Bisakah Kelvin menjadi seorang ayah, yang baik untuk keluarga kecil barunya?
Apakah pada akhirnya Vina bisa menerima kehadiran Kelvin dalam hidupnya?
Akankah kehidupan rumah tangga mereka akan berjalan dengan lancar?
Apakah pada akhirnya kebenaran akan terungkap?Apakah pada akhirnya mereka akan saling mencintai?
Aku akan belajar menjadi seorang ayah yang baik untuk mu dan anak mu, walaupun aku tidak tau, anak yang berada di kandungan mu anak mu dengan siapa, hanya saja jika melihat mu seperti ini mengingatkan ku dengan gadis itu gadis yang ku tinggali setelah malam itu, aku ingin tanggung jawab tentang hidupnya tapi bahkan sampai detik ini aku tidak tau dia dimana.
Aku berharap dia akan bertemu dengan laki laki yang mau menjaganya dan menerima kekurangan nya, sama halnya aku yang akhirnya menikahi mu dan menerima kekurangan mu. Aku harap suatu saat nanti kamu juga bisa menerima ku pada akhirnya
Jika kalian yang baru bergabung jangan lupa baca Novel sebelumnya dulu ya agar kalian ga bingung karna ini adalah Sequel lanjutan dari Cerita Kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Yuli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Jasmine yang panik segera meneriaki pembantu di rumahnya dan meminta memanggilkan satpam dan security untuk membantu mengangkat tubuh Vina dan membawanya ke RS terdekat agar segera di tangani.
Saat mereka sampai di RS Jasmine langsung meminta suster untuk segera memanggilkan dokter agar segera memeriksa keadaan Vina. Dan akhirnya Vina segera di tangani oleh dokter Rizky yang saat itu sedang bertugas di RS itu.
dokter keluar ruang inap Vina sedangkan Jasmine yang mengerti langsung mengikuti arahan dokter untuk membicarakan mengenai keadaan Vina di ruangan nya yang tak jauh dari ruangan Vina.
"dok bisa tolong percepat pemberitahuan mengenai anak saya ada apa dengan anak saya apa cucu saya tidak apa apa?" tanya Jasmine kepada dokter
"sabar ya Bu, semua baik baik saja, janin di dalam kandungan ibu Vina juga baik baik saja, ibu ga perlu khawatir. hanya saja tolong agak sedikit perhatikan Bu Vina agar tidak kebanyakan pikiran yang memicu kontraksi ringan pada kandungan nya. sewaktu waktu itu bisa memperburuk keadaan dan bisa membahayakan janin yang dikandung oleh Vina" ucap dokter menjelaskan
"baik dok saya paham maksud dokter, syukurlah jika anak saya baik baik saja, kalau begitu terimakasih ya dok saya akan menengok anak saya" ucap Jasmine
"baik Bu, sama sama oh iya anak ibu bisa langsung pulang jika sudah siuman kok" ucap dokter
"baik dok sekali lagi terimakasih dok" ucap Jasmine kepada dokter dan di terima senyum dokter itu dan seketika Jasmine langsung ke kamar inap Vina lagi.
Jasmine memasuki kamar itu dan duduk di bangku dekat kasur dimana Vina terbaring lemas dengan selang infus yang melekat pada tangan nya. Jasmin langsung menggenggam tangan Vina dan menangis di sana "nak maafkan mamah ya nak, mamah telah salah memilihkan mu suami mama telah gagal menjadikan mu menantu di rumah mama, mama jahat ya nak sampai kamu merasa sakit sekarang, maafkan omah ya sayang omah sudah membuat mu dan mama mu terluka maafkan omah ya omah ga bisa meyakinkan papah mu untuk kembali maafkan omah" Isak Jasmine kepada Vina dan juga anak yang berada di kandungan Vina
disini yang terluka bukan hanya Vina tapi Jasmine sebagai mama nya Kelvin sama kecewanya karna dia ga menyangka ank yang dia besarkan yang terkenal mencintainya dan ga akan menyakiti perempuan malah menyakiti istrinya dan mencampakkan istrinya setelah istrinya rela menyerahkan hatinya dan perasaannya untuk nya. tangisnya mulai reda saat pintu ruangan itu terbuka dan memperlihatkan Riki tengah menghampiri Jasmine di ruangan itu.
Jasmine langsung menghampiri anak pertamanya itu. "mah bagaimana keadaan Vina mah?" tanya Riki kepada mamanya menanyakan keadaan adik iparnya itu
Riki di telpon pembantu rumah untuk memberitahukan kabar pingsan nya Vina kepada Kelvin tapi saat Riki tau dan mencoba mengubungi Kelvin dia tidak mendapat kabar apapun, bahkan saat dia ke kantornya security di perketat yang menyebabkan dia ga bisa masuk dan bertemu dengan Kelvin
"dimana anak itu Ki? kenapa dia ga datang? apa dia ga khawatir sama istri dan anaknya! kenapa dengan nya apa dia sudah tidak cinta dengan keluarga kecilnya lagi" marah Jasmine kepada anak bungsunya tapi Riki mencoba menenangkan mamanya dengan memeluk tubuh mamanya yang sangat kecewa dengan adiknya yang malah menutup diri dan mencoba menghindar dari masalah yang tengah di hadapi.
"tenang mah mungkin Kelvin butuh waktu" ucap Riki lagi
"tapi mamah masih ga habis fikir, bagaimana bisa dia ga peduli dengan istrinya Ki dia sedang hamil apakah dia tidak memikirkan soal itu? apakah dia masih ingin bermain main?" marah Jasmin lagi
"tenang mah ini rumah sakit, udah nanti kita bahas di rumah" ucap Riki menenangkan mamanya
tanpa mereka tau bahwa Vina mendengarnya. "Vina sejak kapan kamu di sana" ucap Riki yang membuat mamanya menoleh ke arah belakang dan langsung menghampiri Vina
"nak kamu baru siuman duduk dulu ya jangan banyak gerak sayang" ucap Jasmine perduli dan khawatir dengan keadaan Vina yang masih pucat pasi
"mah Vina dengar semuanya mamah ga perlu nutupin lagi, Vina gapapa kok, memang seharusnya Vina sadar menikah dengan Kelvin laki laki tampan dan mapan itu ga segampang itu, udah ya mah ka gausah pikirin masalah Vina dan bayi Vina Vina baik baik aja ko sekarang, Vina mau pulang aja tapi maaf Vina gamau pulang ke rumah mamah Vina mau pulang kerumah Vina sama mas Kelvin aja. gapapa kan" ucap Vina sedikit berlinang air mata kepada kakak ipar dan mamanya
"iya iya sayang, maafin mas mu ya sayang. tapi kalau kamu tidur sendirian dan tinggal sendirian di rumah ga baik sayang jadi tinggal di rumah mama sementara waktu aja ya gapapa kok" ucap mama kepada Vina dan membujuknya agar mau tinggal bersamanya ketimbang tinggal sendirian
"gapapa kok mah Vina baik baik aja Vina cuma mau sedikit lebih tenang aja, mama gausah khawatir Vina bisa jaga diri dan lagipula di rumah ada bibi yang bisa temenin Vina kok jadi mama ga perlu khawatir, kalau mama kangen sama Vina mama bisa ke rumah, pintu rumah selalu terbuka buat mama jadi ayo pulang" ucap Vina kepada Jasmine meyakinkan kan nya bahwa dia baik baik saja walau hatinya sangat terluka saat ini.
mereka akhirnya pulang setelah menyelesaikan tagihan rumah sakit itu. Vina pun di pulangkan kerumahnya bersama Kelvin dan bibi di titipkan oleh Jasmine untuk lebih ekstra menjaga Vina dan menuruti apa yang Vina mau dan Vina perintahkan agar dia tidak merasa sedih dan merasa sendiri. setelah itu Jasmine pulang kerumahnya bersama Riki.
malam demi malam di lalui Vina dengan menangis memikirkan keadaan suaminya kini, memikirkan sedang di mana Kelvin, tidur dengan siapa, apa sudah makan, apa dia tidur nyenyak, apa dia dia makan dengan benar, apa dia baik baik saja. tanpa Vina sadari dia lah yang terlihat sangat menyedihkan. beberapa kali bibi melihat Vina lebih sering menyendiri dan lebih sering berdiam diri di ruangan khusus KPop nya dengan memutar lagu lagu melow dan kadang terdiam beberapa saat dan menangis hingga tertidur.
bibi pun menceritakan semua itu kepada Riki dan Dinda ga berani menceritakan kepada Jasmine karna Riki dan Dinda yang meminta takut Jasmine kepikiran dan malah jatuh sakit. saat ini Vina di temani oleh Dinda yang berkunjung untuk menghiburnya.
"bagaimana hari ini Vin apa kamu sudah memutuskan untuk melakukan apa?" tanya Dinda pada adik ipar nya itu
"aku, aku masih gatau harus melakukan kesibukan apa, menurut kakak aku harus apa?" tanya Vina kepada Dinda saat ini mereka telah mengobrol di taman dekat rumah Vina
"bagaimana kalau kamu bantu aku di butik cabang? disana supervisor nya sedang cuti dan gada yang menggantikan aku lihat potensi kamu di bidang disain ga di ragukan bagaimana mau ya" ucap Dinda menawarkan dan sedikit memaksa agar Vina mau menerimanya agar Vina dapat terbebas dari belenggu yang terus mengikatnya untuk terus bersedih
"baiklah aku akan coba, kapan aku bisa mulai?" tanya Vina kepada Dinda
"bagaimana kalau besok?" tanya Dinda kepada Vina
"baiklah kalau begitu" ucap Vina setuju dan akhirnya keduanya memilih untuk pulang karna hari makin sore.