NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: KEBANGKITAN DIDASAR JURANG DAN TEKAD YANG MEMBARA

Kegelapan yang menyelimuti dasar jurang terdalam di bawah benteng kuno Klan Kabut bukanlah kegelapan biasa. Tempat itu adalah tempat pembuangan akhir bagi mereka yang dianggap sebagai sampah dan pengkhianat oleh Penguasa Gorgan. Hawa dingin yang bersemayam di sana begitu ekstrem hingga sanggup membekukan tetesan darah sebelum sempat menyentuh tanah berbatu yang tajam. Kabut hitam yang melayang rendah di dasar jurang berbau busuk, pekat oleh aroma belerang dan sisa-sisa energi magis terlarang yang telah mati. Di tempat terkutuk inilah, tubuh tinggi dan kokoh milik Dion tergeletak diam tak bergerak bagai seonggok batu karang yang runtuh.

Kondisi sang pemburu kabut sangat mengenaskan. Pakaian kulit hitamnya yang tebal telah hancur terkoyak, menempel pada luka menganga di dada bidangnya akibat hantaman sarung tangan besi berduri milik Gorgan. Beberapa tulang rusuknya patah, dan jalur aliran darah di lengan kanannya melepuh hitam akibat sengatan paksa dari segel kutukan kontrak darah. Napasnya telah berhenti, dan detak jantungnya yang biasa berdegup kencang kini telah senyap, membuat para pengawal klan kabut yakin bahwa jiwa Dion telah terlepas dari raganya dan musnah ditelan kegelapan jurang.

Namun, Gorgan dan seluruh pasukannya meremehkan satu hal yang paling murni di dunia ini: kekuatan dari sebuah keterikatan jiwa.

Jauh di dalam saku celana kulit Dion yang robek, sebutir kelopak bunga Lunaria yang sempat terjatuh dan tersimpan secara tidak sengaja saat ia membantu Mayang semalam, mendadak bergetar halus. Kelopak bunga kecil yang transparan itu tidak hancur oleh hawa dingin jurang. Sebaliknya, ia mulai memancarkan pendaran cahaya keperakan yang sangat lembut namun memiliki intensitas murni yang luar biasa tinggi. Cahaya keperakan itu tidak berasal dari sisa energi alam, melainkan bereaksi secara gaib dengan sisa-sisa energi cahaya emas murni milik Mayang yang sempat tertinggal di dalam sistem aliran darah Dion pasca-penyatuan raga dan jiwa mereka di atas ranjang fajar tadi pagi.

Perlahan tapi pasti, cahaya keperakan dari kelopak bunga Lunaria itu merembes keluar menembus kain saku, bergerak merayap seperti benang-benang sutra gaib di atas kulit telanjang Dion yang sedingin es. Ketika benang cahaya itu menyentuh luka hancur di dada bidang Dion, sebuah keajaiban yang menolak hukum kematian mendadak tercipta. Hawa hangat yang sangat nyaman mulai menjalar, mengikis sisa-sisa racun hitam kutukan Gorgan yang menyumbat pembuluh darah jantungnya.

...Deg...

Sebuah denyutan samar, sangat tipis dan hampir tak terdengar, mendadak muncul dari dalam dada Dion. Udara dingin di dalam paru-parunya yang semula membeku, perlahan-lahan mencair seiring dengan mengalirnya kembali sel-sel darah merah yang kini telah dibersihkan oleh kehangatan energi bunga dan cahaya Mayang. Tulang-tulang rusuknya yang patah mulai bergeser kembali ke posisi semula dengan suara gemertak halus, menyatu kembali di bawah rajutan sihir penyembuh yang bekerja di luar nalar manusia.

Dion tersentak hebat, sepasang mata abu-abu badainya mendadak terbuka lebar di tengah kegelapan dasar jurang. Ia menghirup udara busuk di sekitarnya dengan rakus, dadanya naik turun dengan cepat saat kesadarannya pulih sepenuhnya. Rasa perih yang luar biasa masih mendera seluruh otot tubuhnya, namun rasa perih itu tidak lagi melumpuhkannya. Dion perlahan bertumpu pada kedua telapak tangannya yang kasar, mendorong tubuh tingginya untuk bangkit berdiri di atas tanah berbatu yang licin.

Ia menunduk, menatap dadanya yang kini menyisakan sebuah tanda bekas luka berbentuk pusaran cahaya keperakan yang samar. Dion meraba saku celananya, mengeluarkan sisa serpihan kelopak bunga Lunaria yang kini telah kehilangan cahayanya dan hancur menjadi debu putih yang lembut. Pria itu mengulum senyum tipis yang sangat seksi namun sarat akan tekad yang mematikan. Ia tahu betul, bukan sekadar bunga ini yang menghidupkannya kembali, melainkan sisa kehangatan dari cinta dan pasrah raga Mayang yang telah menahan jiwanya agar tidak menyeberang ke alam kematian.

"Gorgan... kau salah jika mengira aku akan mati semudah ini," desis Dion, suaranya baritonnya terdengar sangat dalam, bergetar rendah dipenuhi amarah yang kian membara. Genggaman tangannya pada hulu belati peraknya yang masih terselip di pinggang mengencang hingga urat-urat di lengannya menonjol tajam. Siksaan fisik yang ia terima justru menghancurkan seluruh belenggu ketakutan batinnya; kini ia tidak lagi memiliki beban apa pun untuk meledakkan seluruh amarahnya demi menghancurkan benteng tirani klan kabut dan merebut kembali adik perempuannya, Rhea.

Sementara itu, di waktu yang sama di atas alun-alun Desa Shrouded, suasana masih dilingkupi oleh guncangan moral yang teramat sangat. Kesaksian polos dari bocah kecil bernama Tio telah meruntuhkan seluruh dinding kebohongan dan kebencian buta yang selama ratusan tahun dipelihara oleh para tetua untuk mengutuk silsilah klan kabut. Warga desa yang beberapa menit lalu berteriak beringas ingin membakar Mayang, kini berdiri terpaku dengan kepala tertunduk dalam, didera oleh rasa bersalah dan malu yang luar biasa karena hampir saja mengeksekusi putri dari wanita yang dilindungi oleh seorang pahlawan sejati.

Mayang berdiri tegak di tengah alun-alun, mengabaikan tumpukan kayu bakar dan obor api yang kini telah dijatuhkan ke atas tanah berlumpur oleh para algojo desa. Jubah beludru merah tuanya yang kotor oleh lumpur hitam kini berkibar megah seiring dengan bangkitnya kembali seluruh energi magis di dalam tubuh murninya. Sepasang mata jernihnya kini telah berubah menjadi emas sempurna, memancarkan pendaran cahaya fajar yang begitu menyilaukan hingga mampu mengusir hawa dingin kabut hitam yang melayang di sekeliling halaman.

Rasa bersalah karena telah meragukan kesetiaan Dion sepanjang malam ini bermutasi menjadi sebuah kekuatan baru yang tak tergoyahkan di dalam dada Mayang. Ia kini tahu bahwa keheningan Dion kemarin siang bukanlah sebuah pengkhianatan, melainkan sebuah pengorbanan suci seorang pria yang terpaksa berpura-pura menjadi monster demi menyelamatkan adiknya yang disandera karena telah menolong anak desa ini.

"Warga desaku sekalian!" suara Mayang bergaung lantang, memotong keheningan malam dan menembus langsung ke dalam sanubari setiap penduduk yang mendengar. "Pria yang kalian sebut sebagai monster, Dion, saat ini sedang menderita di dalam benteng kegelapan sana karena telah memilih untuk melindungi anak-anak kita! Selama dua ratus tahun kita hidup dalam ketakutan dan kebohongan yang diciptakan oleh para tetua yang licik! Apakah hari ini kita akan kembali bersembunyi di dalam rumah seperti pengecut, atau kita akan berdiri bersama untuk merebut kembali kedamaian sejati lembah ini?!"

"Kami akan ikut bersamamu, Mayang!" teriak sang pemimpin massa yang tadi ingin menghakimi Mayang, melangkah maju sambil menjatuhkan diri berlutut di depan Mayang sebagai tanda permohonan maaf dan kesetiaan baru. "Kami telah salah menilai pemuda itu! Kami tidak akan membiarkan penyelamat anak-anak kami bertarung sendirian di atas gunung sana!"

"Benar! Kami akan ikut! Hancurkan tirani klan kabut!" seru ratusan warga desa lainnya serempak, mengangkat kembali senjata mereka—cangkul, tombak besi, dan kayu pemukul—namun kali ini bukan dengan amarah buta, melainkan dengan kobaran tekad suci untuk menebus kesalahan masa lalu mereka.

Mayang menatap gelombang dukungan itu dengan air mata haru yang mengalir di pipinya, namun tatapannya segera beralih menatap lurus ke arah puncak gunung yang diselimuti kabut hitam pekat. Melalui ikatan jiwa yang telah terjalin kuat di antara mereka sejak malam gairah itu, Mayang bisa merasakan sebuah getaran halus yang tiba-tiba bangkit dari dasar jurang terjauh—sebuah getaran hangat yang menandakan bahwa belahan jiwanya telah kembali bernapas.

"Dion... aku datang menjemputmu," bisik Mayang dalam hati, menggenggam erat ujung jubah merah tuanya sebelum mulai melangkah memimpin barisan warga desa menerobos kegelapan hutan maut, bersiap untuk memicu perang besar yang akan mengubah peta takdir Lembah Shrouded untuk selama-lamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!