NovelToon NovelToon
Gadis Kecilku

Gadis Kecilku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: LilyFlow

Namanya Ara, gadis berpostur mungil yang memiliki fitur wajah bak boneka. Tak hanya menjadi pujaan laki-laki seusianya, pesonanya juga memikat pria dewasa disekelilingnya.

Terutama Farhan, pria sederhana yang agak sombong dengan ketampanannya. Dia tak pernah menyangka bahwa suatu saat akan ada seseorang yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Terutama Ara, gadis yang diharapkan dapat menghiburnya dikala bosan, yang bisa ia ajak 'main-main'

Tak seperti Farhan yang awalnya memiliki niat buruk, Dion, pria kaya raya itu menyukai Ara dengan tulus. Wajahnya pun tak kalah tampan dari Farhan. Namun, sikapnya yang dingin kerap membuat orang lain merasa tak nyaman. Selain itu dia sangat posesif terhadap pasangannya.

Siapakah yang akan di pilih Ara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilyFlow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

"Ada apa, Sayang? Kenapa tiba-tiba cemberut seperti itu?" tanya Haris saat menyadari perubahan ekspresi di wajah adik tercintanya itu.

"Itu karena dia sedang cemburu," sahut Dion.

"Cemburu?" ucap Haris dengan dahi mengernyit. "Cemburu kenapa? Siapa yang membuatnya cemburu?" imbuhnya.

Dion tersenyum. "Apa kau tidak tahu kalau Aakh ...." Dion memekik saat Ara menginjak telapak kakinya yang terbungkus sepatu. Reflek ia memegangi kakinya.

"Maaf Kak Dion aku tidak sengaja menginjak kakimu, apa itu sangat sakit?" ucap Ara, pura-pura panik.

Dion mengangkat alis, heran. Jelas-jelas Ara menginjaknya dengan sengaja.

Ara dan Dion saling berpandangan. Ara meraih kedua telapak Dion, menggenggamnya di depan dada dengan wajah memelas.

Kumohon jangan beritahu kakak.

Melihat ekspresi Ara yang memohon padanya, Dion pun mengerti. "Aku tidak apa-apa. Mungkin hanya lecet sedikit," ucapnya.

"Kalau begitu aku akan mengobatinya ketika kita sudah di rumah," ucap Ara.

"Baiklah," sahut Dion.

Ara memutar tubuhnya ke kiri, menatap Haris. "Abang ... Aku sudah bosan di sini, kenapa kita tidak pergi ke tempat lain saja," usulnya.

"Kau mau kemana lagi?" tanya Haris. Mengusap kepala adiknya dengan lembut.

"Bagaimana kalau kita nonton? ada film horor yang sedang ramai di bicarakan di sosial media. Aku penasaran ingin menontonnya," ucap Ara.

"Baiklah, ayo kita pergi," ajak Haris.

Usai membayar tagihan, Haris menyusul Ara dan Dion yang berjalan keluar terlebih dulu. Mereka menuju ke lantai empat menggunakan lift. Begitu keluar dari lift mereka berbelok ke kiri, menuju studio bioskop.

"Aku akan memesan tiket dulu. Kalian tunggu di sini saja," ucap Haris.

"Oke," ucap Ara dan Dion bersamaan.

Haris berjalan menuju loket pembelian tiket. Sementara Ara dan Dion duduk di kursi tunggu yang ada di depan studio.

"Aku ke toilet dulu, ya, Kak Dion," ucap Ara seraya bangkit berdiri.

"Mau Kak Dion antar?"

"Tidak perlu, Kak. Aku sendiri saja."

"Oh, ya sudah. Kak Dion tunggu di sini."

"Oke." Ara mulai melangkah, menuju toilet yang letaknya di bagian ujung. Ketika sedang berjalan ia berpapasan dengan Farhan.

Saat itu Farhan memanggil namanya seraya melambaikan tangan. Namun Ara malah mengabaikannya. Gadis itu membuang muka dan berpura-pura tidak melihat. Ia berjalan melewati Farhan begitu saja.

Farhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terdiam. Memandangi punggung Ara yang bergerak menjauh.

Ada apa dengan anak itu? Jelas-jelas dia melihatku. Mengapa malah bersikap seolah tidak mengenalku?

Fira menoleh ke belakang saat menyadari Farhan tak ada di sisinya. Pantas saja beberapa orang melihatnya dengan tatapan aneh. Rupanya ia dari tadi bicara seorang diri. Karena saat ini Farhan tertinggal jauh di belakangnya. "Ada apa, Mas, kenapa malah diam di sini?" tanya Fira saat ia sudah kembali di sisi Farhan.

Farhan menoleh, menatap Fira. "Fira, aku ingin ke toilet sebentar. Kau ke sana dulu saja, nanti aku menyusul," ucap Farhan sambil berlalu pergi. Ia berjalan menuju toilet dengan langkah tergesa-gesa. Meninggalkan Fira yang tampak kesal.

Farhan menunggu di depan pintu toilet wanita. Berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Kedua tangannya terlipat di dada. Laki-laki itu tak perduli meskipun beberapa orang menatapnya saat orang tersebut keluar ataupun masuk ke dalam toilet.

Tak lama kemudian Ara pun akhirnya keluar. Gadis itu terperanjat saat melihat Farhan berdiri di depannya.

"Hai, Ara," sapa Farhan, tersenyum.

"Mengapa Mas Han di sini?" tanya Ara sambil berlalu. Farhan mengikuti di belakangnya.

"Apa aku tak boleh di sini?" Farhan bertanya balik.

"Maksudku, kenapa berdiri di depan toilet wanita? Apa Mas Han tidak malu?"

"Aku tidak mencuri dan tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi kenapa harus malu?" ucap Farhan.

Ara berhenti melangkah. Kemudian membalikan badan, menghadap Farhan. Seketika laki-laki di depannya pun ikut berhenti.

"Mengapa Mas Han mengikutiku?" tanya Ara. Ia sedikit mendongak untuk melihat wajah Farhan yang memang lebih tinggi darinya.

Farhan tersenyum. "Akhirnya kau mau menatapku juga," ucapnya.

"Di sini banyak orang, ayo ke tempat lain," ajak Farhan. Ia menarik tangan Ara dan membawa gadis itu pergi.

"Kita mau kemana?" tanya Ara. Gadis itu berjalan terseok-seok karena mengimbangi langkah panjang Farhan.

Farhan tak menjawab. Ia terus membawa Ara pergi. "Jangan jauh-jauh, Kakakku sedang menungguku," ucap Ara.

"Tidak akan lama. Kita pasti akan kembali sebelum Kakakmu mencari keberadaan mu," sahut Farhan.

Farhan memegang handle pintu darurat. Kemudian membukanya. Keduanya masuk ke dalam ruangan yang di penuhi anak tangga itu. Farhan melepas tangan Ara. Keduanya kini berdiri saling berhadapan.

"Mengapa Mas Han membawaku ke sini?" tanya Ara. Gadis itu menunduk, tak mau menatap Farhan. Ia tak bisa bergerak kemanapun. Di belakangnya sebuah dinding Sementara sisi kanan kirinya di halangi oleh kedua lengan Farhan.

"Kenapa marah?" tanya Farhan. Menatap lekat wajah Ara yang tertunduk.

"Siapa yang marah? Aku tidak marah," bantah Ara.

"Kau tidak marah tapi kesal 'kan?" tanya Farhan, lagi.

"Itu juga tidak."

"Benarkah?" Farhan membungkukkan badannya sedikit, menyamakan tingginya dengan Ara. Kemudian mencondongkan kepalanya ke wajah Ara.

"Kalau tidak marah atau kesal, lalu ada apa dengan ini." Farhan mengecup kelopak mata kanan Ara. "Yang ini juga," imbuhnya seraya mengecup kelopak mata Ara yang satunya lagi.

"Kenapa kedua mata indah itu sejak tadi menghindariku?"

Ara mengulum bibirnya. Ingin tersenyum tapi di tahan. Wajahnya sudah memerah seperti tomat. "Aku tidak menghindari Mas Han," ucapnya tanpa menatap Farhan.

"Oh ya? Kalau begitu kenapa kau melewatiku begitu saja saat aku menyapamu?" Farhan mengangkat dagu Ara. Memaksa gadis itu agar mau menatapnya.

"Kapan Mas Han menyapaku? Aku tidak dengar," ucap Ara pura-pura tidak tahu. Padahal saat itu ia memang sengaja mengabaikan karena kesal melihat Farhan bersama wanita lain.

"Jadi begitu. Sepertinya telingamu kotor sehingga tidak berfungsi dengan baik. Haruskah aku membersihkannya?" Farhan menggesekkan bibirnya ke telinga Ara.

Seketika tubuh Ara menegang. "Jangan di situ, geli sekali," ucapnya sambil menggeliat.

"Lalu, seharusnya di mana?" bisik Farhan di telinga gadis itu. Ia menggigit kecil telinga Ara. Setelah itu melepasnya sambil menelan salivanya. Ia kini mendekatkan wajahnya ke wajah Ara. Menempelkan keningnya ke kening Ara. "Jangan marah lagi. Aku tak suka kau menghindari ku."

"Wanita itu siapa? Apa pacar Mas Han?" tanya Ara, memberanikan diri. Sedari tadi ia memang penasaran ada hubungan apa antara Farhan dengan wanita itu.

Meskipun tak menyebut secara spesifik tapi Farhan sudah tahu wanita yang di maksud Ara itu siapa. Sudah pasti Fira. "Bukan siapa-siapa. Hanya teman biasa," ucapnya.

Ara tersenyum. Hatinya merasa lega saat tahu kalau wanita itu hanya teman Farhan. Akan tetapi senyuman itu lenyap saat menyadari hubungannya dengan Farhan. Ia dan Farhan juga hanya berteman. Mengingat hal itu kembali membuatnya merasa kesal. "Apa Mas Han memperlakukannya sama seperti memperlakukanku?" tanyanya.

"Memperlakukan seperti apa? Katakan yang jelas," ucap Farhan. Ia kembali menjauhkan wajahnya untuk menatap wajah Ara. Gadis itu menatapnya balik.

"Kita juga hanya berteman. Tapi Mas Han beberapa kali mencium dan juga memelukku. Apa Mas Han memperlakukan wanita itu juga sama seperti memperlakukan aku? Apa Mas Han menciumnya?" tanya Ara.

Farhan terkekeh. Dia imut sekali kalau sedang cemburu.

Ara menatap tajam Farhan. "Kenapa Mas Han tertawa? Memangnya aku ini badut?" ucapnya, kesal. Ia memalingkan wajah.

"Maaf," ucap Farhan setelah berhasil menguasai diri. "Cantik begini masa mau di samakan dengan badut. Kau itu seperti bidadari, Ara. Cantik sekali," puji Farhan.

"Berhenti menggombal. Mas Han belum menjawab pertanyaanku."

"Baiklah. Aku akan menjawabnya. Dengarkan baik-baik," ucap Farhan. "Perlakuanku terhadapnya dan juga terhadapmu tentu saja berbeda. Aku tidak menciumnya, tidak memeluknya dan juga tidak menggandeng tangannya," jelas Farhan.

"Oh iya satu lagi. Siapa bilang kita hanya berteman? Bukankah aku sudah berulang kali mengatakan kalau kau calon istriku? Jangan bilang kau juga tidak mendengarnya," ucap Farhan. Menatap Ara yang tersipu.

"Aku dengar," sahut Ara, malu-malu. "Ngomong-ngomong aku ini masih sekolah. Mana bisa jadi istri Mas Han."

Farhan tersenyum. "Kalau begitu Mas Han akan menunggu sampai Ara lulus," ucapnya.

"Setelah lulus aku masih harus kuliah. Apa Mas Han masih mau menunggu?" tanya Ara.

"Tak ada larangan bagi seorang mahasiswi yang ingin menikah, Ara. Bahkan sudah punya anak pun masih boleh kuliah. Apa kau lupa itu?" ucap Farhan. Ia menarik pinggang Ara. Kemudian membawanya dalam dekapannya. Keduanya saling berpelukan. "Kapan pun itu aku pasti akan menjadikanmu istriku, Ara," gumamnya.

.

.

.

.

.

1
nadia noviana02_
up dOng....
Choirul Anna Soenarso
up terus Thor
Dayana
wah ara pingsan.. lnjut thor.
Lily Flow
iya kak
skrng lg fokus pngn namatin novel yg satunya dulu jd ini jarang update
tp lg berusaha biar update dua2nya
Dayana
kok lama bngt up thor..
Lily Flow
ok
Choirul Anna Soenarso
Thor ditunggu bersatunya Farhan Ama Ara
Choirul Anna Soenarso
Thor,satukan Ara dg Farhan donk
Choirul Anna Soenarso
sebenarnya cerita ini bagus,,sy lebih suka dg cerita cinta sederhana,,laki2 dari keluarga sederhana dan cewek nya dari keluarga kaya,
Choirul Anna Soenarso
Alhamdulillah akhirnya up juga,, lanjut
Choirul Anna Soenarso
kpn punya, ditunggu juga sampe lumutan
NR
Aaaaahhhhkkkk tidak 😱, Ara hanya milik Farhan. Dion biar sama aku aja😁
Kaina AR-RAHMA: kpn nih up y
total 1 replies
NR
aku meleleh... plis mas Han sama aku aja😁
Lily Flow: jangan
Mas Han punya Ara 😄
total 1 replies
Choirul Anna Soenarso
bagus
NR
Definisi gak pacaran tapi saling cemburu-cemburuan🤣. Makanya Ara buruan minta kejelasan sama Mas Farhan
Choirul Anna Soenarso
yaahh knp sih Ama fira segala,,ibunya juga pake jodoh2in segala
Choirul Anna Soenarso
sy suka cerita nya,, ditunggu kemesraan mereka
Choirul Anna Soenarso: teman tapi mesra
total 2 replies
Choirul Anna Soenarso
bagus banget
Zulfakarimafitri
lanjut dong
Lily Flow: di tunggu ya kak
total 1 replies
NR
laki kaya Mas Farhan ada dijual dishopee gak sih, aku mau beli😅🤣🤣
Lily Flow: coba di cek spa tau ada di kranjang kuning 😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!