Blurb :
"Saya harus menikahi Hanin Minggu depan," ucap Ammar dengan berat hati.
Mereka sama-sama terdiam membisu selama beberapa waktu.
"Selain itu ... saya juga mohon izin untuk menghapus kontakmu dari ponsel ini," lanjutnya seakan ingin menghapus semua jejak tentang Nadeen.
Sepintas, kita bisa memilih jodoh yang kita impikan. Menjalin hubungan dengan seseorang yang kita katakan memiliki kecocokan. Namun, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi di luar keinginan.
Jangan bersedih, Nadeen. Allah akan mengatur semua menjadi seindah-indahnya kisah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Tawakal¹⁹
Waqtu sahar bih yatiib
alhal lahlisshofa
wabiyajudil ali
bil fadliahlilwafaa
Telah lahir cahaya penerangan jiwa
manusia mulia penyejuk jiwa
Telah lahir cahaya penerangan jiwa
manusia mulia penyejuk jiwa
burung - burung bernyanyi
matahari berseri
datang pujaan hati
sebagai obat diri
sebagai obat diri
Waqtu sahar bih yatiib
alhal lahlisshofa
wabiyajudil ali
bil fadliahlilwafaa
Sayup-sayup suara itu selalu terdengar pelan dari kamar Nadeen. Ia tengah menidurkan bayinya dengan alunan salawat seperti yang ia lakukan setiap malam.
Ayahnya masuk mengendap-endap karena khawatir akan membangunkan bayi laki-laki yang mulai terlelap itu.
“Alif sudah tidur?” bisiknya. Dia duduk di sebelah Nadeen dengan gerakannya yang pelan dan hati-hati.
Nadeen tersenyum sambil mengangguk.
“Dia gak rewel, kok, Pah. Setelah mendengar salawat, tidurnya langsung nyenyak.” Tangannya masih bergerak menggoyangkan bouncher tempat bayinya tertidur lalu menatap ayahnya. “Maaf, ya, Pah. Alif pasti merepotkan kalau ikut Papa kerja.”
Damar menggeleng pelan. “Seperti katamu, dia gak pernah rewel, makanya Papa senang kalau dia ikut.” Dia turut memandangi bayi laki-laki itu lalu teringat akan seseorang. “Teman Papa ... dia sangat menyukai Alif, Nad.”
“Benarkah?” Ada binar yang terpancar dari wajah Nadeen.
“Dia bahkan ....” Damar menghentikan ucapannya. Di susul tatapan Nadeen yang menunggu ayahnya untuk melanjutkan ucapannya itu.
“Katanya ... mau jadi ayahnya Alif.”
Nadeen tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Ada-ada saja temen Papa itu.”
“Papa pikir dia sedang bercanda.” Damar menghela napas sambil menatap wajah putrinya. “Tapi ....” Dia kembali menghentikan ucapannya.
“Alif memang menggemaskan. Siapa pun yang melihatnya, pasti jatuh hati, kan, Pa.”
“Tapi ... barusan ayahnya teman Papa menelepon, Nad.” Damar semakin menatap lekat.
“Jangan bilang, ayahnya teman Papa jatuh hati juga pada Alif.” Nadeen terkekeh. Sedetik kemudian dia menutup mulutnya rapat-rapat sebelum suaranya mengganggu tidur Alif.
“Teman Papa benar-benar ingin melamar kamu.”
Nadeen memutar wajahnya. Menatap sang ayah dengan dahi yang mengkerut sempurna.
“Dia serius,” lanjut ayahnya untuk meyakinkan Nadeen.
“Jika laki-laki itu belum pernah menikah ....” Nadeen menghela napasnya sesaat. “Nadeen yakin dia tidak akan menerima Nadeen. Dia tidak akan mengerti posisi Nadeen--seorang janda beranak satu.” Dia menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
“Kenapa tidak? Dia pemuda yang sangat baik.” Ayahnya setengah membujuk.
“Kalau dia begitu baik, dia pantas mendapatkan gadis yang lebih baik dari Nadeen, Pa,” tuturnya seraya membenahi selimut Alif.
“Keputusan ada di tangan kamu, Nad. Hanya saja ... Papa sangat ingin melihat kamu hidup bahagia. Memiliki suami, dan Alif juga akan memiliki seorang ayah.”
“Entahlah, Pa. Saat ini Nadeen belum bisa memaafkan diri sendiri.”
“Kamu sudah cukup bersabar dan bertawakal menghadapi ujian hidup. Kenapa masih menyalahkan diri sendiri? Papa tidak bahagia jika kamu tidak bahagia, Sayang.”
“Baiklah, Pa. Beritahu Nadeen, apa yang harus Nadeen lakukan sekarang?” Dia menggenggam tangan ayahnya. Kini hatinya sudah tidak sekeras seperti sebelumnya lagi.
“Papa mau kamu bahagia bersama seseorang yang akan menemanimu sampai tua. Papa tidak mau kamu hidup seperti Papa setelah ditinggal Mama.”
“Papa mau Nadeen menikah lagi?” Nadeen tersenyum. “Kalau begitu, Nadeen terima lamaran teman Papa.” Saat ini tak ada hal yang membuat ayahnya bahagia selain dituruti keinginannya selagi kesempatan itu masih ada.
“Kamu serius, Nak?” Wajah Damar begitu berseri-seri. “Apa papa terlalu memaksamu?”
“Nadeen serius, Pa.” Wajahnya terlihat sangat ceria untuk meyakinkan hati sang ayah.
“Tapi, Nadeen masih bisa berangkat ke tanah suci, kan, Pa? Kita bicarakan lagi hal ini sepulang dari sana,” pinta Nadeen.
“Tentu saja. Papa juga ikut denganmu.”
Nadeen mengambil ponsel dari atas meja, setelah ayahnya berlalu dari kamar itu. Dia berniat untuk menghubungi orang tua Aris. Namun, tiba-tiba urung. Dia pikir, lebih baik dia datang bersilaturahmi ke rumahnya besok. Dia ingat betul, bahwa orang yang baru saja menyandang gelar 'mertua' yang sangat menyayanginya itu, tiba-tiba membenci dan menyalahkan Nadeen atas meninggalnya Aris dua tahun yang lalu. Mereka bahkan tidak mau mengakui Alif sebagai cucunya. Meski pun bayi itu tidak terlahir dari rahim Nadeen, tetapi dia darah daging Aris--putra semata wayang mereka.
Dua tahun yang lalu, tepatnya di hari pernikahan yang dinanti Nandeen juga Aris. Rangkaian acara pertama akan dimulai dengan akad nikah antara wali dan mempelai pria. Sebelum Nadeen keluar dari kamarnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi hingga dia kembali memutar badannya. Meraih ponsel di atas meja, lalu mengangkat telepon yang baru saja masuk.
“Assalamualaikum Alena, kamu masih di mana?”
“Masih di jalan. Maaf, ya. Aku pasti telat karena jalanan sangat macet.”
“Baiklah, gak masalah. Kamu hati-hati ya.”
Setelah menutup telepon, seseorang mengetuk pintu. Memberitahunya untuk segera turun. Akad nikah pun berjalan sangat lancar dan hidmat di hadapan para tamu yang jumlahnya tidaklah sedikit. Rona bahagia terpancar dari raut wajah kedua mempelai yang tengah menyematkan cincin tanda pengikat cinta mereka.
Namun, terdengar suara Isak tangis yang tiba-tiba muncul dari arah pintu masuk. Seorang tamu yang baru saja tiba dengan perut hamilnya, tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa kaget, kecewa, sedih dan hancur selain menangis sejadi-jadinya.
“Alena!?” Nadeen dan Aris menoleh ke arah gadis itu bersamaan.
Dengan gaun kebayanya yang sedikit merepotkan, Nadeen bangkit dan segera menghampiri Alena di ambang pintu. Nadeen adalah satu-satunya orang yang paling mengkhawatirkan keadaan Alena sejauh ini.
“Kenapa menangis, Len? Perutmu sakit?” Nadeen membawanya untuk duduk dan memeriksanya. Sementara Aris, dia tak kalah kaget melihat kehadiran Alena yang tiba-tiba dalam keadaan hamil.
Alena yang tidak berhenti menangis, tatapannya tidak lepas dari Aris. Mereka saling menatap dengan ekspresi yang sulit digambarkan.
“Alena ...,” gumam Aris. Baginya ini seperti mimpi.
“Kalian saling mengenal?” Nadeen tidak mengerti apa yang terjadi di antara Alena dan Aris. “Ada apa ini, Kak?”
Alena mulai mengeluarkan suaranya yang berat meski rahangnya seperti tercekat.
“Laki-laki yang menikahimu, dia adalah ayah dari anakku,” ucapan dari mulut Alena yang bergetar, dia buat setegas mungkin karena tidak yakin akan mampu mengulanginya lagi. Sementara Aris masih saja memaku diri dengan wajah yang memerah.
“Apa?!” Tatapan Nadeen langsung mengarah pada lelaki yang baru saja resmi menjadi suaminya.
“De-dengarkan aku dulu, Nad!” Aris segera meraih tangan Nadeen dan menggenggamnya. Namun, Nadeen segera menepiskannya dengan cepat. Yang ingin dia lakukan saat ini ada menghilang dari tempat itu.
Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah merasa menjadi sebodoh, sejahat dan semenyedihkan seperti saat ini. Dengan menarik ujung kebayanya yang panjang, dia berlari terseok-seok hingga tak sadar dengan sepatu high heel-nya yang ia lepas entah di mana. Aris mengejarnya, dia bahkan mengabaikan Alena yang hampir pingsan karena shock.
Nadeen mengabaikan panggilan demi panggilan dari arah belakang. Dia tetap berlari menyebrangi jalanan yang cukup padat.
“Nadeeenn!!”
Suara Aris yang terus memanggilnya, diikuti suara dentuman hebat dan derit rem yang memekakkan telinga di tengah penatnya lalu lalang kendaraan yang memenuhi jalanan siang itu. Membuat Nadeen berhenti seketika dan menoleh pelan-pelan ke arah suara setelah dia hanya berdiri terpaku sesaat. Tiba-tiba napasnya tercekat.
“Tidaaakkk!!”
Nadeen menjerit sambil mengguncang kepalanya sekuat tenaga, berharap apa yang dilihatnya bukanlah hal yang nyata.
Tubuh Aris sudah tergeletak di jalanan dalam keadaan mengenaskan, setelah di hantam truck Kontainer berkafasitas 20 feet, milik salah satu perusahaan multinasional.
Aris yang hanya fokus pada Nadeen, mengabaikan bahaya yang tidak sempat disadarinya. Inilah yang terjadi saat ini. Nadeen memeluk kepala Aris yang masih sadarkan diri di detik-detik terakhirnya.
“N-Nadeen, maafkan aku ...” wajah menyedihkan itu hanya mampu mengucap kata maaf.
Butiran demi butiran tidak berhenti lolos dari kelopak mata Nadeen. Sesalah apa pun, kenyataannya Aris adalah suami yang telah menikahinya beberapa menit yang lalu. Namun, waktu tak dapat diputar kembali. Yang tertinggal hanya sebuah penyesalan yang mendalam.
Aris juga meminta Nadeen untuk menyampaikan maaf pada Alena, sesaat setelah itu dia mengembuskan napas terakhirnya di pangkuan Nadeen.
Hari pernikahan yang paling memilukan sepanjang sejarah. Kehilangan suami, dihantui perasaan bersalah, berhutang penjelasan pada Alena juga mendapat hujatan dari mertuanya. Lengkap sudah pukulan untuk Nadeen.
“Seandainya kamu mau mendengar penjelasan dari Aris dan tidak lari begitu saja, mungkin dia tidak akan meninggal.”
“Anak yang dikandung wanita itu pun belum tentu anaknya Aris. Kenapa tidak mencoba untuk percaya sedikit saja pada suamimu?!”
Dalam tangisnya, Nadeen hanya bisa menerima makian dari mertua yang dulu sangat menyayanginya. Namun, kini berubah menjadi sangat membencinya.
Tak sampai di situ. Satu Minggu setelahnya, masih dalam keadaan berkabung, Alena menghilang setelah melahirkan bayi lelakinya di rumah sakit. Dia meninggalkan bayi dengan sepucuk surat dalam dekapannya. Sejak awal, Alena memang tidak menginginkan bayi ini karena dia akan terlahir tanpa seorang ayah. Sedangkan orang tua Aris, jelas tidak pernah ingin mengakui bayi malang itu sebagai cucunya.
Nadeen menghela napasnya, menatap bayi mungil lalu menggendongnya.
“Jangan takut, sayang. Masih ada mama di sini. Mama akan menjagamu. Tumbuhlah menjadi anak yang baik.”
__________
¹⁹Tawakal \= merupakan perbuatan lahir dan batin dengan menyerahakan segala perkara, ikhtiar dan usaha kepada Allah. Serta berserah diri sepenuhnya untuk mendapatkan manfaat atau menolak madharat.
Semangat, Kak. 😍😍
sabar menunggu ala2 nadeen 😙😙😙
aku menanti cepat lah cepat lah