NovelToon NovelToon
Mencintai Pria Dewasa

Mencintai Pria Dewasa

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 4.9
Nama Author: din din

WARNING!!! AREA 18+
follow Ig 👉 dindin_812

Malik Mahardika seorang asisten berumur dua puluh enam tahun. Mendapat tugas dari majikannya untuk menemui seorang Hacker. Namun, siapa sangka Malik malah jatuh cinta pada Hacker yang baru saja berumur lima belas tahun bernama Susan Linch.

Kata orang, cinta tidak memandang umur, waktu dan tempat. Begitulah yang dialami oleh pemuda itu.

"Ma, kamu tahu 'kan aku umur berapa? Bagaimana bisa kamu suka dengan gadis kecil seperti 'ku?" Susan hanya ingin tahu alasan sebenarnya.

"Memangnya kita harus memandang umur seseorang untuk suka dan menyayangi. Bagiku asal kamu menerima, maka tidak perduli kamu umur berapa. Bahkan jika disuruh nunggu kamu dewasa pun aku bersedia," jawab Malik yang benar-benar terdengar gila, sepertinya pemuda ini sudah terkena virus cinta akut yang tidak bisa diobati.

"Kalau begitu, aku beri kamu kesempatan. Jika kamu bisa menungguku lima tahun lagi, aku akan bersedia jadi kekasihmu," ucap Susan kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah lain karena malu menatap Malik.



penasaran? baca selengkapnya di sini saja.

Picture from pinterest editing by din din

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Masa lalu dan masa depan

Malik sudah dipindahkan ke ruang perawatan ketika Susan kembali setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian. Tampak Juan duduk di kursi yang terdapat di samping ranjang.

Susan menatap Malik yang masih belum sadar, kepalanya sudah dibalut dengan perban, tangan kanan terpasang penyangga, sedangkan tangan kirinya terpasang selang infus.

"Pah," panggil Susan yang mendekat pada Juan yang terlihat memegangi keningnya.

Mendengar suara putrinya, Juan lantas menoleh dengan sedikit mengulas senyum.

"Bagaimana keadaannya? Apa kata dokter?" tanya Susan kemudian, Livia juga di sana berdiri di belakang sang suami.

"Kata Dokter tidak ada yang fatal, hanya saja kepalanya yang mengalami benturan keras membuatnya tidak sadar, tulang lengannya geser karena benturan dari truk tepat mengenai tangan kanannya," jawab Juan sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh dokter.

Susan terdiam, ia berdiri masih menatap Malik. Rumit! Mengapa kisah mereka harus terbelenggu dengan masa lalu yang pada akhirnya membuat keduanya tidak saling mengerti.

"Papah harus mengecek Club," ucap Juan seraya berdiri.

"Mamah kalau mau pulang dulu tidak apa-apa. Biar aku menjaganya, kalau ada apa-apa aku pasti akan memberi kabar," timpal Susan bicara dengan kedua orangtuanya.

"Kamu yakin?" tanya Livia memastikan, ia sendiri harus mengecek kondisi restoran yang ia kelola.

Susan hanya mengangguk, akhirnya Juan dan Livia pergi dari sana, meningggalkan Susan menjaga Malik sendirian.

Susan terlihat memijat kedua pelipisnya, matanya terlihat sembab karena menangis. Untuk sopir truk itu, Juan berterima kasih lantas menyuruhnya pergi, tidak ingin memperpanjang masalah karena pria itu juga menjadi korban.

Susan duduk seraya memandang wajah Malik yang sedikit mengalami luka gores karena terkena serpihan kaca, hampir satu jam ia hanya duduk dan tidak bergerak sama sekali dari posisinya, hingga lelah mulai menghampiri raganya, ia menaruh kepalanya di tepian ranjang, menjadikan kedua lenganya sebagai bantal, lambat lalun kedua kelopak matanya mulai terpejam. Selepas menangis, tentu saja mata akan terasa pedas, membuatnya mudah untuk merasa mengantuk.

Dalam lelapnya, Susan tanpa sadar menangis lagi. Ia sampai sedikit terisak, dahinya berkerut dengan kelopak mata yang seakan dipaksakan untuk terpejam, hingga suara yang ia nantikan membangunkannya.

"San, kamu nangis?"

Susan membuka matanya lebar, ia pikir itu adalah halusinasi dalam mimpinya, tapi ketika mendengarnya untuk yang kedua kali, membuat Susan langsung bangkit dan menatap ke arah sumber suara.

Melihat senyum hangat yang tidak ia lihat selama beberapa hari membuat kelopak mata Susan menggenang karena terharu.

"Kau membuatku khawatir!" seru Susan yang langsung memeluk tubuh pemuda yang sudah ia nantikan kesadarannya.

Malik sudah sadar, bahkan pemuda itu sudah duduk bersandar pada kepala ranjang semenjak beberapa menit yang lalu dan mendengar suara isakan tangis gadis itu.

"San! Duh ... sakit!" pekik Malik yang merasa tangannya tertekan karena Susan memeluknya begitu erat.

Sadar, Susan langsung melepas pelukannya, ia menatap pemuda itu dengan sesekali menyeka air mata yang mulai membanjiri wajahnya.

"Kenapa kamu melakukan itu?!" tanya Susan dengan sedikit nada tinggi.

Jujur saja ia begitu mengkhawatirkan pemuda itu, ia mencintainya sejak pertama mengenal pemuda itu lalu ketika ia tahu jika Malik adalah orang sama yang telah menolongnya membuat Susan semakin mencintainya dan takut kehilangan pemuda itu.

"Kalau tidak aku lalu siapa?" tanya Malik balik menatap wajah Susan yang masih basah, ingin ikut mengusap buliran cairan bening itu, tapi tangannya tak bisa karena terhalang penyangga dan selang infus.

"Bukannya kamu menyesal karena waktu itu aku selamat, bukankah jika aku celaka sekarang, akan sedikit membuat penyesalan yang kamu alami berkurang," jawab Susan lirih, ia duduk di tepian ranjang tapi tidak berani menghadap pemuda itu. Jujur saja, jika mengingat keluh kesah Malik saat di pemakaman membuat penyesalan dan rasa bersalah itu muncul lagi.

Malik tertegun dengan jawaban Susan, ia yang sempat berpikir pendek serta tidak mengerti perasaan gadis yang sebenarnya tidak tahu apa-apa itu pun merasa menyesal. Malik mengingat sesuatu saat ia tidak sadar.

"Mal!" tegur seseorang dalam alam bawah sadar Malik.

Malik menoleh, ditatapnya pria berbadan tinggi dan tegap, senyum hangat terpajang di wajah lelaki itu, senyum yang selalu dirindukan olehnya.

"Yah," sahutnya dengan seutas senyum.

Keduanya tampak duduk bersama, menikmati senja seperti yang sering mereka lakukan.

"Aku rindu Ayah," ungkap pemuda itu menatap wajah sang ayah yang terlihat begitu bercahaya.

"Ayah pun rindu, tapi kita sudah tidak berada di dunia yang sama. Kehidupanmu baik-baik saja, 'kan?" tanya ayahnya.

"Iya, sesuai dengan keinginan Ayah. Aku menjadi pria yang berguna," jawab pemuda itu yang mengalihkan tatapannya ke matahari yang mulai kembali ke peraduan.

"Mal, hiduplah dengan bahagia. Jangan pernah menoleh ke belakang karena itu akan menjerumuskanmu. Apa yang kamu dapatkan sekarang adalah takdir, mungkin Ayah tidak ada di masa depanmu, tapi masih ada di masa lalu. Hargai apa yang kamu punya sekarang agar kelak kamu tidak menyesal. Jangan meratapi apa yang terjadi di masa lalu karena sesungguhnya semua sudah di atur oleh yang memberi kita hidup," ujar pria itu seraya mengulas senyum.

"Yah," lirih Malik kembali menatap ayahnya.

"Ayah harus pergi, jaga baik-baik dirimu, jangan sampai menyesal lagi," ucap ayahnya.

Seketika angin membawa bayangan itu menghilang, Malik sadar akan sesuatu. Susan adalah masa depan yang harus ia pertahankan, Tuhan merancang takdirnya sedemikian rupa, mengambil satu dan memberikan yang lainnya. Pada kenyataannya ia tidak bisa membenci gadis itu, hatinya lebih memilih untuk menerima meski pikirannya tidak.

"Maaf," ucap Malik yang membuat Susan tertegun kemudian menoleh pada pemuda itu.

"Maaf aku tidak bermaksud menyalahkanmu, aku tahu jika salah, hanya merasa jika semuanya terasa tidak nyata. Mungkin aku yang terlalu bodoh untuk lebih memikirkan egoku dari pada perasaanku," ujarnya yang semakin membuat Susan terdiam.

Susan kembali menangis ketika mendengar permintaan maaf Malik, ia sampai menyeka buliran yang luruh itu berkali-kali.

"Kamu maafin aku, 'kan?" tanya Malik memastikan.

Susan hanya mengangguk, membuat perasaan Malik sedikit lega.

"Maaf juga, karena gara-gara aku ayahmu-." Ucapan Susan terjeda karena Malik memotongnya.

"San! Jangan bahas itu, aku tidak menyalahkan mu," ujar Malik.

Susan terdiam, ia kembali memalingkan wajahnya dari Malik dengan sesekali meremas jemarinya, meski pemuda itu sudah mengatakan jika tidak menyalahkan, tapi tetap saja hatinya merasa bersalah.

_

_

_

_

Bantu like, komen, masukin rak, biar pop dan View naik, biar nangkring di rank karya baru, kemarin Senin ada di 109 eh tadi di 170an😪😪😪 sungguh buat badmood. Ya, sudahlah. tetap semangat saja😁

1
Fit Mu'awin627
Luar biasa
Jeni Jueni
belum dengar penjelasan susan makanya dia galau
Ruaida Ali
aku suka ceritanya
.: terima kasih
total 1 replies
Ruaida Ali
bakal di restuin gak tuh?
Mamah Kekey
unboxin 🤭🙈🙉
Jeni Jueni: hai bunda
total 2 replies
Mamah Kekey
selamat yah buat pasutrinya semoga langgeng sampai tua dan mu yg memisahkan...🎁
.: aamiin
total 1 replies
Mamah Kekey
awas blabas mas Malik ...☺️
Mamah Kekey
dibsini yg imannya kuat sih authornya ...😂
.: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Mamah Kekey
cinta muda Susan bergejolak nih...😂
.: asekkkkkk
total 1 replies
Mamah Kekey
sipp...deh buat pasangan yg unyu,, 😂
Mamah Kekey
semoga mereka selamat...ikut mewek aku...😭😭😭
Mamah Kekey
setiap kejadian pasti ada hikmahnya d balik semua itu mas Malik.
Mamah Kekey
memang sudah takdir ..mencoba ikhlas mas Malik...😔
Mamah Kekey
terharu CLBK nih... semoga mereka berjodoh.
Mamah Kekey
yg dewasa lebih ngemong, lebih banyak sabarnya.paham apa yang kita mau, pengalaman 😂
Mamah Kekey
kerenlah unyu,,😂
Mamah Kekey
keren bagus setuju kk
Winarsih Asih
semoga ada orang yg bisa memberi pengertian pada mslik
Winarsih Asih
Malik butuh waktu,mungkin dulu gara2 menolong keluarga Susan ,ayahnya meninggal karena telat kerumah sakit
Winarsih Asih
aku sudah ketemu sama Caman kita sayang😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!