Menikah muda tidak selalu berakhir dengan tragis, meskipun banyak yang berjalan tak manis. Semua itu hanya tentang bagaimana kita menyikapi dan mempertahankannya.
Jadi, tidak perlu takut untuk menikah muda, karena tidak semua pernikahan berakhir dengan kegagalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Di Abaikan
Satu minggu menginap di rumah sakit menemani Amel yang syukurnya hari ini sudah di perbolehkan pulang. Satu minggu pula Pandu tidak sekolah dan juga tidak pulang, tidak menemui istrinya bahkan tidak juga mengirimi wanita itu pesan.
Sejak hari dimana Lyra dan yang lainnya menjenguk Amel sejak itu juga Pandu sedikit lebih murung. Berkali-kali mencoba mengetikan pesan untuk ia kirim pada Lyra, tapi selalu kembali Pandu hapus. Entah kenapa jadi merasa segugup ini hanya sekedar untuk memberikan pesan singkat.
Sejak malam itu, Pandu menyalakan ponselnya, ratusan pesan juga panggilan tak terjawab dari Lyra dan teman-teman juga keluarganya memenuhi layar datar itu. Denyutan perih juga rasa bersalah semakin Pandu rasakan dan membuatnya tidak percaya diri untuk menghubungi Lyra.
Sebenarnya Amel selalu memintanya pulang dan berbicara pada Lyra, tapi lagi-lagi dengan alasan janji, Pandu menolak meskipun sebenarnya bukan itu yang menjadi alasan pertama seorang Pandu. Ia merasa belum siap menghadapi kemarahan Lyra dan juga tidak tahu akan menjelaskan seperti apa pada istrinya itu, karena jujur, saat Amel menghubunginya tempo hari ia merasa begitu amat panik dan khawatir sampai tidak memikirkan hal lainnya termasuk Lyra, istrinya. Mungkin memang benar bahwa perasaan itu masih ada walau tidak sedalam dulu.
Pukul 11:35 siang Pandu dan Amel sampai di kediaman orang tua gadis cantik yang masih sedikit pucat dan lemas itu. Asisten Rumah Tangga Amel berlari menghampiri dan membawa barang-barang Amel juga Pandu dari dalam bagasi mobil, sedangkan Pandu membopong tubuh kurus itu menuju kamar Amel yang berada di lantai atas rumah besar ini.
“Lo istirahat, Mel jangan dulu banyak aktivitas. Ingat lo belum sembuh total!” ujar Pandu saat Amel sudah berbaring di atas ranjang besarnya.
“Iya, makasih udah nemenin gue di rumah sakit, udah jaga dan rawat gue selama seminggu ini. Maaf gue ngerepotin lo, Pan. Lo pulang aja, gue juga udah mendingan kok. Gue gak enak sama Lyra kalau terus-terusan nahan lo di samping gue.” Amel menundukan kepalanya tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di depan laki-laki itu, walau pun sebenarnya Amel memang menginginkan laki-laki itu terus di sampingnya. Amel sudah terlalu bergantung pada Pandu, karena hanya pria itu yang benar-benar peduli padanya, dan ia merasa di inginkan saat bersama laki-laki itu.
“Ya udah, kalau gitu gue pulang, Mel. Lo cepat sembuh sebentar lagi kita ujian,” ucap Pandu setelah beberapa detik membisu.
Pandu mengambil kunci motornya yang seminggu lalu ia letakan di atas nakas samping ranjang lulu melenggang pergi meninggalkan Amel yang masih menundukan kepalanya.
Sesampainya dirumah Pandu langsung naik ke kamarnya setelah beberapa menit lalu mengobrol dengan Bi Nani yang menanyakan ke mana saja ia seminggu ini. Pandu merebahkan tubuhnya di atas ranjang menghirup dalam-dalam aroma parfum yang kini lebih di dominasi dengan wangi parfum milik Lyra. Memejamkan matanya saat dirasakan kenyaman yang selama seminggu ini tidak ia rasakan sambil memijat kecil pelipisnya merasa pusing juga lelah.
Jam baru menunjukan pukul dua siang, itu berarti kemungkinan dua jam lagi Lyra sampai di rumah. Bergegas Pandu mandi agar wajahnya terlihat lebih segar dan menyiapkan diri untuk berbicara dengan Lyra.
Pandu duduk di sofa ruang tengah dengan gusar, berkali-kali menatap jam yang menempel di dinding dengan perasaan yang gugup, cemas juga bingung. Suara pintu yang terbuka dan suara tawa dari beberapa orang sudah terdengar menambah kegugupan Pandu. Berdiri dari duduknya dan berjalan menuju arah suara. Lyra, Devi, Leo, dan Luna menghentikan langkah juga tawanya saat mendapati keberadaan Pandu.
“Amel udah sembuh?” tanya Lyra pada Pandu yang berdiri beberapa meter di depannya. Laki-laki itu mengangguk pelan. Lyra dan ketiga orang lainnya mengangguk-angguk kecil, kemudian melangkah menuju ruangan sebelah yang biasa mereka gunakan untuk berkumpul melewati Pandu begitu saja tanpa kata. Pandu menghela napas pelan, mengacak rambutnya frustasi juga mengusap wajahnya dengan kasar. Semua teman dan istrinya mengabaikan keberadaannya.
“Laki lo kayaknya frustasi banget deh, Ra,” ucap Luna berbisik.
“Frustasinya 'kan di bikin sendiri, jadi ya terima aja!” jutek Leo yang masih merasa kesal pada sahabat satunya itu.
“Udah deh gak usah ngomongin dia, kita 'kan niatnya mau belajar,” ujar Lyra.
Tawa lepas dari ke empat orang yang berada di ruangan sebelah itu jelas terdengar oleh Pandu yang duduk merenung di sofa ruang tengah. Layar datar berukuran 60 inch itu tidak sama sekali ia perhatikan, karena pikirannya melayang jauh pada Lyra dan rasa bersalahnya. Pandu baru sadar bahwa dirinya ternyata sepengecut ini.
Pukul tujuh malam semua berkumpul di meja makan termasuk Pandu, hanya saja laki-laki tampan itu lebih tidak sedikitpun mengeluarkan suara meskipun keempat orang lainnya ramai tertawa dan saling lempar guyonan. Sesekali sudut mata Pandu melirik pada Lyra yang duduk di sampingnya, bibir mengil itu terbuka lebar mengeluarkan tawa merdu, tapi matanya berbanding kebalik, iris coklat gelap itu meredup dan tergambar jelas sebuah luka.
“Ra, kita langsung pulang ya, udah malam,” ucap Devi saat mereka benar-benar baru menyelesaikan makan malamnya.
“SMP banget sih kalian!” kesal Lyra cemberut.
“Ya, kan kata Bunda gue juga kalau udah kenyang baru balik. Dan berhubung perut kita udah penuh, ya, mau ngapain lagi diam disini? Yang ada nanti pas pulang keburu kosong lagi ni perut,” ujar Leo sambil mengelus-elus perutnya.
“Ya udah lah sana pada pulang!” usir Lyra
Devi, Luna dan Leo mengambil tas milik masing-masing berjalan keluar setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada Bi Nani yang telah memasakan untuk mereka. Lyra menggiring ketiga temannya dan menunggu hingga Leo, Luna dan Devi melajukan kendaraan masing-masing, keluar dari gerbang tinggi berwarna hitam yang di bukakan oleh pak satpam.
Lyra berbalik hendak masuk ke dalam rumah, namun sosok tinggi berbadan tegap dan wajah kusut itu berada tepat di depannya sangat dekat hingga membuat Lyra mundur beberapa langkah dan bergeser pada arah yang tidak terhalang Pandu melangkahkan kaki melewati laki-laki tampan itu tanpa berucap sepatah kata pun. Kembali Pandu menghela napas lalu mengikuti Lyra, tidak lupa ia mengunci pintu terlebih dulu.
Saat Pandu masuk ke dalam kamar, sosok Lyra ternyata tidak ada disana ia mengira bahwa sang istri mungilnya kembali pindah ke kamar bawah guna menghindari dirinya seperti beberapa waktu lalu saat wanita itu merajuk, tapi saat hendak melangkahkan kaki keluar suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi, mengurungkan niat Pandu untuk pergi mencari dan memilih untuk duduk di sisi ranjang menunggu sang istri.
Satu jam kurang lebih Pandu menunggu hingga akhirnya pintu kamar mandi terbuka menampilkan Lyra yang sudah segar dan mengganti pakaian seragamnya menjadi baju tidur celana pendek bergambar panda berwarna biru muda. Lyra sempat melirik sekilas dan sempat bertatapan dengan mata laki-laki itu, tapi dengan cepat membuang pandangan dan berjalan menuju ranjang di sisi sebelah Pandu.
“Ra, ak…”
“Maaf, Pan aku benar-benar sangat ngantuk.” Cepat Lyra memotong ucapan suaminya dan menarik selimut hingga batas leher dan membalikan tubuhnya berbalik membelakangi Pandu.
Pandu hanya bisa menghela napas, kemudian ikut berbaring di samping Lyra setelah sebelumnya mematikan lampu, menatap punggung istrinya dengan sendu dalam kegelapan.
Jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari tapi Pandu belum juga dapat memejamkan matanya. Hanya terdengar napas teratur Lyra dan juga napas Pandu di dalam kegelapan, berkali-kali Pandu mengulurkan tangannya ingin merengkuh tubuh ramping Lyra, membawa wanita itu masuk ke dalam pelukan, tapi Pandu merasa ragu, ia takut Lyra semakin marah dan malah pergi darinya.
Suara alarm yang berasal dari ponsel Lyra yang di letakan di atas nakas membuat Pandu terkejut apa lagi saat matanya bertatapan dengan mata sayu khas bangun tidur milik Lyra. Tanpa mengucapkan kata selamat pagi atau lainnya perempuan cantik itu bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Lagi dan lagi Pandu diabaikan, membuat laki-laki itu hanya dapat mengeluarkan desahan kecewa. Semalaman Pandu tidak tidur sama sekali dan tidak terasa kini hari sudah beranjak pagi.
Lyra sudah siap dengan seragamnya, duduk di meja rias dan mulai membubuhkan sedikit bedak pada wajah putihnya, memoles bibir mungilnya dengan lipbalm agar kelembapannya terjaga juga menyisir rambut panjangnya, memasang jepitan kecil berbentuk kupu-kupu berwarna biru langit di sisi kanan lalu terakhir menyemprotkan parfum pada seluruh tubuhnya.
Pandu yang baru saja keluar dari kamar mandi terpesona pada sosok cantik itu, berdiri mematung memperhatikan Lyra, dan tersadar saat sang istri keluar dan kembali menutup pintu. Lagi, Pandu menghembuskan napas kecewa dan bejalan pelan menuju lemari, senyum kecil terbit dari bibir tipis Pandu saat di atas sofa sana mendapati seragam yang akan dirinya gunakan pagi ini sudah Lyra siapkan.
Senyum yang tadi terbit nyatanya tidak berlangsung lama, karena saat turun ke dapur Bi Nani mengatakan bahwa Lyra sudah pergi lebih dulu. Terpaksa Pandu harus sarapan seorang diri dengan tidak berselera. Hanya beberapa suap nasi goreng dan segelas susu coklat, Pandu memutuskan untuk berangkat ke sekolah.
Ketika Pandu melajukan Motornya keluar dari gerbang, di depan sana ia melihat Lyra berdiri seorang diri sambil memainkan ponselnya. Dengan cepat Pandu melajukan motornya dan berhenti tepat di depan Lyra.
“Yuk, Ra kita berangkat,” ajak Pandu sambil menyodorkan helm merah muda pada wanita itu.
“Gak deh makasih.” Cuek Lyra menjawab.
“Ra, please!” mohon Pandu memelas.
“Bus-nya udah datang, gue duluan, Pan.”
Setelah mengucapkan itu Lyra dengan cepat naik ke atas Bus sekolah meninggalkan Pandu yang mengacak rambutnya frustasi. Tatapan Pandu nanar ke arah bus yang baru saja melewatinya. Beberapa kali membuang napas untuk meredakan amarah juga kecewanya dan setelah itu barulah Pandu melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata melewati bus yang tadi Lyra naiki. Memutuskan untuk menunggu wanita itu di sekolah.
Saat menaiki bus ini banyak orang yang bertanya mengenai Pandu padanya, kepo dengan hubungan Lyra, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan seputar Pandu dan diriya. Lyra memilih untuk diam dan duduk di kursi dekat jendela menatap jalanan dan memperhatikan Pandu yang sedang mengendarai motor sportnya.
“Saat itu kamu pernah bilang bahwa aku boleh menghukummu jika kamu kembali membuatku menangis. Dan ya, kamu melakukan itu lagi. Membuatku menangis bahkan lebih dari yang dulu. Maka seperti ini lah hukuman yang aku beri untuk kamu yaitu dengan cara mengabaikanmu.”
@ ank ips jga😎