18 +
Brian, Ali dan Wisnu membawa ketiga teman perempuan mereka sendiri dan memperkenalkannya sebagai calon istri kepada orang tua mereka demi menghindari perjodohan.
Sementara para orang tua tahu jika mereka semua yang merupakan tetangga sekompleks perumahan adalah cuma sekedar teman.
Pernikahan diatur sedemikian rupa oleh orang tua mereka untuk mewujudkan permainan yang dimulai oleh anak anak mereka sendiri.
Bagaimana ketiga pasangan menjalani pernikahan yang terasa aneh itu ?
Ig.rii.ena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Efek masih obat kuda lumping
Rumah mbak Ana kelihatan sepi, padahal didalam rumah ada enam orang, tetapi seperti tidak ada tanda tanda kehidupan
Sehabis sholat subuh, keenam penghuni rumah kembali molor, karena semuanya malam tadi tidak ada yang sempat memejamkan matanya gara gara obat kuda lumping.
Siapa suruh mbak Ana punya usulan yang aneh aneh demi keinginan menimang cucu.
Dia sendiri yang kena kan ?
Pak Adi yang terus bekerja, mbak Ana karena cepek, ya ditinggal tidur.
( Emang bisa ? )
Jeng Wati terlihat santai, dan pak Wendi tidak memberikan komentar apapun ketika Ali dan Riella tidak keluar kamar sama sekali.
Karena istrinya yang bibirnya sama lincahnya dengan tetangga sebelah, juga tidak memberikan komentar apapun.
" Li, apa kau tidak lapar ? " Riella bertanya dengan mata terpejam.
Matanya mengantuk, badannya terasa remuk tetapi perutnya sangat lapar.
Ali melirik malas jam yang terletak di atas nakas menunjukkan pukul sembilan pagi.
" Ya sudah, kamu tunggu saja disini ! "
Dengan malas, Ali bangkit dari tidurnya.
merenggangkan otot otot tubuhnya yang terasa capek, keluar dari kamar.
Jeng Wati sedang berada di dapur.
Melihat Ali yang berjalan sedikit sempoyongan membuka tudung saji, ada dua piring nasi goreng seafood dan telur ceplok dengan dua kuningnya setengah matang.
Ali menoleh menatap Ibunya.
Terlihat ibunya senyam senyum sembari memotong sayuran.
" Bu "
Ali melangkah mendekat.
" Jujur, ibu pasti memasukkan sesuatu ke susu yang kami minum kemarin malam kan ? "
Yang di tatap terkekeh.
" Joss kan ? " Jeng Wati mengedipkan matanya lucu.
" Ibuuuu, jangan aneh aneh dech, kasihan tuh mantu ibu gak bisa jalan "
Ali berdecak dengan kelakuan absurd ibunya.
Jeng Wati mencibir.
" Tapi kau senang kan ? Jangan sok sok kesal ! "
" Ibuku sayang dengar ya ! "
Ali memeluk bahu ibunya manja.
" Gak perlu pakai obat yang begituan, yang sewajarnya saja, kehidupan aku dan Riella baik baik saja, ibu sudah kepengen cucu ? "
Ali menatap ke wajah ibunya.
Jeng Wati mendesah.
" Rumah ini sepi Li, dulu untuk mendapatkan mu, ibu dan bapak harus menunggu selama lima tahun, padahal ibu menikah diusia yang sangat muda, tujuh belas tahun.
Sampai kau setua ini, anak ibu cuma satu, cuma kau Li "
Ali mengelus elus bahu ibunya.
" Bersyukurlah Bu, diluaran sana banyak pasangan yang sudah berusaha dengan segala cara, dari yang medis sampai alternatif yang lain diluar logika mereka lakukan tetapi anak anak yang mereka harapkan tidak kunjung datang.
Semua tergantung Alloh, Bu. Apakah Dia mau menitipkan amanahnya pada kita atau tidak "
" Tapi ibu sudah sangat ingin menggendong cucu Li "
Jeng Wati memasang tampang memelas agar Ali tidak lagi mempermasalahkan obat kuda lumping itu.
" Sabar Bu, kami kan baru menikah.
perlu ibu ketahui "
Ali mendekatkan bibirnya ke telinga ibunya.
" Riella sudah terlambat seminggu kedatangan tamu bulanannya untuk bulan ini, tapi ...."
Ali berjalan menjauhi ibunya, membuka tudung saji kembali lalu membawa dua piring nasi goreng yang sudah di sediakan ibunya masuk ke dalam kamar.
" Li, apakah akhirnya keluar kembali ? Maaf Li, ibu gak tahu " Jeng Wati bertanya panik mensejajari langkah Ali menuju ke kamarnya.
" Li, jawab dulu ! "
Jeng Wati menarik narik kaus yang Ali gunakan agar anaknya berhenti melangkah.
Ali cuma mengangkat kedua bahunya, masuk ke dalam kamar meninggalkan Jeng Wati yang masih berdiri diam.
Cepat cepat Jeng Wati melangkahkan kakinya ke rumah tetangga.
" Dari mana mbak ? "
Melihat mbak Ana entah dari mana membawa tentengan, sepertinya sarapan.
" Beli gado gado di warungnya Bu Darmi, aku tidak sanggup memasak "
Jawabnya sembari menguap lebar
Jeng Wati terkikik geli.
" Belum ada yang bangun ? "
Jeng Wati menjulurkan lehernya panjang melongok ke dalam rumah mbak Ana.
" Sudah, tinggal menunggu sarapan ini "
Mbak Ana mengangkat kantung plastik yang dijinjingnya.
" Tadi malam berapa ronde ? "
Jeng Wati menahan tawanya.
" Enggak tahu aku, aku sudah keburu tidur " ujarnya dengan wajah memerah lalu terkekeh.
" Masih ada lagi obatnya ? "
Jeng Wati berkata pelan.
" Untuk apa ? Jeng Wati mau menggunakannya ? " Tanyanya dengan mata melotot.
" Ogah, tapi untuk mbak Ana sendiri, siapa tahu ingin mengulang yang tadi malam "
Jeng Wati tergelak.
Mbak Ana kembali mendelik. lalu masuk ke dalam rumah karena pak Adi sudah berdiri di depan pintu menunggu sarapan.
Tetapi melihat suaminya berdiri dengan posisi seperti tadi malam, membuat mbak Ana tergidik ngeri.
Bayangan malam tadi di berkelebat di kepalanya.
...******...
...🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼...
Maaf beribu maaf ya
untuk cerita Jagad and the Gank sudah pindah ke KBM.
ini cover nya ya....
tetapi yang lain tetap disini dan tetap aku lanjutkan, boleh ya ....
Jangan marah sama aku, sebenanya aku gak tega tetapi .....Ah sudahlah.
tegas bgt...
seharusnya Wisnu minta maaf ke zahra,
kan Wisnu yg ngedeketin, bukan zahra yg kecentilan.