Vivian seorang wanita yang lembut dan penuh kasih sayang berubah menjadi kejam setelah menikah dengan Reyhan seorang CEO Lumpuh beranak satu.
Vivian mulai menguasai Reyhan untuk menjalankan misi balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 26
Pagi ini Vivian sedikit terlambat datang ke perusahaan. Ia tergesa-gesa menuju meja kerjanya di samping meja sekretaris.
"Maaf, mba. Aku terlambat." Vivian menyapa Rara. Belum sempat wanita itu duduk di kursinya, Rara menyampaikan pesan kepada Vivian.
"Vi, pak Tomy suruh kamu masuk ke ruangannya." Rara menghentikan sejenak pekerjaannya melihat ke arah Vivian.
"Ada apa, mba ? apa pak Tomy tau aku datang terlambat."
Rara hanya mengedikkan bahunya karena ia sendiri pun tidak tau mengapa atasannya itu mencari Vivian pagi-pagi begini.
Setelah meletakkan tasnya, Vivian bergegas menuju ruangan CEO. Ia menelan ludah dengan susah payah karena merasa takut. Vivian mencoba menenangkan dirinya agar tidak terlihat gemetaran di depan Tomy. Ia menghelaa napas dan berjalan dengan tenang.
"Bapak, manggil saya ?"
Tomy mengalihkan pandangannya dari layar komputer dan melihat ke arah Vivian.
"Pukul sepuluh nanti ikut aku bertemu klien."
Vivian terkejut mendengar perintah Tomy. Baru kali ini ia di perintahkan untuk mendampingi sang CEO ke luar kantor. Meskipun merasa heran tapi Vivian tetap mengiyakan.
"Baik, pak. Saya permisi." Vivian menunduk hormat.
"Tolong antarkan kopi ke ruangan ku." perintah Tomy lagi yang di angguk oleh Vivian.
Vivian membuang napas lega setelah keluar dari ruangan CEO. Ia pikir Tomy akan membunuhnya karena kesalahan yang ia lakukan. Tapi ternyata tidak.
"Syukurlah." Vivian memegang dadanya yang sejak tadi berdetak kencang. Setelah menetralkan perasaannya Vivian kemudian menuju pantry, membuatkan kopi untuk Tomy.
Sebelum pukul sepuluh, Vivian sudah menyiapkan berkas yang akan ia bawa pergi bersama dengan sang CEO. Mereka hanya pergi berdua menggunakan mobil milik Tomy. Pertemuan di adakan di sebuah cafe. Hampir dua jam Tomy dan seorang klien dari luar kota membicarakan tentang bisnis. Sementara Vivian hanya menyimak pembicaraan kedua pria tersebut.
Setelah kliennya pergi, Tomy dan Vivian juga pergi meninggalkan cafe. Tapi, mereka tidak langsung pulang ke kantor. Tomy menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah.
"Kita akan makan siang dulu." kata Tomy yang seakan menjawab pertanyaan tak terucap dari mulut Vivian.
Vivian melihat jam di ponselnya, yang ternyata sudah masuk jam makan siang. Akhirnya Vivian mengikuti Tomy keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran mewah itu. Di saat jam makan siang begini, ramai pengunjung yang mendatangi restoran ini. Tomy dan Vivian mendapatkan meja di bagian tengah yang masih tersisa.
Mereka makan sambil di sertai obrolan ringan. Tomy banyak bertanya tentang Vivian dan Vivian menjawab seadanya. Setahu Tomy, Vivian adalah seorang janda. Tapi, Tomy tidak ingin bertanya langsung kepada Vivian. Takut akan menyingung perasaan wanita itu. Tomy hanya melihat dari data diri Vivian saat mengajukan magang di perusahaannya. Ya, karena sampai saat ini Vivian belum mengganti status perkawinannya di dalam Kartu Tanda Penduduknya.
Entah apa lagi yang mereka bicarakan, sesekali Vivian terlihat tertawa sambil menutup mulutnya malu-malu. Begitu juga dengan Tomy yang kadang tersenyum melihat ke arah Vivian. Interaksi antara kedua orang itu tidak lepas dari tatapan tajam seseorang yang duduk di meja di sebelah pojokan.
Seorang pria dari tadi menahan amarahnya sejak saat melihat Tomy dan Vivian masuk ke dalam restoran. Ia mengepalkan tangan sehingga memutih buku-buku jarinya. Jika saja sang asisten tidak menahannya, sudah sejak tadi menuju ke meja tempat Tomy dan Vivian duduk.
"Tenang, Tuan. Jangan mengacaukan semuanya. Di sini ramai orang." Entah sudah berapa kali Beni mengucapkan kalimat itu untuk mencegah Reyhan mendatangi istrinya yang saat ini sedang bersama dengan musuhnya.
Reyhan menghembuskan napas kasar sambil terus melihat jam di pergelangan tangannya. Mengapa rasanya jarum jam itu begitu lambat berputar. Setelah hampir satu jam menunggu, kini restoran yang tadinya ramai mulai terlihat lengang. Sebagian besar pengunjungnya sudah pergi.
Ehmm
Suara itu mengalihkan perhatian Tomy dan Vivian. Tomy tersenyum mengejek kepada pria yang saat ini tengah duduk di kursi roda yang di dorong oleh si asisten. Sementara wajah Vivian terlihat pias ketika melihat siapa yang datang ke meja mereka.
paling benci SMA cerita yg begini author nya punya rasa gak si coba klo diposisi Reyhan gimana