Bukannya di penjara, Nesha justru dinikahi Mr. Lewis usai mengakui kalau dia'lah yang mencelakai Preston (adik angkat Lewis). Namun, ada begitu banyak kejanggalan di setiap kejadian. Apa sebenarnya yang terjadi dan apa misteri di baliknya?
***
Tidak disebut pengusaha, tapi perusahaannya ada di setiap Negera. Tidak disebut ketua Gangster, tapi dia memimpin sekitar 50.000 anggota aktif. Tidak disebut Mafia, tapi dia melakukan semua hal yang diilegalkan oleh negeranya.
Dia adalah Diyan Lewis Talsen Baldev, atau biasa di sapa Mr. Lewis. Pria tampan bertubuh kekar yang sudah berusia 28 tahun. Berdarah dingin yang kejam, dengan tatapan mata tajam. Dia adalah sosok pria yang ditakuti seluruh Negera. Apa yang akan terjadi pada Nesha jika menikahi pria sekejam Mr. Lewis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 ~ Tubuh Polos
"Itu hanya akting, karena sebenarnya Preston masih—"
"Masih apa?" tanya Nesha penasaran karena pria kekar pemilik nama asli Lewis itu tak lagi melanjutkan ucapannya.
"Lain kali saja dibahas lagi. Lebih baik sekarang aku bantu kamu mengganti pakaian, setelah itu kamu istirahat agar memiliki sedikit tenaga," terang Lewis mengubah topik pembicaraan.
"Aku malu," Nesha mengeratkan genggaman di tali tipis yang menggantung di kedua pundak.
"Kalau malu, kamu tutup mata saja. Anggap aku ini adalah ibumu yang sedang menggantikan pakaianmu," sosok Lewis asli itu menemukan cara agar Nesha tak lagi merasa malu.
"Ibuku sudah meninggal. Tapi, kenapa tidak kamu saja yang tutup mata?" balas Nesha sekejab merasa sedih saat Lewis mengingatkannya akan sosok sang ibu tercinta.
"Maaf, aku tidak tahu. Tapi, bagaimana mungkin aku bisa menggantikan pakaianmu kalau mataku ditutup. Bagaimana kalau aku malah salah menyentuh, bukankah lebih baik dilihat daripada disentuh," pikiran nakalnya semakin menggila. Menembak serta memukul akurat dengan mata tertutup dapat Lewis lakukan dengan mudah, apalagi membuka dan mengganti pakaian dengan mata tertutup, tentu saja itu sangat mudah bagi Lewis.
Tapi, tak baik menyia-nyiakan kesempatan dalam kesempitan. Kapan lagi dapat melihat pemandangan indah? Apalagi pemandangan itu sudah sah menjadi miliknya. Bukan hanya pemandangan, tapi semua yang ada di tubuh Nesha juga sudah menjadi miliknya.
Namun, Lewis tak ingin egois. Pernikahan mereka bukan atas dasar cinta. Maka, Lewis berjanji tidak akan menyentuh Nesha sebelum mereka saling mencintai. Kalau melihat, tidak apa-apalah, ya. Anggap saja bonus di hari pernikahan. Terlalu lama mendekam di penjara rasa apartemen itu, membuat hasratnya tertahan lama. Walau hidupnya agak menyedihkan, tapi selalu Lewis jalani dengan santai agar dia tetap waras.
"Kalau begitu aku tidur dengan gaun ini saja," tolak Nesha sukses menghancurkan fantasi liar yang tadinya Lewis bayangkan.
"Aku tidak bisa tidur dengan aroma yang tidak sedap," tutur Lewis membuat Nesha langsung mencium aroma tubuhnya. Tidak ada aroma lain yang ia cium, selain aroma darah.
"Baiklah, tapi berjanjilah jangan melakukan apa pun padaku," ancam Nesha membuat Lewis mengangguk cepat. Nesha langsung memejamkan kedua mata, siap berfantasi seperti yang Lewis katakan sebelumnya. Nesha membayangkan saat dirinya masih kecil dan sang ibu tengah membantu mengganti pakaiannya.
Lewis menyeringai, lalu mulai menurunkan kedua tali tipis yang menggantung di kedua pundak Nesha. Setelah kedua tali itu terlepas, Lewis mulai menarik gaun itu dengan perlahan.
Niatnya ingin melihat pemandangan indah hancur sudah, saat malah disuguhkan pemandangan yang membuat hatinya teriris perih. Bagaimana tidak perih, saat melihat ada banyak luka lebam di sekujur tubuh Nesha. Bahkan, luka-luka itu juga ada di kedua bongkahan dua gundukan kenyal, padat dan sintal yang Lewis perkirakan berukuran lebih dari 36 d. Baju yang longgar menutupi ukuran sempurna itu.
Hampir Lewis menitikkan air mata saat melihat luka-luka itu, "Ada banyak luka di tubuhmu, aku akan mengoleskannya obat merah dan salep. Mungkin ini akan memakan waktu cukup lama, kamu bisa tidur saja," terang Lewis mulai menutupi separuh tubuh Nesha dengan selimut agar Nesha tak terlalu merasa dingin. Lewis mulai kembali fokus mengelap bagian atasnya, setelah itu mengoleskannya dengan obat merah.
"Aku tidak bisa tidur bila tidak mengenakan pakaian," jelas Nesha berbohong, karena lebih tepatnya dia merasa aman bila tidur tanpa pakaian, Nesha takut kalau Lewis diam-diam menaiki tubuhnya, sangat mengerikan.
"Kalau begitu aku tidak akan lama, aku akan melakukannya dengan cepat," Lewis terus melanjutkan aksinya. Sesuatu yang menegang di bawah sana dirinya abaikan. Dia harus kuat menahan hasratnya, karena kesehatan Nesha jelas lebih penting daripada nafsunya sendiri. Lewis tak ingin egois.
Nesha memilih pasrah ketika Lewis melepaskan bra nya, lalu mengoleskan obat di sana. "Bagaimana bisa luka-luka ini ada di bagian dalam tubuhmu," kamu tidak di—" Lewis tak melanjutkan interogasinya.
Nesha hanya diam tak merespon, dia tahu apa yang Lewis pikirkan, tapi dia tak ingin merespon karena tak dapat mengingat sebanyak apa Lewis palsu menyakitinya.
Sementara itu, Lewis mengepalkan tangannya murka. Simpatinya pada Nesha terus dirasa, ketika dua bongkahan indah itu juga lebam. Sayang sekali, padahal gundukan itu sangatlah indah. Apalagi dihiasi chocohip berwarna merah muda, sepertinya akan sangat nikmat bila diemut. Lewis merutuki pikiran nakal dan senjata yang menegang di bawah sana. Bagaimana bisa senjata itu tidak ikut bersedih seperti hatinya. Sangat payah, melihat gundukan yang berdiri menantang saja dia sudah nyeri tak tertahan. Lewis berusaha menahannya.
Usai mengoleskan salep dan obat merah di bagian atas, kini Lewis pindah ke bagian bawah. Tak lupa bagain atas yang polos dia tutupi dengan selimut miliknya. Lewis mendengus kesal, karena hasratnya benar-benar memuncak saat pandangan nakalnya melihat bagaimana indahnya bagian inti yang diapit kedua paha itu. Lewis memukul kepala, agar pikiran mesumnya sedikit berkurang.
Lewis memeras handuk dengan air, kemudian mulai mengelap bagain bawah tubuh Nesha. Lewis mengelap secara perlahan dari ujung kaki, betis, paha, dan ketika Nesha membalikkan badan, bagian bamper belakang yang juga berukuran tak biasa, membuat Lewis kesulitan menelan saliva yang tertahan di tenggorokan.
Lewis menggelengkan kepala, kembali fokus mengelap dan mengoleskan obat. Syukur di bagain bawah tubuh Nesha tak banyak luka lebam seperti di bagain atas. Kini, waktunya yang terakhir, bagian yang paling menantang bagi Lewis, yaitu melepaskan segitiga berwarna merah muda yang menempel di bawah sana. Lewis menarik napas dalam, kemudian menghembuskan perlahan. Setelah itu mulai menarik cd itu secara perlahan.
"Ya Tuhan ....
.
.
.
masih ada yg belum jelas..
kayaknya Lewis ma Nesha udah pernah ketemu sebelumnya, tp Nesha nya g ingat..
g ada flasbacknya itu kak..
Lewis kayaknya emang nyari Nesha, semacam punya janji semasa kecil gitu..
Lha wong Nesha pernah bilang "pangeran" gitu waktu mau diunboxing pertama kali walopun gagal..
belum ada penjelasan kak.. 🤔🤔🤔
anyway, sehat2 selalu dan semangat terus dalam berkarya ya kak.. 😘🥰😍🤩
cuss lanjut novel berikutnya..
sekuel novel "terjerat" udah dibaca semua.. 😁
btw nma pemeran nya Nesha ,, seperti nma anaku Thor,, bedanya Z doang,, klo anak ku nesza,, dan itu Nesha😁
gk terasa...
sprt terhipnotis akoh....
cemungut k karya2 slnjtnya y thor...
see yu....👄👄👄💪
ya ampyunnn lewis km tuh di cariin ma hot papi usan...
yah...berarti gk berhasil yak bw pulang lewis jmn itu...
mengsedih deh...