Tias tidak pernah menyangka kalau ternyata pilihannya untuk tinggal bersama neneknya malah membuatnya bertemu dengan orang paling menyebalkan yang pernah ditemuinya.
Tias kira dengan jabatan yang cukup disegani di kampung membuat orang itu punya rasa malu untuk sekedar menggodanya di depan umum. Tapi bukannya merasa malu orang itu malah terang terangan berkata ingin menikahinya meskipun banyak warga yang melihatnya.
" Dek Tias mau nggak jadi calon ibu Kades di sini ? Enggak perlu daftar langsung saya terima."
" Nggak."
" Kalau nggak mau daftar langsung saya nikahi aja ya. Gimana ?"
" Ih ! Aku nggak mau punya suami Kepala Desa."
" Jadi dek Tias maunya dapat suami yang kayak mana ?"
" Kayak pemulung."
" Kalau gitu besok saya turun jabatan jadi pemulung. Biar bisa nikahi dek Tias terus kita mungut sampah bareng bareng. Bagus juga keinginannya dek Tias."
" Astaga !" Tias berteriak kencang merasa frustasi menghadapi sikap Kades muda yang sangat menyebalkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maysar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Malam
Tias membuka helmnya dengan wajah merengut sebal. Lihat, siapa yang ada di depan rumahnya itu dengan senyuman manis yang membuatnya mual. Bahkan tampang lembut dan ramahnya itu sudah siap sedia menyapa Tias.
" Katanya jalan jalan sama Hilman dek."
" Dia sibuk, ada apa pak Kades ke sini ?" tanya Tias sembari mengambil kunci motor dan juga helmnya. Ia berjalan mendekati Risam yang ingin sekali diusirnya itu.
Senyum Risam bertambah lebar mendengar itu. " Saya sudah izin nenek Ruwi buat ngajak dek Tias ke pasar malam."
" What ?!" spontan Tias berteriak kesal, apa apaan Kades ini seenaknya saja mengajak ia pergi. " Saya sibuk pak, maaf."
" Tapi kata nenek Ruwi malam ini dek Tias nggak ada kerjaan apa apa lagi." Risam membalas tidak mau kalah. Wajahnya masih tetap terlihat ramah dengan senyuman manisnya tanpa berubah sedikitpun. Meski kata katanya sedikit terdengar keras kepala.
Tias menggigit bibir bawahnya merasa sangat kesal. Ingin sekali ia memukul wajah Kades muda itu agar dia tahu kalau Tias itu tidak suka dengan keramahan ataupun kebaikannya. Jangan kira ia tidak tahu alasan mengapa Risam mendekatinya selama ini. Tias tahu dan ia bukan lagi anak kecil seperti dulu yang tidak tahu apapun.
" Saya perlu bersiap untuk kuliah besok pak." ucap Tias dengan segala kesabarannya.
Risam malah terkekeh melihat wajah kesal Tias yang menurutnya menggemaskan. Tias terlihat seperti anak kecil yang tengah merajuk dan meminta untuk dibujuk. " Saya udah datang loh ini dek. Masa iya saya pulang lagi ke rumah."
Tias ingin sekali berteriak kalau ia tidak meminta Kades itu datang dan menunggunya. Tetapi Tias takut neneknya yang akan menanggung malu atas perbuatan tidak sopannya nanti. Menghela napas sabar, Tias memaksakan sedikit senyumnya.
" Saya siap siap dulu pak."
" Saya tunggu." Risam duduk kembali di kursi rotan sembari memainkan ponselnya.
Tias berjalan masuk ke dalam rumah. Tidak ada waktu untuk mencari neneknya karena yang perlu dilakukannya sekarang adalah menelpon Mawar dan juga Hilman bersama teman temannya untuk pergi ke pasar malam bersamanya. Tapi kalau Tias menelpon mereka satu persatu itu akan terlalu lama. Atau kalau tidak ia akan mengirim pesan lewat WhatsApp saja.
Tias menutup rapat pintu kamarnya dan mulai mengirim pesan pada Mawar, Hilman, dan teman temannya yang lain. Setelah itu ia mengambil pakaian simpel sebelum berlari ke kamar mandi. Mana sudi ia pergi berdua dengan Kades itu malam malam begini. Lebih baik ramai ramai dan Tias bisa bersenang senang dengan Mawar di sana. Sedangkan Hilman dan teman temannya biar bersama Kades itu.
Selesai mandi, Tias segera menyisir rambutnya lalu mengikatnya tinggi seperti ekor kuda. Setelah itu ia memakai bedak bayi dan pelembab bibir. Terakhir memakai parfum untuk melengkapi penampilannya. Tidak perlu make up karena yang mengajaknya pergi kali ini adalah Risam. Kecuali kalau yang mengajaknya itu adalah orang yang disukainya. Mungkin Tias akan berdandan secantik mungkin dengan make up di wajahnya.
Tias mengambil beberapa lembar uang bewarna merah dari dompetnya. Kemudian menyimpannya di saku celana jeans-nya. Setelah menurutnya sudah selesai, barulah Tias berjalan keluar kamar. Tanpa diduga ternyata orang orang yang dikirimnya pesan sudah siap di depan rumahnya. Tias tersenyum miring melihat rencana berhasil.
" Kalian udah datang ?" Tias pura pura bertanya.
" Udah, baru aja." jawab Dion.
Mawar yang menjadi perempuan sendiri diantara orang orang itu segera beranjak menghampiri Tias dan memeluk lengannya. " Jadi pergi kan ?"
" Jadilah, pak Kades ayo kita pergi sekarang aja. Biar nanti malam pulangnya jangan kemalaman." untuk kali ini nada suara Tias bisa terdengar ramah tidak seperti tadi.
Dari situlah Risam menyadari kalau ini perbuatan usil Tias karena tidak ingin pergi dengannya. Gadis cantik itu pasti yang memanggil Mawar dan Hilman berserta teman temannya untuk ikut ke pasar malam. Risam tersenyum karena merasa gemas sendiri dengan tingkah Tias yang tidak ingin dekat dengannya. Caranya sangat halus namun mampu membuat Risam cukup sakit hati dibuatnya.
Kapan kapan Risam akan membalas perbuatan Tias dilain waktu. Untuk sekarang, ia akan memilih mengalah dulu. " Ayo, kita jalan kaki atau naik kendaraan ?"
" Jalan kaki aja pak Kades, sekalian cari udara malam." jawab Mawar yang disetujui oleh yang lainnya.
Risam mengangguk setuju. " Ya sudah ayo."
Mawar menarik Tias untuk jalan duluan di depan. " Kita di depan aja, biar kayak ada pengawalnya." bisiknya di telinga Tias.
Tias terkekeh mendengarnya. " Iya."
Namun menurutnya itu tidak mungkin. Karena teman temannya Hilman itu adalah tipe orang yang usil dan juga suka keramaian.
" War pakaianmu kok abang, kenapa nggak adek aja ?" Diki bertanya tidak jelas sembari mensejajarkan langkah di sebelah Mawar.
Nah, baru juga Tias bilang. Salah satu dari mereka sudah mencari gara gara duluan untuk memulai keusilannya.
" Abang ndasmu ! Ini pink bukan merah apalagi abang. Memangnya bajuku ini kayak abangmu apa ? Yang ada gambar apel digigit ulatnya itu." Mawar menatapnya tajam dengan wajah judes membalas pertanyaan Diki yang aneh.
Doni memandang ke bawah, melihat kausnya yang memang bergambar apel kegigit sedikit itu. " Ini bukan dimakan ulat War."
" Oh, berarti kamu yang makan itu." jawab Mawar.
" Rahmat ini tadi yang gigit sampai kayak gini." Diki memberitahu tanpa melihat Rahmat sudah melotot kesal di belakangnya.
Rahmat melepas sendalnya dan memukulkannya ke kepala Diki. " Rasain !"
" Aws ! Mat sakit banget loh ini, mana ada pasirnya lagi. Habislah minyak rambut mahalku ini." Diki mengusap belakang kepalanya sambil meringis kesakitan.
" Mangkanya jangan jahil." ujar Rendi.
" Tapi kan memang bener kalau Rah..."
" Ucap lagi, aku kasih makan sendal nanti." Rahmat memotong ucapan Diki dengan tatapan penuh ancaman.
Diki menunjukkan cengiran lebarnya. Ia mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah dan berhenti untuk mencari gara gara lagi. Bisa gawat nanti kalau ancaman Rahmat terjadi. Bisa bisa sebelum sampai pasar malam Diki sudah kenyang duluan.
" Si Diki pecicilan kalau udah punya kaki." ucap Ilham.
" Memangnya selama ini Diki pakai apa kalau nggak ada kaki ?" tanya Tias.
" Biasanya dia ngesot Tias. Mangkanya sekalinya dia punya kaki jadi bertingkah gitu." jawab Rendi yang langsung mengundang tawa dari yang lainnya kecuali Diki.
Diki menunjuk kedua kakinya. " Ini aku bawa dari lahir ya. Udah memang kian ada di sini !"
" Iya, tapi jarang dipakai." balas Rahmat.
" Woah ! Sembarang kalian kalau ngomong." Diki memandang kesal teman temannya.
" Tapi banyak benarnya kan ?" tanya Hilman yang sedari tadi diam.
Diki menatap Hilman kemudian mengangguk pelan. " Iya sih."
Thanks dah up,Kak..☺️
Lanjuttttt and ttp semangat!!💪
penuh Teka teki....
Semangat,Thor...
Calon adik????🤔
Astaghfirullah
Aq mikirnya apaaaaaa gitu yah Roti sumbu... ternyata ubi kayu...
aaaa Author Somplak!!!
Thanks infonya.....