Stevani Safira adalah putri seorang mandor bangunan. Ia harus rela meninggalkan kekasihya yang seorang dosen karena harus membayar kerugian perusahaan yang diakibatkan oleh oknum yg tidak bertanggung jawab.
Para oknum itu menjebak Ayahnya seolah olah ayah gadis itu terlibat.
Bukti bukti yang didapat perusahan mengarah bahwa Ayahnya benar benar terlibat.
Kerugian senilai miliyaran harus dia bayar dengan pernikahan.
Big bos perusahan itu mengingikan Stevani menjadi budaknya seumur hidup berkedok pernikahan.Agar ayahnya tak dijebloskan ke penjara.
Stevani terpaksa berhenti dari kuliahnya, karena dia benar benar dipenjara oleh suaminya, mahasiswi tataboga ini terpaksa menghabiskan hari harinya di rumah big bos tersebut.
Willam Wijaya adalah nama big bos ayah Stevani.William pernah pengalami kegagalan dalam hubungan percintaanya,yang mengakibatkan perubahan sikap yg amat drastis.
Dia menjadi pribadi yang kasar arogan dan dingin.
Akankah Stevani mampu menjalani hari harinya ditengah tekanan.
Hinanan dan perlakuan kasar suaminya.
Simak kisahnya selanjutnya ga gaes.
Dalam Kasabaran Cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berasa Punya Istri
Vani keluar dari kamar Willi dan hendak memasak untuk nya, tiba tiba bel berbunyi.
ting tung..ting tung
Vani menggulung rambutnya dan membukaan pintu.
"Siapa?.
"Go food bu, pesanan atas nama pak William".
"O iya,berapa pak?".tanya Vani.
"Ini tagihanya bu," jawab kurir itu.
"O, tunggu sebentar," Vani melangkah kesofa dan mengambil dompet ditasnya serta mengambil beberapa lembar uang untuk membayar pesanan Willi.
"Ini pak uangnya". Kurir itu mengambil uang pemberian Vani.
"Pas nya aja bu," jawab pak kurir.
"Kembalinya buat bapak aja, makasih ya pak".
"Baik bu terimakasih banyak".
"Sama sama pak".
Vani menutup pintunya kembali.
....
Vani menyiapkan makanan untuk Willi, mereka tadi asik ngobrol sampai lupa kalo Willi sudah memesan makanan..
Vani masuk kamar dan memanggil Willi, willi sangat asik mainkan pipi Devan dia terus menowel nowel pipi gembil putranya
"Will, udah nanti dia bangun, makan dulu yuk,"Willi malah tersenyum tanpa dosa.
"Cepet amat Van, emang udah mateng?" tanya Willi, ternyat beneran dia lupa.
"Tadi kamu order go food kan," Vani mengingatkan.
"O iya lupa, keasikan ngobrol tadi," jawab Willi.
"Udah bayar tadi?" tanya nya lagi.
"Heemmm," jawab Vani.
"Pakek uangku kan," Willi tak ingin merepotkan Vani.
"Pakek uang siapa aja," Vani menyuncir rambutnya biar agak rapi.
"Dompet aku kan masih ada dikamu kan".
"Iya ga usah dipikirin, udah ayo makan," Vani mau melangkah keluar tapi Willi segera meraih tangan Vani.
"Apa,?" tanya Vani.
"Aku mau dimanja".jawab Willi.
Vani tersenyum..."heeemmm", Vani menggandeng tangan Willi dan mengajaknya keluar kamar untuk makan.
Dimeja sudah tersedia hidangan khas Bali ada sate dan juga bebek betutu.
"Aku tadi pesen ga pedes lo Van,"ucap Willi, Vani sudah tau kalo Willi ga doyan pedes.
"He em, Vani tau sejak hamil sampai sekarang Vani ga makan pedes lagi, kasihan perut Devan, dia kan ASI esklusif, " Willi merasa bangga pada mantan istrinya.
"Apakah ibu menyusui harus seperti itu mengorbankan seleranya untuk babynya?" Willi penasaran dengan pendapat Vani.
"Harusnya begitu tapi ya aku ga tau semua seperti aku apa ga, tapi bidanku menyarankan begitu,".jawab Vani.
"Apa Van bidan kamu ga ke dokter?" tanya Willi mukanya terlihat menyesal.
"Aku ga sekaya dirimu Willi, aku menjaga anaku kok selama ini diklinik itu juga lengkap peralatanya untuk bumil dan melahirkan," jawab Vani sambil menyiapkan piring untuk Willi.
Willi menatap Vani, "Sesusah itu kah van hidupmu".
"Udah ga usah dipikirin, itu kan dulu sekarang
aku boleh kan ngabisin uangmukan hehehe".
"Pakai aja sesukamu Van," Vani tersenyum, seandainya kita bisa bareng lagi ya Wil, pasti kita bisa bahagia, Vani melirik Willi, mereka mulai makan dalam diam Vani menuangkan air minum dan seperti biasa dia membuat green tee untuknya dan Willi.
"Thanks honey, aku berasa punya istri," goda Willi.
"Sama sama," Vani menunduk dan tersenyum.
"Masih mau nambah ga?" tanya Vani.
"Ga, udah Van, kenyang, "jawabnya.
"Baiklah, minumlah ini," Vani menyodorkan segelas green tea untuk Willi, dia pun menerimanya dengan senang hati.
"Gren tea heemm," Willi tersenyum, pikiranya teringat sesuatu.
"Biar ga gendut perutmu, pria tukang makan," Vani mulai memberesi bekas makan mereka.
Willi tersenyum, dia sangat suka julukan itu menurutnya itu manis.
Willi menghampiri Vani yg sedang mencuci piring dan memeluknya dari belakang, postur willi yg mempunyai tinggi 185cm itu jadi leluasa menghimpit tubuh vani yang hanya 165cm.
"Wil gimana aku geraknya," Vani berusaha melepaskam dirinya.
"Janji dulu," ucapnya.
"Janji apa lagi," jawab Vani.
"Besok jangan kerja temenin aku sama Devan main, " pinta Willi manja, dia menaruh kepalanya dipundak Vani.
"Nanti aku dipecat gimana?"Willi mengecup pipi Vani.
"Kerja sama aku aja?" Willi mencoba memberi penawaran pada Vani, tapi dia tau kalau Willi hanya menggodanya.
"Kerja sama kamu kerja apaan?".balas Vani.
"Masakin aku mungkin." Jawab Willi manja, Vani tau Willi modus.
"Hanya itu?" Vani malah memancing siotak mesum.
"Banyak kalau kamu kerja sama aku." tu bener kan modus.
"Willi ga modus, ayo lepasin," Vani mengerakan badanya supaya Willi melepaskanya.
"Ga mau, janji dulu," Willi mencium pipi Vani lagi, Vani meliriknya.
"Akan aku pikirkan tapi lepas ya biar cepet selesai yunggu aku disofa duduklah yang manis." ya ampun aku seperti ngadepin anak kelas satu SD batin Vani.
"Baiklah ratuku laksanakan." cup Willi mencium pundak Vani, kenapa sih dia hobi banget cium cium.
Vani pun selesai mengerjakan pekerjaanya dia pun menghampiri Willi dengan membawa segelas air hangat untuknya.
"Apa kamu suka sekali air putih? " tanya Willi sambil menaruh laptopnya.
"Heemm, apa lagi yang hangat aku sangat menyukainya." jawaba Vani.
"Orang ma suka yg dingin Van, kamu malah yang hangat aku mau cobain." Willi mengambil gelas ditangan Vani dan langsung meminumnya.
"Itu bekasku Wil kalau mau aku ambilin yang baru." Vani melonggo karena Willi tak perduli permintaanya.
"Ga aku yang ini aja." Willi menyandarkan kepalanya dipundak Vani dan mencium tengkuk Vani membuat geli.
"Willi geli kamu hobi sekali cium cium." Vani berusaha menjauhkan kepala si pria mesum ini.
"Kamu harum Van aku suka kamu bikin aku tenang kita pulang ke jakarta ya." ajak Willi.
"Willi masih aja tuan pemaksa." umpat Vani, Willi cuek dan tersenyum.
"Aku ga mau pisah sama kamu lagi istriku." rayu Willi.
"Istri darimana,?" jawqb Vani meminum lagi air sisa Willi.
"Kalau kamu jawab iya besok aku akan langsung panggil penghulu buat nikahin kamu." Vani hanya tersenyum, kata itu membuat Vani melambung tinggi tapi sayang itu ga akan terjadi.
"Willi."
"Heeemmm" selalu pelit jawabnya.
"Apakah kamu benci ayahku?" tanya Vanibtibq tiba.
"Tidak." jawab Willi spontan.
"Kamu jujur Wil, dia sudah menyakitimu Wil." ucap Vani lagi.
"Ga Van aku ga benci ayahmu hanya saja aku kecewa dia ikut aku kan ga sebentar tapi dia tega begitu, banyak proyek yang aku percayakan padanya tapi seolah tak ingat itu malahan ikutan menusuku." kekecewaan terlihat jelas diraut wajah Willi.
"Maafkan ayahku ya Wil, seriusan Wil ayahku korupnya sampai 6M? " tentu saja Vani ingin tau secara detail perhitunganya.
"Iya Van, kerugianku segitu dijika dihitung kamu kan n udaha baca siapa siapa yang terlibat, kalau pastinya ayahmu dapet berapa ya hanya ayahmu yang tau, kan pastinya mereka yang bagi, tapin aku udah maafin sebelum kamu minta ku udah maafin orang orang yg menyakitiku yang menghianatiku juga, toh mereka udah dapet pelajaranya sediri sendiri. "jawab Willi seyakin mungkin.
"Kamu berhati baik Wil semoga tuhan mengabulkan doaku untukmu." ucap Vani sambil memegang pipi Willi dan mengecup keningnya.
"Memangnya doamu untukku apa Van."
"Kamu lupa ya setelah kamu talak aku aku doain kamu kan."
"Mana mungkin aku lupa kata katamu yqng membuat aku jadii begini Van." Vani melihat Willi, Willi merebahkan tubuhnya dan menggunakan paha Vani sebagai bantal, Vani pun mengelus rambut Willi, rasanya sangat nyaman.
"Van jika kamu ijinkan aku ingin seperti ini terus." pinta Willi.
"Heemmm, yang ada kalau aku nemenin kamu begadang kamu bakalan suruh aku bikin makanan terus." Vani mulai bisa Menggoda Willi, Willi berasa punya istri sungguhan sekarang, senyum pun merekah indah dibibirnya, lesung pipit dipipinya terlihat manis dan menggemaskan.
"Sku kan ga ngrokok Vannga minum juga kalau aku minum dikit mabok jadi ya mending makan kan." hemm alasan.
"Apaan ga minum, terahir mabok kan." Vani mengingatkan Willi akan hari itu.
"Itu terahir Van sejak saat itu aku udah ga pernah minum lagi." Vani mengelus rambut Willi lagi.
"Serius."
"Heemm."
"Selain sama aku kamu penah tidur sama siapa lagi?" pertanyaan Vani mengejutkan Willi.
Willi tersenyum dan menatap Vani.
"Kamu yakin mau denger."
"He em.."
"Janji ga marah ya."
"Tergantung."
"Ga jadi kalo gitu. "
"Ya yaa aku mau denger pria tukang makanku ini apakah seorang player?" tanya Vani lagi.
"Ya i am player." Wili pun jujur.
"Serius." Vani menjauhkan tanganya dari rambu Willu.
"Hemm."
"Sana bangun aku ga mau." Vani sedikit mendorong tubuh Willi.
"La tadi bilangnya ga marah."jawan Willi.
"Malas Vani."
"Tapi sejak pisah sama kamu aku cuma main sekali aja Van." Willi mencoba merayu Vani.
"Sama siapa?"
"Dia"
"Tu kan.."
"Tapi aku pakek pengaman Van"
"Curang kok sama Vani ga." tentu Vani lebih jengkel lagi.
"Aku kan maunya cuma kamu yg jadi ibu dari anak anaku."
Vani malas menjawab, dia membuang muka, Willi pun bangun dari pangkuan Vani.
"Van jangan marah dong maaf." tatapan Willi sungguh membuat Vani meleleh, tapi dia benar benar kesal pada Willi.
"Aku ga mau kamu gitu lagi."
"Iya aku janj"
"Janji apa." Vani melirik ketus kearah Willi, Willi malah cengengesan.
"Bikin kamu hamil lagi." jawaban yang tidak diharapkan.
"Willi aku serius." Vani tambah marah.
"Aku janji Van aku ga akan tidur sama yang lain selain sama kamu." janji Willu.
"Serius"
"Iya honey mau ya nikah sama aku lagi?". Willi masih saja mencari celah agar Vani mau menerimanya kembali.
"Aku pikir pikir dulu."
"Lah.."
Vani beranjak pergi dan meninggalkan Willi yang masih bengong.
***Bersambung***