Nikah SMA
˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ̮ ❝᷀ົ⁎⁺˳✧˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ
Taksa Liam. Ketua OSIS tampan, berkarisma. Namun dingin dan cuek, tak tersentuh.
Iva Kayra. Supel, cerewet, cenderung pemalas, dan bukan gadis populer.
Mereka harus menikah di usia muda demi memperluas wilayah kekuasaan kedua orang tuanya, di dalam dunia bisnis.
Bagaimana kisah pernikahan mereka? Dengan sifat yang bertolak belakang, akankah keduanya bahagia dengan pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk
Seorang pemuda yang baru masuk di sekolah menengah pertama itu sedang asik berjalan-jalan bersama teman-teman sebayanya di sebuah Mall.
Mengisi waktu liburan sebelum mereka kembali berkutat dengan banyaknya tugas sekolah, apalagi bagi anak yang baru masuk pasti seminggu pertama mereka akan sibuk dengan kegiatan MOS.
"Liam, itu papa kamu 'kan." salah satu temannya menepuk bahu pemuda berusia tiga belas tahun itu.
"Mana?" pemuda itu menoleh, mengikuti arah telunjuk temannya.
"Eh iya, sedang apa papa di sini? Bukannya kata mama kalau dia sedang ke luar kota." gumamnya, kemudian dia berjalan hendak menghampiri lelaki dewasa yang sedang mengantri di stand es krim dengan banyak kantong belanjaan di tangannya.
"Papa!"
Dalam jarak empat meter, Liam mendengar seorang anak seusianya memanggil lelaki yang diklaim sebagai papanya.
"Sudah ke toiletnya?" lelaki itu mengusap puncak kepala anak itu. Anak itu menganguk.
Setelah itu Liam tidak begitu menyimak yang mereka bicarakan, yang pasti dia melihat bahwa lelaki itu sepertinya sedang bahagia dengan anak yang dia tebak adalah anaknya.
Tidak lama seorang perempuan bergaya modis pun datang ikut nimbrung dengan kedua lelaki berbeda usia itu. Mereka terlihat sangat bahagia.
kedua tangan Liam membentuk bulatan kecil, buku-bukunya mengeras sampai memutih. Rahangnya mengeras, serta wajah yang merah padam. Ketika melihat lelaki itu mencium perempuan itu terang-terangan di depan anak lelaki itu.
Tanpa sadar Liam mengikuti mereka sampai ke parkiran. Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi saat ini. Kenapa papanya bisa melakukan itu di belakang mamanya. Padahal selama ini papanya selalu bersikap baik pada mereka berdua, dia juga terlihat sangat mencintai mamanya. Lalu kenapa?
"Papa!" Liam tidak tahan terus bersembunyi di balik pilar, perlahan dia mendekati papanya.
Lelaki yang tengah sibuk memasukan barang-barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil itu menoleh, dia nampak sekali terkejut. Dengan langkah tergesa dia segera membuka pintu mobil bagian kemudi.
"Sayang, ada apa?" tanya perempuan itu saat melihat Anggara masuk tergesa dan segera menghidupkan mobilnya, dia melirik putranya yang sedang asik bermain ponsel di belakang.
"Nanti aku jelaskan!" jawabnya cepat, Anggara melihat Liam berlari mengikuti mobilnya dari kaca spion tengah. Hatinya mencelos tidak tega, tapi tidak ada pilihan untuk saat ini selain pergi.
"Papa!!!" Liam terjatuh, lututnya yang tidak tertutup celana berdarah akibat benturan keras dengan aspal.
"Papa? Kenapa?" Liam menangis sejadi-jadinya, sakit di kedua lututnya tidak sebanding dengan sakit hatinya.
Laki-laki yang selama ini dia banggakan pada dunia sebagai superhero-nya ternyata seorang penjahat. Selama ini dia berkamuplase layaknya seorang hulk, ketika sifat aslinya datang maka hulk itu bukanlah hero tapi moster. Mulai saat itu Liam bersumpah tidak akan mengangap papanya sebagai hero lagi.
"Mulai sekarang Liam tidak akan pernah menganggap papa hidup." ucap Liam menggebu.
"Liam benci papa!!!!" teriaknya dengan kencang.
"Taksa, hei kamu kenapa?" Iva terbangun dengan panik saat mendengar Taksa yang tidur di sampingnya berteriak.
"Astagfirullah, badan kamu panas lagi. Taksa, kita ke dokter saja ya." Iva bergerak mencari benda pipihnya, dia akan menghubungi mamanya Taksa karena tidak mungkin membawa tubuh yang lebih besar itu sendirian.
"Jangan," Taksa menarik tangan Iva dan mendekapnya.
Kening Iva berkerut, lelaki itu masih terpejam tapi kenapa tadi dia bisa mencegahnya.
"Taksa, kamu sudah bangun?" sebelah tangan Iva mengusap kening Taksa yang penuh oleh keringat dingin.
"Jangan tinggalin aku! Aku mohon!" ucap Taksa sekali lagi.
"I-iya Taksa, aku tidak akan pergi kok. Kamu tenang aja oke!" jawab Iva walau di sendiri tidak paham maksud ucapan Taksa.
"Kamu kenapa sih, Taksa?" Iva menghela napas panjang dia kembali berbaring di samping Taksa, seraya mengusap lembut pipi suaminya.