PENGUMUMAN : GW LIBUR, LAGI BANYAK TUGAS
Jiang Yan, Nama yang sangat melegenda di Tanah Benua Daratan, Siapapun yang pernah mendengar ceritanya pasti akan tahu siapa dia sebenarnya.
Kehidupan sebenarnya sangat lah melelahkan, merupakan seorang yang terpilih menjadi Naga Kesembilan dan Seorang Shen Diren membuatnya harus hidup penuh dengan rintangan. Hingga dia berhasil melaluinya.
Tentunya hal itu membuat kekosongan dalam hatinya, apakah itu cinta, keluarga, orang yang dia sayangi. Semua tertutupi oleh kekuatannya.
Menenggelamkan Benua Dewa?, Meratakan Surga?.
Itu hanya sebagian kecil aksinya. kini dia sudah berdiri di puncak!.
Mengadalkan kemampuannya sendiri menjadi legenda tertinggi.
Sebelum Munculnya Kejahatan lainnya.
Jadwal Up : 2 hari sekali 3 Chapter jam 10.00 Siang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uwu Rkw Uwu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 25 Dewa Kematian
"Salam kepada yang mulia leluhur naga, apa yang membuat anda mengunjungi dunia kecil ini? " Pria paruh baya tadi memberi salam.
Ao Tian hanya mengangguk dan menjelaskan alasan kedatangannya yang tak lain memberitahukan bahwa kepingan giok kehidupan milik Yang mulia Naga Emperor mulai bergetar tanda bahwa "Dia" Telah bangkit.
*******************
Di tempat Jiang Yan dan naga tua berada.
"Uhhhh... Baik baik kali ini kau menang. Tapi kumohon tutuplah benda besar itu!" Seru Naga tua.
"Hah? maksudmu ini?, Heheh...." Tiba tiba Jiang yan menghilang dan muncul tepat di hadapan Naga tua.
"Ini adalah barang yang paling kubanggakan selama hidupku!" Secara sengaja Jiang Yan menggoyang kannya di depan Naga tua.
"Kyaaaaaaa!!"
Suara teriakan keras terdengar dari atas cekungan membuat keduanya secara bersamaan menoleh ke arah munculnya suara.
Di sana terdapat sesosok wanita yang memiliki telinga layaknya rubah dengan Sembilan ekor di belakang badannya dan tangan yang menutupi wajahnya. Ya itu adalah Rubah langit ekor sembilan yang pernah jiang yan tanyai keberadaan naga tua.
"Ahirnya kau datang rubah!, Cepat suruh tuanmu ini untuk memakai pakaiannya!" Bentak Naga tua.
"Tidak perlu menyuruhnya," Jiang yan melesat menuju bebatuan untuk mengganti pakaiannya.
Tak lama dia kembali dengan mengenakan jubah berwarna putih dengan baret merah yang sangat dia sukai.
"Ehem.. Rubah langit, kau sudah dapat membuka matamu"
Rubah langit itu bernama Lao Ling, dia juga merupakan salah satu bangsa penjaga surga.
Matanya berwarna hitam bersih, kulitnya putih serta wajah yang sangat cantik menarik siapa pun saat memandangnya. Hmm dasar Rubah.
"Salam kepada tuan," Sapa Lao Ling.
"Lao Ling apakah yang lainnya sudah selesai melakukan kultivasi tertutup selain dirimu?" Tanya Jiang yan.
Lao Ling menggeleng lalu menjelaskan bahwa hanya dia yang telah menyelesaikan kultivasi tertutupnya, sedangkan untuk ke tujuhnya entah kapan mereka selesai.
"Emm sudahlah aku juga belum terlalu membutuhkan bantuan tenaga mereka sekarang. Ngomong ngomong sampai dimana tingkat kultivasimu?"
"Hewan Spritual tingkat ilahi terendah tuan" Jawab Lao Ling.
"Bagus bagus, Ini untuk mu, seraplah" Jiang yan memberikan sebuah Kristal Kotak yang sedikit transparan berwarna hijau kepada Lao Ling.
"Ini terlalu berharga tuan" Dia sempat ragu untuk menerimanya.
"Kau berhak memilikinya, Dengar ini perintah" Tegas Jiang Yan.
"Baik tuan, Aku undur diri" Lao Ling menangkupkan tangannya dan pergi melesat menuju kediamannya untuk menyerat kristal tersebut.
"Nah sekarang tinggal kita berdua lagi"
"Swosh"
Ditangan Jiang yan muncul sebilah pedang dengan memiliki garis berwarna merah darah, tak salah lagi itu adalah pedang Bulan darah yang dimenangkannya pada lelang beberapa hari lalu. Setelah diamati sejenak ahirnya dia mengetahui aura apa yang dia lihat pada mata naga.
"Naga tua tolong jaga tubuhku!" Perintah Jiang yan sebelum memasukan Jiwanya menuju pedang tersebut.
Terdapat sebuah lorong panjang yang menuntun jiwa Jiang yan menuju suatu ruangan lebar dengan aura kematian yang kuat. Semakin dia melangkah semakin besar pula Aura kematian yang dirasakannya.
"Halo Manusia!, Apa yang kau lakukan disini!?" Sebuah suara mengerikan bergema di seluruh ruangan.
Tampak ada seseorang pria dengan rambut panjang berwarna merah darah serta tubuh yang memancarkan aura kematian sedang dirantai pada sebuah batu hitam besar. Mulai dari kedua tangannya, kedua kakinya maupun tubuhnya terdapat banyak rantai yang mengikatnya.
Jiang yan mengamatinya menggunakan mata naga dan ahirnya dia tahu sosok yang dirantai tersebut.
Dia mulai mendekati sosok itu secara perlahan namun pasti.
"Heh!,... Tak kusangka, aku dapat berjumpa dengan DEWA KEMATIAN! di tempat seperti ini sungguh ironi!. Bagaimana seorang dewa yang tak pernah membela pihak mana pun dan hanya gila akan pembunuhan dapat berahir dengan di segel pada sebuah pedang Tingkat rendah! bahkan dengan harga tujuh puluh ribu keping emas!" Seru Jiang Yan dengan nada mengejek.
"Siapa kau!, Kenapa bisa dirimu mengetahui siapa aku!"
"Identitasku tak terlalu penting, yang terpenting adalah tujuanku saat ini.
Dewa kematian, kuberi kau pilihan, Tunduk dan mengabdi padaku atau aku akan membunuhmu" Tawar Jiang yan.
Dewa kematian nampak menyipitkan mata untuk melihat tingkat kultivasi orang di hadapannya. Namun dia tak dapat melihatnya, ada sebuah kedalaman tanpa batas ketika dia mencobanya.
"Hahahaha.. Hanya seorang manusia bermimpi menjadikanku bawahanmu!" Ejek Dewa kematian sambil mengeluarkan Aura kematian miliknya yang kian pekat.
"Dengan ini?, Dengan ini!!. Apa kau sangat meremehkanku!" Teriak Jiang Yan yang ikut mengeluarkan aura pembunuh miliknya.
Seketika Tekanan aura milik dewa kematian mulai tertekan dengan aura milik Jiang yan sebelum ahirnya hilang sepenuhnya. Wajahnya juga mulai pucat karena merasakan kengerian luar biasa saat merasakan aura pembunuh milik Jiang Yan menerpa tubuhnya.
"Siapa dia!?, berapa banyak jiwa yang telah direnggutnya. Bagaimana auranya dapat mengalahkan aura kematian milikku!?" Banyak pertanyaan mengisi batin Dewa kematian.
"TUNDUK PADAKU ATAU MATI!!!" Teriakan keras Jiang yan membuat dewa kematian sadar dari lamunannya.
"Baik Tuan Aku akan tunduk padamu, maaf aku tak dapat memberikan penghormatan bagimu karena keadaanku" Dewa kematian memutuskan patuh pada Jiang yan karena menurutnya itu keputusan yang tepat.
"Bagus aku suka dengan keputusanmu, sekarang aku akan membebaskanmu dari formasi segel sialan ini"
"Duarrrr!"
Jiang yan membuat segel tangan dan melemparkannya menuju segel rantai yang mengikat dewa kematian, setelah kumpulan asap menghilang tampak rantai yang tadinya mengikat kuat kini menjadi kendur dan dengan mudah dihancurkan olehnya membuat dewa kematian menduga duga sekuat apa tuannya itu.
"Apa kau tahu cara keluar dari sini?" Tanya Jiang yan
"Tidak tuan"
Jiang yan menggeleng pelan kemudian membuat celah dimensi untuk digunakan dewa kematian keluar dan menyuruhnya memasukinya, setelah sosok dihadapannya menghilang baru Jiang yan menarik Jiwanya menuju tubuh Aslinya.
*******
Di luar
Ketika Jiang yan membuka matanya
hal pertama yang dia lihat adalah wajah Naga tua yang persis ada di depan matanya.
"Bukkk"
"Dasar bocah sialan!, Kenapa kau memukulku!, Padahal aku sudah menjaga tubuhmu" Naga tua mengumpat sambil memegangi wajahnya yang memerah.
"Salah siapa kau menatap wajahku sedekat itu!" Bantah Jiang yan.
Pertengkaran mereka berlanjut namun sebelum semakin parah sebuah suara muncul di belakang keduanya.
"Tuan?.."
"Hmm?, oh aku lupa padamu" Jiang yan menatap Dewa kematian yang berada dibelakangnya.
"Siapa dia bocah?, Aku bisa merasakan aura kematian yang besar walau tak dapat menyaiingi aura mu" Tanya Naga tua heran.
"Dia adalah Dewa kematian bernama Zen Ren" Jelas Jiang yan
"Ehem.. Karen kau sudah jadi pengikutku, tentu saja kau harus kuat. Ini untukmu" Jiang yan menembakan kepada dewa kematian.
Ketika darah itu menyentuh keningnya Zen ren merasakan sensasi yang sangat luar biasa kuat, seakan sebuah energi besar mengalir dalam tubuhnya sebelum dia menyadari darah siapa itu sebenarnya.
"Tuan apakah an-...."
"Ya, Aku Jiang Yan Ziya. Pembantai para dewa!" Katanya Tegas.
*******************