Ini karya kesekian dari saya. Semoga kalian suka.
Adult romance.
Cerita absurd ini bermula ketika Yuna, gadis berusia 23 tahun yang menolak keras perjodohan yang orang tuanya atur.
Yuna yang memiliki kepribadian bebas dan suka semaunya sendiri memutuskan kabur dari Malang ke Jakarta dengan membawa banyak uang tunai. Niat hati ingin menghilang selama setahun agar orang tuanya sadar kalau dia juga punya hak mengutarakan pendapat dan memiliki hak penuh dalam memilih pendamping hidup.
Nahas, baru saja menginjakkan kaki di sana dia sudah menerima karma. Semua uang yang ada dibawa kabur oleh rampok.
Tanpa Yuna tahu ternyata uang yang dia bawa adalah harapan terakhir keluarga, usaha terancam bangkrut dan sang ayah pun terancam dipenjara.
Saat itulah dia bertemu James, si duda gagal move on. Pria itu membantu finansial keluarga Yuna dengan syarat Yuna harus bersedia menikah kontrak dengannya.
"Oke, aku setuju. Aku bakalan jadi istri kamu selama setahun. Tapi ingat, gak akan ada kontak fisik. Jika kamu melanggar kamu harus siap aku tuntut. Kamu juga nggak berhak mengungkit soal uang yang sudah kamu keluarkan untuk keluarga aku."
James terkekeh meremehkan. "Tenanglah emangnya apa yang kamu takutkan?"
"Tentu saja aku takut, Aku Yuna dan aku masih bersegel, siapa yang tahu kedepannya."
James kembali tertawa, nyalang dia menatap Yuna. "Tenanglah. Saya tidak berniat membuka segel tutup galon."
Cus baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adisty Rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duda Oh Duda
"Wah bagus juga ternyata seleranya Aska. Keren ini gaunnya, aku suka," gumam Yuna. Dia terus saja berputar-putar di depan cermin besar yang ada di kamar. Entah kenapa dia merasa gaun itu memberinya kepercayaan diri penuh. Dia merasa kecantikannya setara aktris Korea.
"Benar kata pepatah, baju itu tameng tak kasatmata," lanjut Yuna seraya tersenyum penuh percaya diri sebelum akhirnya sebuah ketukan pintu menghentikan itu semua.
"Siapa?"
"Ini Bibi, Non. Den James sudah nungguin di bawah."
Mengembuskan napas panjang, Yuna pun berjalan meninggalkan cermin dan mendapati Mae di depan pintu. Wanita tua itu menganga melihat tampilan Yuna yang luar biasa.
"Kenapa, Bik? Pangling, yah?" tanyanya sambil mengedipkan mata.
Si Mae mengangguk. Tentu saja gerakan kepala itu membuat Yuna makin tersipu. Hidungnya kembang kempis sebelum sebuah teriakan dari bawah membuyarkan kehaluan yang beberapa detik lalu sempat terbang tinggi.
"Ya sudah, lebih baik Non cepetan turun. Den James sudah nungguin dari tadi," kata Mae. Dia juga sempat kaget karena teriakan James yang begitu lantang memanggil Yuna.
Yuna mengiyakan. Dia turun dari lantai dua dengan membawa perasaan kesal. Nyalang matanya melihat James yang berdiri kaku di bawah sana.
"Gak sabaran banget, sih."
Hanya itulah kalimat yang terucap. Wajah Yang yang tadi cantik kini ditekuk sedemikian jelek hingga James yang awalnya kesal karena menunggu lama menjadi makin kesal. Dia dekati Yuna dengan kedua belah tangan yang sudah masuk ke dalam saku celana. Alisnya naik sebelah.
"Memangnya kamu siapa minta saya buat sabar? Ayo cepat! Saya gak punya waktu banyak," ketusnya lalu membalik diri.
Sumpah, celetukan sarkastis itu membuat Yuna yang kesal ingin sekali menjitak James yang besar kepala. Namun sayang, baru saja meniup kepalan tinju, si James kembali membalik diri hingga Yuna jadi salah tingkah sendiri. Gadis itu berpura-pura meregangkan otot-otot seraya terbahak.
"Wah ... udara malam ini agak panas ya?" ucapnya pada James yang jelas-jelas tidak ingin menjawab. Dia lewati James yang masih memasang wajah datar seraya mengutuk diri. Bisa-bisanya ketahuan sebelum melancarkan aksi.
Di teras depan, Yuna melihat Aska tengah serius menelepon seseorang. James pun tampak tegang. Pria itu terus menatap punggung sang asisten yang tak sadar dengan kehadiran mereka.
Yuna yang tak mengerti dengan situasi itu mencoba mengabaikan dan masuk lebih dulu ke dalam mobil. Sebuah bunyian jelas saja tercipta dan tentu saja menyadarkan Aska kalau sudah ada sang bos di belakangnya. Lekas-lekas dia membukakan pintu untuk James.
"Bagaimana, apa Kakek sudah bisa dihubungi?" tanya James begitu bokong menyentuh kursi.
"Maafkan saya, Tuan. Saya masih mencoba. Sepertinya semua orang yang berhubungan dengan perjalanan ini tidak ingin memberitahu ke negara mana kakek dan nenek Anda pergi. Sepertinya ...."
Belum juga selesai perkataan Aska, James sudah menarik gagang pintu dan menutupnya. Dia sungguh kesal pada ketidakmampuan untuk melawan sang kakek. Dia yakin Rossa bisa bersembunyi selama tujuh tahun belakangan ini pastilah ada campur tangan kakeknya itu. Hanya saja tak bisa mengerti, apa alasannya dan apa untungnya?
"Maafkan saya, Tuan. Saya akan berusaha lagi," ucap Aska ketika sudah berada di balik kemudi.
James tidak menjawab. Dia memejamkan mata dengan lengan berada di dahi. Dari gelagat James yang aneh itu Yuna menyadari ada yang tak beres. Pelan-pelan dia menggeser tubuh. "Kalian nyari Kakek buat apaan?" tanyanya.
James berjengket, mata pun seketika menyipit melihat Yuna yang begitu dekat dengannya. Tanpa sungkan dia dorong dahi Yuna. "Jangan ikut campur. Urusi saja urusanmu."
Hening. Yuna yang kesal karena tak dianggap hanya bisa manyun dengan mata tertuju ke luar jendela. Jalanan yang agak macet membuatnya lebih cepat bosan, belum lagi tidak ada yang bersuara. Entah kesambet apa dia mulai penasaran pada Aska.
"Aska." Yuna manggil tiba-tiba dan mulai terlihat antusias lagi.
Melirik kaca tengah mobil, Aska pun menyahut, "Iya, Nona. Ada apa?"
"Terima kasih untuk gaunnya. Seleramu bagus juga," ucap Yuna seraya melihat lagi baju yang membalut badan.
"Terima kasih atas pujiannya, Nona."
Hening lagi, Aska kembali fokus ke jalanan sebelum akhirnya Yuna tiba-tiba menyembulkan kepala. Jarak mereka begitu dekat hingga membuat Aska kaget. Hampir saja menabrak bemper mobil orang di depan.
"N-nona, bisa Anda duduk dengan tenang? Bahaya."
Peringatan Aska direspon Yuna dengan gelengan kepala. Gadis itu justru tersenyum ambigu.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Yuna tanpa berkedip sama sekali.
Si Aska mulai resah, dia tidak ingin masalah pribadinya dijadikan bahan pembicaraan. Namun, tak enak hati jika tidak menjawab. Mendadak dia merasakan ada simalakama dalam tenggorokan.
"Kalau belum kamu mau gak aku comblangin?"
Aska masih tak menyahut, dia makin serba salah dan takut karena Yuna tetap berada di posisi yang sama.
"Gimana? Mau gak? Aku punya temen yang baek, loh. Cantik lagi. Kayaknya cocok sama kamu," lanjut Yuna lagi. Penuh semangat sebelum akhirnya suara decakan James membuatnya memutar kepala dan melihat James sinis.
"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Yuna. Dia mulai naik darah.
James membuka mata, dia tarik Yuna hingga gadis itu terpaksa duduk dengan benar. Lekat dia menatap Yuna yang menekuk wajah.
"Bisa gak sih jangan menghayal? Kamu bilang apa tadi? Mau comblangin Aska? Yang bener aja. Kamu aja diputusin."
Nyes, darah Yuna makin berdesir. Dia bersedekap dan tanpa ragu membalas tatapan mengejek itu. "Lalu apa bedanya dengan kamu?''
"Ya bedalah. Saya duda berkelas. Bukan jones kayak kamu."
Asli, ingin Yuna remas mulut James yang selalu sukses membuatnya mati kata. Namun urung melakukan karena pasti akan terlihat makin menyedihkan jika sampai adu jotos dengan pria.
Menghela napas kesal, Yuna pun memalingkan wajah untuk kesekian kalinya. Matanya kosong menatap jalanan. Tiba-tiba dia merindukan mantan. Si kang ojek tampan sayangnya sudah jadi suami orang.
Tibalah di tempat tujuan—hotel mewah bintang lima. Semua tamu sudah banyak yang hadir dan mulai masuk ke dalam.
"Gak masuk, As?" tanya Yuna ketika melihat Aska tetap berdiri setelah membukakan pintu mobil untuknya.
"Tidak perlu," sela James yang keluar dari mobil. "Lagian kita hanya sebentar. Saya hanya akan menyapa mempelai pria. Habis itu kita langsung pulang."
"Gitu amat. Ajakin kek Aska sekali-kali. Siapa tau nemu jodoh di sana."
"Gak perlu," tolak James tegas.
"Jangan gitu, dong. Kasian Aska. Dia juga butuh hiburan. Iya 'kan, As?" Mata Yuna langsung terarah pada Aska. Pria itu tampak membulatkan mata—tak percaya.
Mata James pun langsung terarah ke Aska. "Kamu mau cari jodoh, As?"
"Tidak, Tuan. Saya belum mau menikah lagi," sahut Aska tanpa peduli ekspresi Yuna yang sudah terbengong.
"K-kamu duda, As?" tanya Yuna, hampir berteriak.
Aska tak menyahut, dia hanya berdeham dengan posisi berdiri tegak.
"Kenapa gak bilang-bilang?" sambung Yuna. Dia masih tak percaya kalau ternyata Aska duda.
Kini mata James terarah sinis ke Yuna. "Kamu udah denger, 'kan? Jadi jangan kepikiran buat jadi pahlawan untuk Aska. Dia gak butuh simpatik dari kamu. Paham!"
Yuna mendesis. Dia melirik tajam ke Aska lalu kemudian ke James.
"Mimpi apa aku semalam bisa berhubungan sama dua duda nyebelin kayak kalian. Sial," celetuknya lantas berlalu meninggalkan James dan Aska sebelum akhirnya sebuah benturan menghentikan langkah. Yuna terhuyung ke belakang. Beruntung ada yang sigap menangkap.
"Kamu gak apa-apa?"
***
Jangan lupa like komen dan vote. Mumpung hari Senin. Hehehe
Visual Aska. Cek.
Kuy ramaikan juga Ig ku.
@Riharigawajix
ngadepin bumil yang aneh... bau ketiak jg di bilang wangi...🤭😂😂
rasanya seperti di gigit semut.... tapi semut nya sekabupaten....😂😂😂