Wanita mana yang mau dimadu? Mungkin hanya satu dari seribu wanita yang rela dimadu di dunia ini. Begitulah dengan Susan yang harus rela suaminya menikah lagi.
Sylla sendiri menikah dengan Reyfan hanya karena terpaksa walaupun Sylla sudah jatuh cinta pada Reyfan karena sikap baiknya telah menolong Sylla. Namun, Sylla tidak tahu kalau Reyfan sudah menikah.
Bagaimana kisah Sylla dan Susan? Baca sampai bab akhir ya pasti seru 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delis Misroroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Keguguran
"Mami, tolong tinggalkan tempat ini sebelum suami Sylla datang. Sylla gak mau Mami kenapa-kenapa. Suami Sylla dan mertua Sylla termasuk orang yang berkuasa di kota ini. Tolong Mi, bawa saja uang ini dan segera pergi dari rumah ini," Sylla menangkup kedua tangannya memohon kepada Donita untuk segera pergi.
Jam kerja Reyfan memang sebentar lagi selesai. Sylla sangat paham dengan jam kepulangan sang suami. Sebenarnya itu hanya sebuah ancaman saja. Sylla hanya tak mau menghamburkan uang Reyfan lagi.
Mengingat saat pernikahan nya waktu itu, Reyfan sudah mengelupas banyak uang untuk Sylla dan Donita. Sylla tau, Reyfan punya banyak uang, tapi Sylla tentu saja tak ingin merepotkan sang suami walaupun apa yang di minta Donita pasti akan di berikan oleh suaminya.
"Hei anak gak tau di untung kamu ya. Aku sudah mengurus mu sejak kecil. Kamu pikir berapa banyak uang yang harus ku habiskan untuk mu makan dan memenuhi kebutuhan mu hah? Tapi kamu berani mengusir dan mengancam ku tanpa memberikan uang yang ku minta? Cepat ambil uang itu di kamar kamu, jangan pura-pura miskin kamu, tinggal di rumah semewah ini adalah hal yang mustahil jika kamu tidak punya uang sama sekali. Ambil uang mu yang banyak Sylla. Cepatlah, Mami mu ini tidak punya banyak waktu, sebentar lagi calon Papi mu akan datang menjemput." Donita dengan paksa menyeret tangan Sylla agar segera turun dari gazebo.
Susah payah Sylla menahan tangannya agar badannya tak ikut tertarik oleh tangan Donita yang cukup kuat berusaha menarik tubuhnya agar turun.
"Aku akan menggali kuburan ayah mu dan membuang tulang belulangnya ke laut."
Ancaman Donita sungguh berhasil, seketika itu Sylla menjadi lemas tak berdaya. Saat lengah begitu, Donita langsung menarik lagi tangan Sylla dengan kuat hingga tubuh Sylla jatuh dari gazebo.
"Ah, sakit Mi, pe-perut Sylla sakit..." Sylla merintih kesakitan di bagian perut.
Donita tak menghiraukan rintihan Sylla, dia masih menyeret dengan paksa sembari membawa amplop coklat berisi uang yang Susan berikan pada Sylla.
"Mami cuma butuh uang, setelah itu Mami akan pergi dari sini. Tunjukkan dimana kamar mu dan ambil uang itu."
Sylla masih di paksa untuk berdiri oleh Donita tapi kedua tangan Sylla memegang perutnya dan menekannya.
"Mi, sa-sakiittt..." tubuh Sylla tiba-tiba lemas. Sylla berusaha untuk teriak minta tolong. Tapi rasa sakit yang dia rasakan tak mampu membuat suara yang bisa di dengar.
Donita kebingungan melihat ada darah di kaki Sylla. Dengan wajah panik dia celingukan kesana-kemari, tak ada yang melihat dirinya. Donita pun berlari keluar rumah, bahkan sempat bertatap muka dengan Susan.
Susan tersenyum sinis pada Donita. Seolah ucapan banyak terima kasih terpancar di matanya. Entah kenapa, Susan membiarkan Donita pergi begitu saja melewati dirinya.
Susan berbalik arah dan melihat Sylla sedang merintih kesakitan. Tak ada sedikitpun rasa ingin menolong Sylla, bahkan menelfon Reyfan. Sylla pun pingsan dan Susan masih tak bertindak apapun. Lama dirinya melihat Sylla yang terbaring lemah di tanah.
"Maaf Sylla, tapi aku benar-benar senang melihat mu seperti itu. Aku mohon pergilah dari dunia ini sesegera mungkin."
Tiba-tiba, dari arah belakang ada yang menepuk bahu Susan dan membuatnya terkejut.
"Sayang, sedang apa berdiri disini?"
Susan membulatkan matanya, suara yang sangat familiar di telinga Susan. Tentu, itu adalah Reyfan suaminya. Dengan cepat Susan berbalik arah dan mengalihkan pandangannya pada Sylla yang tengah pingsan di taman belakang.
"Ah, Mas, kamu pulang cepat?" Susan terlihat sedikit gugup.
"Kamu kenapa? Bukankah aku biasanya pulang jam segini?" Reyfan penasaran dengan sikap Susan, dirinya hendak melihat di balik tubuh Susan yang membuatnya termenung cukup lama hingga tak mendengar langkah kaki Reyfan.
"Ah, ayo kita segera ke kamar Mas," Susan akan menarik lengan Reyfan, namun ditahan.
"Tunggu dulu, sebenarnya apa yang kamu lihat hingga kamu terkejut dengan kedatangan ku?" Reyfan langsung menggeser tubuh Susan dan alangkah sangat terkejut Reyfan melihat Sylla yang tertidur di tanah, kemudian Reyfan berlari mendekati Sylla.
Kondisi yang menghawatirkan begini, Susan malah mencoba menutupi hal itu. Darah segar terlihat jelas di kedua betis Sylla.
"Sy-Sylla... ka-kamu..." tak ada waktu untuk bertanya ataupun panik. Reyfan segera membopong tubuh Sylla dan berlari menuju tempat parkir.
"Pak, cepat bawa Nona ke rumah sakit."
Reyfan berteriak dengan kencang pada supir pribadinya. Dengan cepat pula sang supir mengambil mobil dan membuka pintu untuk Tuan dan Nona-nya. Tanpa pikir panjang sang supir tancap gas menuju rumah sakit terdekat.
Tiba di rumah sakit.
Reyfan kembali membopong tubuh Sylla menuju UGD. Dengan sigap dokter dan perawat segera menangani.
"To-tolong istri sayang," Reyfan membaringkan Sylla di brankar.
"Baik Pak, silahkan tunggu di luar."
Reyfan pun menurut. Kemudian ponsel di saku celananya berdering.
"Hallo Pa," jawab Reyfan.
"Bagaimana keadaan Sylla?"
"Masih ditangani dokter Pa,"
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Reyfan belum tau Pa, nanti Reyfan cari tau,"
"Baiklah, jaga istri mu."
Telpon terputus.
Reyfan menyangga kepala dengan kedua tangannya. Sekilas dia mengingat jika ada kesengajaan Susan tadi. Bahkan Susan malah mengajaknya ke kamar.
"Apa ini ada hubungannya dengan Susan? Mana mungkin Susan setega itu mencelakai Sylla,"
Dokter pun keluar. Reyfan langsung berlari menghampiri sang dokter.
"Bagaimana dengan istri saya Dok?" Reyfan sangat panik.
"Kondisi istri Bapak baik, tapi kami perlu persetujuan Bapak untuk mengangkat janinnya," jawab sang dokter.
"Ma-maksud dokter, anak saya tidak bisa diselamatkan?"
"Dengan sangat menyesal kami harus melakukan kuret pada istri Bapak, pendarahan yang di alami pasien cukup banyak, andai saja Bapak kesini lebih cepat sepuluh menit saja, janin masih bisa kami pertahankan. Ini silahkan tanda tangan suratnya Pak,"
Dengan tangan gemetar, Reyfan mengambil pulpen yang di sodorkan padanya. Kini, Reyfan seperti orang yang hampir gila. Bagaimana pun Reyfan baru saja merasakan nyidam Sylla yang suka dengan bau tubuhnya, tapi kini, lagi-lagi dia harus kehilangan anaknya.
"Apa yang harus aku katakan pada mereka semua,"
Suara Reyfan terdengar sangat berat. Kini dia ambruk di lantai, tulang-tulangnya seolah rapuh dan tak mampu menompang tubuh Reyfan.
"Ba-bagaimana dengan Sylla nanti..."
Bulir bening pun menetes di pipi. Tatapan matanya kosong tak berkedip. Mulutnya pun kaku tiba-tiba. Semua anggota tubuh dan panca indera seolah tak berfungsi lagi sekarang.
Cukup lama kondisi Reyfan terlihat menyedihkan di lantai. Ponselnya kembali berdering. Dengan berat hati, tangan Reyfan menekan tombol hijau di layar ponselnya itu.
"Bagaimana keadaan Sylla dan bayinya Mas?"
Suara seorang wanita terdengar sangat akrab. Reyfan tersadar dari lamunannya karena suara itu.
"Ka-kamu seorang pembunuh Susan,"
Reyfan langsung melempar handphone ke tembok yang ada di depannya. Alhasil, handphone itu terbelah menjadi beberapa bagian.
...################...
ngga kayak susan spt kacang lupa kulitnya...