NovelToon NovelToon
Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.

"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.

"Belum," jawab Sarah tenang.

Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.

"Lalu... apa kamu punya pacar?"

"Tidak," jawab Sarah lagi.

Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.

"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."

****

Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sesuai dengan kesepakatan damai pengganti surat tilang resmi, Sarah akhirnya duduk manis di salah satu sudut kedai boba yang ber AC di seberang jalan. Tidak berselang lama, Ardhana menyusul setelah menyelesaikan operan sif jaganya. Pria itu kini sudah melepas atribut rompi dinasnya, menyisakan kaos polos yang mungkin ia sempatkan berganti di pos tadi.

“Nggak nunggu lama, kan?” tanyanya saat baru saja menarik kursi yang ada di samping Sarah.

“Nggak kok,” jawab Sarah sambil menyeruput minuman bobanya.

Ardhana menatap Sarah lalu bergantian ke arah meja, seperti sedang mencari sesuatu. “Punyaku nggak dipesankan?”

“Aku nggak tahu kamu mau yang mana,” jawab Sarah tanpa beban.

Ardhana hanya bisa menghela napas pasrah. Dirinya tahu jika jalannya masih begitu panjang minimal sampai Sarah mau memesankan makanan atau minuman untuk dirinya.

Ketenangan yang tercipta di meja itu mendadak buyar dalam hitungan detik. Dari arah pintu masuk kedai yang terbuat dari kaca, terdengar suara lengkingan yang sangat familiar di telinga Sarah.“Lho, lho, lho! Ini mata aku nggak salah lihat, kan? Sar! Kamu ngapain di sini berduaan sama Pak Polisi?”

Sarah tersedak boba yang baru saja ia sedot. Ia menoleh patah-patah ke arah sumber suara dan mendapati Tini sedang berdiri di sana dengan mata membelalak lebar dan mulut setengah terbuka, persis seperti orang yang baru saja memergoki aksi kejahatan kelas kakap. Di belakang Tini, berdiri suaminya yang tampak membawa beberapa kantong plastik belanjaan dengan wajah pasrah khas bapak-bapak yang sedang menemani istrinya jalan-jalan sore.

Wajah Sarah seketika berubah panik setengah mati. Kulit putihnya langsung merona merah padam, bingung harus menyembunyikan wajahnya di mana. Ia merasa seperti seorang murid sekolah yang tertangkap basah sedang membolos oleh guru bimbingan konseling.

“Ti-Tini? Kok kamu bisa di sini?” tanya Sarah gagap, tangannya refleks merapikan letak duduknya agar terlihat lebih formal dan berjarak dari Ardhana.

Berbanding terbalik dengan Sarah yang hampir terkena serangan jantung, Ardhana justru menampilkan reaksi yang begitu santai. Wajah tengilnya langsung keluar. Pria itu malah tersenyum lebar tanpa beban, seolah kehadiran Tini di tempat itu memang sudah ia prediksikan sebelumnya. Dengan gerakan yang sangat sopan namun tersimpan maksud terselubung, Ardhana berdiri dari kursinya untuk menyapa.

“Wah, sore, Bu Tini. Sore, Mas,” sapa Ardhana ramah kepada Tini dan suaminya. “Kebetulan banget nih bisa ketemu di sini. Ayo, mampir dulu, Bu, Mas. Gabung aja sekalian di meja kami, biar ramai. Biar saya yang traktir sekalian boba dan cemilannya.”

Suami Tini yang dasarnya adalah pria kalem dan pemalu langsung menyenggol lengan istrinya pelan. “Eh, nggak usah, Pak Polisi. Makasih banyak. Ini kami baru mau langsung pulang, kasihan anak di rumah dititip ke neneknya.”

Namun, bukan Tini namanya kalau melewatkan kesempatan emas penuh gosip seperti ini. Dengan gerakan cepat, Tini langsung menepis pelan tangan suaminya dan melangkah maju, menarik kursi kosong di dekat meja Sarah tanpa permisi.

“Ah, Ayah ini gimana sih, anak kan aman sama neneknya. Sebentar aja kok,” sahut Tini bersemangat, mengabaikan kode mata dari suaminya. Tini kemudian menoleh ke arah Ardhana dan Sarah dengan senyuman penuh arti yang sangat jahil.

“Oke, kalau ditawari begini ya aku setuju banget buat gabung! Lagian ya, Sar, Pak Ardhana… di dalam agama kita kan nggak boleh berduaan kalau bukan muhrim. Nanti yang ketiganya setan lho! Jadi, kehadiran aku di sini itu mulia banget, sebagai benteng penyelamat dari godaan setan pembawa baper,” cerocos Tini panjang lebar dengan nada bercanda yang kental.

Sarah hanya bisa menepuk jidatnya sendiri dengan pasrah, merutuki nasibnya yang harus terjebak di antara mantan kekasih yang tengil dan sahabat yang luar biasa bermulut ember.

Mendengar argumen kocak dari Tini, Ardhana justru tertawa renyah. Ia kembali duduk di kursinya, menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari melemparkan kerlingan mata jahil ke arah Sarah yang sedang cemberut.

“Wah, benar juga ya ucapan Bu Tini. Bahaya kalau berduaan terus begini,” kata Ardhana dengan nada suara yang sengaja dibuat dramatis. “Berarti… harus cepat-cepat dihalalin ya, Bu, biar bisa bebas berduaan ke mana-mana tanpa perlu takut digrebek?”

Mata Tini langsung berbinar-binar cerah seolah baru saja memenangkan lotre mendengar umpan lambung dari Ardhana. Ia menggebrak meja boba itu pelan dengan telapak tangannya saking hebohnya.

“Nah! Itu dia! Seratus buat Pak Ardhana!” seru Tini lantang, membuat beberapa pengunjung kedai boba menoleh ke arah mereka. “Iya, harus banget segera dihalalin! Kamu dengerin tuh, Sar! Makanya, Pak Ardhana, cepetan nentuin hari dan tanggalnya dong. Jangan digantung terus anak orang, nanti keburu diambil guru honorer lain lho!”

Ardhana kembali terkekeh geli melihat dukungan penuh yang diberikan oleh Tini. Dengan wajah tengilnya yang semakin menjadi-jadi, pria berseragam itu menjawab dengan sangat santai namun tatapan matanya tetap mengunci wajah Sarah yang kini sudah hampir meledak karena menahan malu.

“Tenang aja, Bu Tini. Kalau soal nentuin hari sih gampang banget. Kalau nggak hari Sabtu, ya pastinya hari Minggu, Bu Tini,” jawab Ardhana tangkas sembari mengedipkan sebelah matanya.

“Iya, bener banget! Minggu depannya langsung akad ya, Pak!” sahut Tini bersemangat, disambut tawa kompak antara dirinya dan Ardhana.

“Ar! Tini! Udah deh, stop! Kalian berdua ini kalau digabungin bener-bener bikin pusing ya!” potong Sarah akhirnya, tidak tahan lagi menjadi bahan gurauan. Ia menyedot bobanya dengan kasar demi menutupi debaran jantungnya yang mendadak berdegup kencang akibat candaan Ardhana yang terasa terlalu nyata di indra pendengarannya.

Sementara itu, suami Tini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum maklum melihat kelakuan ajaib istrinya sore itu.

1
Esther
Koq jadi Ardhana yg disalahin Sar, kan kamu yg gengsi mengakui kalau masih suka.
Panas....cemburu melanda😂
Esther
Nanti kalau Ardhana jalan sama cewek lain, baru deh Sarah kelimpungan. Jangan gengsi Sar kalau emang suka😄
Esther
Sabar Ar....kalau jodoh tak lari.kemana
mumu: kalau kata Afgan, Jodoh Pasti Bertemu... 🎶🎶
total 1 replies
bidadari
hai ka.. kenalan dong
mumu: halo, kak.. salam kenal ya ☺️
total 1 replies
Esther
ya udah....pasrah banget sih Sarah😂😂.
Esther
Gak ketemu Ardhana koq malah galau Saras😂
Esther: *Sarah* mksdnya😁
total 1 replies
Esther
Sikap tenang Sarah membuat Ardhana malah kepikiran😁
Esther
ternyata seperti itu ceritanya.
Esther
selalu suka dengan semua ceritanya
mumu: terima kasih, kakak selalu dukung author 🥰🥰
total 1 replies
Esther
double up dong thor
Ani
jawab Ardhana jang cuman diam membeku kayak patung..

kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Esther
Aluna koq nyasar kesini thor😄
mumu: lah lagi mikirin si Aluna ini soalnya 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ani
dengerin dulu Sar, penjelasan Ardhana siapa tau setelah itu harimu jauh lebih mantap dan tenang dalam mengambil keputusan dikemudian hari
Esther
Lanjut
Ani
ceritanya bagus, penulisan nya juga rapi..
Ani
pantesan kalau sarah ampe trauma begitu..
Ani
kira kira ini daerah mana ya kak.. kok jadi penasaran aku nya 😄😄😄😄
Ani: waduh..
total 2 replies
Esther
semangat ya Saras
Esther
waduh koq sampai gitu thor, sengaja nabrak othor.
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor
Esther: ngeri ya thor lawan psikopat
total 2 replies
falea sezi
lanjut banyak q kirim hadiah
mumu: maaf lama up, nya 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!