Maaf untuk para readers jika kalian merasa bingung saat karya ku ini berganti judul. Setelah aku pikir-pikir judul Izinkan aku mencintaimu kurang pas dengan isinya jadi aku ganti dengan judul Cinta Dalam perjodohan.
Erlangga Bayu Pramuja, anak bungsu dari Egi Pramuja dan Monica Alandra Putri Pramuja, Si Playboy, pemain cinta, dan pecinta one night stand.
Dijodohkan oleh keluarganya dengan perempuan yang polos dan dari keluarga yang sederhana. Akan tetapi siapa sangka Erlangga akan jatuh hati dan dibuat jungkir balik oleh gadis yang jauh dari tipenya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Aku
Maaf Baru bisa up. Lagi sibuk Di RL
Happy Reading
Alana duduk di hadapan neneknya yang masih terbaring di ruang ICU. Meskipun neneknya bicara tidak jelas, tetapi Alana masih bisa mendengar sebuah kalimat yang neneknya ucapkan kepada wanita yang ia panggil mami.
Alana terkejut saat neneknya meminta dirinya untuk menikah dengan Erlangga saat itu juga.
“Nenek ....” Alana memegang tangan neneknya.
“Itu permintaan nenek yang terakhir, Alana.” Nada bicara neneknya Alana sudah terbata-bata.
Pandangannya Alana arahkan kepada Monica. “Mami ....”
Meski dirinya dan Erlangga sudah dijodohkan, tetapi untuk menikah secepat itu Alana sangat tidak menduga. Alana tidak tahu apakah calon ibu mertuanya akan menyetujui hal itu terlebih lagi Erlangga.
Monica tersenyum tipis lalu mengusap kepala Alana. “Kamu tenang saja mami akan persiapkan semuanya.”
Alana mengangguk dengan wajah tertunduk. “Iya, Mam.”
Sejujurnya Alana masih merasa bimbang untuk menikah saat itu. Dirinya masih sekolah dan juga dirinya belum terlalu mengenal calon suaminya, tetapi Alana setuju untuk menikah demi neneknya.
Saat akan melaksanakan prosesi ijab kabul, beberapa kali Alana melihat ke arah Erlangga. Alana merasa tidak enak kepada laki-laki yang sedang duduk di sebelahnya, Alana merasa jika dirinya terkesan memaksa Erlangga.
“Kalian sudah siap?” tanya penghulu.
Alana mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari Erlangga.
Selama prosesi ijab kabul berlangsung hingga saat semua orang yang ada di ruangan itu berucap 'sah' Alana terus melihat ke arah Erlangga.
Niiiiit
Alana mengalihkan pandangannya ke arah neneknya saat mendengar suara yang mengejutkannya. Dilihatnya layar monitor yang sudah menunjukan garis lurus. Alana mengerti apa arti dari garis lurus itu.
“Nenek ....”
Air mata Alana mengalir begitu deras saat keluarga satu-satunya sudah meninggalkan dirinya untuk selamanya.
*****
Prosesi pemakaman neneknya Alana sudah selesai beberapa jam yang lalu dan Alana masih menyendiri di dalam kamarnya dengan ditemani bulir air matanya. Alana merasa sangat sedih karena sudah tidak memiliki siapapun setelah neneknya meninggal.
“Alana,” panggil Erlangga.
Alana menoleh ke arah Erlangga yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
“Kamu makan ya. Kata mami dari tadi kamu belum makan,” ucap Erlangga
“Tapi aku tidak lapar, Mas,” tolak Alana.
“Aku tahu kamu sedih karena kehilangan nenek kamu. Tapi kamu juga harus menjaga kondisi kamu,” ucap Erlangga.
“Aku suapin ya,” bujuk Erlangga.
Erlangga menyendok makanan lalu menyuapkan makanan itu ke mulut Alana.
Alana menolak dengan menggelengkan kepalanya. “Nanti saja, Mas.”
Erlangga menghela napas. Ia bingung bagaimana caranya untuk membujuk Alana agar mau makan.
“Makan ya! Aku bisa dimarahin sama mami kalau gak berhasil bujuk kamu untuk makan.” Erlangga memohon kepada Alana dengan menunjukan wajah memelasnya.
“Makan ya.” Erlangga kembali membujuk Alana.
Melihat tampang Erlangga yang memelas, bisa sedikit membuat senyum tipis di bibir Alana.
“Makan ya,” ulang Erlangga.
Alana mengangguk kecil.
“Buka mulutmu,” suruh Erlangga.
Alana membuka mulutnya sesuai perintah Erlangga. Satu suapan sudah masuk ke dalam mulutnya. Meski terasa sulit Alana mencoba mengunyah dan menelan makanan yang ada di mulutnya.
Ingatan Alana masih tertuju pada neneknya. Setiap kenangan bersama neneknya masih teringat jelas di benak Alana.
Air matanya masih tidak ingin berhenti menetes dari matanya.
Tidak kuat menahan perasaannya Alana kembali terisak.
“Kok malah nangis lagi.” Erlangga benar-benar dibuat frustrasi oleh Alana.
“Mas, nenek sudah gak ada. Sekarang aku hanya sendiri,” ucap Alana di sela isak tangisnya.
Erlangga menggaruk kepalanya karena merasa bingung. Ia bingung bagaimana caranya agar Alana berhenti menangis. Erlangga tidak punya pengalaman untuk membujuk seorang wanita seperti Alana.
Jika saja yang ada di hadapannya adalah Dinda ataupun perempuan-perempuan yang selama ini ia kencani, Erlangga hanya cukup mengeluarkan uang dari dompetnya maka semuanya beres.
“Say ... eh, Alana tolong berhenti menangis,” bujuk Erlangga. “Nanti aku beliin mobil deh.”
“Aku gak mau mobil. Aku maunya nenek aku,” ucap Alana.
“Ya gak mungkinlah, Alana. Nenek kamu itu sudah gak ada. Beliau sudah meninggal dunia dan beliau tidak akan pernah mungkin kembali,” ucap Erlangga.
Tangis Alana semakin pecah setelah mendengar kenyataan yang Erlangga katakan.
“Gini deh ini penawaran terakhir, kalau kamu berhenti menangis aku akan kasih apapun yang kamu minta,” ucap Erlangga. “Asal jangan minta aku bawa nenek kamu kembali.”
“Kalau kamu masih mau nenek kamu itu artinya aku harus pergi ke surga. Sayangnya aku tidak punya tiket untuk pergi ke sana,” gurau Erlangga.
“Mas, bisa gak sih gak bercanda! Aku lagi sedih karena kehilangan nenek. Mas gak tahu sih bagaimana rasanya kehilangan orang yang Mas sayang,” ucap Alana di sela isak tangisnya.
Erlangga terdiam, ia jelas tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat ia sayangi.
“Kamu salah, Alana!” ucap Erlangga.
Kini Alana yang terdiam dalam tangisnya saat melihat perubahan mimik wajah laki-laki yang sudah menjadi suaminya.
“Aku pernah kehilangan papi yang meninggal secara mendadak. Tidak lama setelah anak kembar kak Evano lahir,” ungkap Erlangga.
“Saat papi meninggal ... rasanya kami semua kehilangan separuh dari nyawa kami,” ucap Erlangga.
Alana terus menatap wajah Erlangga dalam diamnya. Baru sekali itu Alana melihat wajah sedih suaminya.
Alana mengusap air matanya lalu memegang pergelangan tangan Erlangga.
“Mas ....”
“Hampir satu minggu kami tidak berselera untuk makan. Saat itu kami merasa jika Tuhan sudah tidak adil kepada kami, karena Tuhan mengambil papi begitu mendadak,” ucap Erlangga.
Mata Erlangga sudah memerah karena menahan air mata yang ingin keluar dari matanya.
“Kami mencoba untuk menguatkan diri dan menyakinkan diri kami jika Tuhan mungkin lebih sayang kepada papi maka Tuhan memanggil papi begitu cepat,” ucap Erlangga.
Kini Erlangga tidak lagi bisa menahan air matanya. Bulir air mata berhasil jatuh dari matanya.
Erlangga mengubah arah pandangnya. Ia menoleh ke arah Alana, menatap istri kecilnya dengan mata basahnya.
“Aku tahu rasanya bagaimana kehilangan orang yang aku sayang, Alana. Aku tahu perasaan kamu saat ini,” ucap Alana.
“Mas ....” Alana rasanya sudah kehilangan kata-katanya saat melihat air mata di wajah suaminya.
“Mungkin itu sangat berat. Tapi ... apa dengan kita terus menangis akan bisa mengembalikan mereka yang sudah tiada? Tidak, 'kan?” Erlangga masih menatap Alana.
Alana menggelengkan kepalanya bersamaan dengan jatuhnya air mata dari matanya.
Erlangga mengusap kepala Alana seraya menghapus air mata yang jatuh di pipi istrinya.
“Jangan terus-menerus bersedih. Karena rasa sedihmu itu hanya akan membuat nenekmu di sana merasa bersedih,” ucap Erlangga.
“Lagi pula kamu tidak sendiri. Ada aku, mami. Sekarang semua keluarga aku juga sudah menjadi keluarga kamu,” ucap Erlangga yang langsung diangguki oleh Alana.
“Sekarang makan ya,” ucap Erlangga.
Alana mengangguk. “Iya.”
Erlangga menyuapkan makanan ke mulut Alana. Erlangga merasa lega meskipun hanya makan sedikit setidaknya perut Alana tidak kosong.