Usia Alexius Calandra memang sudah tidak lagi muda. Dan dia dijodohkan dengan seorang gadis yang pemarah dan arogan. Bagaimana cara dia menghadapi gadis muda itu yang punya sikap sangat menjengkelkan menurutnya.
Beberapa kali Sarah dan Alex berusaha menggagalkan perjodohan tetapi selalu gagal karena Ibu Alex sangat pintar dan berpendirian teguh.
Dengan sangat terpaksa akhirnya mereka menikah agar tidak dicoret dari daftar warisan keluarga.
Selalu ada pertengkaran kecil dalam rumah tangga Alex dan Sarah di setiap harinya, tetapi mereka tidak menyadari bahwa hal itu justru semakin mendekatkan hubungan mereka.
Sebuah rahasia terungkap saat Alex mulai mencintai Sarah begitupun sebaliknya. Bagaimana jika tiba-tiba mereka harus bercerai karena anak kandung Adolf Chavali yang hilang telah kembali dan mengambil semua haknya yang dipinjam Sarah selama ini, termasuk perjodohannya dengan Alex.
Bagaimana sikap Alex selanjutnya? Dan akankah kedua orang tua Sarah tetap menyayangi gadis itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Setelah mendengar kebenaran tentang Marina dan keluarga Chavali dari sahabat lamanya, Alex merasa harus mencari kebenaran atas semua ucapan Hunter.
Walaupun dia tahu tabiat Marina, tetapi sebagai anak dia cukup cemas jika ibunya harus mendapat masalah.
Hunter adalah mantan rekan dulu saat dia bekerja sebagai pembunuh bayaran untuk agen ilegal Inggris. Alex tentu tahu sepak terjang bagi para agen seperti Hunter.
Mungkin saja Hunter memberi tahukan kebenaran yang terkait pada pekerjaannya. Pria itu dibayar seseorang untuk melenyapkan Marina.
Agen seperti Hunter tidak pandang buluh, dia akan memberikan apapun sebagai pelayanan kepada si pemberi tugas.
Selain masalah rumah tangganya yang sedikit kacau, sekarang Alex juga harus berpikir keras untuk mencegah si pembunuh bayaran mengincar ibunya.
"Sayang! Kau sudah pulang?" tanya Sarah saat Alex pulang. Setelah menjemput Sarah di kampus Alex pamit untuk menemui teman lama yang mereka bicarakan tadi pagi.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat cemas?" tanya Sarah sambil mengusap kemeja bagian depan yang dikenakan Alex.
"Hari ini aku begitu lelah." Alex menenggelamkan wajah di perpotongan leher Sarah.
"Beristirahatlah, aku akan siapkan makan malam," ucap Sarah sambil mengusap punggung suaminya.
"Aku ingin bertanya." Alex mengangkat kepala kemudian mengecup pipi Sarah.
"Apa itu?"
"Apa kau merasa diawasi saat di kampus?" tanya Alex dengan wajah cemas.
"Mm, kenapa kau bertanya seperti itu? Tidak, aku tidak merasa diawasi," jawab Sarah, dia juga melontarkan pertanyaan pada Alex.
Alex menggeleng lemah rupanya Sarah benar-benar tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi.
"Mulai hari ini kau harus berhati-hati, jangan pergi sendiri walaupun itu hanya ke toilet kampus!" Alex berucap sambil mengecup tangan putih Sarah.
Tok-tok ...
Sarah dan Alex mengalihkan perhatian pada pintu yang diketuk, sepertinya seoarang pelayan menginterupsi kegiatan mereka.
"Nyonya, ada tamu untuk anda dan Tuan Alex!" Suara pelayan itu sedikit keras saat memanggil.
Alex dan Sarah segera membuka pintu. "Siapa?" tanya Alex, pria itu terlihat sedikit waspada.
"Nona itu bilang dia teman Tuan," jawab si pelayan. Sarah sedikit heran, siapa yang berani mendatangi rumah mereka terlebih dia adalah seorang wanita yang mengaku teman Alex.
"Suruh dia menunggu, kami akan segera ke sana!" titah Alex pada sang pelayan.
Setelah pelayan pergi Alex kembali menatap Sarah. "Aku lupa tidak menyuruh pelayan untuk tidak menerima tamu sembarangan," ucapnya.
"Aku akan memberitahu mereka nanti, sekarang kita temui dulu tamunya." Alex hanya mengangguk mendengar ucapan Sarah. Pria itu menggenggam tangan sang istri dan menautkan jemari mereka.
...
Sungguh Alex tidak menduga bahkan tidak suka saat melihat tamu yang dimaksud. Dillia Olive duduk dengan menopang kaki di sofa tamu.
"Dillia?" Alex berucap tidak percaya, untuk apa wanita itu datang ke rumahnya. Alex merasa cemas sekarang.
"Alex, maaf aku harus mendatangimu karena ada yang ingin kusampaikan padamu," ucap Dillia dengan wajah yang sedih.
"Cepat katakan!" tegas Alex tanpa basa-basi.
"Semudah itukah kau berpaling dariku? Aku menantikanmu selama lima tahun, tega sekali kau bersikap seperti ini padaku," rajuk Dillia, dia tidak terima pada perlakuan Alex yang seperti itu.
Sarah yang hanya berdiri di samping Alex merasa tidak nyaman, bahkan dia merasa bersalah, hidup terkadang tidak adil, Sarah sangat mengeti jika Dillia merasa kecewa dan sakit hati pada Alex.
"Aku ... Aku, sedang hamil," ucap Dillia sambil menangis.
Seperti petir yang menyambar Sarah sangat terkejut mendengar ucapan mantan kekasih Alex tersebut.
"Selamat!" ucap Alex dingin.
"Jangan berpura-pura bodoh! Malam itu kita menghabiskan waktu bersama," pungkas Dillia yang semakin membuat Sarah terluka.
Alex menggeleng cepat, dia mengalihkan perhatian pada Sarah dan sayangnya wanita muda itu tidak mau berpaling padanya.
Alex mengeratkan pegangan di tangan Sarah, tetapi sang istri menarik diri untuk bisa terlepas.
Sarah bukanlah wanita bodoh yang tidak mengerti pada situasi yang sedang terjadi. Sungguh dia merasa bimbang dan sakit di saat yang bersamaan.
"Aku harus bagaimana?" tangis Dillia, sedangkan Alex tidak bisa mendengar dengan baik apa yang wanita itu katakan. Tatapannya hanya tertuju pada Sarah yang terlihat begitu terluka.
"Sebaiknya kau selesaikan ini!" ucap Sarah, dia menjauh dan meninggalkan Alex yang sedang kebingungan.
...
Sarah hanya terdiam di sisi tempat tidur, sebenarnya dia merasa bimbang hari ini. Beberapa kejutan di hari yang sama dia dapatkan dan itu bukanlah hal yang baik.
Sebenarnya setelah pulang dari kampus dia bertemu dengan Sierra yang memintanya untuk bertemu. Tentu Sarah tahu apa yang diinginkan Sierra.
Secara terang-terangan Sierra meminta Sarah untuk meninggalkan Alex sesuai kesepakatan awal. Karena yang dijodohkan dengan Alex adalah Sierra bukan dirinya.
Air mata Sarah jatuh sekarang, bagaimana dia bisa berbagi Alex dengan Sierra juga Dillia, kejadian yang baru saja terjadi membuat Sarah menyadari sesuatu bahwa dia tidak ditakdirkan untuk bersama dengan Alex.
Apakah dia harus berpisah dengan Alex? Terlebih pria itu juga harus bertanggung jawab pada Dillia.
Rasanya hari ini adalah hari terburuk dalam kehidupannya. Sarah merasa kesulitan untuk menentukan pilihan, apakah dia harus bertahan atau melepaskan segalanya?
Melepaskan bukan berarti dia menyerah, tetapi memang banyak hal di dunia yang tidak bisa dipaksakan.
Selain itu semua pihak memang menekan dirinya untuk berpisah dengan Alex. Ibu mertua dan orangtua angkatnya juga menginginkan hal itu.
Sepertinya keadaan dan takdir juga tidak berpihak padanya.
'Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?'
...
Sarah menghampiri Alex yang tertunduk di sofa tamu, sepertinya Dillia sudah meninggalkan rumah mereka.
Sarah mengusap kepala Alex, pria itu terkejut, dia langsung memeluk pinggang Sarah yang berdiri di depannya.
"Maafkan aku, ini semua salahku," ucap Alex, pria itu bahkan enggan mengangkat wajah untuk menatap sang istri.
"Sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama," ucap Sarah tanpa menghentikan usapan di kepala Alex. Pria itu menggelengkan kepala.
"Tidak, jangan katakan itu, kumohon!" Alex memohon dengan suara yang memelas.
"Alex, tolong buka matamu! Ini kenyataan yang harus kita hadapi!" Sarah merangkum wajah Alex untuk melihat kepadanya.
Sarah terkejut karena melihat mata Alex yang basah, sungguh dia merasa sakit karena perasaannya juga sama.
"Kau harus menjadi pria yang bertanggung jawab! Ada anak yang tidak berdosa akan menderita jika kau tetap egois," ucap Sarah dengan tatapan yang membuat Alex merasa tidak berguna.
"Mungkin ... Ini memang yang terbaik," lanjut Sarah.
"Aku akan menerima perpisahan ini," ucap Sarah yang membuat Alex membatu, dia tahu Sarah terpaksa mengatakan itu karena keadaan yang mendesak.
"Tapi aku tidak bisa menerima ini," lirih Alex, dia merasa menjadi pecundang karena tidak bisa melindungi orang yang ia cintai.
"Aku akan melakukan apapun yang kau katakan, itu hanya karena dirimu," ucap Alex dengan suara yang dingin.
"Bahkan jika aku mati pun aku akan tetap melakukan segalanya, demi dirimu," tambahnya. Alex beranjak dan meninggalkan Sarah yang tergugu.
'Maaafkan aku, Sarah!'
TBC
Hwee gimana, lama g up pasti lupa
Maaf untuk keterlambatannya ...
See you next chap ...
I Love you all 🌺🌺🌺
dan lihat 37 bab
ku pikir
berhenti di tengah jalan atau Hiatus atau pindah ke aplikasi lain nya karena ada tulisan end
eh ternyata emang bener di bab 37 tamat
keren bisa tamat
walaupun hanya 37 bab
semoga bisa berkarya lagi ya Thor 🤲 Aamiin 🤲
tetap semangat berkarya yah thor....🤟💪💪💪👍👍👍👍👍🎉🎉🎉🎉