Dhanil anak yatim piatu yang mencoba untuk menggapai cita cita, selesai SMA bersama dengan beberapa teman akrabnya, Dhanil juga meneruskan studinya di salahsatu perguruan tinggi swasta di Ibukota Sumatera Utara. Dhanil punya pacar bernama Yani, yang sudah memiliki hubungan spesial sejak dari SMA, akan tetapi hubungan mereka ditantang oleh orang tua Yani, karena Dhanil dipandang bukan orang yang tepat karena alasan harta dan kedudukan, akan tetapi keduanya dengan segala konsekuensinya tetap menikah setelah meraih gelar Sarjana, dan memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, Kota Sibolga.
Hubungan yang baru sebentar dirasakan manisnya akhirnya bubar, mereka kalah oleh trik yang dilakukan Ibu Yani. Disinilah kisah Dhanil bergulir dan mengalir berubah ubah, mulai dari keputusannya meninggalkan kota tempat dia dibesarkan menuju tanah peninggalan almarhum ayahnya, kehidupan berliku membuat Dhanil menemukan saudara kandung ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah lama terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khabar Mengejutkan
Malam selepas sholat isya Dhanil kembali menuju kedai untuk sekedar berbincang dengan para tetangganya. Tapi malam ini sedikit berbeda, ada setidaknya lima orang yang belum pernah dilihat Dhanil sebelumnya, yang membuat Dhanil jadi bertanya karena begitu Dhanil masuk, pengunjung langsung menunjuk Dhanil.
“Ini dia Pak, ini anak Almarhum Pak Sally itu”. Kata Pak Sudirman.
Dhanil mendekat dan menyalami kelimanya dengan penuh keakraban walau Dhanil sama sekali belum kenal dengan kelimanya. Tapi ungkapan Pak Sudirman tadi disimpulkan Dhanil kalau sebelum ia datang mereka sedang membincangkan dirinya.
“Namanya siapa ?”.
“Dhanil Pak”.
“Kamu memang mirip dengan ayahmu, mirip sekali malah. Saya justru tadi seperti melihat Pak Sally hidup lagi dan tampak muda”. Pak Restu yang berkata sambil tertawa renyah.
“Bapak ada aja”. Dhanil juga ikut tertawa.
“Benar Kok”.
“Alhamdulillah kalo gitu Pak”.
Pak Restu masih dengan senyum lebar, sama dengan yang lain. “Tapi benar kok Dan. Kamu amat mirip dengan ayahmu. Cuma kamu lebih putih sedikit. Ayahmu yang anak kebon agak hitaman dikit”.
Semua tertawa dengan lumayan terbuka. Dhanil merasakan tusukan persaudaraan yang cukup kuat menghujam dadanya. Dhanil merasa apa yang dihadapinya di sini semakin hari semakin membuatnya betah tinggal disini, banyak hal baru yang sering membuatnya gembira. Dhanil hanya menyimak cerita mereka tentang almarhum ayahnya. Ada rasa bangga yang menyusupi relung hati Dhanil, tapi ia juga sedikit menyesal karena tak pernah bisa sekedar melihat wajah ayahnya. Dulu ia hanya punya photo kecil yang disimpan ibunya, tapi itupun kini tak tahu dimana lagi rimba belantaranya.
“Khabar Paman kamu gimana Dan ?”. Kembali Pak Restu bertanya.
Dhanil sempat tercengang, tak yakin kalau pertanyaan itu memang ditujukan padanya. Dhanil tak pernah tahu dengan yang namanya paman. Selama ini ia tak pernah punya info soal itu, hingga pertanyaan itu bagi Dhanil justru terdengar aneh. Dhanil hanya geleng geleng kepala, bukan karena tidak tahu, tapi karena tidak paham. Untung Pak Sudirman cukup cepat dapat menangkap sinyal kebingungan Dhanil.
“Ibumu tak pernah cerita soal paman kamu Dan ?”.
Dhanil menatap Pak Sudirman dan geleng kepala. “Tidak Pak”.
“Kenapa ?”.
Dhanil kembali menggelengkan kepala. “Ibu meninggal waktu saya masih berusia 10 tahun, baru kelas 5 SD”.
Pak Sudirman mengangguk. “Mungkin karena itu”.
Pak Sudirman, Pak Restu dan yang lainnya masih mengarahkan mata kearah Dhanil yang memang tampak masih bingung. Banyak diantara mereka melihat Dhanil dengan rasa yang entah kenapa, kisah Dhanil bagi mereka adalah sebuah kisah langka yang jarang terjadi dialam nyata.
“Jadi Dan, selepas ibu kamu meninggal, tinggal dimana Dan ?”.
“Tetangga kami dulu yang kebetulan Kepling. Dia menyekolahkan saya hingga tamat SMA. Setelah itu saya kuliah ke Medan dengan mencari biaya sendiri”.
Pak Sudirman geleng kepala, yang lain juga melakukan ekspresi yang hampir sama. Kisah Dhanil membuat banyak orang yang berada dikedai merasa prihatin. Keprihatinan itu tentu cukup menghadirkan perasaan lain bagi mereka, apalagi Dhanil adalah anak sahabat terbaik yang mereka punya. Dhanil merupakan anak orang yang selama ini banyak membawa arti penting bagi mereka dan keluarga masing masing. Ayah Dhanil yang terus menjadi pimpinan mereka dalam memperjuangkan apa yang menjadi hak mereka yang dirampas oleh kuatnya sebuah kekuasaan.
“Ibumu juga ada salahnya Dan”.
“Kenapa Pak ?”.
“Hanya dua minggu setelah ayahmu meninggal, ibumu memilih meninggalkan Batang Toru pindah ke Sibolga, saat itu kamu masih dalam kandungan kan ?”.
Dhanil anggukkan kepala. Akhirnya Pak Sudirman membeberkan Paman Dhanil yang bernama Fahmi. Itu adalah adik almarhum ayahnya satu satunya, karena mereka kakak beradik hanya dua. Dhanil akhirnya sadar kalau dia ternyata tak sebatang kara di dunia ini seperti isi pikirannya selama ini, Dhanil masih punya Paman yang tinggal agak jauh kedalam, tempat tinggal pamannya sudah sangat dekat dengan Danau Siais yang cukup terkenal itu. Dhanil merasa sangat berterima kasih pada semua yang ada disana. Sikap Dhanil yang semacam ini kembali membuat para tetangganya kagum, mereka melihat sipat almarhum ayah Dhanil hadir kembali ketengah tengah mereka.
.... BERSAMBUNG ...
kebaikab selalu menemukan jalan untuk meraih bahagia.. syukurlah Anggi akhirnya terbuka hatinya