💸Sugar Mommy Online💸
Lulus kuliah jadi pengangguran, sampai umur 28 tahun pun masih nganggur, nikah gak ada calon, kerja di perusahaan gak ada koneksi, bikin usaha sendiri gak ada modal. Langganan Melolo, tontonan dracin dapat cuan receh yang bermimpi jadi istri CEO tampan dan media sosial-- tempat live nya gege-oppa-phi-akang tampan yang bermodalkan tap-tap layar dan spam komentar.
Itulah Lusi, atau gadis melar yang olahraga cuma niat dalam hati--- yang bernama asli Zhu Lusi Arsana. Anak yatim-piatu blasteran Cindo.
Hingga entah dia beruntung atau memang sudah takdir nya, sesuatu mengubahnya~
***
Mohon jangan hanya sekedar mampir, bacalah sampai tuntas agar penulis juga bisa menyelesaikan cerita sampai tuntas 🥹🤧
***
Jika alur sedikit menyimpang dari judul dan sinopsis maka mohon maaf 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Gold, Platinum. Bisa Black Ga?
Sambil berjalan keluar ia sambil memesan taxi, tidak lama kemudian kendaraan datang.
"Ke kantor pusat bank ini ya, Pak."
"Baik, Bu."
Selama perjalanan, Lusi membuka kembali pesan yang di kirimkan Rayyan tadi. Membaca beberapa bagian yang belum selesai ia baca, lalu meringis dalam hatinya. 'Berat juga...'
Empat puluh menit kemudian taxi berhenti di depan gedung bank.
"Pak, tolong tunggu saya dua atau tiga jam." Lusi memberikan uang segepok berjumlah 1 juta, "Saya bayar dua juta, setengah nya lagi akan saya bayar nanti."
Sopir itu dengan senang hati mengangguk setuju
Lusi melangkah masuk ke dalam gedung bank, tidak ada drama seperti di dalam cerita, tidak ada satpam yang meremehkan, tidak ada pegawai yang memandang rendah dirinya.
Begitu menyebutkan nama dan tujuan kedatangannya, resepsionis segera memeriksa data di komputer.
Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah lebih sopan. "Selamat pagi, Ibu Zhu Lusi Arsena?"
"Ya."
"Silakan ikut saya."
Lusi mengikuti petugas menuju area layanan prioritas. Begitu duduk di sofa yang nyaman, seorang wanita berpakaian formal datang menghampiri.
"Selamat pagi, Bu Lusi. Saya Rina, Relationship Manager yang akan membantu Ibu hari ini."
Mereka berjabat tangan, Rina kemudian duduk di hadapannya. "Saya melihat Ibu menerima notifikasi terkait layanan prioritas?"
"Betul."
"Sebelumnya, apakah Ibu pernah menggunakan kartu kredit?"
"Pernah. Tapi limitnya kecil."
Rina mengangguk. "Kalau begitu saya akan menjelaskan beberapa pilihan yang tersedia."
Saat Rina selesai memeriksa data rekening, ekspresinya sempat berubah sedikit.
Awalnya ia mengira wanita di depannya adalah nasabah baru yang ingin bertanya mengenai kartu prioritas. Namun setelah melihat total aset yang tercatat, ia langsung memahami mengapa sistem bank mengirimkan notifikasi khusus.
"Bu Lusi, saya ingin mengonfirmasi sesuatu terlebih dahulu."
"Silakan."
"Apakah seluruh dana yang baru masuk ke rekening ini merupakan dana pribadi yang dapat diverifikasi sumbernya?"
Lusi mengangguk. "Ya."
Rina mencatat sesuatu. "Kalau begitu, berdasarkan jumlah aset yang saat ini Ibu miliki, sebenarnya Ibu tidak hanya memenuhi syarat untuk layanan prioritas biasa."
Lusi berkedip. "Maksudnya?"
"Ibu memenuhi syarat untuk layanan Private Banking."
"Maksudnya seperti di CEO dracin yang di layani secara eksklusif??" Tanyanya tanpa sadar.
Rina menahan senyum profesionalnya. "Kurang lebih layanan khusus untuk nasabah dengan aset besar."
"Jadi aku kaya?"
"..."
Rina terbatuk pelan. "Secara finansial, bisa dikatakan demikian."
Kemudian Rina menjelaskan berbagai fasilitas yang bisa diperoleh. Mulai dari manajer hubungan khusus, ruang layanan privat, bantuan investasi, hingga akses ke kartu-kartu premium yang biasanya tidak ditawarkan kepada nasabah biasa.
Lusi mendengarkan dengan sangat serius. Sesekali mengangguk, sesekali menahan diri agar tidak tertawa sendiri. Karena jauh di dalam hatinya, seorang pengangguran yang dulu hidup dari mi instan sedang berteriak kegirangan.
"Lalu soal kartu?" Tanya Lusi kemudian.
"Untuk Gold dan Platinum, pengajuannya sederhana."
"Kalau Black Card?"
Rina tersenyum. "Black Card tidak diberikan kepada semua orang."
"Jadi tidak bisa?"
"Bisa."
Mata Lusi langsung membesar.
"Tetapi ada proses verifikasi tambahan dan persetujuan pusat, itu normal. Namun melihat total aset Ibu saat ini, peluang persetujuannya sangat tinggi."
Lusi langsung duduk lebih tegak. "Tolong ajukan."
"Baik."
"Gold juga."
"Baik."
"Platinum juga."
"Baik."
"Kalau ada yang lebih keren dari Black Card kasih sekalian."
Rina hampir kehilangan ekspresi profesionalnya, orang kaya jenis apa yang sekongkol ini?! Pikirnya dengan sedikit menahan sabar, namun tetap melayani dengan hormat dan profesional.
Setelah seluruh dokumen ditandatangani, pihak bank bahkan mengundang seorang manajer Private Banking untuk menyambut Lusi secara resmi.
Bukan karena dramatis.
Tetapi karena aset lebih dari seratus miliar rupiah memang membuatnya masuk kategori nasabah bernilai tinggi.
Di akhir proses, manajer itu berkata dengan sopan. "Terima kasih atas kepercayaan Ibu kepada Bank Nusantara. Kami berharap dapat mendampingi kebutuhan finansial Ibu dalam jangka panjang."
Lusi mengangguk tenang di luar, Namun di dalam hati. 'PRIVATE BANKING! BLACK CARD! AKU PUNYA KEHIDUPAN SEPERTI CEO DRACIN!'
Untung saja tidak ada yang bisa mendengar isi kepalanya.
Setelah keluar dari area Bank, senyum sumringah Lusi seketika sirna. Dia melirik sekeliling dengan perasaan sedikit was-was, "oke, jangan terlalu mencolok! Seperti biasa saja!"
Ia berjalan dengan kecepatan normal, hingga saat semakin dekat pada mobil jalan nya tanpa sadar semakin cepat.
Brak!
"Pak, ayo jalan!" Pintu mobil di tutup dengan cukup cepat sehingga menimbulkan bunyi yang lumayan.
Supir taxi mengangguk, mobil pun melaju dengan kecepatan normal. Supir sesekali melirik Lusi yang terlihat mencurigakan, saat berjalan mendekati mobil dia sudah menangkap gelagatnya yang terlihat waspada dan aneh. Sekarang dia melihat perempuan itu memeluk tas nya dan sesekali membuka tas nya seolah memastikan barang berharga di dalam sana baik-baik saja.
Deg!
Sebuah pemikiran liar mular menjalar, Supir itu melirik Lusi lagi. Mungkinkah dia baru saja merampok? Oh tidak!! Semakin di pikirkan semakin masuk akal, mungkin saja perempuan ini memiliki komplotan dan ia keluar lebih dulu untuk mengamankan rampasan. Seketika wajah supir menjadi pucat.
Selama perjalanan, keheningan mencengkam terasa di dalam mobil itu--- namun hanya berlaku bagi Supir taxi itu, sementara Lusi terlihat sibuk melihat ponselnya.
"Berhenti di hotel depan"
"B-baik nona..." Supir akhirnya menghembuskan napas lega, setelah kurang lebih setengah jam deg-degan. Dia pikir dia akan di jadikan kambing hitam atau di bunuh untuk menyingkirkan bukti.
Setelah Lusi turun, Supir taxi itu tanpa peduli pada bayaran setengah lagi, yang belum dia terima segera menginjak pedal gas. Terserah pada uang satu juta, dia tidak ingin ikut campur apapun. Nyawanya lebih penting!!
Lusi yang sedang mengeluarkan uang dari tas kecilnya seketika melongo. "Loh? Pak!! Bayaran sisanya!" Teriaknya.
Namun mobil sudah melaju cukup jauh.
"..."
semangat terus ya~~~😋😋😋
semangat terus ya~~~/Grin//Grin//Grin/
semangat terus/Proud//Proud//Proud/
semangat terus ya~~~/Hey//Hey//Hey/