NovelToon NovelToon
KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU

Status: tamat
Genre:Horor / Sudah Terbit / Eksplorasi-misteri dan gaib / Misteri / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Junan

Juara Pertama "Lomba Menulis Novel Cerita Seram" yang diadakan oleh Noveltoon.

Mbah Arni dan suaminya bersahabat dengan seorang penari tradisional. Saat menginap di rumah Mbah Arni, penari itu tiba-tiba lenyap ditelan bumi.

Semenjak hilangnya penari itu, setiap malam Mbah Arni merasa ada yang berkelebatan di sekitar rumahnya. Terlebih, ketika suaminya sudah meninggal dan Mbah Arni tinggal sendirian, bayangan itu semakin intens mengganggu perempuan tua itu.

Apa yang terjadi dengan penari itu? Mengapa sahabat lain Mbah Arni yang bernama Lastri memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri?

Mengapa Imran dan Parto takut dengan Mbah Arni?


SEASON KEDUA

Imran yang baru masuk SMP bertemu dengan seorang gadis misterius yang hanya ia temui di hari pertama ia bersekolah.

Ke mana perginya gadis itu?

Mengapa nama gadis itu sama dengan nama teman kedua orang tuanya yang tewas kecelakaan puluhan tahun yang lalu?

Apa yang dilakukan ayah Imran dan teman-temannya ketika SMP?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Junan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 26 GENDERUWO

SEEEEEEEEERRRRRRRRR

Terdengar suara seperti pasir dilempar disusul dengan suara perempuan tua dari arah belakang kami.

"Bismillahi Allaahu Akbar."

"Bismillahi Allaahu Akbar."

"Bismillahi Allaahu Akbar."

Aku menoleh ke arah belakang, ternyata Mbah Arni sedang membawa plastik dan melempar sesuatu ke arah genderuwo yang tiba-tiba terlihat kesakitan.

ARRRGGGHHHHHHHHH

ARRRGGGGHHHHHHHH

Suara erangan genderuwo itu memekakkan telinga.

"Cepat bantu aku melempar garam ini!!" Teriak Mbah Arni mengagetkan kami.

Seolah mendapat kekuatan baru, kami bertigapun bangkit dan berdiri di sebelah Mbah Arni. Kami mengambil garam dari dalam kresek yang dibawa Mbah Arni dan melemparkannya ke arah genderuwo yang sedang menggelepar.

"Bismillahi Allaahu Akbar."

"Bismillahi Allaahu Akbar."

ARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGH

Genderuwo semakin meronta kesakitan, pasir yang dilempar mengenai tubuhnya menimbulkan kepulan asap. Genderuwo mengamuk dan berusaha melompat ke arah kami.

BRAAAAAAAAK

Tubuh genderuwo yang besar menabrak pohon asam di belakang kami. Untunglah kami cepat menghindar sehingga tidak tertindih oleh genderuwo tersebut. Kamipun kembali melemparinya dengan garam

ARRRRRGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHH....

Genderuwo semakin menggelepar kesakitan

Mbah Nur juga melempari genderuwo tersebut dengan batu kerikil yang beliau bawa. Aku juga mendengar Mbah Nur membaca ayat suci, salah satunya ayat kursi. Setiap batu kerikil tersebut mengenai tubuh genderuwo menimbulkan percikan api dan lepaslah kulit dan daging yang terkena lemparan batu. Aku membiarkan Parto tetap melempari genderuwo dengan garam sedangkan aku mengikuti Mbah Nur melempari genderuwo dengan batu kerikil yang aku taruh di dalam kantong celana. Sebelum berangkat Mbah Nur memang meminta kami membawa beberapa batu kerikil untuk berjaga-jaga.

Genderuwo terus meronta kesakitan, ia berputar-putar di hadapan kami. Hampir saja Mbah Nur terkena senggolan kaki genderuwo tetapi dengan cepat ia menghindar. Bagian tubuh genderuwo terlepas sejumput demi sejumput dibarengi letupan api dan kepulan asap. Aku yang menyaksikan kejadian itu merasa takjub dan tak percaya dengan apa yang aku lihat di depan mata. Akhirnya tubuh genderuwo itu terhempas ke tanah dan lenyap menjadi asap.

"Alhamdulillah..."

"Itu apa, Mbah Nur?" aku bertanya sambil menunjuk ke tempat genderuwo itu hangus dan lenyap.

Mbah Nur mendatangi benda asing tersebut, mengambilnya, dan menaruhnya ke dalam kresek yang beliau bawa.

"Ini 'bendeman', Im."

"Maksudnya apa, Mbah?"

"Genderuwo tadi sengaja ditaruh di sini untuk menjaga KUD tersebut."

"Siapa yang melakukannya, Mbah?:

"Entahlah.... yang jelas pasti orang tersebut tidak ingin ada orang yang masuk ke dalam."

"Oooo....."

Aku dan Parto mengangguk. Mbah Nur mendatangi Mbah Arni

"Terimakasih, Ar. Berkat bantuanmu kami bertiga bisa selamat."

"Sama-sama, Nur."

"Bagaimana ceritanya kamu bisa ada di sini, Ar?"

"Setelah ada petugas ronda yang memeriksa sekitar rumahku, aku tidak bisa tidur. Kemudian saat aku sudah mulai mengantuk aku mendengar langkah kaki, pas aku intip ternyata kalian bertiga. Feelingku mengatakan kalian akan pergi ke gedung KUD ini. Makanya aku mengikuti kalian dengan mengendap-endap."

"Kenapa kamu secara kebetulan membawa garam?"

"Aku pernah satu kali bertemu dengan genderuwo itu ketika pulang dari pasar. Karena panik aku melemparinya dengan barang belanjaanku. Ternyata ketika dilempar garam, ada reaksi dari genderuwo tersebut. Jadi begitu tadi aku melihat kalian berjalan ke arah KUD, aku langsung membawa garam yang baru aku beli tadi pagi untuk berjaga-jaga."

"Oalah.... sekali lagi terimakasih banyak, ya?"

"Sama-sama, Nur. Kalian juga pernah menolongku sebelumnya."

"Sudah, lupakan. Ayo sekarang kita tengok ke dalam gedung KUD itu. Siapa tahu Ningrum ada di dalam!"

"Ayo...."

Kami berempatpun masuk ke dalam pagar. Sebelum masuk ke dalam gedung KUD kami mengintip dan menguping keadaan di dalam gedung melalui lubang di dinding gedung.

"Gelap, Mbah di dalam."

"Tidak ada suara manusia."

"Baiklah kalau begitu kita masuk saja ke dalam!"

Suasana di tempat tersebut hening, hanya suara binatang malam yang terdengar bersahutan. Setelah mengamati sekitar dan dirasa aman akhirnya kami masuk ke dalam gedung KUD tersebut melalui pintu di depan yang tidak ada kuncinya. Pintu didorong perlahan olehku, ada sedikit kengerian yang aku rasakan takut tiba-tiba ada Agus di balik pintu dengan senjata terhunus.

KRIEEEEEEET....

Suara decitan pintu ketika kami buka. Parto mengeluarkan senter dari dalam sakunya dan mengarahkan ke seluruh penjuru ruangan. Ternyata beginilah kondisi di dalam gedung KUD tersebut. Ada beberapa meja dan kursi yang sudah lapuk, ada bufet rusak di pojok ruangan. Di sebelah atas juga terdapat susunan lapis kayu sebagai tempat penyimpanan padi tetapi sudah keropos semua kayunya. Semuanya terlihat kumuh dan cukup membuat bulu kuduk merinding.

"Tetap berhati-hati, Im."

"Inggih, Mbah."

"Ayo cepat periksa dengan teliti jangan sampai ada yang tertinggal!"

Parto kembali mengarahkan senternya sekeliling ruangan tetapi tetap saja yang terlihat hanyalah kayu-kayu yang sudah lapuk.

"Coba kita cari di ruangan itu!" Kata Mbah Nur

Kami bertigapun berjalan menuju ruangan kecil tersebut. Sementara Mbah Arni berjaga di pintu.

Sesampai di ruangan kecil itu kami terkejut karena kondisi ruangannya agak berbeda dengan ruangan sebelumnya. Ruangan ini tampak lebih bersih seolah belum lama tidak dipakai. Ada kursi dan meja yang tertata dengan rapi. Di pojok ruangan terdapat lemari kecil yang masih bisa dipakai. Tapi tetap saja tidak menemukan apa-apa lagi di sana.

"Sepertinya ibu tidak ada di sini, Mbah."

"Iya, Im. Di mana Agus menyembunyikan ibumu ya?"

"Entahlah, sebaiknya sekarang kita pulang saja dulu, besok kita lanjutkan pencarian di tempat lain."

"Ayo pulang wes!"

"Susah-susah berhadapan dengan genderuwo ternyata kita tidak menemukan ibuku di sini."

"Sabar, Im. Insyaallah ibumu akan segera kita temukan."

Kamipun melangkahkan kaki untuk meninggalkan tempat tersebut. Tiba-tiba

"Tunggu, Im." Pekik Parto

"Ada apa, To?" tanyaku kaget

"Aku seperti mendengar sesuatu."

Aku dan Mbah Nur berkonsentrasi memaksimalkan pendengaran kami

TEK TEK TEK

"Kamu dengar kan, Im?"

TEK TEK TEK

"Iya.... Aku mendengarnya." Jawabku

"Saya juga mendengarnya, ayo kita periksa lagi tempat ini." Perintah Mbah Nur berapi-api.

Kamipun memaksimalkan pencarian dengan membongkar tumpukan kayu yang berserakan hingga kami bertiga tiba-tiba menghentikan gerakan secara bersama-sama dan mendadak saling berpandangan satu dengan lainnya.

"LEMARI!!!!!" kata kami bersamaan

Kamipun berlari menuju ruangan sempit tadi, dan Parto segera membuka lemari kecil tersebut

"Hati-hati, To."

"Sulit membukanya, Im. Ada paku yang mengganjal."

"Gunakan ini, To!"

Aku menyodorkan pisau pramuka yang semula aku kaitkan di pinggang.

"Alhamdulillah, pakunya sudah terlepas. Sekarang tinggal membuka pintunya Bsmillahirrohmanirrohiim..."

Parto menarik gagang pintu lemari kecil itu dan akhirnya lemaripun terbuka perlahan demi perlahan...

"Ya Tuhan......."

-bersambung-

1
LyssLonely
uda baca 2020,sekarang balik lagi di tahun 2026
LyssLonely
uda baca 2020,kembali di tahun 2026
intan naysila
kesimpulanku :
pak rengga melecehkan mita karna minta cantik dan makaya ada cerita anak dilecehkan saat masuk ruang lab pak rengga, mita hamil dan pak rengga gak mau tanggung jawab makanya dia coba bunuh Mita dgn menabrak mita
Junan: baca sampai tamat kak
total 1 replies
Evellyn Decianaa
Udah baca pas 2020, 2024 sekarang baca lagi.. 😂😂😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🍾⃝ͩʟᷞɪͧʟᷡʏͣˢᵗᵃʳ💫ℛᵉˣ
padahal baca ini siang2, tapi ntah kenapa ada rasa takut membacanya.
baru beberapa chapter aja udah buat sakit jantung
Tantina Wyvaldia
gimana kalau p anton nikahi sepupunya parto?
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Tantina Wyvaldia
ceritanya terinspirasi "LIMA SEKAWAN", ya kak?
Tantina Wyvaldia
penuh kesenduan
Tantina Wyvaldia
get soul
Tantina Wyvaldia
astagfirullah
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Mini Upa
lumayqn bagus aku tungu dgn dgn kish selanjutx
Tantina Wyvaldia
kak author sukses bikin takut
Tantina Wyvaldia
semakin menarik dan pantas jadi yang terbaik, sayang, aku terlambat tahu cerita ini
van aridanaa
Kecewa
van aridanaa
Buruk
Fadlan
Luar biasa
cristian cris
kok aku yang patah hati ya gamonnya dari 2021 sampai 2024
Eka Pratiwi
sangat menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!