Erika yang merupakan gadis cantik dan baik, harus menikah kontrak dengan pria yang sudah merebut kesuciannya.
Perjanjian mereka hanya sampai Erika melahirkan seorang anak untuk Bima.
Tanpa di duga Erika melahirkan bayi kembar, tapi Erika tapi dia merahasiakan dirinya mengandung bayi kembar. Dan setelah lahir, Erika mengambil salah satu dari bayinya, dan satunya lagi di ambil oleh Bima.
Akankah Erika bisa bertemu lagi dengan bayi kembarnya yang bersama Bima, dan apakah Bima dan Erika bisa menjadi keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AngelKiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putus kontrak.
Kini pertaruhan nyawa Erika terbayar sudah, kedua bayinya lahir dengan selamat dan sehat. Dan kondisi Erika pun masih lemah pasca operasi.
"Ibu, tolong bawa dulu salah satu bayi ku." Ucap Erika pada ibunya.
"Baik nak.." Jawabnya.
Terlihat ibu Erika membawa salah satu bayi Erika untuk di sembunyikan, sementara satunya lagi ada di samping Erika.
Terlihat Erika memandang lembut bayinya itu, bayi yang akan di ambil darinya.
"Ibu harap, ayahmu berubah pikiran. Dan tak memisahkan kita berdua nak." Ucap Erika dengan nada lembut.
Ingin rasanya dia menggendong bayinya itu, tapi tubuh dan perutnya masih sakit akibat operasi sesar yang baru saja dia lakukan.
Brak...
Terdengar pintu ruang rawat di buka dengan kasar, terlihat Fania menatap Erika dengan tatapan mengejek.
"Ini.." Ucap Fania sambil melempar sebuah dokumen.
"Apa ini?" Tanya Erika.
"Itu dokumen kontrak nikah kamu sama mas Bima, dan kau lihat mas Bima udah menandatangani surat pemutusan kontrak dan sekarang kamu boleh pergi."
Deg...
Mata Erika membulat sempurna, "Apa kau tak salah? Tapi kenapa?" Tanya Erika.
"Kau masih tanya kenapa? Hello... Lo sadar yah, hubungan kalian hanya sebatas kontrak gak lebih. Dan perjanjiannya gimana? kalian bakalan pisah saat kamu udah ngelahirin anaknya mas Bima."
"Tapi saya ingin bertemu dengan mas Bima."
"Cih, mas Bima gak mau ketemu sama Lo. Jadi dia nyuruh aku buat ngasih ini ke kamu dan sekarang kamu boleh pergi."
"Tapi setidaknya saya ingin membawa pakaian yang masih ada di Villa."
"Pakaian, ingin kamu gak di perbolehkan bawa satu barang pun pemberian mas Bima. Jadi kamu pergi sekarang tanpa membawa apapun." Maki Fania.
Lalu Fania berjalan ke arah bayi milik Erika. "Mau bawa kemana anak ku?"
"Cih, ini akan jadi anak ku dan mas Bima. Inget perjanjian kalian.." Ucap Fania sambil menggendong anak Erika.
"Ku mohon, biarkan aku menggendongnya untuk yang terakhir kali."
"Oke, untuk yang terakhir kali."
Lalu Fania memberikan anak itu pada Erika untuk di gendong, meski Erika masih merasa sakit di perutnya tapi dia tak peduli yang terpenting sekarang adalah memeluk anaknya karena ini adalah pertemuan pertama dan terakhir untuk mereka berdua.
"Sudah, kembalikan..." Fania langsung merebut paksa anak Erika dari pelukan Erika.
Erika hanya bisa menangis saat anaknya di bawa pergi oleh Fania, terlebih lagi dia tak menyangka jika Bima tak mengatakan sepatah katapun untuknya.
"Apa dia tak pernah memiliki perasaan untuk ku, lalu sikap lembutnya bukan untuk ku tapi untuk anaknya yang sedang ku kandung.." Ucap Erika dengan tatapan sendu.
Lalu ada beberapa perawatan yang tiba-tiba masuk ke ruang rawat Erika.
"Ada apa ini?" Tanya Erika.
"Maaf, Bu. Anda di suruh di pindahkan ke rumah sakit yang ada di luar kota."
"Oleh siapa?"
"Dari atasan kami, dia mendapatkan perintah dari Pak Bima." Jawab sister itu.
"Tolong, telpon ibu dan juga adik saya
Biar mereka ikut bersama saya."
"Baik, Bu."
Di benak Erika, dia tak menyangka jika Bima sungguh sudah tak ingin melihat wajahnya lagi, sampai Bima mengusir Erika dari kota ini.
...
Tak terasa 14 hari sudah berlalu...
Fania sangat kesal di rumah karena mendengar tangisan bayi wanita hina itu.
"Bisakah kau diam, dari tadi kau terus saja menangis. Kupingku terasa mau pecah mendengar tangisan mu itu.." Maki Fania pada bayi yang masih tidak tahu apa pun.
"Arg... Hey, kau. Cepat urus anak itu, jangan sampai dia menangis lagi."
"Bai, nona." Jawab Pelayan itu.
Tapi Fania langsung menatap tajam wanita di hadapannya itu. "Nona? kaus hanya seorang pelayan tapi tak tahu sopan santun. Beraninya kau menyebut ku Nona. Dengarkan semuanya, sekarang aku Nyonya di rumah ini, dan kalian semua harus memanggil ku Nyonya.." Teriak Fania kepada seluruh pelayan yang ada di Villa Bima.
"Baik, Nyonya."
"Bagus.."
Lalu kepala pelayan pun menghampirinya Fania untuk bertanya sesuatu. "Nyonya?"
"Ada apa?"
"Apa kita harus memberitahukan Tuan, jika Nyonya Erika saat itu mengalami pendarahan dan sekarang dia sudah pergi."
"Jangan katakan jika dia mengalami pendarahan, katakan saja dia pergi karena dia perjanjian kontrak mereka sudah selesai."
"Tapi.."
"Gak ada tapi-tapian, sekarang kamu pergi deh."
"Bai, Nyonya.."
Tak beberapa lama pintu terbuka menampilkan seorang pria tampan yang tak lain adalah Bima.
"Mas Bima.." Teriak Fania sambil memeluk Bima.
"Lepaskan.." Ucap Bima mendorong Fania.
"Ih,.."
Lalu mata Bima melihat ke arah pelayan yang sedang menggendong bayi.
"Bayi siapa itu?" Tanya Bima.
"Ini bayi, Nyonya Erika. Tuan.." Jawab Pelayan.
"Erika sudah melahirkan?" Tanya Bima dengan tatapan senang.
Lalu Bima langsung menghampiri pelayan itu, "Biar aku yang gendong." Ucap Bima dengan tatapan bahagia.
Lalu Bima pun segera berjalan ke kamar Erika, dia ingin melihat istrinya itu.
Tapi setiba nya di kamar, Bima tak menemukan sosok Erika dimana pun.
"Erika, kau dimana?" Panggil Bima yang terus mencari di setiap sudut kamar.
Tapi hasilnya nihil, Bima tak menemukan keberadaan Erika dimana pun.
"Mas Bima." Panggil Fania.
"Kemana Erika?" Tanya Bima.
Dalam hati Fania sudah sangat kesal, karena dari tadi Bima terus saja mencari keberadaan Erika.
"Erika sudah pergi." Jawab Fania dengan wajah sedih.
"Pergi? Pergi kemana? Dan kenapa di pergi." Tanya Bima.
"Katanya, karena dia sudah melahirkan jadi kontrak pernikahan pun sudah selesai. Jadi Erika langsung pergi setelah melahirkan."
"Pergi? Begitu saja?" Bima menatap tak percaya ke arah Fania, dia tak percaya wanita yang baik dan perhatian kepadanya langsung meninggalkannya di saat wanita itu melahirkan anaknya.
"Iya mas, dan Erika juga mengatakan jika dia kini sudah terbebas dari belenggu mu, dan juga bayi mu. Karena selama hamil, Erika selalu merasa tersiksa karena dia mengandung anak pria yang sudah menghancurkan masa depannya."
"Dia mengatakan itu?" Tanya Bima dengan tatapan dingin.
"Iya mas.."
"Kau boleh pergi."
"Tapi mas..."
"Ku bilang pergi..." Teriak Bima. Dengan cepat Fania pun segera pergi ke luar.
Bima lalu menidurkan bayinya di atas ranjang, entah kenapa kepergian Erika memberikan luka di hatinya.
"Sebegitu bencinya kau pada ku Erika, sampai kau langsung pergi setelah melahirkan anak ku. Dan sebegitu menjijikkan mengandung anakku, kenapa? kenapa kau seperti itu?"
Bima terus saja bertanya-tanya kenapa Erika begitu tega meninggalkannya begitu saja, setidaknya dia harus menunggu Bima dulu.
"Kenapa dia langsung pergi, bahkan berkas-berkas perjanjian pun masih ada pada ku. Belum di ku tanda tangani, dan bahkan kita belum mengurus surat perceraian."