NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.15

Persiapan pertunangan kini dimulai. Kedua keluarga larut dalam kesibukan yang seolah tak ada habisnya. Rumah keluarga Yusi ramai dipenuhi langkah kaki kerabat yang datang silih berganti. Sementara ruang tamu berubah menjadi tempat berkumpul mendiskusikan dekorasi maupun daftar kebutuhan selama acara.

" Bagaimana kalau bunga peoni digabungkan dengan mawar putih? Bagus, kan, Ma?" Eliz tampak ikut andil dalam dekorasi persiapan pertunangan. Meski belum pernikahan, Yusi dan Eliz menginginkan acara itu terlihat mewah. Sejak hari keputusan itu, semangat Eliz tampak lebih hidup dari biasanya.

Yusi mengangguk setuju pelan, dibalas senyum tipis oleh Eliz. Bagi Yusi, kebahagiaan Eliz lebih penting sehingga ia menyetujui pendapat putrinya.

"Kamu suka?" tanya Yusi memastikan.

"Suka banget, warnanya sederhana tapi tetap elegan," jawab Eliza sambil tersenyum tipis.

"Mama sih ikut sama kamu aja, yang penting kamu bahagia."

"Terima kasih, Ma. Tapi aku tidak enak sama mbak Anna."

Beberapa detik dada Yusi ikut sesak mengingat putri sulungnya. Namun, ia tak punya pilihan lain. Sejak tahu Eliza menyukai Alvaro, Yusi berusaha mencari cara agar Alvaro juga menyukai Eliza. Menurutnya, Anna masih bisa mendapatkan pria tampan dan terhormat selain Alvaro. Anna, putri sulungnya adalah wanita yang kuat, cantik, dan bisa dibilang sempurna. Sedangkan Eliza, tak ada yang bisa mencintainya setulus Alvaro. Pertanyaannya sekarang, apakah Alvaro sudah menyukai Eliza dan bersedia menikahinya?

Eliz sedang asyik menikmati kemegahan rumahnya saat sedang dirias tiba-tiba menoleh dan menatap ibunya dengan tajam.

“Bagaimana kalau tidak ada, Ma?” tanyanya ragu. Yusi menghela napas panjang, merasa lelah menghadapi sikap kekanak-kanakan Eliz.

“Mama capek berdebat sama kamu. Lebih baik jangan pikirin Anna terus, tapi fokus sama Alvaro. Kamu harus pandai-pandai merebut hatinya. Kalau tidak, dia tidak akan melepaskan Anna dan malah kembali ke pelukannya. Ngerti?”

Bibir Eliz mengerucut mendengar ocehan ibunya yang menjadi sumber kekhawatirannya. Ucapan ibunya memang benar, dia tak boleh gegabah mempercayai keduanya begitu saja. Yang paling ditakutkan Eliz, Alvaro dan Anna akan terus menjalin hubungan diam-diam di belakangnya.

"Maaf, Mbak Anna, kali ini aku memilih bertahan dengan egoku. Mama benar, aku tak akan menemukan laki-laki baik setelah Alvaro. Sedangkan Mbak Anna... wanita sempurna." Kelopak matanya basah mengingat betapa kejamnya dirinya terhadap kakaknya.

"Aku benar-benar dilema," lirihnya pelan.

***

Di sisi lain kota, keluarga Alvaro juga tak kalah sibuknya. Ayahnya memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sesuai adat yang telah disepakati. Sedangkan ibunya dengan teliti memilih isi hantaran yang akan dibawa saat pertunangan nanti. Meski Lidya tidak menyetujui keputusan suaminya, ia tetap andil demi putranya.

Alvaro sendiri baru saja pulang dari butik tempat jasnya dijahit. Ia ditemani oleh adiknya Clara.

" Cocok untuk Kak Alvaro, kan, Ma?" Clara manja memperlihatkan pakaian yang tergantung di lengannya.

"Apa saja pasti cocok untuk abangmu," canda Lidya, tapi Alvaro tak menggubris.

Ia terus melangkah menuju kamar tanpa menoleh atau menyapa ayah dan ibunya. Ada sesuatu yang tersimpan rapat dalam dirinya, seolah beban yang tak bisa ia ungkapkan. "Alvaro... buka pintunya, Nak!" pinta Lidya, namun suaranya tak dihiraukan.

"Al, Mama mau bicara..." teriaknya lagi sambil menggedor pintu berulang kali. Di dalam kamar, Alvaro tengah menghisap sebatang rokok yang terjepit di sela jarinya. Benda asing itu terasa aneh di mulutnya, sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia sentuh. Namun demi meredakan beban pikirannya, ia mencoba menyesap asap itu perlahan.

" Angkat, Anna. Jangan coba-coba menghindar. Aku ingin bicara hal yang sangat penting." Begitu isi chat Alvaro, tapi Anna hanya membaca tanpa berniat membalas.

"Jangan hukum aku seperti ini, Anna. Tolong bicaralah denganku, aku sangat merindukanmu."

Pesan itu terus diabaikan, membuat Alvaro semakin kesal. Ia melempar ponselnya dengan kasar hingga suara benturan itu membuat Clara terkejut.

"Suara apa itu? Apa yang terjadi dengan Kak Al?" tanya Clara dengan khawatir, lalu bergegas menuju kamar kakaknya.

"Ada apa, Ma? Bang Alvaro baik-baik saja, kan?" Clara tampak panik saat menghampiri ibunya di depan pintu kamar Alvaro.

" Mama tidak tahu sayang, Alvaro marah dengan pernikahan yang tidak diinginkan." Ucap Lidya, ikut merasakan sakit hati putranya.

" Lantas, kenapa mama tidak mencegah keputusan papa?" Clara pun ikut bertanya-tanya.

" Mama tidak tahu rencana papa sebelumnya, andaikan mama tahu, mungkin tidak seperti ini. 

" Tapi kan...!

" Hust," sudahlah, jangan dibahas lagi.

Lidya tidak ingin melanjutkan pembahasan tersebut, ia tak ingin mengingatkan sesuatu yang membuat putranya sakit.

Akhirnya kedua wanita itu jenuh sehingga berlalu tanpa menunggu Alvaro membuka pintu. 

Sementara di dalam kamar, Alvaro tampak frustrasi. Di sebuah balkom ia berdiri menatap langit-langit yang mulai gelap. Pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh Anna. Telepon yang tadi terlempar diambilnya kembali, lalu dia mencoba menelpon ulang. Namun hasilnya tetap sama, Anna dengan dingin memblokir kontaknya. 

 "Ya ampun, kamu membuat aku gila, Anna," ucapnya sambil menepuk pelan kepalanya. "Aku salah karena hanya diam dan tak menentang keputusan ayah hari itu. Tapi, aku punya alasan di balik keheningan itu." Bisiknya  seorang diri.

" Aku tidak ingin kehilanganmu. Hanya Anna satu-satunya wanita di hatiku. Tapi, kenapa cinta kami selalu diuji? Apa yang salah denganku, ya Tuhan...?" lirihnya, seolah putus asa. Alvaro benar-benar tak bisa menghindar, terutama karena ayahnya.

" Aku belum siap kehilanganmu.

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!