Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Berbeda
"Aku pikir tujuan kita sama."
Senyum di wajah Raline masih tersisa ketika wanita dengan pakaian mewah itu menghentikan langkah Clarissa di dekat area parkir Kediaman Utama Rothmere. Langit mulai menggelap. Mobil yang membawa Kemala telah lama menghilang dari pandangan. Misi mendepak Kemala wanita desa itu telah berhasil, setidaknya begitu yang dipikirkan Raline.
Namun Clarissa justru tertawa. Bukan tawa kecil yang sopan. Melainkan tawa lepas yang membuat alis Raline langsung berkerut.
"Apa yang lucu?" tanya Raline dingin.
Clarissa mengangkat dagunya sedikit.
"Tujuan kita sama?" Wanita itu kembali tertawa. "Kau benar-benar lucu."
Senyum di wajah Raline menghilang. "Jangan bermain teka-teki denganku."
Clarissa menyelipkan kedua tangannya ke depan tubuh. Malam itu, topeng ramah yang selama ini wanita anggun itu kenakan di depan Kemala benar-benar menghilang. Tatapan Clarissa berubah tajam.
"Hampir semua penyandang nama Rothmere memiliki tujuan yang sama," ucap Clarissa menatap tajam wanita di depannya itu.
Raline tambah mengernyitkan dahinya mencoba menerka arah pembicaraan Clarissa.
"Semua Rothmere menginginkan puncak," sambung Clarissa sambil menunjukkan mansion kediaman utama Rothmere yang sangat megah itu.
Raline mendengus. "Aku juga berada di puncak."
"Tidak," jawaban Clarissa datang begitu cepat. "Kau hanya berdiri di bawah bayangan seseorang."
Raline langsung menegang. Clarissa melangkah mendekat.
"Jangan salah paham," ujar Clarissa melihat Raline dari ujung rambut hingga ujung kakinya. "Di mata publik, kau memang Nyonya Rothmere."
"Tapi di mata kami?" Wanita anggun itu tersenyum tipis. "Kau hanyalah orang luar yang kebetulan masuk ke dalam keluarga ini."
"Kau berani sekali!" Wajah Raline memerah.
"Aku hanya mengatakan kenyataan," sambung Clarissa masih memandang Raline dengan remeh.
Raline mengepalkan tangannya.
"Yang penting sekarang gembel itu sudah keluar.” Wanita yang penuh perhiasan itu menahan napas sejenak lalu melanjutkan. "Dan setelah ini Nathan juga akan menyusul."
Clarissa berkedip lalu tertawa lebih keras. Tawa yang membuat wajah Raline semakin jelek dipandang.
"Nathan?" tanya Clarissa yang masih tak bisa menahan tawanya.
"Ya." Raline mengangkat dagunya. "Aku akan mendepaknya juga."
Alih-alih terkejut, Clarissa justru tampak seperti mendengar lelucon terbaik tahun ini.
"Astaga ..." Clarissa mengatur napasnya karena tawa yang keluar begitu saja. "Kau bahkan lebih bodoh dari yang kubayangkan."
"Apa katamu?" tanya Raline dengan nada lebih tinggi merasa dirinya begitu diremehkan.
Clarissa menatap lurus ke mata Raline. "Mengurus Kemala saja kau gagal berkali-kali."
"Padahal wanita itu penuh celah," lanjut wanita anggun itu yang sudah memalingkan ke arah jalan tempat taksi yang membawa Kemala menghilang. "Penuh kelemahan."
"Penuh luka ..." Wanita anggun itu berhenti sejenak lalu kembali menatap lurus ke mata Raline. "Tapi tetap saja kau tidak mampu menjatuhkannya dengan benar."
Raline menggertakkan gigi. Semua perkataan Clarissa terasa tepat menghujam jantungnya.
"Sekarang kau bermimpi menyingkirkan Nathan?" Clarissa menggeleng pelan.
"Anak itu dijaga langsung oleh Madam Eleanora." Clarissa mengangkat satu tangannya dan lalu menunjuk bahu Raline. "Dan kau berpikir bisa menyentuhnya?"
Raline tak menjawab karena memang itulah masalahnya. Nathan selalu berada di bawah perlindungan wanita tua itu. Clarissa kembali tersenyum.
"Kau mungkin tidak menyadarinya." Clarissa kembali berbicara dan melihat kembali wanita yang ada di depannya itu dari ujung rambut ke ujung kaki. "Tapi seluruh keluarga Rothmere memiliki pendapat yang sama tentangmu."
Raline menatap tajam. Clarissa melanjutkan tanpa belas kasihan.
"Kau adalah mainan Madam. Boneka yang bisa disimpan, dimainkan, atau dibuang kapan saja," lanjut Clarissa menatap remeh Raline.
"Tutup mulutmu!" suara Raline meninggi.
Beberapa pelayan yang berjaga di kejauhan langsung menunduk ketakutan. Namun Clarissa sama sekali tak gentar. Sebaliknya, wanita anggun itu terlihat sangat menikmati kemarahan wanita di depannya.
"Kau marah karena aku benar," ucap Clarissa.
Raline maju satu langkah. "Kita bisa bekerja sama."
Clarissa mengangkat sebelah alis. "Oh?"
"Kau juga ingin Nathan tersingkir," ucap Raline dengan nada suara yang cukup tinggi.
"Kau juga tidak suka posisi Bastian." Raline kini yang menunjuk bahu Clarissa. "Jadi jangan berpura-pura suci."
Senyum Clarissa perlahan muncul. Senyuman yang terlihat sangat licik.
"Aku mengerti sekarang," kata Clarissa tenang.
"Apa?" Raline mengangkat alisnya lagi.
"Kau masih belum paham apa yang membedakanmu dengan kami," jawab wanita anggun itu dengan senyuman yang jarang wanita itu ungkap.
Raline mengernyit. Clarissa mencondongkan tubuh sedikit.
"Kau ingin menghancurkan Rothmere," ujar Clarissa.
Napas Raline tertahan.
"Kau membenci keluarga ini," sambung wanita anggun itu lagi. "Kau membenci pernikahanmu."
"Kau membenci kenyataan bahwa kau tidak bisa bersama pria yang dulu kau inginkan," sindir Clarissa yang semakin menatap Raline dengan penuh penghinaan.
Mata Raline membesar. "Diam!"
"Semua Rothmere tahu itu," kata Clarissa penuh ketenangan. “Kau ingin mengancurkan kami.”
"Diam!" bentak Raline yang semakin tak bisa mengendalikan emosinya.
"Sedangkan tidak ada satu pun Rothmere yang ingin menghancurkan Rothmere," lanjut Clarissa yang terus menarik batas emosi Raline.
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi. Clarissa tersenyum. "Dengar baik-baik."
"Kalaupun suatu hari ada Rothmere yang bekerja sama denganmu ..." Clarissa menghela napas melihat wanita di depannya yang terlihat begitu bodoh baginya, "itu hanya karena mereka ingin menggunakanmu. Bukan karena menganggapmu setara."
Wajah Raline pucat menggambarkan amarah, malu, dan harga diri yang tercabik. Semuanya bercampur menjadi satu. Sementara Clarissa hanya memperbaiki posisi tasnya. Lalu kembali memasang senyum anggun. Seolah percakapan barusan tak pernah terjadi.
"Sampai jumpa, Raline."
Wanita anggun itu berbalik melangkah menuju mobilnya. Dan meninggalkan Raline berdiri membeku sendirian.
Beberapa hari kemudian. Kediaman Utama Rothmere berubah menjadi tempat yang menyesakkan. Tangisan Nathan hampir tak pernah berhenti. Baik di pagi hari, siang, dan malam hari tangisan itu terus terdengar.
Seorang pengasuh baru mencoba menggendong bayi itu. Nathan menangis semakin keras. Pengasuh kedua mencoba menyusui menggunakan botol. Nathan memuntahkannya. Pengasuh ketiga mencoba menidurkannya. Namun Hasilnya tetap sama. Tangisan justru semakin kencang.
"Kenapa dia tidak mau tenang?!" Suara Madam Eleanora menggema di seluruh lantai dua.
Semua pelayan langsung menunduk. Tak ada yang berani menjawab. Nathan kembali menangis. Madam memukul lantai dengan tongkatnya.
"Carikan ibu susu pengganti!" teriak wanita tua itu.
"Kalian semua dibayar untuk berpikir!" cecar Madam sambil menunjuk menggunakan tongkatnya ke semua orang yang berada di ruangan itu. "Tapi kenapa tidak ada satu pun yang berguna?!"
Tak seorang pun berani mengangkat kepala. Di dalam freezer khusus. Stok ASI perah milik Kemala terus berkurang hari demi hari. Sama sekali tak ada penggantinya.
Madam semakin murka. Nathan adalah pewaris Rothmere. Penerus yang selama ini dipersiapkan. Namun sekarang, cucu yang paling wanita tua itu lindungi justru tak bisa tenang. Hanya karena satu wanita desa pergi dari rumah itu. Hal yang bahkan membuat Madam sendiri sulit menerimanya.
Sementara itu di pusat kota Jakarta. Suasana rapat megaproyek nasional terasa lebih mencekam dari biasanya.
"Tiga persen keterlambatan," suara Bastian terdengar dingin.
Seluruh peserta rapat menahan napas.
"Siapa yang bertanggung jawab?" tanya Bastian dengan nada yang terdengar jauh lebih dingin.
Tak ada yang langsung menjawab. Seorang manajer akhirnya berdiri.
"Saya, Pak. Saya minta maaf."
Tatapan Bastian langsung mengarah kepadanya. Dan pria itu seketika merasa menyesal telah lahir ke dunia.
"Kalau proyek ini gagal," ucap Bastian mengangkat dokumen yang berada di mejanya. "Apakah permintaan maafmu bisa mengganti kerugian ratusan miliar?"
"Tidak, Pak. Sebenarnya saat itu–"
"Kenapa saya harus mendengar alasanmu?" potong Bastian sinis lalu membanting berkas dokumen itu.
Ruangan kembali sunyi. Reynard yang duduk di ujung meja mengamati sahabatnya cukup lama. Reynard mengetahui, ini bukan Bastian yang biasa. Bastian memang dingin tetapi bukan seperti ini. Bukan seperti seseorang yang sedang mencari tempat melampiaskan amarah.
Sebenarnya rapat belum selesai, setelah laporan selesai di presentasikan seharusnya masuk ke tahap evaluasi dan aktualisasi perbaikan. Namun Reynard yang memahami persis karakter sahabatnya itu langsung berdiri.
"Cukup," ucap Reynard memecah ketegangan atmosfer di ruang rapat tersebut.
Semua orang menoleh ke arah pria yang selalu menggunakan pakaian kasual walau berada dalam rapat sekalipun.
"Apa?" tanya Bastian.
"Rapat kita selesai," lanjut Reynard dengan ekspresi tegas yang sangat jarang pria itu keluarkan.
Bastian mengernyit. "Masih ada agenda berikutnya."
"Tidak." Reynard menutup mapnya. "Kamu butuh kopi."
Dua puluh menit kemudian. Reynard dan Bastian sudah duduk di sebuah kafe premium yang biasa mereka kunjungi. Untuk beberapa saat tak ada yang berbicara.
Reynard membiarkan kesunyian bekerja. Karena Reynard tahu, menekan Bastian hanya akan membuat pria itu semakin menutup diri. Akhirnya Reynard menyandarkan tubuhnya.
"Lagi mikirin Kemala?"
Bastian tak menjawab. Tapi terlihat rahang pria dengan setelan jas lengkap itu mengeras. Dan itu sudah cukup memberi Reynard gambaran besarnya.
Reynard menghela napas. "Jadi memang benar."
Bastian masih diam. Reynard tersenyum kecil.
"Tahu tidak?" Reynard meminum kopinya lalu menaruh kembali gelas itu. "Aku mulai kasihan sama kamu."
Tatapan tajam langsung datang. Namun Reynard tak peduli. "Karena baru sekarang aku melihat Bastian Rothmere kehilangan fokus gara-gara seseorang."
Bastian menatap keluar jendela. Pria serius itu tak mengatakan apa pun. Namun juga tak membantah.
Keesokan harinya. Jauh dari Jakarta, di sebuah kota kecil. Rumah sederhana milik Rani kembali ramai. Kemala duduk di tepi ranjang. Bayi laki-laki di pelukan wanita sederhana itu terus menangis.
"Sudah ..." ujar Kemala menepuk ringan punggung bayi di dekapannya. "Ibu di sini."
Tangis itu tak berhenti. Kemala mencoba menggendongnya dengan posisi berbeda tetapi tak berhasil. Wanita sederhana itu mencoba menepuk punggung bayi itu lagi. Namun tetap tak berhasil. Kemala mencoba menyusui tetapi bayi itu menolaknya. Tangisan bayi itu justru semakin keras.
Air mata perlahan menggenang di mata Kemala. Rani yang baru masuk membawa segelas air langsung menghampiri.
"Kemala," sapa Rani pelan.
Kemala tersenyum lemah. Namun senyum itu tak pernah sampai ke mata wanita sederhana itu.
"Aku baik-baik saja," kilah Kemala mencoba menutupi setiap inci kesedihannya.
"Kamu bohong," ujar Rani yang begitu memahami sahabatnya itu.
Kemala menunduk. Bayi itu kembali menangis. Rani memperhatikannya sangat lama. Sebagai sahabat yang mengenal Kemala bertahun-tahun, Rani bisa melihat sesuatu yang tak beres. Kemala memang merawat bayi itu dengan sangat cekatan. Seperti seseorang yang sudah berbulan-bulan terbiasa mengurus bayi. Bukan seperti ibu yang baru kembali bertemu anaknya.
Namun Rani tak mengatakannya, gadis desa itu hanya duduk di samping sahabatnya.
"Mungkin dia masih butuh waktu untuk beradaptasi denganmu," ujar Rani perlahan sambil mengelus punggung sahabatnya.
Kemala mengangguk pelan. "Iya."
Suara wanita yang menggendong bayi itu terdengar rapuh. Karena jauh di dalam hati Kemala, ada sesuatu yang tak bisa wanita sederhana itu jelaskan. Sesuatu yang terus mengganggu Kemala setiap kali memandang wajah bayi itu.
Namun Kemala terus memaksa dirinya percaya. Bayi laki-laki yang digendongnya itu anaknya, harus Arkana. Tak mungkin bukan. Karena jika bukan, lalu siapa bayi yang sedang wanita desa itu peluk sekarang? Dan di mana anak laki-laki Kemala yang sebenarnya?
Isi kepala Kemala terus silih berganti, antara pertanyaan-pertanyaan yang meragukan bayi yang dipeluknya dengan upaya hatinya untuk terus meyakinkan diri. Kemala tetap duduk memeluk bayi itu.Jantung Kemala mendadak berdebar tanpa alasan. Terdapat perasaan tak nyaman yang sejak beberapa hari terakhir menghantuinya. Tiba-tiba menjadi jauh lebih kuat.
Ketukan pintu tiba-tiba terdengar.
Tok. Tok. Tok.
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉