Anjani, 21 tahun. Baginya memiliki suami tampan dan mapan adalah keberkahan. Namun, siapa sangka keberkahan itu akan menjadi sebuah ujian. Suami Anjani, banyak didekati wanita cantik nan sexy. Sembari menjalani peran sebagai istri sekaligus mahasiswi di kampus baru, Anjani belajar meredam kecemburuan dan prasangka macam-macam yang seringkali melemahkan kesetiaan.
Ketika Anjani hamil besar, datanglah kabar yang menguji jalinan ikatan cinta halal. Sang suami meminta izin untuk menikahi rekan bisnisnya lantaran sebuah skandal. Apakah Anjani akan mengizinkan dan bertahan menjalani takdirnya bersama sang suami, sembari menahan perih? Atau justru mengakhiri janji suci dan menikah lagi dengan teman kampus yang sedari awal dicemburui oleh sang suami?
Dapat mengobrak-abrik rasamu. Harap bijak untuk tidak baper berlebihan. Enjoy reading dan terima kasih sudah mampir. 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Hapsari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 : Ceroboh (2)
Terbiasa menghadapi banyak relasi harusnya membuat Mario begitu mudah mengatasi situasi. Kecanggungan yang menyelimuti nyatanya benar-benar mengusik hati, dan Mario tak kunjung bisa mengatasi. Bukan kebiasaan Mario memang. Sikap ini terjadi seusai Mario merasa tertampar karena Bastian lebih tahu kondisi Anjani.
"Pak Mario," panggil Bastian.
Mario menoleh. Rasa percaya diri Mario perlahan kembali setelah Bastian lebih dulu memecah kecanggungan yang sempat terjadi.
"Panggil saja Mario. Kita seumuran." Mario memperbaiki mimik wajah, kemudian mengucap kata yang sukses meluluh lantakkan kecanggungan di antara mereka. "Yang tadi ... maaf," ucap Mario.
Seketika Bastian tersenyum ramah. Berani menepuk pundak Mario, kemudian mengawali penjelasannya tanpa diminta. Bastian sadar, mimik wajah tak sedap yang sebelum ini Mario tunjukkan adalah sebuah kecemburuan.
"Adikku, Isabel, hari ini tidak masuk kuliah karena sakit gigi. Pagi tadi aku membantunya mengantar jilidan makalah kelompok yang harus dipresentasikan di jam pertama kuliah. Kuberikan pada Anjani. Dari sanalah aku tau wajah Anjani pucat. Anjani hanya bilang kalau dirinya sedikit kelelahan."
Bastian tidak buru-buru melanjutkan penjelasan. Ditolehnya Mario yang sedari tadi mendengarkan. Seketika Bastian memberikan senyuman, membuat Mario semakin tertampar karena tadi hampir saja salah paham. Untung saja sikap Mario tadi tidak berlebihan. Hanya sempat menunjukkan mimik wajah tak sedap pada Bastian.
"Tentang aku yang berada di rumahmu, lagi-lagi aku hanya membantu adikku. Riko datang menjenguk Isabel. Entah apa yang membuat Riko begitu terburu-buru hingga meninggalkan dua kotak kue begitu saja di meja. Isabel menyuruhku memberikan yang sekotak untuk Anjani. Dan .... hemm." Riko menghela nafas pelan. "Belum sempat aku mengucap salam, aku lebih dulu melihat Anjani terpeleset di teras depan, dan ... dia pingsan."
Penjelasan Bastian berakhir. Lagi-lagi Bastian menepuk pundak Mario, sembari menyuguhkan senyum padanya.
"Mario, apakah cemburumu sudah mereda?" bidik Bastian tanpa sungkan.
Mario berusaha bersikap tenang, meski dirinya berulang kali telah tertampar oleh keadaan. Kali ini Bastian bahkan menyinggung soal kecemburuan yang nyatanya memang benar sempat Mario rasakan.
"Soal itu ... maaf," ungkap Mario, mengakui tanpa gengsi.
Bastian hanya mengangguk tanpa memudarkan senyumnya. Hati dan pikirannya jauh lebih terarah usai kecanggungan mereda. Begitu pula dengan Mario, yang merasa lebih nyaman hati usai kata maaf terucap dan mendamaikan situasi.
Tak begitu lama setelahnya, dokter selesai memeriksa. Anjani bahkan telah sadar dari pingsannya. Lantaran kondisinya tidak parah, Anjani diperbolehkan pulang usai dokter kandungan memeriksa kondisi kandungannya.
"Aku tau kamu sangat rindu padaku, sampai tidak mau melepas pelukanmu." Mario mengusap pelan kepala Anjani yang sedikit benjol karena benturan.
"Ihihi. Itu kamu tau." Anjani tak sungkan memeluk Mario meski ada dokter, perawat, bahkan Bastian yang memperhatikan.
Tak ingin baper, Bastian berinisiatif membantu Mario menebus obat dan vitamin untuk Anjani. Sembari menanti Bastian, Mario-Anjani menuju mobil yang ada di parkiran.
"Pelan-pelan." Mario membuka pintu mobil lebar-lebar.
"Iya, Mas."
Mario meminta bantuan Pak Gun untuk menemani Bastian menebus obat dan vitamin, agar Bastian tidak sendirian. Mario sadar, sebenarnya itu adalah tugasnya sebagai suami Anjani. Namun, Mario tidak tega juga membiarkan Anjani sendiri.
Punggung tangan Mario ditempelkan ke kening dan pipi Anjani. Terasa sedikit hangat, tapi tidak separah tadi. Usai berucap syukur, Mario memberi kecupan di kening Anjani.
"Em, masa cuma di kening aja, sih? Di pipi belum, lho." Anjani manja. Sengaja, demi melepas rindu usai LDR-an seminggu dengan suaminya.
Mario menuruti keinginan Anjani, bahkan lebih. Jarak bibir juga terkikis tanpa diminta oleh Anjani.
"Satu lagi," ucap Mario, lantas mendaratkan kecupan di perut Anjani.
"Anak daddy apa kabar?" Mario berganti mengusap-usap perut Anjani.
"Alhamdulillaah, baik daddy. Maafin bunda udah bikin daddy khawatir hari ini. Bunda janji kok nggak bakal ceroboh lagi." Nada bicara Anjani dibuat seperti anak kecil.
Sebagai balasan, Mario kembali mengusap kepala Anjani dan memberi kecupan.
"Apa saja yang kamu lakukan saat kutinggal?" tanya Mario dengan begitu ramah.
"Cuma di depan laptop, ngerjain tugas kuliah. Terus ... nata barang-barang di kamar, nyobain resep-resep makanan, sama .... sedikit berkebun merapikan tanaman." Anjani berhati-hati menyebutkan, karena yang dilakukan nyatanya lebih dari sekedar kata cuma.
"Pantas kamu kelelahan. Lain kali lebih hati-hati lagi, ya Sayang." Mario menasihati dengan ramah, mengingat kondisi Anjani yang belum lama sadar dari pingsannya.
Anjani mengangguk-angguk sembari menyuguhkan senyuman. Lagi-lagi Anjani memeluk Mario tanpa sungkan. Begitu erat, semakin mengerat, hingga kemudian datanglah Pak Gun dan Bastian, barulah pelukan itu Anjani lepaskan.
"Bas, terima kasih atas bantuannya. Maaf sudah merepotkanmu." Merio menerima bungkusan obat dan vitamin dari Bastian.
"Sama-sama. Kalau begitu aku permisi dulu." Pandangan Bastian beralih kepada Anjani. "Istirahat yang cukup, ya. Aku pulang dulu."
"Iya, Kak. Eh, kapan Kak Bas mulai masuk kerja?" Anjani menyempatkan diri untuk bertanya.
"Dua hari lagi sudah mulai masuk."
"Semangat, ya Kak!"
"Semangat juga untukmu, dan ... untukmu juga, Mario. Jaga Anjani!" Bastian menepuk bahu Mario, kemudian berlalu pergi.
Sekali lagi Mario mengucapkan terima kasih. Mimik wajah dan keakraban Mario yang tiba-tiba tentu menarik perhatian Anjani.
"Hanya perasaanku saja, atau kamu memang lebih akrab sama Kak Bas?" tanya Anjani begitu Bastian pergi.
"Kurasa aku sudah bisa lebih akrab dengan Kak Basmu, tapi ... aku tetap akan cemburu jika dia terlalu dekat denganmu." Mario menyentil kening Anjani pelan.
"Ish, dasar pencemburu!" celetuk Anjani dengan nada canda.
"Kamu juga sama. Bahkan lebih pencemburu daripada aku." Mario bersedekap dan menampilkan senyum lebarnya di depan Anjani.
Seketika Anjani tertawa renyah lantaran pernyataan Mario yang benar adanya.
"Ya, kita banyak kesamaan. Mungkin itulah salah satu alasan kita ditakdirkan bersama." Anjani menyandarkan kepalanya di bahu Mario.
"Boleh saja kita cemburu, asal hati kita tidak saling menjauh."
Benar, pernyataan Mario merasuk ke hati Anjani begitu dalam. Seketika seyum Anjani mengembang, disusul dengan sebuah anggukan.
***
Kedatangan Anjani disambut ucap syukur oleh Mbak Lastri dan Mbok Darmi. Dua asisten rumah tangga di rumah Mario-Anjani itu tampak lega melihat Anjani pulang dalam keadaan baik-baik saja.
"Non, ini kue yang dibawa Mas Bas tadi. Katanya dari Mbak Isabel." Mbak Lastri menyerahkan sekotak kue kepada Anjani.
"Terima kasih, Mbak."
"Ini oleh-oleh untukmu. Kujamin kamu akan menyukainya." Mario menunjukkan oleh-olehnya begitu sampai di dalam kamar.
Sontak saja Anjani tersenyum genit kala melihat dua botol body mist aroma Bunga Moringa yang biasa dipakainya saat bersama Mario. Sebuket bunga mawar yang menyusul kemudian membuat dugaan Anjani semakin terarah benar.
"Mau modus, ya?" bidik Anjani.
"Mau romantis kok dikatain modus, sih? Gagal romantis dong ini!" Mario geleng-geleng kepala.
Tawa Anjani pecah seketika. Tanpa diminta, Anjani pun memberikan balasan kecil atas apa yang Mario berikan padanya. Sebuah keromantisan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
"Oya. Lovey juga memberimu oleh-oleh." Mario memberikan paper bag pemberian Lovey.
Kening Anjani mengernyit. Sedikit terheran dengan sikap yang ditunjukkan Lovey.
Dengan ditemani Mario, Anjani membuka paper bag bercorak elegan dengan kombinasi warna pink kecoklatan. Mata Anjani seketika berbinar kala mendapati high heels mewah dalam genggaman.
"Wow." Anjani terpukau. Sungguh, Anjani tidak pernah membeli yang seperti itu meski suaminya mampu.
Tak disangka, ekspresi yang ditunjukkan Anjani berbanding terbalik dengan Mario. Anjani tampak berbahagia, tapi Mario justru tidak suka.
"Jangan dipakai!" Mario melarang. High heels yang masih dikagumi Anjani seketika direbut dan disimpan.
"Loh? Kenapa, Mas?"
Mario tidak bisa mengatakan bahwa hati dan pikirannya dipenuhi kekhawatiran. Baru tadi pagi Mario menyaksikan kaki Lovey keseleo usai salah langkah saat memakai high heels di bandara. Apalagi begitu sampai di rumah, Mario menemui Anjani yang pingsan usai terpeleset hingga digendong Bastian. Mario tidak ingin nanti-nanti high heels pemberian Lovey membuat ulah bagi keselamatan Anjani.
"Kamu tidak cocok pakai ini." Mario berdalih.
"Terus cocoknya pakai apa, dong?"
Mario melangkah menuju rak sepatu Anjani dan mengambil sepatu biasa yang hak sepatunya tidak terlalu tinggi.
"Yang seperti ini cocok untukmu." Sepatu diletakkan kembali usai ditunjukkan pada Anjani.
"Tampil cantiknya cukup di depanku saja, ya Sayang."
Seketika Anjani mengerti apa yang dimaksud Mario. Anjani lekas mengangguk-angguk, kemudian melangkahkan kakinya menuju high heels pemberian Lovey yang disimpan Mario.
"Sayang dong kalau cuma disimpan. Boleh aku berikan Mbak Lastri, Mas? Biar diberikan keponakannya," izin Anjani.
"Boleh sekali. Sekarang kamu makan dan minum obatnya dulu, ya. Baru setelah itu istirahat."
Mario berniat mengambilkan makanan, tapi tangan Anjani lebih dulu mencegah dengan meraih pergelangan tangan.
"Aku mau makan kue yang dari Isabel aja, Mas." Anjani penuh harap.
"Makan nasi dulu saja, Sayang."
"Kue dulu, Mas. Dikit deh."
Mario menimbang sebentar, kemudian mengiyakan. Langkah Mario menuju meja, lantas mengambil sekotak kue berukuran sedang.
"Aku buatkan teh hangat sebentar."
"Tapi, Mas ...."
"Ssut. Menurut saja. Hari ini aku doktermu."
Anjani tak lagi membantah. Satu anggukan kepala meluncur seketika. Atas sikap penurut itu, Mario mengusap kepala Anjani dengan senyum merekah.
Kotak kue pemberian Isabel menjadi perhatian. Dibukanya perlahan, dan tampaklah kue tart mini dengan krim hiasan dengan topping oreo dan wafer cocho.
"I love you." Anjani mengeja tulisan pada kue tart yang diujung-ujungnya berhiaskan krim bentuk mawar.
"Dasar Isabel. Emang nggak ada kata lain apa selain i love you." Anjani geleng-geleng kepala, lantas memilih mengabaikan pilihan tulisannya.
Anjani hanya tau kue itu pemberian Isabel yang diantarkan oleh Bastian. Anjani sama sekali tidak tahu bahwa kue yang kini dimakan olehnya adalah salah satu kue pemberian Riko yang sebenarnya diperuntukkan untuk Isabel. Sayang, pesan tersirat yang disampaikan Riko tidak sempat diketahui oleh Isabel.
Bersambung ....
Terima kasih sudah hadir dan membaca. Mampir juga ke novel pertama author yang berjudul Cinta Strata 1, ya. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Kenal juga sahabat baiknya Anjani, Meli. Merapat ke novel Menanti Mentari karya my best partner, Kak Cahyanti. Dukung kami 💙
NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario.
***
Emang Mamanya kemana???
Sedangkan sewaktu Ayah Mario selepas pulang dari Bandara kan bareng Mamanya,terus kenapa " Ada tapi seakan tiada."?!
😤😤😤