Almahyra seorang anak korban tsunami yang diadopsi oleh seorang dokter lajang bernama Kenzo Takeshi Sato.
Mereka sama-sama memendam perasaan.
Pernikahan Kenzo dengan wanita lain yang bernama Mona tidak bahagia.
Setelah berpura-pura lumpuh dia baru sadar bahwa Almahyra lah yang pantas menjadi istrinya.
Kenzo dan Almahyra diam - diam menikah.
Apakah Mona rela di madu?
Apa yang akan terjadi setelah dia tahu di madu?
Selamat membaca...
Aku tunggu support Anda semua agar aku lebih semangat untuk berkarya.
Love u All.. 😘😘😘
Terimakasih.. 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VEA MATTEA HOSAC
Mobil yang dikendarai Vea berhenti di perempatan lampu merah. Di seberang jalan terlihat seorang nenek-nenek bergandengan mesra dengan kakek-kakek yang mungkin merupakan suaminya. Hati Vea menjadi sedih. Sampai saat ini dia belum memiliki pasangan.
Satu-satunya orang yang dia cintai kini telah bahagia. Ken. Nama yang selalu dia sebut setiap dia merasa terpuruk dan sedih.
Vea harus ikhlas Ken membencinya. Dia yang membuatnya salah paham dengan keputusannya. Vea tidak jujur mengatakan alasannya meninggalkan Ken.
Tinn... Tinn... Tinn..
Suara klakson membuyarkan lamunannya. Entah sejak kapan lampu sudah menyala hijau.
Segera Vea melajukan mobilnya kembali. Pengendara mobil lain di belakangnya sudah tidak sabar untuk mendapat jalan.
Di tengah perjalanan Vea merasa pusing. Itu biasa terjadi ketika dia stres atau banyak pikiran. Dia segera menepi dan menghubungi orang rumah untuk menjemputnya.
Vea mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto. Foto yang dia anggap sebagai jimat. Dengan melihat foto itu sakit yang dia rasakan akan hilang.
"Ken. Aku mencintaimu." suara Vea lirih terdengar.
Vea terus menyebut nama Ken untuk mengurangi rasa sakitnya. Dia menyesal tidak mendengarkan mamanya yang menyuruhnya membawa pengawal ketika pergi. Mamanya pasti akan sangat marah jika kesehatannya drop lagi.
...
Al mendiamkan Ken saat berada di dalam mobil. Hatinya masih sakit setelah melihat suaminya di peluk dan di cium oleh wanita lain di depan matanya. Bagi Al, Ken hanya miliknya dan Mona.
"Ken. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Ken canggung. Dia tahu Al pasti marah mengingat kejadian tak terduga di parkiran tadi.
"Ngantuk!" jawab Al sambil pura-pura memejamkan mata.
"Ya, udah kamu bobok. Tadinya aku mau cerita tentang Vea sama kamu," ucap Ken memancing reaksi Al.
"Vea? Cewek yang tadi?" Al menegakkan posisi duduknya.
"Hmm. Iya. Ya udah, kamu bobok aja. Kapan-kapan aja aku ceritain." Ken tarik ulur ucapannya untuk membuat Al penasaran.
"Ceritain sekarang!" rengek Al.
"Yakin dah nggak ngantuk lagi?" tanya Kenzo dengan lirikan menggoda.
"Ish, kalau nggak niat cerita mending nggak usah!" Al melihat ke luar jendela menahan kesal.
"Iya, Sayang, iya, aku cerita. Namanya Vea Mattea Hosac. Dia anak teman bisnis papa Richard Hosac. Kami sering bertemu saat menghadiri acara bersama orang tua kami. Ternyata kami satu sekolah." Ken berhenti sejenak.
"Terus? Itu kapan? Kog aku nggak tahu?" tanya Al penasaran.
"Jelas kamu nggak tahu lah Sayang. Orang aku masih SMA. Mungkin kamu masih TK." Ken tertawa melihat mimik muka cemberut Al.
"Udah deh. Mau lanjutin nggak ceritanya?" Al manyun sambil menatap Ken kesal.
"Iya, iya. Sabar dong!" Ken membetulkan posisi duduknya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Vea dan aku saling jatuh cinta. Kami memutuskan untuk berpacaran. Tapi baru beberapa bulan pacaran, Vea tiba-tiba meminta untuk putus. Dia pergi dan menetap di Amerika. Negara asal asal papanya. Udah. Gitu aja ceritanya."
"Singkat amat ceritanya! Tapi kayaknya kak Vea masih cinta sama Daddy." Al menghembuskan nafas kasar.
"Sepertinya begitu. Tapi aku udah nggak cinta tuh sama dia. Kamu nggak usah khawatir aku nikah lagi. Dua istri saja aku udah pusing." Ken tertawa.
Mendengar kata-kata Kenzo, Almahyra pun ikut tertawa. Masa lalu Ken bukanlah hal yang penting. Dia harus percaya pada suaminya.
"Kamu udah nggak marah lagi kan, Al?" tanya Kenzo.
"Siapa juga yang marah? Resiko punya suami ganteng. Mantannya banyak."
"Awhh sakit Al. Kenapa kamu jatuhin aku setelah kamu angkat tinggi-tinggi." Kenzo pura-pura terkapar kesakitan.
"Lebay!" ucap Al bersungut-sungut.
"Dari tadi kamu manyun-manyunin bibir terus, Yang. Pengen di cium ya?"
Ucapan Ken membuat Al malu. Apalagi Arman sempat melirik mereka dari kaca spion. Al segera melompat untuk membekap mulut Ken. Dia takut Ken akan bicara yang lebih horor lagi.
Ken salah mengartikan maksud Al menutup mulutnya. Dia pikir Al menginginkan Ken menciumnya tanpa banyak bicara. Ken menarik tengkuk Al dan memulai aksinya.
Srettt!
Tangan kanan Kenzo menarik tirai yang membatasi jok belakang dengan kursi kemudi. Ken memperdalam ciumannya dan membuat Al menuruti keinginannya.
Tanpa mereka sadari, mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di dalam garasi. Mereka masih terus saja bercumbu di dalam mobil. Suara gedebuk dari pintu depan yang tertutup membuat mereka gelagapan.
Ken dan Al segera merapikan penampilan mereka sebelum turun.
"Kita lanjut di dalam, ya. Nanggung nih." bisik Kenzo membuat Al merinding.
Al tidak menjawab. Mukanya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Ken membantu Al turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam rumah tanpa bicara. Saat ini Ken sedang di kuasai hasrat yang meninggi. Dia ingin cepat-cepat menuntaskannya di kamar.
"Siang, Ma, Pa!" sapa Al ketika melihat kedua mertuanya duduk santai di ruang keluarga.
"Siang Sayang. Kalian makan sana gih! Tadi mama sama papa udah makan duluan," ucap Mila pada Ken dan Almahyra.
"Nanti saja, Ma. Kami ke kamar dulu." buru-buru Ken menyela. Dia tahu Al pasti akan jawab 'iya' padahal dia sangat ingin melanjutkan keinginannya.
Al kembali menutup mulutnya yang tadinya sudah siap-siap berucap.
"Buru-buru amat. Al nggak kenapa-napa, kan?" tanya Mila.
"Enggak, Ma. Kami pergi dulu." Ken menarik Al untuk melanjutkan langkahnya.
"Tunggu! Mama ambilkan baju milik Al yang dari butik tadi!" Mila berdiri dan mengikuti Ken berjalan.
"Nggak usah Ma! Nanti aja. Aku buru-buru!"
"Kalian kenapa sih?" Mila merasa heran dengan tingkah Ken hari ini.
"Ah, Mama! Kayak nggak pernah muda aja!" Ken menghentikan langkahnya karena kesal terus diikuti mamanya.
"Maksud kamu? Ya, ampun!" Mila menepuk jidatnya setelah mengerti arah perkataan Kenzo.
Kenzo tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya. Al menunduk menahan malu.
"Jangan sering-sering Ken! Awas kalau kamu bikin menantu mama capek! Inget dia lagi bawa calon cucu mama!"
"Iya, Ma. Tau lah. Cucu mama kan anak aku juga. Dahh Mama!" Ken membawa Al berjalan lebih cepat meninggalkan Mila.
"Haish, anak sama bapak sama aja!" Mila menggeleng melihat tingkah anak lelakinya.
Mila kembali ke ruang keluarga menyusul Takeshi yang masih sibuk dengan laptopnya. Akhir-akhir ini Takeshi kembali bersemangat untuk berbisnis. Semua itu dia lakukan untuk calon cucunya.
"Ma, aku dengar Richard saat ini ada di Indonesia," ucap Takeshi.
"Richard? Teman bisnis kita itu. Papanya Vea, bukan?" tanya Mila.
"Iya. Dia."
"Sudah lama, ya, kita nggak ketemu sama dia. Lebih dari sepuluh tahun malah."
"Iya. Kapan-kapan dia mau main ke sini. Semoga aja kita belum balik ke Jepang."
Takeshi berbicara tapi tatapannya masih fokus ke laptop.
"Kita udah nggak ada nomer teleponnya juga, ya. Semoga aja kita sempet ketemu."
****
Bersambung...
semoga saja anak q sikapnya gk lemah spt dr. Kenzo karena anak q namanya juga kenzo