NovelToon NovelToon
TAWANAN CINTA SANG MAFIA

TAWANAN CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikahmuda
Popularitas:176k
Nilai: 5
Nama Author: Lela W.Y

Alena gadis tangguh penuh tekad, dia adalah seorang Mahasiswi semester 5 disebuah universitas di Jakarta, suatu hari nasib buruk menimpa dirinya saat ayahnya yang gila judi itu terlilit begitu banyak hutang akibat hobi gilanya itu.

Alena dijadikan taruhan kepada seorang Mafia kejam dan menjadi tumbal keserakahan ayahnya sendiri.

Alena terpaksa harus menjadi tawanan sang Mafia karna ayahnya ternyata kalah dalam permainan judi bersama sang Mafia.

Dalam semalam hidupnya berubah, dia terpaksa harus menikah dengan laki laki asing yang terkenal berdarah dingin bernama Raka Bumiatmaja, namanya harum dikalangan para penjahat kelas kakap, tak ada yang berani mencari masalah dengannya.

Dia Mafia yang menangani penyelundupan senjata api untuk negara negara besar. Kekayaannya mungkin hampir separuh negri, dengan kuasa dan uang yang dia miliki apapun bisa di dapatnya hanya dengan menjentikkan jarinya.

Akan kah Alena bahagia dengan kehidupan barunya sebagai istri seorang Mafia kejam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lela W.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Begitu Darren mendapatkan kepuasannya, dia bangkit lalu berdiri dan mengambil handuk dari bersih dari dalam lemari pakaian.

"Kau sudah membuatku sangat berkeringat, Alena."

Dia melirik Alena yang masih meringkuk di dalam selimut, Alena terisak meratapi nasibnya yang sangat sial.

Ada sedikit sesal dalam hatinya karna sudah mengeluarkan kata kata sekasar tadi.

Tapi kesombongan dalam dirinya lebih dominan, Darren berusaha acuh, dia pun melenggang pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penuh dengan keringat dirinya dan juga Alena yang telah menyatu menjadi satu di dalam dirinya.

Alena terisak, sesuatu yang selama ini sudah dijaganya dengan susah payah direnggut paksa oleh pria kejam ini. Dia bahkan mengatai Alena hanya mainan bernyawa yang dia pungut dari ayahnya.

"Sehina itukah aku?" Kata Alena sesak. Hatinya benar benar patah, setidak berharga itukah dirinya?

Setelah beberapa saat, akhirnya Darren keluar dari kamar mandi, Alena mencium semerbak wangi sabun mandi yang menyeruak ketika pria itu melangkah ke dekat ranjang.

Sepertinya dia sedang memakai baju, Alena mendengar gerak geriknya tapi berani menoleh.

"Apakah begitu sakit?" Tanya Darren, entah dia benar benar peduli atau hanya iseng bertanya.

Alena tidak menjawab, dia masih terus meringkuk di dalam selimut.

Melihat Alena terus bersembunyi di dalam ruangan, akhirnya Darren tak bertanya apa apa lagi.

Dia memilih pergi dari kamar meninggalkan Alena begitu saja.

Setelah pintu tertutup, barulah Alena membuka selimut yang menutup tubuhnya.

Alena memaksakan dirinya turun dari kasur. Dia mencoba berdiri dengan kaki yang gemetar. Giginya bergemelatuk saat dia merasakan cairan hangat mengalir turun diantara kakinya.

Alena berusaha menenangkan kemarahan dan rasa jijik yang bergemuruh di dalam dadanya. Dia sudah tidak suci, setiap jengkal tubuhnya sudah dinodai oleh tangan kasar pria kejam itu.

Baru beberapa langkah berjalan Alena kembali tersungkur jatuh, dia merasakan perih dan remuk di sekujur badannya. Rasanya seperti habis dicambuk berkali kali.

Alena mengusap-ngusap setiap jengkal tubuhnya dengan histeris, berharap bisa sedikit melepaskan jejak jejak tangan Darren di tubuhnya tadi.

"Dasar jahat, dasar biadab!" Pekiknya marah. Alena berusaha berdiri lagi menyeret tubuhnya yang terasa sudah seperti tidak bertulang itu ke arah kamar mandi.

Setelah bersusah payah akhirnya dia sampai di dalam sana. Tangannya meraih gagang shower dan seketika air menyala diatas tubuhnya.

Alena menyenderkan kepalanya di tembok kamar mandi, rintik air yang keluar dari dalam shower dia biarkan memeluk tubuhnya seutuhnya. Dia berharap air itu bisa membersihkan noda noda dari tangan Darren.

Dalam rasa sesak yang teramat dalam, Alena menangis sejadi jadinya.

Di ruang kerja Darren.

Pria berpakaian serba hitam itu sedang memeriksa beberapa berkas di dalam genggaman tangannya. Tapi entah kenapa dari tadi pikirannya benar benar tidak bisa fokus.

Bayang bayang wajah Alena yang sedang terisak saat melakukan hubungan badan tadi terus saja berputar putar di dalam pikirannya.

"Arg, sial!" Darren melempar kertas kertas ditangannya hingga berserakan di lantai.

"Tuan, ada apa?" Lim yang sedang berdiri di hadapannya sontak terkejut melihat Darren tiba tiba seperti orang yang sedang marah besar.

Netra nya memancarkan kegelisahan, sementara tangannya sudah sejak tadi berkali kali menggebrak meja dengan tangan kekarnya.

Darren tidak menjawab pertanyaan kaki tangannya itu, dia memilih menyenderkan kepalanya di kursi sambil memejamkan kedua mata.

"Apa aku sudah keterlaluan Lim?"

Lim mengangkat satu alisnya, bingung dengan pertanyaan yang tiba tiba keluar dari mulut bosnya itu.

"Aku sudah membuatnya menangis sampai terisak, apa aku sudah keterlaluan Lim?" Lagi lagi Darren bertanya dan membuat Lim kebingungan.

Dia tidak tahu apa yang sedang di bicarakan oleh Tuannya.

Siapa yang menangis? siapa yang terisak? Lim berusaha menerka-nerka.

"Alena, aku tidak tahan melihat isak tangisnya, tapi aku tidak bisa menghapus air mata di pipinya. Dia akan salah paham dan menganggap dirinya penting, bukan? Sial aku sangat terganggu dengan itu."

Lim membeku di tempatnya. Jadi sejak tadi Darren uring-uringan karna Alena. Karna gadis itu.

Maksudnya dia melihat gadis itu menangis dan tidak tahan?

Tunggu dulu, apa maksud dari perkataan Tuan Mudanya ini sama dengan dia mulai peduli pada gadis itu?

"Dia menangis seperti habis terisak dan terlihat sangat menyedihkan, aku tidak tahu Lim kenapa disini rasanya ikut pilu." Darren memukul mukul dadanya sendiri.

Lim lagi lagi tercengang. Sepertinya dia tahu apa yang sedang menimpa Bosnya Darren, jangan jangan dia mulai jatuh cinta pada Alena.

Lim tidak mau membuka mulut, membiarkan Darren mengeluarkan semua isi hatinya lebih dulu.

Dia tidak pernah melihat Darren berbicara ngelantur seperti ini, peduli pada perasaan orang lain? tidak pernah ada dalam sejarah hidupnya, sepertinya Darren juga belum sadar dengan perasaannya.

"Bawakan aku gadis di klub, suruh mereka menemaniku malam ini di bar, aku sepertinya terlalu stres dengan pekerjaanku akhir akhir ini, perasaanku jadi kacau, aku bahkan merasa kasihan pada kelinci kecil itu."

kelinci kecil? Tuan bahkan sudah memberi julukan sayang terhadapnya, lucu sekali.

Lim tampak diam beberapa saat, setelah yakin Darren sudah tidak akan menceritakan soal Alena lagi barulah dia membuka mulut.

"Tuan, apakah tuan yakin ingin saya bawakan gadis di klub?" Tanya Lim tak yakin, karna sepertinya sejak tadi Darren malah terus meracau membicarakan Alena.

"Iya, siapkan siapapun yang menurutmu terbaik untuk menemaniku malam ini."

"Baik Tuan Muda, saya akan menyiapkannya sesuai keinginan anda, tapi.." Lim tampak ragu melanjutkan ucapannya.

Dia menatap Darren, Darren masih memejamkan matanya sambil memainkan ballpoint di tangannya. Dia sibuk sendiri dengan pikirannya.

"Apa ada masalah?"

"Tidak Tuan." Akhirnya Lim tidak jadi melanjutkan kalimatnya.

Sebenarnya dia ingin bertanya apakah Darren yakin dengan keputusannya membawa gadis dalam keadaan dia bahkan masih memikirkan Alena.

Entah apa yang sudah terjadi diantara Alena dan Darren, sepertinya begitu merasa bersalah pada gadis itu. Lim jelas penasaran, tapi dia tidak mungkin bertanya karna itu menyangkut privasi Tuannya.

"Keluarlah Lim, aku sedang ingin sendiri. Jangan Lupa, siapkan gadis itu malam ini, bawa dia kerumah ini setelah makan malam selesai, aku akan menunggu di dalam bar." Kata Darren sambil mengibaskan tangannya, menyuruh Lim untuk meninggalkannya sendiri.

Lim membungkuk hormat sebelum akhirnya dia menghilang dibelakang pintu.

Saat di lorong Lim terus memikirkan tingkah aneh Tuannya Darren.

Bukankah dia seperti orang yang sedang jatuh cinta.

Ah, Lim menggeleng pelan. Harusnya dia tidak ikut campur untuk urusan pribadi Darren.

Tapi semua ini agak menggelitik dirinya, dia penasaran pada Alena, apakah sikap gadis itu sama seperti Darren?

Akhirnya Lim hanya bisa menerka nerka dalam hatinya.

Saat tiba di rumah induk, Lim segera menelpon seseorang di dalam ponselnya.

"Albert, bawa jesika kemari, Tuan membutuhkan seorang teman minum untuk malam ini."

Setelah mengatakan itu, Lim langsung menutup telponnya dan berjalan ke lantai dua untuk mengecek kondisi Nona Jasmin.

bersambung

1
Nia Nara
Alena hamil
Nia Nara
Dari awal mending joshua jujur aja. Daripada kayak skrg
Nia Nara
Gimana gak mau takut. Lah bersama u hidup isinya ancaman dan kekerasan doang
Atik Susilowati Umam
lanjut Thor...
Gusliantini
lanjut thor cerita nya saat bgus semngat💪💪💪💪
Susi Dyansyah
lanjut dong cerita nya menarik
nila hendra
pengen baca tp kyknya lama banget ya upnya
Susi Dyansyah
udah selesai blm ni ...
Susi Dyansyah
menarik ...apakah masih berlanjut
Rini Maryani
lanjut daren penasaran
Sri Susanti
mantap
Robi Blora
lanjut thorr
xio ba
ayo dong thorrr lanjut, ak udah ga sabar nihh
Rita Purnamasari
lanjut seru cerita ya
xio ba
lanjut dong thorrrrrr
xio ba
Darren malu2 kuceng
Raudhatul Jannah
wew
Su Yadi
lnjut kak,q ingin melihat bhagia,dan Alena mngandung bnih cntanya Darren,tlg kak up lgi ya plisss
Su Yadi
kapan hamil Thor,biar mkir lengket & gregett
Yuni sahara Sujarwono
lanjut thorr. plissss gantung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!