ya Bu?" tanya Bidan itu.
"Betul, Bu," jawab Arin.
"Mari naik ke atas!" Arin melepas sandalnya kemudian naik ke atas ranjang yang tersedia di tempat itu.
"Usia kandungannya sekitar empat minggu ya, Bu. Kalau kondisi janinnya cukup bagus. Namun, masih kecil berat badannya belum bisa diketahui ya."
Usai Bidan itu selesai memeriksa. Arin diminta turun. Ikbal dengan sigap membantu istrinya agar tidak jatuh karena ranjang itu lumayan tinggi.
"Saya akan kasih vitamin nanti jangan lupa diminum rutin ya, Bu!" perintah Bidan tersebut.
"Baik, Bu. Terima kasih," balas Arin.
Setelah diperiksa, keluarga kecil itu pulang dengan memakai motor. "Dek, kamu ingin makan apa? Pumpung kita lagi di luar nanti aku belikan," kata Ikbal seraya mengendarai motonya.
"Nggak usah, yang penting dia tidak rewel minta ini itu," kata Arin yang tak mau merepotkan suaminya seraya mengusap perutnya dengan lembut. Dia tahu gaji sang suami pas-pasan. Jadi dia pikir sebaiknya Arin bisa berhemat.
"Nggak apa-apa, Dek. Jarang-jarang kan aku nawari kamu sesuatu," kata Ikbal. Arin pun memanfaatkan kesempatan.
"Beli martabak dong, Mas!" pinta Arin.
Ikbal tersenyum. "Oke, siap. Nanti sekalian beli jajan ya buat Flora." Hati Arin menghangat. Meski bukan barang mewah tapi mendapatkan apa yang dia inginkan dari suaminya adalah sesuatu yang istimewa.
Ketika Ikbal menemui penjual martabak yang mangkal, Ikbal menghentikan motornya. Di tempat yang sama dia melihat kakaknya sedang antri. "Lho kok nyampai sini, Mas?" tanya Ikbal pada Arif, sang kakak.
"Iya, beli martabak buat ibu mertuaku," jawab Arif. Arif melirik ke arah Arin tapi Arin hanya diam. Dia seolah enggan menyapa Arif. Kalau diingat namanya yang dia gadaikan untuk mendapatkan pinjaman uang di bank rasanya gondok sekali.
"Punya hutang tapi masih bisa jajan martabak. Jangan-jangan uangnya dibuat kebutuhan sehari-hari tuh," gumam Arin di dalam hatinya.
Arif pulang lebih dulu karena dia yang memesan lebih dulu. "Aku pulang duluan," ucapnya seraya menepuk bahu Ikbal.
"Dek, kamu masih marah karena masalah hutang Mas Arif?" tanya Ikbal.
"Menurutmu?" Arin bertanya balik karena kesal.
Ikbal menghela nafas. "Jangan suka menyimpan dendam. Lebih baik ikhlaskan dan jangan lupa berdoa supaya kakakku bisa melunasi hutangnya tanpa menunggak sedikitpun," jawab Arin.
"Tentu. Awas saja kalau sampai menunggak," ancam Arin. Ikbal tak menanggapi. Bicara dengan istrinya hanya akan kalah.
Usai membayar martabak Ikbal mengajak istrinya pulang. Malam itu hari begitu dingin karena di luar sedang gerimis. Ikbal memakai jas hujan agar anak dan istrinya tidak sakit.
Sesampainya di rumah, Arin mengajak Flora tidur. Ikbal mendekati istrinya. "Dek, jangan lupa konsumsi vitamin sebelum tidur," pesan Ikbal pada sang istri.
"Iya, Mas."
Sesaat kemudian Arin bangun. Dia meninggalkan Flora yang tertidur pulas. "Dek, apa aku boleh kasih tahu ibuku?" tanya Ikbal meminta pendapat Arin.
"Terserah mas saja," jawab Arin sekenanya.
Kira-kira bagaimana reaksi ibunda Ikbal setelah mendengar kabar kehamilan menantunya?
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...