[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [24]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Terkadang proses untuk dewasa itu berat, tidak semudah ketika berkata 'Aku ingin menjadi dewasa'. ...
...-Iis Anastashia-...
"Gue mantannya." ucap Revan dengan bangga.
"Gitu aja bangga," ujar Haiden sambil menatap sinis kearah Revan yang membanggakan dirinya sebagai bagian dari masa lalu Iris.
Kenapa jadi gini sih! Zheinnnn!! ucap Iris dalam hati, dirinya masih terjebak dalam dua orang yang entah akan berbuat apa selanjutnya.
Lo kemana sih Zhein! ujar Iris dalam hati.
"Kenalin gue pacarnya." ucap Haiden sambil mengulurkan tangannya ke arah Revan. Iris yang mendengar perkataan Haiden tidak bisa berbuat apa-apa, lidahnya seolah memang benar-benar mati untuk berkata tidak.
"Ini pacar lo ris?" tanya Revan sambil menatap mata Iris yang sedang khawatir.
Zhein, tolongin gue. ucap Iris dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ris, gue cuman butuh jawaban lo, dia pacar lo?" tanya Revan lagi saat Iris tidak menjawab pertanyaan Revan.
"Lo liat kan? Iris diem itu artinya Iris pacar gue." jawab Haiden.
"Iris." panggil seseorang.
"Sherin," sahut Iris saat mendengar panggil Sherin.
"Rin, tolongin gue." ucap Iris dengan nada berbisik sambil menggenggam tangan Sherin.
Sedangkan Sherin hanya diam, tidak membalas ucapan Iris, Sherin langsung menghempaskan dengan kasar genggaman tangan Iris padanya. Iris yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa menatap tidak percaya ke arah Sherin.
"Kenapa Rin?" tanya Iris.
"Lo emang bener-bener gak tau diri ya Ris." ucap Sherin dengan tatapan tajam.
"Maksud lo?" tanya Iris bingung.
"Lo udah ngambil Haiden dari gue, gue kesini sama Revan cuman mau bantuin dia biar bisa sama lo lagi, itu kan yang lo mau? balikan sama Revan?" tanya Sherin dengan tatapan tajam.
"Tapi Rin, gue... " jawab Iris, namun perkataannya langsung di potong oleh Sherin.
"Apa?! Ini balesan lo sama gue?! gue udah baik mau bantuin lo biar bisa lagi sama Revan! tapi apa semua ini balasan lo? lo ngambil Haiden dari gue Ris! lo emang sahabat yang gak tau diri banget Ris!" bentak Sherin.
"Sherin!" bentak Haiden yang geram dengan perkataan Sherin pada Iris. Sherin yang mendengar bentakan itu hanya menatap sinis ke arah Iris yang sudah berkaca-kaca.
"Lo liat? pengaruh hidup lo itu bener-bener berpengaruh. Lo itu emang gak tau diri Ris! gue gak nyangka banget sama lo!" ucap Sherin.
"Rin, udah." ujar Revan.
"Lagi? lo liat? dua orang ngebentak gue cuman karena cewek gak tau diri kayak lo!" bentak Sherin.
"Rin, dengerin gue dulu, lo salah paham sama semua ini," ucap Iris.
"Apa yang mau lo jelasin lagi? gue denger semuanya! gue gak salah denger Ris!" ujar Sherin dengan nada kesal.
"Gue gak mau sahabatan bahkan temenan lagi sama lo! jangan harap gue kembali jadi sahabat lo, anggap aja kita kayak dua orang yang gak pernah kenal!" sambung Sherin.
Bagaikan disambar petir, perkataan Sherin membuat Iris meneteskan air matanya, dia bukan lemah, tapi dirinya berada dalam situasi yang sangat membingungkan, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berucap dalam hati dan menangis.
Zhein, lo dimana? tanya Iris.
Kenapa harus kayak gini? gue gak mau persahabatan gue sama Sherin hancur gitu aja cuman gara-gara laki-laki yang bahkan semua ini salah paham. ucap Iris sambil menyeka air matanya yang sudah menetes.
"Ikut gue," ajak Haiden sambil menggenggam tangan Iris untuk mengikuti dirinya, sedangkan Iris tidak mengikuti Haiden.
"Gue gak mau ikut sama lo." ucap Iris dengan datar.
"See.. Iris gak mau ikut sama lo," ujar Revan sambil menggenggam tangan Iris.
"Gue juga gak mau ikut sama lo Van," ucap Iris.
"Gue kesini sama Zhein dan gue harus pulang sama dia lagi." sambung Iris sambil melepaskan genggaman tangan Haiden dan Revan pada pergelangan tangannya.
"Zhein?" tanya Revan bingung.
"Ris." panggil seseorang. Iris yang mendengar suara itu langsung berlari ke arah sumber suara sambil memeluk orang tersebut.
Haiden, Revan dan Sherin hanya menatap Iris yang memeluk Zhein secara tiba-tiba, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kenapa?" tanya Zhein sambil menatap satu persatu orang yang sejak tadi bersama Iris.
"Gue mau pulang," jawab Iris sambil meneteskan air matanya.
"Lo nangis?" tanya Zhein sambil melihat kearah Iris yang sedang menangis dalam pelukannya. Zhein yang melihat itu langsung menatap tajam kearah Revan, Sherin dan Haiden sambil. mengepalkan tangannya.
"Zhein," panggil Iris saat Zhein ingin melangkahkan kakinya.
"Gue mau pulang sekarang, gue gak mau disini Zhein," ucap IrisIris yang masih menangis.
"Ayo," ajak Zhein pada Iris, Iris mengikuti Zhein yang menuju motor sport nya itu.
"Iris." panggil Revan sambil melangkahkan kakinya untuk mengejar Iris, namun, langkahnya terhenti saat Haiden mencekal tangan Revan.
"Jangan sampai hidup lo mati saat ini juga," ucap Haiden saat melihat tatapan amarah yang ada di mata Zhein, Revan yang mendapat peringatan dari Haiden langsung memberhentikan langkahnya untuk mengejar Iris yang sudah berada di atas motor Zhein.
Apapun caranya, gue bakalan bisa dapetin lo Ris. ucap Haiden dan Revan dalam hati sambil menatap kepergian Iris bersama dengan Zhein.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan suasana di motor Zhein dan Iris tidak ada percakapan apapun, mereka berdua larut dalam pikiran nya masing-masing, Zhein sedang mencoba untuk menahan amarahnya sedangkan Iris sedang menangis di pundak Zhein sambil memeluk pinggang Zhein. Iris tidak peduli baju Zhein akan basah, hari ini adalah hari terburuk yang pernah Iris lewati.
Kenapa? Kenapa Rin? lo gak. mau denger penjelasan gue? tanya Iris dalam hati.
"Zhein," panggil Iris sambil memeluk erat Zhein, Zhein yang mendapat panggil seperti itu hanya bisa mengelus lembut tangan Iris yang melingkar di pinggangnya.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗