ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PENUH CINTA
Sepasang kekasih telah berada di depan gedung bertingkat. Yah, itu adalah salah satu hotel berbintang yang ada di kota Makassar. Keduanya masih menggunakan pakaian kerja yang sedari tadi pagi telah ia kenakan.
Sejak pertemuan di depan supermarket, keduanya seakan tak ingin berpisah. Ibnu dan Alda melanjutkan dengan berkeliling kota Makassar tanpa tujuan, tanpa pembicaraan. Memilih meninggalkan motornya di depan pusat perbelanjaan itu tanpa peduli.
Kali ini Ibnu yang menyetir. Setelah belajar berhari-hari dengan menggunakan jasa temannya. Kini, ia sudah tahu cara mengemudikan kendaraan roda empat tersebut.
Ibnu dan Alda hanya bergenggaman tangan tak saling melepas. Namun pada akhirnya mereka berhenti di depan tempat tersebut.
Atas kemauan siapa?
Tentu ini atas persetujuan keduanya. Seolah takdir yang membawa mereka ke tempat itu.
“Kamu … mau aku antar pulang?” Ibnu memberikan pilihan.
Alda menggeleng. “Tidak,” jawabnya yakin. Aku hanya ingin bersamamu malam ini.” Alda semakin mengeratkan genggamannya pada jemari kokoh pria itu.
Tidak ada yang mereka pikirkan selain bersama, menghabiskan waktu. Cukuplah orang tua Alda menorehkan luka pada hati mereka. Memisahkan mereka hanya karna status, harta dan tahkta.
Bagi Alda, ini adalah pertemuan terakhir dengan Ibnu sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius bersama dengan Andi Pangerang.
Apakah Ibnu tahu bahwa kurang dari seminggu Alda akan menjadi milik orang lain?
Jawabannya tidak. Ia hanya mengetahui kalau Alda telah dijodohkan tanpa tahu kapan pernikahan itu akan dilaksanakan.
Ibnu mengecup jemari wanita itu. “Mari masuk.” Ajaknya lembut.
Keduanya melangkah dengan pasti memasuki tempat tersebut. Punggung kokoh Ibnu berhasil menyembunyikan tubuh Alda yang ramping. Pada saat itu juga orang-orang pun tak ada yang memerhatikan keduanya.
Untuk apa? Toh, mereka juga tidak kenal. Pun mereka mengira kalau keduanya ini suami istri dengan melihat kedekatannya.
Ibnu dan Alda mendekati reseptionis.
“Selamat malam, ada yang bisa kami bantu, Pak, Bu.” Wanita yang berdiri dibalik meja panjang itu menyapa dengan ramah.
“Kamarnya satu.” Ibnu menyampaikan tujuan tanpa basa basi.
Reseptionis itu memeperlihatkan daftar kamar yang tersedia di hotel itu. Sedangkan Alda hanya diam memerhatikan interaksi keduanya.
“Kebetulan kami juga ada promo bulan ini, Pak. Deluxe Room dengan dua tempat tidur. Harganya sangat terjangkau, yakni hanya tiga ratus lima puluh ribu rupiah.”
Ibnu melirik Alda sebentar lalu mengalihkan kembali pandangannya ke selebaran di depan.
“Eksecutive suite room dengan satu king bed, breakfest tolong diantarkan ke kamar.”
Reseptionis itu tersenyum lebih ramah. “Baik, Pak. Totalnya delapan ratus tujuh puluh ribu rupiah.”
Ibnu dengan sigap mengeluarkan dompet dari kantong belakang celananya. Ia mengambil kartu debit salah satu bank yang umum digunakan.
Kamar yang dipesan Ibnu adalah salah satu kamar termahal di hotel tersebut. Bukan tanpa alasan, ia ingin memberikan kenyamanan untuk kekasihnya.
Setelah melakukan transaksi, Ibnu kembali meraih jemari Alda dan menggenggam erat. Keduanya pun bergegas menuju kamar tersebut yang berada di lantai tiga. Melewati lift. Beruntung hanya mereka berdua di dalam.
Tak ada pembicaraan sama sekali. Ibnu dan Alda hanya membisu dan memandang satu sama lain.
Ibnu membuka pintu kamar dengan menggunakan key card yang diberikan reseptionis.
Ceklek
Pria itu segera meletakkan kartu tersebut pada energy saver switch unruk mengaktifkan aliran listrik sehingga kamar itupun menjadi terang benderang dan air conditioner mulai berfungsi.
Ibnu mempersilahkan Alda untuk masuk terlebih dahulu dan menutup pintu kamar tersebut. Alda melangkahkan kaki mendekati membuka tirai jendela sehingga menampakkan hamparan laut yang begitu luas. Meski sudah gelap tapi keindahannya tak pernah hilang.
Ia memejamkan mata membayangkan awal mula pertemuannya dengan Ibnu hingga ia bisa menjalani hubungan yang begitu rumit hingga membawanya ke tempat ini.
“Kamu suka?”
Suara berat memenuhi gendang telinga Andi Alda Marola. Aroma maskulin jelas menyeruak dalam indra penciumannya.
Alda tersenyum dan membuka mata. Ia kemudian mengangguk pelan. “Sangat menyukainya.”
Alda berbalik badan sehingga keduanya saling berhadapan. “Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan mu dan jatuh hati padamu.”
“Apa kamu menyesal?” tanya Ibnu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Entahlah semenjak bertemu dengan Andi Alda Marolah, dia seperti laki-laki yang kehilangan harga diri dan lemah.
Alda menggeleng dengan cepat. Ia memegangi pipi Ibnu yang masih di tumbuhi jambang tipis. “Tidak sama sekali. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu.” Alda menatap lekat mata pria itu. “Aku hanya menyesal tak bisa bersamamu.”
Ibnu memegang tangannya. “Aku mencintamu Andi Alda. Sangat mencintaimu.”
”T-tapi aku akan menikah.” Alda mengucapkan dengan suara bergetar.
Ibnu menelan ludah. Ia melepaskan pegangan dan menjauh dari kekasihnya. “Apakah Tuhan tidak melihat bahwa kita sama-sama mencintai?! Apakah Tuhan tidak melihat hati siapa yang paling tulus kepadamu?!”
Bug!
Suara tangan Ibnu berbentur dengan tembok kamar itu. Melawan ketidakberdayaannya. “Aaghhh!”
Sedangkan Alda hanya terisak menutupi wajahnya.
“Kapan acaranya?” Ibnu kembali mendekati Alda menodongkan pertanyaan.
Alda mengangkat wajahnya yang telah dibasahi air mata. “S-seminggu l-lagi ….”
Alda berdiri dan memeluk erat Ibnu. Menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan pria itu.
*****
Seorang pria dengan kacamata bertengger di hidungnya menatap layar ponsel. Ia melihat panggilan yang dilayangkan kepada calon istrinya yang tak mendapat respon sama sekali.
“Kemana dia?”
Andi Pangerang Adam diliputi kegelisahan. Sejak tadi siang ia mencoba menelpon sekedar ingin menanyakan kabar.
Harusnya mendekati pernikahan, kedua calon tak henti-henti saling mepertanyakan kesiapan. Merencanakan hal setelah berumah tangga nanti. Sama seperti pernikahannya dahulu dengan Soraya.
Pria 45 tahun itu masih diliputi kegelisahan dan lagi-lagi mengirim pesan.
‘Sayang’
‘Kamu kemana?’
Entah berapa kali kata itu ia kirimkan untuk calon istrinya berharap ada jawaban dari seberang. Tapi nihil.
Mendekati hari H banyak hal yang perlu ia bahas. Termasuk pekerjaan Alda setelah menikah. Andi Pangerang ingin Alda ikut tinggal bersama di Ibu Kota. Alda tak perlu bekerja sama sekali. Cukuplah di rumah melayaninya.
Pria itu menghela napas panjang. “Alda … Alda.”
*****
Perasaan Ibnu tak dapat dibendung lagi. Ia mendekati wajah Alda dan mulai menikmati bibir merah jambu wanitanya. Ia mendorong tengkuk Alda dengan lembut hingga semakin dalam. Meluapkan rasa kasih sayang, cinta dan emosinya.
Alda mencengkram pakaian Ibnu membalas dengan begitu lugas. Ia melakukan tanpa mengendurkan pelukan.
Ibnu menghentikan. Ia menyandarkan hidungnya pada hidung Alda. Tangan kokoh itu melepas pengikat rambut Alda hingga rambut berwarna kemerah-merahannya terurai dengan indah.
“Sangat cantik.”
Alda tersipu malu dan menunduk. Melihat itu, Ibnu semakin gemas. Ia kembali mengangkat dagu Alda dan melanjutkan lagi. Saling mentransfer perasaan kasih satu sama lain.
Malam yang semakin larut membawa permainan mereka semakin jauh. Alda membuka satu persatu kancing kemeja Ibnu yang semakin memancing pemuda di depannya.
Pakaian putih itu kini terjatuh di lantai menampakkan dada bidang Ibnu yang begitu gagah.
Jemari lentik Alda kini menari di atas kulit pria itu. Membuat Ibnu menjauhkan bibirnya spontan memegang jemari Alda hingga wanita itu menghentikan aksinya.
“Da …,”panggilnya lembut penuh gairah.
Alda mengangguk pelan dan tersenyum simpul seolah tak ada penyesalan. “Aku mencintaimu, Ibnu Rajab. Aku ingin kamu yang menjadi suamiku. Bukan dia.”
Ucapan Alda seolah menimbulkan gejolak yang semakin menjadi. Ibnu memegang kedua lengan Alda dan menuntun untuk berbaring di tempat tidur.
Kini giliran jemari Ibnu membuka pengait pada baju berwarna khaki Itu, hingga menampakkan kain tipis tempat persembunyian sesuatu yang amat istimewa.
Ibnu menelan ludah.
Akal pikiran keduanya sudah tertutup rapat. Tak mampu membedakan yang benar atau salah. Tapi yang pasti, mereka saling memberi dan menerima. Melupakan siapa mereka, termasuk Alda.
Tuhan izinkan Aku berdosa
Dibawah cahaya lampu. Diantara mahligai cinta, tangan kokoh Ibnu membuka semua rajutan benang yang bertengger pada wanita itu. Menampakkan keindahan dunia yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ibnu pun melakukan hal sama pada dirinya. Melepas semua beban yang menghalanginya.
Sungguh indah.
Alda mengaitkan kedua tangannya pada tengkuk Ibnu. Sedangkan pria itu mengeksplor dan menyusuri setiap senti keindahan wanitanya. Merasakan, menikmati kecantikan yang tersuguh.
Alda sesekali mengeluarkan suara yang membuat Ibnu semakin tergila-gila dengannya.
“A-aku mencintaimu, Ibnu ….”
Ibnu membuat wanita itu seolah melayang menyusuri langit ketujuh. Kesakitan Alda berubah menjadi kenikmatan yang tiada tara.
“I-ib-nu ….”
“Sayang ….”
Dinginnya ruangan itu tak mampu menahan buliran kristal yang mengalir di pelipis keduanya. Seakan tak mau berakhir, Ibnu semakin bersemangat membawa Alda larut dalam rengkuhan perasaannya.
Seluruh hati tertinggal. Kamar itu telah menjadi saksi bisu atas cinta dan dosa Ibnu dan Alda.
.
.
.
.
.
Hallo readers syg. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar. Supaya hamba ini semakin semangat menulis 🤭🥰🥰🥰
Salam
AAH❤️
smg ibnu jg bisa mncintai nana