Alisya Silvia, anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia baru lulus dari universitas swasta di Jakarta dan ia berencana akan bekerja di luar kota. Tapi entah ayahnya akan menyetujuinya atau tidak.
Semua di luar dugaannya, ketika Alisya memberitahukan keinginan ini pada ayahnya, beliau tidak meresponnya sama sekali. Beliau malah ingin menjodohkannya dengan laki-laki yang tak pernah ia maupun keluarganya kenal sebelumnya. Dan itu hanya karena perjanjian di masa lalu, perjanjian masa lalu mendiang Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap bag. 2
Kriet.. Terdengar seseorang membuka pintu kamar, Aliysa segera bangkit dari sofa depan untuk melihatnya, ternyata itu Fino. Ia sudah selesai mandi dan berganti pakaian, dan sekarang sudah masuk ke kamar Alisya. Lalu ia segera menyusulnya untuk masuk.
"Sudah selesai mas ?"
"Hemm." jawaban andalan Fino.
"Ini selimutnya mas." menyerahkan selimut yang baru Alisya ambil dari almari.
"Iya terimakasih." mengambil selimut lalu naik ke tempat tidur.
Setelah itu Alisya mengambil kasur lantai lalu menggelarnya di samping bawah tempat tidur, merapikannya kemudian ia membaringkan tubuhnya di atasnya.
"Kenapa kamu tidur di bawah situ ? Ayo cepat naik ke sini ?" ujar Fino yang melihat Alisya berbaring di kasur lantai.
Apa maksudnya ? Itu kan kasur hanya cukup untuk satu orang. Kenapa dia menyuruhku untuk naik ? Memangnya dia mau bergantian tidur di bawah sini.
"Kenapa masih diam di bawah, kamu tidak dengar aku bicara apa ?"
"Baik mas." jawab Alisya pasrah, lalu bangkit, duduk di atas tempat tidur, tersenyum masam. "Tapi kasurnya kan kecil mas, hanya cukup untuk kamu saja." ujar Alisya mencari alasan agar tidak satu tempat tidur dengan Fino.
"Cukup ! ucap Fino tegas. Memangnya tubuhmu sebesar apa ? Punya tubuh kurus seperti itu saja ribet, Fino tersenyum mengejek. Ayo matikan lampu dan segera tidur." Alisyabhanya bisa mengangguk.
Dan akhirnya Alisya tidur satu kasur dengan si manekin hidup, dengan dibatasi guling yang membuat kasur ini terasa semakin sempit. Alisya membalikan badannya membelakangi Fino, karena dia juga sudah duluan membelakangi Alisya.
Entah apa yang sedang dipikirkan Fino, tapi Alisya berharap semoga saja Fino tidak berpikir yang aneh-aneh. Karena ia belum siap jika ada hal buruk terjadi padanya, untuk memejamkan mata saja ia takut.
Ya Tuhan lindungi aku dari si manekin hidup ini.
Lama-lama Alisya mulai mencoba memejamkan matanya, namun mulutnya tak henti-hentinya memanjatkan doa agar di saat larut malam nanti tidak terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan.
Grab. Tidak tahu sekarang jam berapa, Alisya mencoba membuka mata, antara sadar dan tidak. Tapi ia merasakan beban berat menindih tubuhnya, ia mencoba sedikit bergeser.
Apa ini ? Tangan, kaki, haaaaa.... kenapa bisa sampai ke sini ? Mana guling yang tadi memisahkan kami ?
"Mas Fino ?" tidak ada sahutan, sepertinya Fino tertidur pulas.
Kalau Alisya bergerak dan memindahkan posisi tangannya, Fino pasti bangun, tapi kalau tidak, mau sampai kapan posisi ini akan bertahan.
Aaaaaa.... rasanya ingin berteriak agar dia terlonjak dan bangkit menjauhiku.
Tapi ini kan di rumah ayahnya, Tidak mungkin Alisya berani berteriak, berbisik saja mungkin bisa terdengar ke kamar Herman yang tepat di sebelah kamarnya. Akhirnya Alisya memilih melanjutkan tidurnya.
***
Senyum tipis muncul di bibir Fino saat merasakan kalau Alisya sedang terjaga dalam pelukannya, pelukan yang sebenarnya tidak disengaja lantaran tadi ia sudah terlelap dalam tidurnya. Namun saat ia sudah sadar, ia merasa nyaman dengan memeluk wanita ini jadi ia sengaja tidak melepas pelukannya. Ia tidak bergerak saat Alisya mencoba memanggil dan menggesernya. Ini pertama kalinya dia memeluk seorang wanita saat tertidur seperti ini dan rasanya cukup nyaman, pikirnya. Nafas Alisya sudah terdengar semakin lembut, Fino mempererat pelukannya. Ia merasakan kehangatan dan kenyamanan.
Seharusnya ini terjadi 5 tahun yang lalu, memeluk wanita yang seharusnya sudah menjadi istrinya, wanita yang paling ia cintai dengan segenap jiwa raganya, wanita yang selalu ada dalam hati dan pikirannya, wanita yang selalu ia bangga-banggakan di depan semua orang, wanita yang menjadi satu-satunya pemilik hati seorang Fino Rahadi Tjipta, anak tunggal konglomerat, penerus perusahaan besar di tanah air. Namun semuanya tinggal kenangan, kenangan terburuk yang pernah terjadi dalam hidup Fino.
*Ah sial, kenapa di saat seperti ini aku harus mengingatnya kembali. Ini kehidupan baruku, aku ingin mencoba mencintai wanita yang sekarang sudah menjadi istri sah ku. Walaupun aku tahu, aku baru mengenalnya, tapi aku yakin dia wanita baik-baik, apalagi jika aku bersikap baik padanya. Aku akan berusaha mengenalnya lebih jauh bahkan aku ingin mencoba mencintainya dan ingin dicintai olehnya. Dan tidak akan aku biarkan ia mengkhianatiku apalagi sampai meninggalkanku, seperti wanita sialan itu.
Aku tahu ini akan sulit, karena yang aku tahu Alisya pun terpaksa menerima perjodohan ini, ia juga baru mengenalku, ia tidak mungkin bisa semudah itu mencintaiku. Terlebih saat pertama kita bertemu, aku memberi kesan kebencian padanya, aku menyesali perbuatanku itu, tapi ini sudah terjadi, namun belum terlambat untuk memulai semuanya. Kini aku sadar, aku tidak harus membencinya, yang aku benci itu 'DIA', bukan wanita yang menjadi istriku sekarang*.
Aku harap Alisya bisa melihat perubahan sikapku yang sekarang, hingga hatinya pun bisa mulai berubah. Suatu saat nanti aku akan menceritakan tentang semua kehidupanku padanya. Dan harapanku, perlahan-lahan ia bisa mencintaku dengan melihat ketulusan cintaku padanya.
Malam semakin larut, Fino tenggelam dalam mimpi dan harapannya.