Cerita ini mengisahkan tentang Mawar. Menikah muda dengan Aditya walaupun sudah di larang oleh kedua orang tuanya.
Setelah berjuang ingin bangkit dari kemiskinan, rela berjualan kripik singkong agar suaminya bisa kuliah. Untuk menepis keraguan orang tuanya.
Namun, setelah berhasil. Apa jadinya jika sang suami malah menikah lagi?
Kita ikuti yuk kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trisubarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermuara di Telaga Biru.
"Alaah...pura-pura nggak tahu! kamu kan yang bilang sama kak Adit, kalau goe sama Ibu kontrak rumah?! sinis Diah.
"Ya wajar lah dek, kita kan keluarga, jadi Mas Adit, harus tahu keadaan Bapak, Ibu, dan juga kamu" sahut Mawar menanggapi dengan santai.
"Aahh sok perhatian!" ketus Diah.
"Kak Mawar... kita pulang bareng yuk" Intan tiba-tiba datang memecah ketegangan.
"Lain kali ya Tan, aku di ajak bareng sama Rosita, sudah janjian soalnya" sahut Mawar. "Kamu naik taksi ya Tan?" tanya Mawar kemudian.
"Nggak kak, aku sudah di bolehin naik motor sama Papa" sahut Intan bersemangat.
"Memang nggak di jemput sama Abim?" tanya Mawar, melirik adik iparnya hanya diam berwajah kesal melihat ke keakraban antara Mawar dan Intan.
"Nggak kak, mulai sekarang dan seterusnya aku mau mandiri, nggak mau bergantung sama kakak. Yang sudah jelas, ada orang yang lebih penting menjadi prioritasnya" sindir Intan kepada Diah.
Diah menoleh cepat menatap tajam ke arah Intan.
"Sudah Maw? pulang yuk, nanti anak gue nangis" Rosita yang di tungguin akhirnya datang.
"Okay... Rosi, aku juga pengen buru-buru kerja" sahut Mawar.
"Kenalkan Ros, ini Intan sahabatku, terus ini Diah adik iparku." Mawar
memperkenalkan temanya.
Rosita berkenalan dengan Intan giliran ingin berkenalan dengan Diah. Diah pun mlengos nggak butuh. "Ya sudah yuk" ajak Mawar. "Aku duluan ya dek, kamu tumben belum di jemput" Mawar berusaha untuk bersikap baik walaupun selalu di dzolimi oleh adik Iparnya.
"Huh! basa basi!" tukas Diah.
Mawar berangkat berboncengan dengan Rosita, tidak mempedulikan gerutuan Diah. Sedangkan Intan hanya sendirian. Di pintu gerbang Intan berpapasan dengan Abim. Tetapi Intan tidak menyapa rasanya masih kesal dengan kakaknya.
*****
Tiga bulan kemudian keadaan Silfi semakin membaik, ia mulai mengisi seminar di kampus-kampus. Tentu ada bodyguard yang menjaganya dan sopir yang selalu mengantarkan kemanapun ia pergi. Perhatian Adit selama ini membuatnya semangat dan ingin hidup lebih lama lagi jika Tuhan menghendaki tentunya.
Malam telah larut, Adit belum pulang juga. Padahal Silfi sudah mempercantik diri, malam ini ia ingin mempersiapkan diri untuk melayani suaminya. Selama menikah empat bulan mereka lalui, belum pernah melakukan hubungan selayaknya suami istri.
Lelah menunggu akhirnya Silfi ketiduran di sofa di depan televisi.
Tepat jam 11 malam Adit baru sampai di rumah. Adit melihat Silfi tidur dengan posisi tidak nyaman di sofa. Aditpun inisiatif untuk mengangkat kemudian membawanya ke ranjang.
Adit kemudian melakukan ritual mandi. Rapat dengan klien dari Cina untuk pembuatan apartemen sungguh melelahkan. Tetapi ia senang, sebab telah memenangkan tender jika mendapatkan bonus nanti, Adit akan membagikan bonus tersebut kepada kedua istrinya. Adit tersenyum dalam pantulan kaca kamar mandi, ia bersyukur hubungannya dengan Mawar semakin membaik dan Silfi juga keadaanya semakin membaik.
Adit keluar dari kamar mandi merebahkan tubuhnya di samping Istri keduanya.
Silfi sebenarnya sudah bangun saat di angkat oleh Adit tadi. Namun Silfi membiarkan tubuhnya diangkat suaminya. Perhatian Adit selama ini membuat cinta Silfi semakin bertambah.
"Dit" Silfi melingkar kan tangannya ke perut suaminya, aroma wangi sampoo dan sabun membuat Silfi ingin menjalankan aksinya, yang sudah di inginkan sejak sore tadi.
"Kamu bangun, maaf ya... membuat kamu menunggu hingga larut" tutur Adit.
Ali-ali menjawab, Silfi justru meraba dada bidang Adit dan memainkannya. Adit masih tidak bereaksi.
Menyadari jika Adit tidak merespon, Silfi berusaha lebih keras lagi. Yakni tangan Silfi bermain di area inti milik Adit.
"Dit... please..." Silfi semakin bergairah.
Adit kemudian memiringkan badan menatap wajah istri keduanya yang memintanya lebih.
"Kamu yakin... nggak apa-apa?" Adit beralasan, sebenarnya masih belum ingin melakulan sejauh ini biar bagimana, Silfi masih belum bisa membuatnya berdesir seperti Mawar.
Tanpa menjawab Silfi membalik tubuh Adit hingga terlentang kemudian Silfi yang ambil kendali.
Silfi membuka baju atas hingga terpampang gunung kembarnya. Silfi semakin bergairah kemudian membuka celana pendek Adit. Adit hanya bengong seperti sapi ompong. Memandangi Silfi yang sangat agresif.
"Dit" Silfi menggesek-gesekan miliknya yang sudah tidak memakai sehelai benangpun ke junior Adit.
Sebagai laki-laki Adit pun akhirnya menikmati sentuhan Silfi. Kemudian Adit mendorong tubuh istri keduanya itu pelan, hingga Silfi terlentang. Permainan panas tidak bisa di hindari, keduanya sama-sama berlayar. Adit mendayung perahu hingga sampai ke muaranya. Sampailah di telaga biru keduanya pun akhirnya tertidur.
Keesokan harinya Adit bangun lebih dulu. Adit memandangi tubuh istri keduanya itu yang masih polos. Adit menarik selimut yang sudah jatuh kelantai kemudian menyelimuti Sifi.
Adit kemudian melakukan mandi wajib dan beranjak ke masjid.
Silfi menggeliat tanganya meraba ranjang di sebelahnya namun kosong. Setelah menyadari suaminya sudah tidak ada Silfi kemudian bangun jalan ke kamar mandi.
Selesai shalat, Silfi kedapur dan membuat minuman STMJ untuk suaminya.
Jam tujuh pagi semua berkumpul di meja makan dan sarapan bersama.
"Ini minuman apa Sil?" tanya Adit setelah meneguk minuman dengan rasa yang campur aduk.
"Ini untuk mengembalikan setamina yang tadi malam hilang Dit" bisik Silfi agar tidak terdengar oleh Mama dan Papa.
"Uhuk uhuk. Adit tersedak mendengar penuturan Silfi. Hingga menjadi perhatian Papanya.
Sifi tersenyum simpul, pagi ini ia merasakan kebahagian yang luar biasa.
Selesai sarapan, Adit berangkat ke kantor. "Aku berangkat dulu ya" pamit Adit. "Nanti ke kampus nggak?" sambungnya.
"Hari ini nggak Dit," sahut Silfi.
Setelah kepergian Adit, Silfi kemudian memasak. Selama menikah dengan Adit belum pernah ia lakukan karena rasa sakit yang membelenggu tubuhnya.
Siang harinya Silfi ke kantor ingin mengantarkan makan siang untuk suami tercintanya.
"Selamat siang Non" begitulah sapaan karyawan sambil menundukkan kepala.
"Selamat siang" sahut Silfi ramah.
Silfi naik lift, sebenarnya bodyguard ingin ikut, tetapi Silfi melarangnya. Cukup menunggu di bawah saja. Silfi ingin memberi kejutan suaminya.
Sampai di lantai atas tepatnya di ruangan suaminya sepi, hanya ada sekretaris Adit yang masih bergelut di depan komputer.
"Siang Mbak" sapa Sifi, mengagetkan sekretaris.
"Eh siang Non, mau bertemu Bapak ya? Bapak masih rapat Non, mungkin sebentar lagi selesai" tebak sekretaris.
"Iya Mbak, biar saya tunggu di dalam saja." Silfi pun masuk ke dalam, sudah lama sekali tidak masuk keruangan ini, terakhir masuk setahun yang lalu ketika Papanya masih menjabat.
Silfi netranya menelisik setiap sudut ruang tampak rapi. Meja kerja milik Adit pun sangat rapi.
Silfi kemudian duduk di kursi kebesaran Adit. Di atas meja, terdapat dua bingkai foto yang satu jelas miliknya. Papanya yang meletakan di sini sejak dia masih berumur 30 tahun yang lalu.
Dan yang satu lagi foto wanita cantik mendadak dada Silfi terasa sesak.
"Terus... yang satu ini foto siapa? apakah Adit mempunyai pacar sebelum menikah denganku?" monolog Silfi.
Gadis cantik berhijab dalam foto tersenyum riang menambah kecantikannya. Silfi menitikkan air mata. Jika wanita ini memang pacar Adit. Silfi akan merelakan jika Adit menikah lagi. Silfi tahu jawabbanya mengapa Adit selama ini selalu menghindari sentuhan Silfi.
"Aku nggak boleh egois, suamiku harus bahagia, lagi pula untuk apa wanita seperti aku? perawan tua yang penyakitan. Sedangkan Adit? masih muda, kedepanya masih panjang." Gumam Silfi.
Air matanya luruh tidak bisa ia bendung.
Cklek
Pintu ruangan terbuka Silfi segera mengahapus air matanya.