Novel ini adalah sekuel dari Novel My Husband Is My Secret Lover (Ketika dendam dan cinta tumbuh secara bersamaan)
Cuplikan bab
Lima tahun berlalu, Janetha kembali ke Indonesia dengan membawa seorang anak lelaki berusia lima tahun.
“Janeth, siapa anak ini?” tanya Shian yang tak sengaja bertemu dengan gadis yang sangat dicintainya itu. Beberapa tahun ini pemuda yang telah tumbuh menjadi pria dewasa itu terus mencari keberadaan Janetha Anjani tetapi ia selalu gagal.
Janeth terlihat begitu terkejut saat wajah yang sangat ia benci itu tiba-tiba berada di hadapannya. Perasaan yang telah lama ia pendam dalam lima tahun belakangan ini terpaksa harus muncul kembali.
“Dia anakku! Jangan menyentuhnya!” gertak Janeth. Shian gemetar hebat saat mendapati gadis itu begitu terlihat marah, namun mata pria itu tak dapat terlepas dari wajah balita yang begitu mirip dengannya tersebut.
Siapakah anak tampan itu? Apakah ia memiliki hubungan dengan Shian?
Happy Reading ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Meilina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertunangan
Mansion Keluarga Luby
Shian terus tersenyum seraya membetulkan pangkal dasinya yang sudah rapi, ditatapnya tubuh tegap itu pada cermin, sambil bergumam.
Janeth, kali ini aku akan benar-benar mengikatmu dari makhluk bernama Aksa.
Sementara di tempat lain, seorang gadis sedang mondar-mandir, jemarinya saling bertautan dan meremaas satu sama lain, tangannya pun dingin memikirkan apa yang akan menimpanya hari ini, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh dan itu berarti David akan datang untuk menjemputnya menemui Shian.
“Nak, apa kau sudah siap?” tanya Ardi membuka kamar putrinya, pria itu tampak tampan dengan pakaian formal.
“Ayah, apa ayah juga akan ikut hari ini?” tanya Janeth tersentak kaget lalu menatap ayahnya yang sudah rapi.
“Ya, tentu saja, di hari bahagia putriku apakah aku harus melewatkannya?”
“Hari bahagia?” Janeth tercengang. Memikirkan mengapa ayahnya justru mengatakan jika ini akan menjadi hari bahagia untuknya.
“Jani, mengapa masih diam saja? Ayo cepatlah ganti bajumu Nak,” pinta bapak itu.
“Tapi ayah, hari bahagia apa maksudnya?”
Saat itu juga tiba-tiba Ana datang dan masuk ke kamar Janeth, sama seperti Ardi, Ibu Shian itu tampak cantik dengan balutan dress formal panjang semata kaki.
“Janeth sayang, kau belum siap Nak?”
“Ah untung saja Ibu datang tepat waktu, Ibu tau kau pasti membutuhkan bantuan untuk bersiap bukan?” ucap wanita paruhbaya itu sambil membuka kotak besar berpita yang ia bawa dari rumahnya. Janeth melihat Ana mengeluarkan gaun berwarna peach selutut, dengan bahan satin tanpa lengan pada salah satu sisinya.
Kemudian kotak yang kedua berisi stiletto transparant, Janeth tau semua itu adalah barang-barang branded, Ana bergerak cepat, meminta Ardi untuk keluar dari kamar itu, kemudian langsung merias wajah Janeth, selalu dengan lensa berwarna abu karena warna itu sangat cocok dengan kulit dan bentuk wajah sang calon menantu.
“Ibu Ana, sebenarnya apa yang akan terjadi hari ini?” tanya Janeth dengan wajah polosnya, menatap Ana dari pantulan kaca. Ibu Shian itu tampak sangat serius, dahinya mengerut bibirnya mengatup membuatnya lipstiknya semakin menyatu.
“Ibu…” lirih Janeth.
“Ah iya Sayang, ibu sangat berkonsentrasi. Apa yang baru saja kau katakan?”
“Ibu, akan ada acara apa? Mengapa ayah mengatakan jika ini adalah hari bahagia?”
“Oh ya tentu saja ini hari yang bahagia Janeth! Apa Shian tidak memberitahumu Sayang?” tanya Ana tetap fokus pada wajah Janeth.
“Tidak, Ibu Ana.” Janeth menggeleng. Sejenak kemudian ponsel Ana berdering dan wanita itu segera mengangkatnya.
“Yes, Baby! Sebentar ya, ini sudah siap kok!” ucap Ana begitu menjawab panggilan dari seseorang.
“Nak, sekarang cepat pakai bajumu, Shian sudah sangat menunggu!” perintah Ana sambil melepaskan pakaian Janeth dan menggantinya dengan gaun yang ia pilihkan. Janeth semakin tak karuan, kini ia yakin jika Shian sedang merencanakan hal lain, bukan tentang penebusan uang lagi.
Janeth memakai stiletto itu, tumitnya terangkat sempurna membuat kaki jenjang gadis itu kian menawan. Rambut dengan ikatan modern bak pengantin korea ia memasukki mobiil mewah kleuarga Luby itu.
Tiba di hotel tempat acara berlangsung.
Janeth melangkah dengan Ana yang berjalan di sampingnya, betapa dua wanita yang begitu memukau dan menyita perhatian para tamu dan awak media.
Gadis bergaun peach itu memasukki ruangan Ballroom, dan di sana Yoshi, teman-teman Shian dan para tamu undangan sedang memperhatikan dirinya, tentu saja tanpa meninggalkan pemeran utama kita dalam kisah ini, Shian yang sejak tadi tak berkedip.
Janeth semakin gugup tak karuan, dengan erat ia menggenggam tangan Ana.
God, apa dia akan menikahiku hari ini? Bukankah ini terlalu cepat? Dan di manakah penghulunya jika benar aku dan Shian akan dinikahkan.
“Ibu Ana, apa Shian akan menikahiku hari ini?” celetuk Janeth dengan percaya diri ia tak tahan lagi dengan rasa penasaran yang semakin menggerogoti.
“Oh belum sayang, untuk pernikahan kita belum menemukan tanggal yang baik, karena kakek Shian adalah orang yang sangat mengutamakan tradisi,” ucap Ana membicarakan ayahnya.
“Tapi tenanglah, setelah ini kalian pasti akan menikah!” tegas Ana.
God, untung saja dugaanku salah. Ini bukan hari pernikahanku dengan Shian, padahal aku sudah sangat takut setengah mati membayangkan malam pengantinku dengan Si mesum itu, ucap Janeth dalam hati.
Dan mereka pun bertemu, saling memandang satu sama lain, Shian menatap wajah cantik Janeth, dari atas hingga bawah. Kemudian menarik tangan gadis itu dengan lembut lalu menciumnya. Janeth merasakan gelenyar aneh saat bibir hangat itu menyapu kulitnya dengan mesra.
“Janeth, I love you,” ucap Shian kemudian menunggu jawaban dari gadis di hadapannya itu. Janeth masih belum bisa menemukan kata-kata, rasanya lidahnya kelu dan kaku.
“Janeth, katakan. Apa jawabanmu?” sekali lagi Shian memberikan isyarat.
“Shian aku..”
“Aku--.” Entah duri apa yang tersangkut di tenggorokan Janeth, hingga membuatnya tak bisa bersuara.
“Katakan, kau mau menerimaku atau tidak Janetha Anjani?” Shian mulai tak sabar kemudian langsung memasangkan cincin itu ke jari manis Janeth, membuat gadis itu terkejut dan memandangi jarinya.
“Dasar! Terlalu lama!” dengus Shian kesal. Sementara Janeth tersenyum begitu bahagia, mengetahui ternyata hari ini adalah hari pertunangannya dengan Shian.
“Shian, I love you,” ucap Janeth, akhirnya bersuara kemudian meraih cincin di dekatnya dan memakaikannya di jari manis Shian.
“Terimakasih Janeth, telah menerima Shian yang bodoh tapi tampan ini,” ucap Shian.
“Ya, kau benar. Shian memang bodoh!” balas Janeth.
Pria itu pun tersenyum, begitu bahagia kemudian memeluk gadis itu dengan erat, disaksikan tepuk tangan semua orang.
Akhirnya pasien dan perawat antiknya itu saling mengakui perasaan satu sama lain. Dari kejauhan tampak Aksa sedang berjalan menuju tempat Shian dan Janeth.
“Aksa,” ucap Janeth saat melihat pria dengan jas putih dengan satu bucket bunga di tangannya.
“Hai Janeth, my future wife,” ucap Aksa, melirik Shian sambil mengulum senyumnya.
“Apa kau bilang Aksa!” ucap Shian dengan percikkan api di dadanya.
“Maksud gue, my future wife yang gagal. Hehe.” Aksa terkekeh meskipun sebenarnya hatinya pun terluka.
Kemudian Shian memeluk tubuh Aksa, sebagai pelukan persahabatan dan ia pun tau jika sebenarnya sahabatnya itu merasakan sakit di hatinya.
Aksa membalas pelukan Shian merasakan jika tidak seharusnya bersahabatan di antara mereka rusak hanya karena asmara.
Ana dan Yoshi mengobrol dengan Ardiansyah, sambil membahas rencana pernikahan Shian dan Janeth.
“Pak Ardi, apa tidak ada keluarga dari bapak yang bisa dihubungi?” tanya Ana, mengingat acara itu sama sekali tidak dihadiri oleh pihak keluarga Ardiansyah.
“Mohon maaf Bu Ana, sebenarnya saya dan Janeth sudah lama lost contact dengan keluarga besar kami, terutama setelah kondisi kesehatan saya menurun.
“Ah Pak Ardi, mohon maaf sebelumnya saya sungguh tidak tau akan hal itu, bahkan Ibunda Janeth pun tidak pernah terlihat sama sekali ya?” tanya Ana lagi, seketika membuat wajah Ardi berubah.
Yoshi menangkap raut kesedihan pada wajah calon besannya itu, kemudian memperingatkan Ana untuk tidak membahasnya.
“Ma, hati-hati dalam berucap,” ucap Yoshi. Ana pun segera sadar akan kesalahannya dan meminta maaf pada ayah Janeth itu.
“Pak Ardi, maafkan saya. Saya sungguh tidak bermaksud—“
“Tidak apa-apa Bu Ana, Celine-istri saya memang berada di tempat yang jauh dari kota iapi saya yakin dia pasti sangat bahagia dengan hubungan dan rencana poernikahan Shian dan Janeth,” ucap Ardi penuh keyakinan.
Ana sedikit terkejut saat mendengar nama ibu Janeth tersebut.
“Celine?” Ana mengerutkan keningnya.
“Benar Bu Ana, itu nama istri saya,” jawab Ardi.
Janet dan shian belum sadar kalau mereka sama sama memiliki perasaan
aku mampir nih.
mampir juga di karyaku ya😊😊