saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 12.penguji hati
Waktu bergerak seperti roda yang terus berputar tanpa henti, membawa semua tokoh dalam cerita ini semakin dekat ke garis batas yang telah ditentukan. Hanya tersisa waktu sekitar satu setengah bulan lagi sebelum momen yang ditunggu itu tiba saat Zahra resmi menyandang gelar sarjana, dan perjalanan yang akan mempertemukan mereka semua dimulai. Dalam rentang waktu yang terasa singkat namun penuh makna ini, setiap hari membawa peristiwa, perasaan, dan pelajaran yang semakin membentuk siapa diri mereka masing-masing.
Di desa tempat tinggalnya, kehidupan Rendra kini berjalan dengan ritme yang lebih teratur namun tetap penuh tantangan. Usahanya terus menunjukkan kemajuan yang stabil, bahkan mulai melayani pesanan dalam jumlah lebih besar untuk proyek pembangunan rumah warga di sekitarnya. Kepercayaan yang diberikan masyarakat kepadanya menjadi modal terbesar yang tak ternilai harganya. Setiap hari, ia bangun sebelum matahari terbit, berdoa memohon kemudahan rezeki, lalu segera menuju toko untuk memulai aktivitasnya.
Meskipun sudah memiliki dua orang karyawan yang membantunya, Rendra tetap tidak pernah merasa diri lebih tinggi dari siapa pun. Ia masih turun tangan mengawasi setiap barang yang masuk dan keluar, memeriksa kualitasnya, dan tetap melayani pelanggan dengan senyum yang sama seperti saat pertama kali membuka usahanya. Sikap ini membuat warga semakin menghormatinya mereka melihat bukan hanya seorang pengusaha yang sukses, tetapi juga orang yang tetap rendah hati meski keadaannya sudah berubah.
Namun, di tengah kemajuan itu, hubungan dengan Putri masih menjadi hal yang paling sering membuat hatinya bergejolak. Meskipun setelah pembicaraan terakhir mereka suasana menjadi lebih tenang, perbedaan pandangan yang mendasar itu tidak bisa hilang begitu saja. Ia seperti berjalan di atas jalan yang sempit, harus berusaha menyeimbangkan antara mempertahankan jati dirinya dan memenuhi harapan kekasihnya.
Suatu hari, sebuah undangan pernikahan datang dari keluarga jauh Putri yang tinggal di kota kecamatan. Acaranya akan berlangsung dua minggu lagi, dan Putri meminta Rendra untuk menemaninya hadir. Hal ini menjadi ujian baru bagi mereka berdua.
“Rendra, acara ini penting sekali. Banyak kerabat dan kenalan kami yang akan hadir. Tolonglah kali ini, kenakan pakaian terbaik yang kau miliki, dan potong serta rapikan janggutmu dengan rapi. Aku ingin kita terlihat serasi dan pantas di mata semua orang,” pinta Putri dengan nada yang lembut namun tetap mengandung harapan yang besar.
Rendra mengangguk perlahan. Ia mengerti pentingnya acara keluarga, dan ia sudah berjanji untuk berusaha berkompromi sejauh yang bisa ia lakukan. “Baik, Putri. Aku akan berusaha memenuhi permintaanmu kali ini. Aku akan memotong rambut dan merapikan brewokku, serta mengenakan pakaian yang rapi. Tapi ingat, ini hanya untuk acara resmi seperti ini saja. Saat kembali bekerja, aku akan kembali seperti biasanya.”
Putri tersenyum lega mendengar jawaban itu. “Terima kasih, Rendra. Aku tahu ini sulit bagimu, tapi percayalah, ini akan membuat kita lebih dihormati. Lama-kelamaan kau juga akan merasa nyaman dengan perubahan kecil ini.”
Namun, di dalam hati Rendra tetap ada rasa berat. Saat ia berdiri di depan cermin, melihat bayangan dirinya yang bersih dan rapi, tanpa janggut yang tumbuh lebat seperti biasa, ia merasa ada bagian dari dirinya yang seolah hilang untuk sementara. Ia teringat masa-masa sulitnya, keringat yang ia teteskan, dan perjuangan yang membawanya sampai ke titik ini. Semua itu terasa terhubung erat dengan penampilan yang ia pertahankan selama ini. Namun ia mencoba meyakinkan dirinya ini bukan berarti ia mengubah jati diri, hanya menyesuaikan diri untuk momen tertentu saja.
Acara pernikahan itu pun berlangsung sesuai harapan. Mereka terlihat serasi, banyak yang memuji penampilan Rendra, dan Putri merasa sangat bangga. Namun di tengah pujian itu, Rendra merasa seperti bukan dirinya sendiri. Ia tersenyum dan menyapa orang lain, namun hatinya terasa kosong. Saat mereka pulang ke rumah pada malam harinya, ia segera mencuci wajah dan melepas pakaian resmi itu, lalu duduk termenung di teras sambil memandang langit malam.
Putri melihatnya dan mendekat. “Kau terlihat lelah, Ren. Tapi lihatlah, semua orang memujimu hari ini. Bukankah terasa lebih baik jika kau tampil seperti ini lebih sering?”
Rendra menoleh, matanya menatap Putri dengan pandangan yang jujur. “Memang terlihat lebih rapi, Putri. Tapi aku merasa seperti memakai topeng. Aku senang membuatmu bangga hari ini, tapi aku tidak bisa hidup dengan topeng ini setiap hari. Aku ingin dicintai bukan karena penampilan yang bisa diubah-ubah, tapi karena apa yang ada di dalam hatiku dan apa yang telah aku lalui.”
Kalimat itu membuat Putri terdiam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mendengar ketulusan di balik kata-kata Rendra. Ia mulai menyadari bahwa selama ini ia terlalu fokus pada bagaimana orang lain melihat mereka, sampai lupa melihat apa yang sebenarnya dirasakan oleh pria yang ia cintai. Ia duduk di samping Rendra, meraih tangannya dengan lembut.
“Maafkan aku, Rendra. Mungkin aku memang terlalu memikirkan pandangan orang lain. Aku hanya ingin kita berjalan di jalan yang dianggap baik oleh banyak orang. Tapi aku mengerti sekarang jika itu membuatmu tidak nyaman dan merasa bukan dirimu sendiri, maka itu bukan hal yang baik juga. Aku akan berusaha lebih mengerti, sungguh.”
Malam itu menjadi titik balik kecil dalam hubungan mereka. Tidak ada perubahan mendadak, namun ada kesepahaman yang mulai tumbuh bahwa cinta membutuhkan pengertian, bukan tuntutan yang terus-menerus.
Di kota tempat ia tinggal, Zahra kini memasuki masa paling mendebarkan ujian sidang skripsinya akan dilaksanakan dalam waktu tiga hari lagi. Selama berminggu-minggu terakhir, ia telah menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ia menghafal poin-poin penting, mempelajari kembali setiap teori dan data yang digunakan, serta melatih cara berbicara agar jelas dan percaya diri.
Raka selalu ada di sisinya, memberikan dukungan moril dan semangat yang tak pernah habis. Ia bahkan menyempatkan waktu untuk berperan sebagai penguji latihan, mengajukan pertanyaan yang mungkin muncul agar Zahra terbiasa menghadapinya.
“Tenang saja, Zahra. Kau sudah berusaha sebaik mungkin selama ini. Semua yang kau tulis adalah hasil pemikiran dan kerja kerjamu sendiri. Percayalah pada kemampuanmu, jawablah dengan jujur dan tenang, maka semuanya akan berjalan lancar,” ujar Raka menenangkan saat melihat Zahra terlihat gelisah di malam sebelum ujian.
Zahra mengangguk, menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. “Terima kasih, Ka. Tanpa dukunganmu, aku pasti sudah menyerah sejak lama. Aku hanya berharap bisa lulus dengan hasil yang baik, dan membuat ayah serta ibu bangga di desa.”
Hari ujian pun tiba. Zahra memasuki ruang sidang dengan perasaan yang campur aduk takut, cemas, namun juga penuh harap. Ia duduk di depan tiga orang dosen penguji, lalu memulai presentasinya. Awalnya suaranya terasa sedikit bergetar, namun seiring berjalannya waktu, saat ia mulai membahas materi yang sudah ia pahami dengan baik, rasa gugup itu perlahan menghilang. Ia menjawab setiap pertanyaan dengan tenang dan jelas, menjelaskan alasan di balik setiap tulisannya dengan keyakinan.
Setelah hampir dua jam berlalu, sesi ujian pun selesai. Zahra diminta menunggu di luar ruangan sambil para penguji membahas hasilnya. Beberapa menit kemudian, ia dipanggil kembali masuk. Wajah para dosen terlihat ramah.
“Selamat, Saudari Zahra. Skripsi dan jawaban Saudari telah kami nilai dengan cukup baik. Dengan ini, kami menyatakan Saudari dinyatakan LULUS dengan predikat yang memuaskan. Silakan melanjutkan ke tahap selanjutnya untuk mengikuti upacara wisuda nanti,” ujar ketua penguji dengan senyum.
Air mata bahagia tak terbendung mengalir di pipi Zahra. Ia mengucapkan terima kasih berulang kali, lalu keluar dari ruangan dengan perasaan yang meluap-luap. Begitu melihat Raka yang menunggu di depan, ia langsung memeluknya erat, tak mampu berkata-kata. Impian yang ia rajut selama bertahun-tahun akhirnya mulai terwujud.
“Kau berhasil, Zahra! Aku bangga sekali padamu,” ujar Raka sambil membalas pelukan itu dengan lembut, matanya juga terasa berkaca melihat kebahagiaan kekasihnya.
Hari-hari berikutnya diisi dengan kebahagiaan dan persiapan. Jadwal wisuda pun ditetapkan tepat tiga minggu lagi. Setelah itu, mereka akan segera berangkat menuju kampung halaman Raka, bertemu dengan keluarganya, dan tentu saja bertemu dengan Rendra seperti yang telah direncanakan.
Kini Zahra mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk perjalanan itu. Ia memilih pakaian yang sederhana namun rapi, sesuai dengan kepribadiannya. Ia juga belajar sedikit cara merias diri agar terlihat lebih segar, namun tetap mempertahankan kesederhanaan yang menjadi ciri khasnya. Ia tidak ingin terlihat berlebihan, hanya ingin tampil sopan dan wajar di hadapan orang-orang baru yang akan ia temui nanti.
Selama masa persiapan ini, ia sering bertanya kepada Raka tentang keadaan desa, tentang rumah mereka, dan tentang bagaimana kehidupan Rendra saat ini. Setiap cerita yang didengarnya semakin menumbuhkan rasa ingin tahu dan rasa hormatnya kepada pria itu.
“Jadi Rendra benar-benar mempertahankan prinsipnya sampai sekarang, ya?” tanya Zahra suatu sore saat mereka duduk di kafe, sambil melihat foto-foto lama yang ditunjukkan Raka foto masa sekolah mereka, foto saat masih remaja, dan juga foto terbaru yang baru saja dikirim Rendra.
Di dalam foto itu, terlihat Rendra berdiri di depan tokonya, mengenakan pakaian kerja sederhana, wajahnya terlihat gagah dengan brewok yang tumbuh rapi namun tetap terlihat alami, senyumnya lebar dan tulus. Zahra menatap foto itu dengan perhatian yang lebih lama dari biasanya. Ada ketenangan dan kekuatan yang terpancar dari wajah pria itu sesuatu yang membuatnya merasa tenang hanya dengan melihatnya sekilas.
“Ya, dia selalu seperti itu. Prinsipnya teguh, hatinya jujur. Mungkin itulah yang membuatnya bisa bertahan melewati semua masa sulit itu,” jawab Raka sambil melihat foto yang sama. “Kau akan melihatnya sendiri nanti. Dia bukan orang yang banyak bicara, tapi perkataannya selalu bisa dipercaya.”
Berita keberhasilan Zahra segera disampaikan Raka kepada Rendra lewat telepon. Mendengar kabar itu, Rendra merasa sangat senang dan ikut bangga.
“Bagus sekali, Ka! Ucapan selamat untuk Zahra. Pasti dia sangat berusaha keras sampai bisa lulus dengan hasil yang baik. Semoga keberhasilan ini menjadi awal dari masa depan yang lebih cerah untuknya,” ujar Rendra dengan nada yang antusias.
“Terima kasih, Ren. Kami sangat bersyukur. Sekarang waktunya tinggal menunggu hari wisuda, dan setelah itu kita segera berangkat. Kau sudah mempersiapkan segalanya di sana?” tanya Raka.
“Sudah hampir selesai. Ibu sudah sibuk sekali menyiapkan semuanya membersihkan kamar tamu, menyiapkan kasur dan perabotnya, bahkan sudah mulai memikirkan menu makanan yang akan disajikan. Katanya ingin menyambut kalian sebaik mungkin. Ayah juga sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu lagi,” jawab Rendra sambil tertawa.
“Wah, rasanya aku jadi tidak sabar juga. Sudah lama sekali tidak merasakan masakan ibumu, pasti sangat lezat seperti dulu,” balas Raka dengan nada rindu.
Selain membahas persiapan kedatangan mereka, Rendra juga menceritakan perkembangan hubungannya dengan Putri secara jujur kepada sahabatnya itu. Ia menceritakan apa yang terjadi di acara pernikahan dan bagaimana pemahaman baru mulai tumbuh di antara mereka.
“Sepertinya kami mulai belajar mengerti satu sama lain, Ka. Masih ada hal-hal yang berbeda, tapi setidaknya sekarang dia mulai berusaha melihat dari sudut pandangku juga. Semoga saja ini bisa berlanjut menjadi hal yang lebih baik,” kata Rendra.
“Itu langkah yang sangat baik, Ren. Hubungan yang baik tidak datang tanpa usaha dari kedua belah pihak. Kalau kalian sama-sama mau belajar dan menerima kekurangan masing-masing, niscaya jalan ke depan akan terasa lebih ringan. Semoga semuanya berjalan lancar sampai kalian bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius nanti,” ujar Raka memberikan dukungan.
Percakapan mereka malam itu terasa hangat dan akrab, membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak muda itu tidak pernah pudar meski terpisah jarak dan waktu. Mereka berdua menyadari bahwa pertemuan yang akan datang nanti bukan hanya sekadar bertemu kawan lama, tetapi juga momen yang akan menyatukan dua lingkaran kehidupan yang selama ini terpisah masa lalu dan masa kini, kota dan desa, serta harapan-harapan yang mereka bawa masing-masing.
Sementara itu, kabar tentang kedatangan tamu penting itu juga mulai tersebar di lingkungan desa. Warga mulai menunggu-nunggu, dan banyak yang penasaran ingin melihat kekasih Raka yang baru lulus sarjana itu. Di sisi lain, Putri juga sudah mengetahui bahwa nanti akan ada tamu istimewa yang datang. Ia mendengar bahwa Zahra adalah wanita yang sederhana dan berpendidikan, dan hal itu membuatnya ingin bersikap terbuka dan baik saat bertemu nanti.
“Kalau dia wanita yang baik dan bijaksana, mungkin aku bisa belajar banyak darinya juga. Siapa tahu dia bisa memberikan pandangan yang berbeda dan membantu kami lebih mengerti satu sama lain,” pikir Putri dalam hatinya.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Tiga minggu terasa seperti hanya tiga hari saja. Semua persiapan sudah selesai dilakukan baik di kota tempat Zahra tinggal maupun di desa tempat Rendra menanti.
Di hari wisuda, suasana terasa sangat meriah. Aula kampus dipenuhi oleh para wisudawan dan keluarganya masing-masing. Zahra mengenakan toga dan topi kebanggaannya, berdiri di antara teman-temannya dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya. Saat namanya dipanggil dan ia melangkah naik ke atas panggung untuk menerima ijazahnya, rasanya semua lelah, air mata, dan pengorbanan selama bertahun-tahun terbayar lunas. Ia menyandang gelar Sarjana Ilmu Sosial dengan rasa bangga dan syukur yang mendalam.
Raka berdiri di antara penonton, memotret momen itu dengan kamera ponselnya, matanya berkaca melihat perjuangan kekasihnya yang akhirnya membuahkan hasil. Di dalam hatinya, ia berjanji akan selalu mendampingi Zahra melewati setiap langkah kehidupan yang akan datang.
Malam itu, setelah acara selesai dan mereka berkumpul bersama teman-teman dan keluarga, Raka mengajak Zahra berbicara sebentar. “Selamat sekali lagi, Zahra. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupmu, dan aku merasa sangat bangga bisa melihatnya bersama. Besok pagi, kita akan berangkat menuju kampung. Di sanalah kita akan bertemu dengan keluargaku, dengan Rendra, dan memulai babak baru yang telah kita nantikan bersama.”
Zahra mengangguk, hatinya terasa berdebar kencang bukan lagi karena cemas menghadapi ujian, melainkan karena rasa gembira dan penasaran yang bercampur menjadi satu. “Aku siap, Ka. Aku ingin melihat tempat di mana kau dibesarkan, ingin bertemu dengan keluargamu, dan tentu saja ingin bertemu dengan Rendra yang sering kau ceritakan itu. Aku berharap semuanya berjalan lancar.”
Sementara itu, di desa, Rendra dan keluarganya juga menantikan hari keberangkatan itu. Rumah sudah dibersihkan hingga bersih, halaman disapu rapi, dan berbagai hidangan khas desa sudah mulai disiapkan untuk disajikan saat mereka tiba. Rendra sendiri juga memastikan usahanya teratur rapi, sehingga ia bisa meluangkan waktu sepenuhnya untuk menyambut tamu dan mengantar mereka berkeliling desa.
Ia duduk di teras rumahnya pada malam itu, memandang langit yang sama dengan langit yang dilihat Zahra dan Raka di kota ratusan kilometer jauhnya. Ia merasa ada rasa penasaran yang juga tumbuh di hatinya ingin melihat sosok Zahra yang dulu hanya samar-samar ia ingat, ingin melihat wanita yang berhasil membuat sahabat baiknya jatuh cinta dan memilihnya sebagai pendamping hidup. Ia belum menyadari bahwa pertemuan itu nanti akan membawa perubahan yang tak pernah ia duga sebelumnya, bahwa takdir telah menyiapkan jalan yang baru untuk mereka semua.
Semua kini sudah siap, semua sudah diatur, dan semua harapan sudah terangkum dalam satu tujuan bertemu. Meskipun masih belum terjadi, semuanya sudah berada di ambang pintu. Jarak yang memisahkan akan segera terhapus, dan rahasia-rahasia yang tersimpan akan segera terungkap.