NovelToon NovelToon
Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Single Mom
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐

Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebahagiaan kecil diperjalanan pulang

Perjalanan pulang dari sekolah ke rumah mereka sebenarnya tidaklah jauh, hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit saja jika dikendarai dengan santai. Namun bagi Dika, sepuluh menit itu rasanya selalu terasa istimewa, apalagi hari ini setelah ia berhasil melewati hari terakhir ujian kenaikan kelas dengan perasaan lega dan bangga.

Di atas motor matic baru yang berjalan mulus tanpa suara berisik seperti motor lamanya, Rania menyetir dengan tenang. Angin pagi menjelang siang yang sejuk meniup lembut wajah mereka bertiga, menerbangkan sedikit rambut Rania yang tertutup helm, sementara Dika duduk di belakang dengan tangan melingkar erat di pinggang ibunya, dan si kecil Naya duduk manis di depan, sesekali bersenandung pelan dengan nada yang tak jelas namun terdengar begitu ceria.

"Ibu," panggil Dika memecah keheningan kecil di antara suara mesin motor yang halus. "Warung kita sudah tutup belum, Bu?"

Rania sedikit menoleh ke samping agar suaranya terdengar jelas oleh putranya, sambil tetap fokus menyetir di jalanan yang mulai agak ramai oleh kendaraan lain. "Belum kok, Nak. Mbak Siti masih ada di sana, dan tadi pagi Ibu lihat masih ada cukup banyak barang dagangan yang belum habis terjual. Biasanya kan Mbak Siti baru menutup warungnya nanti habis salat Dzuhur, kalau dagangannya sudah mulai sepi atau tinggal sedikit saja. Jadi nanti sampai rumah, kamu masih bisa menyapanya dulu."

Dika mengangguk puas mendengar jawaban itu. Ia memang sudah menganggap Mbak Siti bukan sekadar pegawai yang dibantu ibunya, melainkan sudah seperti bagian dari keluarga sendiri. Sejak beberapa bulan lalu, atas usul Rania dan persetujuan Mbak Siti sendiri, wanita itu sudah ikut tinggal bersama mereka di rumah kecil itu. Rania merasa beruntung sekali memiliki Mbak Siti selain rajin dan jujur, wanita itu juga sangat penyayang pada Dika dan Naya, selalu sigap membantu mengurus rumah, memasak, atau sekadar menemani Naya bermain saat Rania harus sibuk mengurus pesanan nasi kotak atau pergi belanja ke pasar.

Kehadiran Mbak Siti rasanya mengisi sedikit kekosongan yang ada di rumah itu, membuat suasana menjadi lebih hidup dan tidak sepi lagi.

Belum sempat pikiran Dika melangkah lebih jauh, matanya menangkap papan nama Indomaret yang berwarna biru dan merah terlihat jelas di pinggir jalan, tak jauh dari tempat mereka berada saat ini. Sebuah ide manis langsung melintas di kepalanya, dan tanpa ragu ia segera memohon kepada ibunya.

"Bu... Buu... sebentar ya berhenti di sana, di Indomaret itu," pinta Dika sambil menunjuk ke arah toko serba ada itu dengan jari telunjuknya yang kecil.

"Kenapa, Dik? Ada yang mau dibeli?" tanya Rania sedikit bingung namun tetap mengurangi kecepatan kendaraannya, bersiap menepi jika memang ada keperluan.

"Iya Bu, boleh beli es krim nggak? Hari kan hari terakhir ujian, jadi... hadiah sedikit aja boleh ya?" kata Dika dengan nada memelas namun penuh harap, wajahnya menempel sedikit ke punggung ibunya.

Belum sempat Rania membuka mulut untuk menjawab, suara cempreng si kecil Naya tiba-tiba terdengar menyahut dengan antusias sekali dari depan, padahal sama sekali tidak ditawari atau diajak bicara.

"Mauuu! Naya mauuu juga! Es krim enak!" teriak Naya sambil menepuk-nepuk tangan kecilnya berulang kali, matanya berbinar-binar senang seolah ia sudah bisa merasakan manisnya es krim itu sekarang juga.

Rania tertawa kecil mendengar kelakuan kedua anaknya itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis, lalu membelokkan motornya masuk ke halaman parkir Indomaret yang cukup luas itu. "Ya sudah, ya sudah... Ibu belikan. Tapi ingat ya, makan siang dulu nanti, jangan sampai sakit perut dan ganti baju dulu biar enggak kotor kena lelehan es krimnya," pesannya lembut sambil mematikan mesin motor dan menurunkan standar samping.

Mereka bertiga masuk ke dalam toko ber-AC itu, udara dingin seketika menyambut dan membuat mereka merasa nyaman setelah terpapar panas matahari sejenak. Dika langsung berjalan sigap menuju lemari pendingin tempat es krim disimpan, matanya berbinar melihat berbagai jenis dan rasa yang tersusun rapi di sana. Ia memilih rasa cokelat untuk dirinya sendiri, sementara Naya langsung menunjuk yang berwarna oranye rasa jeruk yang kemasannya bergambar kartun lucu. Rania juga tak lupa mengambil satu bungkus lagi rasa vanila, teringat akan sosok Mbak Siti yang masih berjaga di warung.

Setelah membayar di kasir dan menikmati es krim sambil duduk sebentar di depan toko, karena Naya tidak sabar ingin segera memakannya, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang yang tinggal beberapa ratus meter lagi.

Rania memperhatikan dari kaca spion betapa bahagianya wajah kedua buah hatinya. Dika terlihat santai, tertawa kecil mendengar ocehan Naya yang tak ada habisnya sambil sesekali menjilat es krimnya dengan hati-hati agar tidak menetes. Pemandangan seperti ini adalah hal yang paling Rania syukuri. Dulu, tak lama setelah mereka ditinggalkan Bara tanpa kejelasan nasib dan kabar, Rania sering kali menangis dalam diam melihat perubahan besar pada diri Dika. Anak laki-laki kecilnya itu tiba-tiba berubah menjadi pendiam, terlalu serius, dan seolah-olah beban berat dunia ada di pundak kecilnya. Dika seakan dipaksa dewasa oleh keadaan, berusaha menjadi sosok pelindung untuk Rania dan Naya, menahan segala sedih dan takutnya agar ibunya tidak semakin bersedih. Rania dulu sering merasa bersalah dan sedih melihatnya tumbuh terlalu cepat, kehilangan masa kecil yang seharusnya penuh tawa dan bermain.

Namun perlahan seiring berjalannya waktu, dengan kasih sayang, dukungan, dan kebersamaan mereka, Dika perlahan kembali menjadi anak seusianya. Kembali ceria, kembali berani meminta hal-hal sederhana seperti es krim, kembali banyak bicara dan tertawa lepas. Dan hari ini, melihat Dika yang begitu bersemangat dan percaya diri, hati Rania terasa penuh sekali dengan rasa syukur dan bahagia yang mendalam.

Tak lama kemudian, motor matic berwarna merah marun itu berbelok masuk ke halaman rumah kontrakan mereka yang sederhana namun selalu terlihat rapi dan asri. Tepat seperti dugaan Rania, warung kecil yang ada di bagian depan rumah itu masih terbuka lebar.

Mbak Siti terlihat sedang duduk di balik meja kayu, menyusun kembali piring-piring agar terlihat lebih rapi, sambil sesekali menyapa tetangga yang lewat. Begitu melihat kedatangan mereka, wajah Mbak Siti langsung berubah cerah.

"Eh, sudah pulang nih?" sapa Mbak Siti dengan suara ramah dan hangat. Ia segera berdiri tegak, matanya langsung tertuju pada Dika yang baru saja turun dari motor dan melepas helmnya. "Gimana, Dik? ujian terakhir tadi? Pasti lancar dan semua bisa dikerjakan kan?" tanyanya bertubi-tubi dengan antusias, seolah ia sendiri yang sedang ikut bersekolah dan mengikuti ujian itu.

Dika tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi susunya yang putih, dadanya dibusungkan sedikit dengan rasa bangga. Ia berjalan mendekati meja warung, lalu menjawab dengan nada lantang dan penuh percaya diri, "Bisa dong, Mbak! Semuanya bisa aku kerjain, lho!

Soal-soalnya tadi nggak ada yang susah banget, dan aku udah cek ulang semuanya sampai dua kali. Aku yakin nanti pasti bisa naik ke kelas 3 SD dengan nilai yang bagus deh!"

"Wah, hebat sekali kamu nak! Pasti Ibu bangga banget nih punya anak pintar dan rajin kayak kamu," puji Mbak Siti sambil menepuk-nepuk pelan bahu Dika dengan lembut.

Di sudut halaman, Rania berdiri diam sejenak sambil memegang tangan kecil Naya. Ia mendengarkan percakapan itu sambil tersenyum manis, matanya sedikit memanas menahan rasa haru.

Benar-benar lega rasanya melihat Dika kini kembali bersinar seperti ini. Bukan lagi anak kecil yang pendiam dan penuh tanya seperti di awal perpisahan itu. Keadaan memang pernah memaksanya tumbuh lebih cepat, namun perlahan ia mendapatkan kembali masa kecilnya yang berwarna.

Dika seolah teringat sesuatu, ia langsung mengeluarkan bungkus es krim rasa vanila yang tadi disimpannya di saku tas kecilnya. "Ini buat Mbak Siti, tadi aku sama Ibu beli di Indomaret. Es krimnya lembut dan enak rasanya," kata Dika sambil menyodorkan es krim itu ke depan wanita yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu.

Mbak Siti menerimanya dengan senyum yang makin melebar dan mata yang berbinar senang. "Waduh, makasih banyak ya, Dika. Kamu baik dan perhatian banget sih sama Mbak. Sini nanti kalau sudah habis mainan atau istirahat, cerita-cerita lagi ya sama Mbak soal sekolah kamu."

Rania pun akhirnya melangkah mendekat, memanggil kedua anaknya agar segera masuk ke dalam rumah. "Sudah ayo, Dik, Naya... masuk dulu yuk. Nanti es krimnya keburu meleleh kalau dimainin terus. Ibu mau siapkan air cuci tangan dan nanti kita makan siang bareng-bareng ya," ucapnya lembut namun tegas.

Dika mengangguk patuh, melambaikan tangan sekali lagi pada Mbak Siti, lalu berjalan riang masuk ke dalam rumah diikuti oleh Naya yang masih sibuk memegang sisa es krimnya. Hari ini terasa begitu indah bagi Rania. Ujian selesai, motor baru sudah ada, dan yang paling penting: senyum ceria serta semangat hidup kedua anaknya kini bersinar lebih terang dari sebelumnya.

Masalah dan tantangan mungkin masih akan datang silih berganti, namun Rania tahu, selama mereka saling menjaga, saling menyayangi, dan berjuang bersama seperti ini, rumah kecil mereka akan selalu menjadi tempat paling hangat dan paling bahagia di dunia.

1
Yayang Risa Always Together
Rania kamu wanita tangguh banget walau kecapekan tetap memasak buat makan malam
Yayang Risa Always Together
Rania anak anakmu luar biasa ngga pernah mengeluh dengan keadaan dulu ya
Yayang Risa Always Together
Rania rezeki kamu semakin banyak ya apalagi bisa beli motor baru
❤️⃟𝐖ᵃ𝐟☘𝓡𝓳♉ᵘᵐᵃsʸ𝐀⃝🥀🤎⒋ⷨ͢⚤
Anak-anak pasti senang banget kalo liburan ke Pantai, Dika seneng banget dapat kabar mau liburan ke Pantai semoga perjalanan liburan mu nanti menyenangkan ya Dika
@Yayang Risa Couple Happy
Dika ternyata pengen liburan ke pantai ya sampai ajak ibunya
@Yayang Risa Couple Happy
Rania kamu punya anak yang cerdas dan pintar bahkan ngga pernah mengeluh
@Yayang Risa Couple Happy
Alhamdulillah Rania beli motor baru bahagia banget pasti ya
@ Yayang Risa Selamanya
Rania kamu ibu bijak mau menuruti kemauan Dika
@ Yayang Risa Selamanya
Naya kamu selalu ceria dimanapun kamu berada ya
@ Yayang Risa Selamanya
Ibumu pasti senang Dika karena kamu sudah selesai ujian
Risa dan Yayang
Rania kamu ibu yang kuat dan tangguh buat Naya dan Dika
Risa dan Yayang
Rania bisa beli motor baru pasti senang banget rasanya ya
Risa dan Yayang
Dika hebat sudah menyelesaikan ujian dengan baik
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
apakah dika tau ayahnya pergi jau
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
apakah dika tau ayahnya pergi jauh
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
kasian dika dibuly karena jrng bareng ayahnya
𝐀⃝🥀🧡⃟уαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤
jadi rania itu ga gampang di tinggal sang suami, sementara anaknya selalu menanyakan kabar ayahnya
Suamiku Paling Sempurna
Rania kamu wanita pekerja keras. banget padahal kamu bisa bayar mbak Siti tanpa kamu membantu dia tapi kamu tetap membantu
Suamiku Paling Sempurna
Dika kalau nilai kamu tinggi pasti ibumu senang dan bangga
Suamiku Paling Sempurna
Alhamdulillah Rania bisa beli motor baru dan Dika juga sudah selesai ujian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!