Area 21+
Harap bijak untuk membaca di bawah usia.
Clara wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak laki-laki. Keadaan rumah tangganya tak seperti rumah tangga yang lain, penuh dengan penderitaan dan kesusahan.
Suatu hari, saat mereka berdua bertengkar lagi ada seorang pria yang masuk tanpa permisi dan membeli Clara dan Reno.
Clara yang tersentak kaget dan bingung, "Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa aku di beli oleh pria yang tidak aku kenal sama sekali?"
"Aku di jual oleh suamiku sendiri! Apa aku sehina itu?"
"Kesetiaan ku yang ku berikan padanya dengan ketulusanku dibalas dengan hina seperti ini."
"Apa kesetiaan ku berujung Cerai seperti mimpi yang tak ku inginkan." Kata Clara dengan menangis sambil menidurkan Reno anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triya Widodo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
"Iya, Reno percaya Ma." balasnya tersenyum padaku.
"Kalau Papa sama Mama bertengkar pasti ada luka di tubuh Mama." imbuhnya membuat Tuan Abbas mengerutkan keningnya.
"Maksud Reno?" tanya Tuan Abbas.
"Mama sering di pukul dengan Papa yang jahat. Dan Mama..." jelasnya.
"Reno... Jangan di teruskan..." putus ku memotong jawaban Reno.
Tuan Abbas seraya menatap ku dengan tajam, " Apa yang kamu sembunyikan dari ku?" tanyanya.
"Saya jelas kan nanti di rumah, Tuan." balas ku seraya menunduk.
"Tuan, di sini banyak orang lebih baik di selesaikan di rumah." perintah Bibi Ani yang melihat kondisi toko semakin banyak pengunjung.
"Baik, apa sudah di bayar Bi?" tanya Tuan Abbas seraya berdiri dan menggendong Reno.
"Sudah, Tuan." jawab Bi Ani.
Mereka berempat pergi dari toko itu, Pak sopir bersama Bi Ani dan Tuan Abbas bersama Clara serta Reno di mobil yang di kendarai Tuan Abbas.
Sampai di rumah Tuan Abbas masuk ke kamarnya mengambil sebuah kotak, Reno segera menyusul Tuan Abbas ke kamarnya.
"Papa, kenapa Reno di tinggal?" tanya Reno sedih.
"Papa ada acara ke pesta hari ini, Reno mau ikut?" balasnya menaruh kotak di meja.
"Mau... Reno mau..." serunya dengan senang.
"Mama kemana, Ren?" tanya Tuan Abbas seraya duduk di depan Reno.
"Mama sedang mandi..." jawabnya menunjuk keluar.
"Reno, juga mandi dulu. Mau di mandiin dengan Papa?" Tuan Abbas menawarkan diri pada Reno.
"Mau..." balasnya seraya tersenyum.
Lalu Tuan Abbas menggendong Reno ke kamar mandi dan memandikannya seraya bergurau. Clara yang sudah selesai, dia mencari Reno ke kamar Tuan Abbas terdengar suara tawa Reno dan Tuan Abbas yang ramai.
Clara segera mengetuk pintu kamar mandi, "Tuan... Apa Reno di dalam?" tanyanya.
"Iya, masuklah. Saya sedang memandikan Reno." titahnya.
Clara langsung membuka pintu kamar mandi, terlihat Reno sedang asyik bermain air dan Tuan Abbas menggosokkan sabun di tubuh Reno.
"Kenapa yang terlihat hampir mukanya saja?" tanya ku segera mendekat.
"Kamu sedang menyindir saya..." kilah Tuan Abbas berhenti menyabun Reno.
Tawa ku pelan melihat caranya memandikan Reno, " Kalau anda memandikan anak kecil jangan seperti ini, Tuan. Anda bisa membuat kedua matanya pedih terkena sabun. Dan busanya juga bisa ke telan Reno." jelas ku.
Aku segera membilas tubuh Reno dengan air. Tuan Abbas melihat, " Apa salah ya memandikannya seperti itu?" tanya nya seraya mencuci tangannya.
"Iya, salah, Tuan. Terimakasih sudah mau memandikan Reno." ucap ku seraya tersenyum.
"Apa anda tadi di guyur oleh Reno?" tanya ku seraya melihat baju Tuan Abbas basah.
"Iya..." balasnya menatap ku.
Lalu Reno menyahut shower di samping ku dan menyemprotkan ke arah ku dan Tuan Abbas.
"Ren, jangan... Mama sudah mandi..." larang ku pada Reno seraya mengambil shower darinya.
"Papa minta shower nya ya... Mandinya sudah." tambahnya seraya menggendong Reno.
"Iya, Papa besok main air sama Reno ya." katanya memeluk Tuan Abbas.
"Iya, Reno ganti dengan Bi Ani ya." balasnya memakaikan handuk ke tubuh Reno.
"Reno mau sama Mama." sahutnya menunjuk ke arah ku yang sedang menaruh shower.
"Lihat Mama yang sedang basah karena ulah jahilnya Reno." terangnya seraya menatap ke arah ku.
"Iya, lihat..." jawab Reno, aku pun berjalan mendekat.
"Mama, Reno minta maaf..." sahutnya seraya menunduk.
"Iya, tidak apa-apa, Sayang." balas ku seraya tersenyum.
Usai menggendong Reno, Tuan Abbas memanggil Bi Ani melalui telepon. Bi Ani datang dengan tergesa, "Iya, Tuan." ucapnya.
"Tuan dan Nyonya kenapa bajunya basah?" tanya nya seraya mendekat pada Reno yang sedang di ambang pintu kamar mandi.
"Reno yang mengguyur kita, Bi." pungkasnya seraya memberikan kotak yang berukuran sedang.
"Bantu menggantikan Reno baju, Bi." titahnya.
"Iya, Tuan." balas Bibi Ani lalu mengajak Reno ke kamarnya.
"Tuan, saya permisi mau ganti di kamar saya..." ucap ku seraya membawa handuk untuk menutup tubuh ku.
"Berganti lah di sini..." balasnya membawa kotak besar seraya berjalan mendekat.
"Pakailah gaun ini, malam ini kita datang ke acara anniversary direktur utama." imbuhnya menyodorkan kotak itu.
"Iya, apakah anda bisa memberi jalan saya?" tanya ku menerima kotak besar yang pasti sudah berisi gaun mewah.
"Tidak bisa... Setelah berganti di sini akan saya beri jalan." kilahnya menyeringai tepat di depan ku.
Orang ini sangat mesum. Batin ku seraya kembali masuk kamar mandi.
"Kenapa anda juga ikut masuk?" tanya ku antusias.
"Membantu mu berganti gaun itu..." jawabnya menunjuk kotak yang ku bawa.
"Saya bisa sendiri, Tuan. Dan saya bukan anak kecil seperti Reno." sambung ku kesal.
"Hm... Saya tahu, tapi kamu belum pasti bisa untuk menarik resleting saat terpakai di tubuh mu itu." jelasnya mengambil kotak lalu menaruhnya.
Orang ini semakin hari semakin menyebalkan ya...
Dan, ngapain jantung ku mulai berdebar tak karuan ini. Nggak sinkron dengan otak ku. Batin Clara seraya menatap tajam Tuan Abbas.
Suka banget godain calon istri...
Mukanya juga merah, baru kali ini lihat wanita polos kayak dia. Batinnya Abbas seraya tersenyum.
"Apa yang anda pikirkan?" tanya Clara kesal.
"Nggak ada yang saya pikirkan." jawabnya seraya memegang baju Clara.
"Tuan, anda ini sangat mesum." pekik Clara menepis tangan Tuan Abbas.
"Sebelum menjadi istri saya, saya harus tahu semuanya. Mulai dari karakter kamu sampai dalamnya." jelasnya tak marah dan menyeringai genit.
"Anda ini sangat dingin dan tegas dengan orang lain. Kenapa di hadapan saya anda sangat aktif?" kesalnya menyindir Tuan Abbas.
"Karena kamu calon istri ku dan ibu dari Reno anak ku." jelasnya seraya membuka kancing baju Clara.
"Apa anda sudah jelas, Nyonya Clara Lais Jareel." tegasnya masih membuka kancing baju Clara lalu melepasnya.
"Jangan... Aku mohon... Saya bisa sendiri dan juga saya sangat malu kalau anda seaktif ini di depan saya." lirihnya seraya menunduk dan menyilang kan kedua tangannya.
"Apa dia tidak tahu maksud saya?"
Hanya ingin melihat bekas luka yang pernah ku lihat tadi siang. Luka lebam di area punggung, pinggang dan kakinya. Batin Tuan Abbas seraya menaruh di keranjang kotor.
"Tunggu di sini..." tegasnya seraya pergi keluar.
Lalu dia kembali membawa kotak obat.
"Balikan badan mu." titahnya pada Clara membuka kotak obat.
"Anda mau ngapain?" tanya Clara bingung.
"Mengobati luka lebam mu." balasnya menatap ku.
"Saya sudah tidak apa-apa, Tuan. Ini pun juga sudah tidak sakit." sanggah ku menolak.
"Berapa kali harus berbohong?" tanya nya dengan tegas.
"Menurut saja tanpa menolaknya." tambahnya seraya menatap tajam.
"Baiklah." jawab ku menurut.