Shi Jin melewati lorong waktu. Dulu ia seorang permaisuri. Namun sekarang, ia sudah berubah menjadi wanita modern.
Berpura-pura menjadi wanita bernama Shu Qi.
Apa dia akan terus menutup identitas aslinya?
Apa yang terjadi, jika seorang permaisuri nyasar ke Dunia modern?
Apa dia akan kembali ke jaman kerajaan, atau. menetap di jaman Modern?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Restoran Amber
Malam kembali tiba. Bulan bersinar di tengah langit yang gelap. Bintang-bintang bermunculan dengan indahnya.
Chen Ming dan Shi Jin duduk di sebuah restoran mewah yang menghadap langsung ke arah Danau. Malam ini Chen Ming melakukan dinner romantis bersama Shi Jin. Lilin menyala dengan indah di atas meja. Bunga-bunga juga menghiasi beberapa sudut lokasi itu.
Angin berhembus dengan sangat kecang, membuat rambut Shi Jin berterbangan. Malam itu Shi Jin mengenakan dres indah berwarna biru. Wajahnya selalu terlihat cantik, meskipun ia hanya memberi polesan natural di wajahnya.
“Sayang,” Chen Ming memegang tangan Shi Jin dengan lembut.
“Ada apa?” Shi Jin mengukir senyuman manis.
“Kau sangat cantik,” jawab Chen Ming sambil mengukir senyuman indah.
“Chen Ming, kau sudah mengatakan itu ribuan kali. Sejak kita keluar dari hotel.” Wajah Shi Jin merona merah.
“Kau memang sangat cantik. Aku memang sangat beruntung karena memiliki istri yang cantik seperti dirimu, Shu Qi.” Chen Ming memegang tangan Shi Jin dengan erat.
“Makanan disini sangat enak.” Shi Jin memandang ke arah piring yang sudah kosong.
“Tapi, masih lebih enak masakan Kak Dong Ming.” Shu Qi melanjutkan perkataannya sambil memandang ke arah Danau.
“Sejak menikah, Kak Dong Ming sangat dekat denganmu. Ia sangat ingin memiliki adik perempuan. Ketika kau hadir, dia sangat menyayangimu dan memanjakanmu.” Chen Ming juga memandang ke arah Danau.
“Ya, aku tahu kalau Kak Chen Ming sangat menyayangi Shu Qi,” ucap Shi Jin pelan.
Chen Ming memandang wajah Shi Jin dengan seksama, “Apa maksud perkaanmu, Shu Qi? apa kau bukan Shu Qi yang asli?” tanya Chen Ming curiga.
Deg, jantung Shi Jin berdetak dengan sangat cepat. Tatapan Chen Ming adalah suatu tanda kalau ia sedang curiga pada dirinya saat ini.
“Maksudku, Kak Chen Ming selalu menyayangiku sejak pertama kali aku masuk ke rumah itu. Aku sering brcerita tentangmu padanya.” Shi Jin mengukir senyuman renyah.
“Shu Qi, aku perhatikan akhir-akhir ini kau berubah seperti orang lain. Siapa yang membuatmu berubah menjadi seperti ini?” Chen Ming menatap wajah Shi Jin dengan serius.
“Aku ….” Shi Jin memejamkan mata untuk menghilangkan rasa groginya saat ini.
Apa yang harus aku katakan. Shu Qi, jika kau mendengarku. Bantu aku mengatakan sesuatu yang bisa membelaku saat ini.
“Shu Qi,” tanya Chen Ming lagi.
“Sejak kita menikah, aku tidak pernah mencintaimu dirimu. Bahkan sejak awal kita kenal, aku tidak pernah memiliki perasaan cinta untukmu. Tapi, sikapmu sangat baik kepadaku selama ini. Dua tahun pernikahan kita, kau selalu sabar untuk menghadapi sikapku yang jahat. Kelembutan hatimu yang membuat aku menjadi luluh dan berubah menjadi seperti sekarang, Chen Ming.” Shi Jin mnutup mulutnya dengan kedua tangan.
Apa yang baru aku katakan? kenapa kalimat itu bisa keluar dengan sendirinya.
Chen Ming mengukir senyuman manis, “Maafkan aku sayang. Tidak seharusnya aku mencurigaimu seperti ini. Hari sudah semakin malam, ayo kita kembali ke hotel.” Chen Ming beranjak dari duduknya.
Shi Jin membalas senyuman Chen Ming sebelum beranjak dari duduknya, “Ya, aku juga sudah sangat mengantuk.” Shi Jin merangkul tangan Chen Ming dengan manja.
Chen Ming tersenyum memandang wajah Shi Jin sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Di rumah.
Dong Ming duduk santai di depan televisi, menonton siaran favoritnya. Makanan ringan dan minuman berkaleng memenuhi isi meja yang ada di hadapannya.
Hatinya hari ini terasa lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Melihat rumah tangga Chen Ming dan Shu Qi berjalan dengan baik. Di tambah lagi, pekerjaannya direstoran hari ini mendapat banyak pujian dari para pelanggan.
Hidup seperti ini sudah merupakan hidup yang sempurna bagi Dhong Ming. Ia tidak pernah memimpikan kebahagiaan lainnya lagi.
Tatapan matanya teralihkan saat ia melihat layar handphonenya bordering. Dong Ming mengambil handphon yang tergeletak dan mengangkat panggilan masuk itu. Dahinya mengkerut saat melihat nama yang tertulis di layar handphonenya.
Dong Ming menarik napas sebelum melekatkan telepon itu di telinga kanannya. Belum sempat mengeluarkan kata, Dong Ming langsung mengambil kunci mobil. Mematikan TV dan pergi meninggalkan rumah.
Dong Ming masuk ke dalam mobil, melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Hatinya di selimuti rasa khawatir saat mendengar berita yang baru saja di sampaikan Kepala pelayan rumah Vaula.
“Vaula, apa yang kau lakukan. Tadi di restoran kau baik-baik saja. Apa kau memiliki masalah lain?” Dong Ming menambah laju mobilnya agar segera tiba di rumah Vaula.
Beberapa saat kemudian, Mobil Dong Ming berhenti di halaman rumah Vaula yang luas. Ia turun dengan cepat dari dalam mobil, dan berlari kencang menuju pintu rumah.
Wanita paruh baya berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan Dong Ming malam itu.
“Selamat malam, Tuan.” Wanita paruh baya itu tersenyum ramah.
“Dimana Vaula?’ tanya Dong Ming khawatir.Ia terus berjalan masuk untuk menemui Vaula.
“Nona masih di meja bar, Tuan. Sejak tadi, Nona terus saja minum. Saya sangat mengkhawatirkan kesehatan Nona.” Wanita paruh baya itu mengikuti langkah kaki Dong Ming dari belakang.
Dong Ming berdiri di depan pintu yang menghubungkan kolam renang dengan rumah. Dari kejauhan ia melihat Vaula terus meminum minuman keras yang tersusun rapi di atas meja.
“Tinggalkan kami berdua,” ucap Dong Ming.
“Baik, Tuan.” Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Dong Ming.
Dong Ming berjalan pelan melewati pinggiran kolam renang. Dengan cepat, tangannya mencegah Vaula untuk meneguk satu gelas minuman beralkohol.
“Apa yang kau lakukan! jangan ganggu aku!” bantah Vaula dalam keadaan setengah sadar.
“Apa ini Vaula? kenapa kau jadi seperti ini!” Dong Ming mendorong semua botol minuman itu agar menjauh dari jangkauan Vaula.
“Berikan padaku.” Vaula ingin meraih botol minuman itu lagi.
Tanpa banyak mengeluarkan kata lagi, Dong Ming mengangkat tubuh Vaula di dalam gendongannya.
“Apa yang kau lakukan, biarkan aku bersenang-senang,” protes Vaula sambil terus memukul tubuh Dong Ming.
Dong Ming tidak lagi memperdulikan rengekan Vaula, ia terus berjalan menaiki anak tangga untuk membawa Vaula ke kamar.
“Turuni aku!” protes Vaula lagi.
“Kau mabuk, Vaula. Kau harus segera istirahat, ini bisa memperburuk kesehatanmu.” Dong ming mendorong handle pintu dan membawa tubuh Vaula masuk ke dalam kamar.
Dengan hati-hati, Dong Ming meletakkan tubuh Vaula di atas tempat tidur.
“Jangan pergi.” Vaula menarik tangan Dong Ming, saat tubuh pria itu berbalik ingin meninggalkannya.
“Aku akan membuatkan minuman yang bisa menghilangkan sakit kepala karena mabukk.” Dong Ming melepas genggaman tangan Vaula.
“Dong Ming, aku sangat mencintaimu,” ucap Vaula sambil memejamkan mata.
Dong Ming menghentikan langkah kakinya, ia berjalan perlahan mendekati tubuh Vaula.
“Maafkan aku, Vaula.” Dong Ming mengelus lembut rambut Vaula.
Vaula menarik leher Dong Ming dengan cepat, hingga wajah keduanya saling berdekatan. Jantung Dong Ming berdetak dengan sangat cepat, ia terus memperhatikan wajah Vaula yang kini hanya berjarak beberapa centi dengan wajahnya.
“Dong Ming, beri aku satu kesempatan. Buka hatimu untukku,” ucap Vaula pelan.
“Satu kali saja, aku mohon cintai aku.” Buliran air mata menetes dari ujung mata Vaula.
Dong Ming menghapus buliran air mata yang menetes, “Vaula, kenapa kau mengatakan hal itu padaku? aku bukan pria yang pantas untukmu.”
Vaula tidak lagi menjawab, ia tertidur sambil memeluk leher Dong Ming dengan erat. Perlahan, Dong Ming melepas tangan Vaula yang kini melingkari lehernya.
“Vaula, apa kau menjadi seperti ini karena aku?” Dong Ming mengelus lembut pipi Vaula. Menarik selimut untuk menutupi tubuh Vaula.
Dong Ming berjalan pelan mninggalkan Vaula. Hatinya diselimuti rasa bersalah saat mendengar perkataan terakhir Vaula.
“Tuan, apa nona baik-baik saja?” Wanita paruh baya itu berdiri di depan kamar dengan raut wajah khawatir.
“Vaula sudah tidur, aku akan membuatkannya minuman herbal. Minuman itu bisa mengurangi rasa sakit di kepalanya.” Dong Ming berjalan meninggalkan kepala pelayan itu.
“Tuan,” ucap pelayan itu takut-takut.
Dong Ming memutar tubuhnya, “Ada apa?” tanya Dong Ming singkat.
“Anda dan Nona Vaula sudah dekat selama sepuluh tahun. Sejak kecil, Nona Vaula sudah seperti anak kandung bagi saya. Jadi saya sangat tahu, apa yang kini dirasakan Nona Vaula.” Wanita paruh baya itu berjalan mendekati Dong Ming.
“Apa maksud anda?” Dong Ming mengerutkan dahi karena belum mengerti tujuan wanita itu mengatakan hal seperti itu.
“Tuan, sejak Nona Vaula berusia 20 tahun. Kedua orang tuanya harus pergi meninggalkannya, saat itu Nona Vaula seperti mayat hidup. Keadaannnya sungguh menyedihkan. Tapi, saat anda hadir di dalam hidup Nona Vaula. Nona Vaula memiliki warna lagi hidupnya. Ia kembali menjadi gadis yang ceria seperti dulu.” Wanita paruh baya itu mnarik napas dalam.
“Sejak saat itu juga, Nona Vaula selalu memikirkan anda. Hingga ia jatuh cinta pada anda. Selain anda, belum ada pria manapun yang dekat dengan Nona Vaula. Setiap kali bercerita dengan saya, ia selalu menceritakan semua tentang anda. Apa anda tidak menyadarinya, Tuan? kalau Nona Vaula sangat mencintai anda?” Wanita paruh baya itu memandang wajah Dong Ming untuk menagih satu penjelasan.
“Saya dan Vaula sangat berbeda. Bahkan di tempat kerja, kami hanya atasan dan bawahan. Aku tidak ingin orang lain berkata yang bukan-bukan tentang kami.” Dong Ming mencari cara untuk membela diri.
“Itu bukan alasan, Tuan. Yang terpenting saat ini, hati anda. Apa anda tidak pernah mencintai Nona Vaula walau hanya sedetik saja?” Wanita paruh baya itu mulai berbicara dengan nada tinggi.
“Aku ….” Dong Ming kembali bingung dengan perasaannya saat ini. Ia tidak tahu, perasaan apa yang kini ia miliki untuk Vaula.
“Maafkan saya, Tuan. Saya terlalu ikut campur dengan masalah pribadi anda. Tapi, saya mohon kepada anda untuk membuka hati anda untuk Nona Vaula. Sudah 10 tahun Nona Vaula menunggu anda. Harus berapa lama lagi Nona menunggu anda mengatakan cinta padanya. Saya permisi dulu, Tuan.” Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Dong Ming yang masih berdiri mematung.
Dong Ming melanjutkan langkah kakinya menuju ke dapur. Ia mengumpulkan semua bahan yang ada di dalam dapur untuk membuat minuman herbal yang bisa mengurangi efek minuman beralkohol.
Dong ming mempelajari resep itu sejak Chen Ming menikah dengan Shu Qi. Chen Ming sering pulang karena mabuk, begitu juga dengan Shu Qi. Karena kasih sayangnya kepada dua adiknya, Dong Ming mempelajari resep itu.
Pria berusia 30 tahun itu tidak pernah menyangka, kalau hari ini ia akan membuat minuman yang sama untuk Vaula. Sejak awal kenal dengan Vaula, Dong Ming tidak pernah melihat Vaula berani meminum minuman keras itu.
Vaula selalu menjaga kesehatannya. Dong Ming semakin merasa bersalah saat ia tahu, kalau Vaula seperti ini karena dirinya. Perkataan Vaula terus saja mengiang di telinganya. Kini hati Dong Ming dipenuhi dengan rasa bersalah yang begitu besar.
“Tolong, berikan minuman ini saat Vaula sadar. Aku akan datang lagi besok pagi.” Dong Ming mengukir senyuman manis.
“Terima kasih, Tuan.” Salah satu pelayan menerima minuman herbal yang baru saja dibuat oleh Dong Ming.
Tanpa banyak kata lagi, Dong Ming pergi meninggalkan rumah besar milik Vaula. Ia melajukan mobilnya dengan cepat, menembus keramaian kota.
“Vaula, maafkan aku. Aku tidak pernah tahu, kalau selama ini kau menderita karena diriku.”
Jangan Lupa Like nya...
tetap semangat berkarya
wajar kl dia.mendapatkan fakta.kl Chen ming miskin
d luar ekspektasi ya
makanya kelakuan nya jd bar bar
g tau diri..dulunya jg berasal dr kelas bawah🙄🙄🤬